Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 134

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 134

"Cerewet, kau tua bangka tak tahu diuntung, Ibu! Kau mampuslah kalau tak ingin hidup lama!" "Ooh...!" sang ibu bercucuran air mata.

"Jangan sebut lagi aku ibumu, Sien Nio. Kau durhaka dan tidak pantas menjadi anakku...!" "Kalau begitu kenapa kau mengambilku sebagai anak? Aku juga tidak rugi membuang sebutan ibu, aku memang bukan anakmu!" Sien Nio meludah dan melotot pada ibunya, lalu meninggalkan tempat itu mengajak Hok-kauwsu pergi, membiarkan dan sama sekali tidak memedulikan lagi ibu angkatnya.

Tak ingat lagi dia akan jasa-jasa ibunya ketika dia masih kecil dan dipelihara. Seminggu setelah kejadian itu lewat, janda Jun Lopek ini muntah-muntah, lalu tujuh hari kemudian wanita malang ini meninggal dunia. Dia diserang batuk yang gencar, penyakit turunan dari suaminya dulu. Hal tersebut sebenarnya dapat diatasi kalau dia mau berobat dengan baik. Namun, karena kejadian itu menusuk perasaannya dan sepak terjang Sien Nio membuat wanita ini terhina, janda Jun Lopek itu tidak tertolong lagi. Wanita ini tidak mau makan dan minum; dia melaparkan diri selama satu minggu. Tak ada yang menolong atau memperhatikan kecuali Cin San, sahabat mendiang suaminya. Satu-satunya lelaki yang datang membantu dengan segala itikad baiknya tanpa pamrih.

Namun, karena janda Jun Lopek itu digerogoti sakit hati dan tidak mau makan-minum, ditambah penyakitnya yang kian parah, akhirnya wanita ini terkulai dan mengembuskan napas terakhirnya. "Cio... Cin San... a... aku... tak kuat lagi! Kau... pergilah... terima kasih... atas... semua budi kebaikanmu... ooh..." Wanita itu meninggal dengan kerutan yang dalam di wajahnya. Cin San tidak dapat berbuat apa-apa selain menguburkan mayat wanita ini, sementara berkali-kali dia menghela napas panjang, merasa sangat sedih dan prihatin. Sien Nio diundang, namun tetap tidak mau datang.

Sebulan kemudian, setelah semuanya berlalu dan Sien Nio menjadi buah bibir, tindak-tanduk gadis remaja ini semakin menggila. Dia mengumpulkan banyak uang dari Hok-kauwsu. Namanya dikenal dan diincar laki-laki lain; Goh Centeng dan Ban Centeng sudah berhasil mendekatinya setelah mendengar cerita Hok-kauwsu yang mengobral kepintaran gadis ini dalam melayani lelaki. Entah bagaimana Sien Nio tiba-tiba menjadi buah bibir. Dia pandai memikat dan membuat lelaki mabuk. Semakin tinggi bayarannya, semakin hebat pelayanan yang dia berikan. Maklum, ada uang ada pelayanan.

Ketika Sien Nio sudah mapan, suatu malam setelah melayani Hok-kauwsu dengan bayaran sekian ribu tail, ditambah dari laki-laki lain, mendadak pagi itu dia mendengar kegaduhan. Hok-kauwsu ketahuan mencuri, kepergok, dan kini dikejar-kejar oleh pembantu Pin Loya, teman-temannya sendiri. Dia dianggap maling karena ketahuan membuka lemari tuan tanah itu. Sekarang dia ketahuan dan menjadi buruan.

Saat Sien Nio menguap dan bangun dari tidurnya, suara gaduh itu mendekati rumahