Chapter 133
Begitu sang anak keluar dan wanita ini menahan tangisnya, dia pun menyelinap dan melakukan penyelidikan pertama, memasuki kamar Sien Nio karena dia heran oleh baju-baju baru dan benda-benda lain yang dipakai anaknya ini.
Tadi sekilas ia melihat sebuah cincin emas, hal yang membuat wanita ini tertegun.
Dan ketika dia memasuki kamar anaknya dan membongkar lemari, mendadak wanita tua ini bengong.
Dia melihat pundi-pundi uang yang cukup banyak, tak kurang dari lima belas buah.
Dan ketika dia menghitung isinya, tiba-tiba wanita ini tercengang.
Tiga ribu tail ada di situ. Jumlah yang seakan mimpi baginya.
Dan ketika dia mengaduk-aduk sana-sini mencari yang lain, tiba-tiba wanita ini tertegun dan membelalakkan mata.
Apa yang dilihatnya?
Gelang emasnya yang dulu.
Gelang yang disuruh-gadaikan ke rumah Pin-loya, kini ada di situ, menggeletak di bawah baju.
Mata tuanya tak salah melihat.
Dan ketika wanita ini menggigil dan mengambil gelang itu, mendadak ia mengeluh dan batuk-batuk, mukanya berubah pucat.
"Sien Nio, apa artinya ini? Bagaimana gelangku ada di lemarimu?" Wanita ini tak mendapat jawaban.
Dia terhuyung dan menahan batuknya, mulai melihat sesuatu yang tidak beres pada diri anak perempuannya.
Sien Nio agaknya telah menipunya.
Dan ketika dia mengeluh dan kembali batuk-batuk, tiba-tiba wanita ini berlari keluar mengejar anaknya.
Ke mana?
Tentu saja ke sawah Pin-loya, seperti yang diberitakan orang selama ini!
Dan ketika dia menerjang kegelapan malam dan tidak peduli setan maupun hantu, akhirnya wanita ini tiba di sana dan melihat dua bayangan orang terkekeh-kekeh di dalam gubuk.
Langsung saja wanita ini mengendap, mengintai dan melihat apa yang terjadi.
Dua orang itu bercakap-cakap diselingi tawa dan engap.
Suara keduanya dikenal sebagai Sien Nio dan Hok-kauwsu, tapi hal itu justru membuat wanita ini menggigil dan semakin pucat.
Hampir saja batuknya pecah.
Ketika dia mengintai dan melihat apa yang terjadi, mendadak wanita ini terpekik dan roboh terjengkang, jeritannya tak dapat disembunyikan lagi dan batuknya terdengar, begitu tiba-tiba hingga mengejutkan mereka berdua yang ada di dalam.
Tentu saja Sien Nio dan Hok-kauwsu menyambar pakaian masing-masing.
Hok-kauwsu malah menendang pintu, lalu melompat keluar.
Dan ketika Sien Nio juga menyusul dan melihat siapa yang di luar, mendadak gadis remaja ini terpekik berseru tertahan.
"Ibu...!" Dua wanita itu berpandangan.
Sekarang, istri Jun-lopek ini bangkit terhuyung, bibir gemetar, muka pucat tak dapat berbicara.
Hanya jarinya menuding-nuding tidak karuan ke arah Sien Nio.
Keterkejutan dan kekagetan besar melanda wanita tua ini.
Tapi ketika suara itu timbul dan wanita ini mendekap dada, Sien Nio mendengar kata-kata ibunya yang penuh kemarahan, memancar dari mata yang bercucuran deras itu, tersendat-sendat: "Nio-nio, kau... kau menipu ibumu... kau ternyata benar menjadi piaraan Hok-kauwsu ini. Kau tidak ke rumah Pin-loya, kau pelacur hina...!"
Sien Nio tertegun.
Dia tidak dapat menjawab, tentu saja tidak dapat karena dia tertangkap basah.
Ibunya ada di situ, telah mengintainya melihat apa yang ia lakukan, telanjang bersama Hok-kauwsu dan melakukan permainan cinta bersama.
Layaknya suami istri, padahal dia dibayar, jadi tiada ubahnya pelacur seperti kata ibunya.
Dan ketika dia terkejut dan tidak mampu berkata-kata, ibunya mengeluarkan gelang yang dia "curi" dulu.
Lengkap sudah!
"Ini... apa artinya ini, Nio-nio? Masihkah kau bilang berkat kemurahan Pin-loya? Masihkah kau hendak menipu ibumu dengan caramu yang memalukan?" Sien Nio menggigil.
Ibunya juga menggigil, marah bukan main padanya karena merasa tertipu.
Gelang yang ditunjukkan itu gemetaran tidak karuan di tangan tua ini.
Dan ketika Sien Nio mendelong dan terbelalak tak menjawab, tiba-tiba gelang itu jatuh berkeringting disusul robohnya wanita ini.
"Sien Nio, kau anak durhaka...!" Sien Nio terkejut.
Ibunya terguling, tapi Sien Nio, bukan menolong ibunya lebih dulu, melainkan menyambar gelang itu, tiba-tiba marah-marah pada ibunya.
"Ibu, kau kurang ajar. Kau rupanya mengaduk-aduk isi lemariku!"
"Ooh...!" wanita ini meratap, menangis.
"Kau memaki ibumu, Nak? Kau mengataiku kurang ajar? Aduh, terkutuk kau. Kau anak tidak tahu aturan... Ugh!" Wanita ini batuk-batuk, mengeluh dan menjerit kecil ketika Sien Nio tidak membantunya, malah memasukkan gelang itu dan menyimpannya di pakaiannya.
Dan ketika sang ibu terbelalak dan batuk-batuk gencar, tiba-tiba Sien Nio melototi ibunya ini.
"Ibu, ini gelangku. Kau telah mendapat uang dua ratus tail dulu sebagai penukar gelang ini. Kau tidak berhak mengambilnya!"
"Aduh, tapi... tapi itu pemberian ayahmu, Nio-nio. Gelang itu tidak seharusnya diperjualbelikan!"
"Tidak peduli. Aku telah menukarnya, kau telah mendapatkan banyak uang dari hasil kerjaku selama ini!" Dan ketika sang ibu mengaduh dan menangis tidak karuan, tiba-tiba Hok-kauwsu yang hilang kekagetannya dan sadar kembali mendadak menggeram.
"Tua bangka, kau jangan mengganggu kami. Pulanglah!"
"Tidak, aku ingin bicara dulu dengan anakku, Hok-kauwsu. Kau tidak berhak mengusir karena Sien Nio anakku!"
"Kau melawan? Kutendang kau nanti... Des!" Dan Hok-kauwsu yang benar-benar menendang wanita itu hingga mencelat, tiba-tiba disambut jerit dan pekik kesakitan wanita tua ini, terlempar dan terbanting di tepi sawah.
Dan ketika Hok-kauwsu mengejar dan hendak mengulang perbuatannya, tiba-tiba Sien Nio mencegah.
"Kauwsu, jangan...!" Lalu menghadapi ibunya dengan muka berang, gadis ini berkata, "Ibu, sebaiknya tidak perlu kau ikut campur masalah ini. Aku sudah dewasa, aku sudah besar. Kau orang tua tidak perlu mengekang dan mengatur hidupku!"
"Ah, tapi perbuatanmu jahat. Nio-nio. Kau keliru dan tersesat. Kau menipu...!"
"Itu urusanku, yang penting taraf hidupmu telah kuangkat dan aku dapat memberimu makan-minum yang cukup. Pergilah...!"
"Tidak, aku ingin membawa kembali gelang itu, Nio-nio. Itu gelang milik suamiku dan kembalikan padaku!"
"Kau nekat?" Sien Nio terkejut.
"Kau jangan kurang ajar, Ibu. Ini gelangku dan sudah menjadi milikku!"
"Tidak, kau manusia kotor. Gelang suci itu tidak boleh kau pegang, kembalikan...!" Dan sang ibu yang menangis dan terhuyung berdiri, tiba-tiba menubruk dan merebut gelang.
Langsung memasukkan tangan ke baju Sien Nio, merogoh dan bermaksud merampas.
Dan Sien Nio yang tentu saja marah dan lupa diri, tiba-tiba mengelak dan menampar muka ibunya itu.
"Ibu, kau tua bangka kurang ajar. Lepaskan... Plak!" Dan sang ibu yang tersungkur oleh tamparan Sien Nio, tiba-tiba menjerit dan mengaduh tidak karuan.
Bukan sakit oleh tamparan fisik, tetapi sakit oleh merananya hati.
Seumur hidup baru kali itu anaknya menampar mukanya.
Seolah dia hewan!
Dan ketika nenek ini meraung-raung dan berdiri lagi, tiba-tiba Sien Nio memasuki gubuk berseru pada temannya, "Hok-kauwsu, lempar ibuku itu. Bawa dia pergi...!"
"Baik!" Dan Hok-kauwsu yang juga gemas dan marah oleh gangguan ini, tiba-tiba menangkap dan mencengkeram pundak wanita itu, menyeretnya dan membuat wanita ini menjerit-jerit.
Tangan Hok-kauwsu seolah tangam baginya, tentu saja ia kesakitan.
Tapi Hok-kauwsu yang tidak peduli dan terus menyeret wanita itu akhirnya tiba di tepian, langsung mendorong wanita ini, "Kau enyahlah...!" Wanita ini terjengkang.
Janda Jun-lopek itu tersedu-sedu, sakit hatinya oleh semua peristiwa ini.
Tapi menyadari dirinya tidak berdaya dan Hok-kauwsu melindungi Sien Nio, tiba-tiba wanita ini mengguguk pulang ke rumah, terhuyung jatuh-bangun dengan perasaan terhina, pakaiannya kotor.
Marah dan malu bercampur aduk.
Ia teringat isi lemari pakaian anaknya dan siap melampiaskan kemarahannya di situ.
Tapi ketika dia tiba di sana dan menyentuh lemari itu, mendadak Sien Nio muncul, rupanya sudah merasa.
"Jangan sentuh lemari itu..." Wanita ini terkejut.
Sien Nio dan Hok-kauwsu menyusulnya, rupanya Sien Nio sudah menduga ibunya akan membuang-buang isi lemarinya, pakaian dan uang di pundi-pundi itu.
Benda-benda yang bagi wanita ini dianggap haram.
Dan ketika sang ibu tertegun dan tampak putus asa, tiba-tiba Sien Nio telah melangkah cepat mendorong ibunya.
"Minggir!" Sang ibu hampir terpelanting.
Sien Nio bersikap kasar, mukanya garang dan merah menyala.
Jelas ia marah dan gusar pada ibunya pula.
Tapi ketika dia mengambil benda-benda itu dan ibunya menjerit, tiba-tiba wanita ini menubruk dan menepis semua benda-benda itu, tentu saja berceceran dan pakaian serta uang terlepas dari tangan gadis ini.
Sien Nio memekik, marah dan meradang kepada ibunya, memunguti, tetapi ditubruk lagi oleh ibunya yang juga marah.
Kembali barang-barang itu berhamburan.
Dan ketika mereka saling bertahan dan menyerang, mendadak keduanya sudah berkelahi dan saling menjambak!
"Sien Nio, kau anak durhaka!"
"Ibu, kau tua bangka kurang ajar...!" Keduanya tidak dapat dipisah.
Baik Sien Nio maupun ibunya sama-sama marah, menyerang dan mencakar sebisa mereka.
Lucu, tetapi menyedihkan.
Tapi karena Sien Nio lebih muda dan ibunya batuk-batuk, akhirnya perkelahian ini diselesaikan Sien Nio yang berhasil melepaskan diri dan mendorong ibunya sampai terjengkang, ditonton saja oleh Hok-kauwsu.
"Brukk!" Janda Jun-lopek itu menangis.
Dia kehilangan banyak tenaga, lemah dan nelangsa sekali oleh hinaan ini.
Batuk dan tiba-tiba melontarkan darah segar, penyakitnya kambuh.
Dan ketika ia mengguguk dan kembali batuk-batuk, Sien Nio memungut semua benda-benda yang berceceran di atas tanah, terengah dan dipandang ibunya dengan air mata bercucuran. Hok-kauwsu sendiri terbelalak melihat barang-barang milik Sien Nio itu, terutama uangnya.
Uang sejumlah tiga ribu tail.
Dan ketika semua benda-benda itu berhasil dikumpulkan dan sang ibu kembali batuk-batuk, kutukan kejam terlontar dari mulut wanita itu.
"Sien Nio, kau akan mati oleh ketamakanmu. Kau akan dibunuh oleh anakmu kelak...!" Sien Nio tidak menghiraukan.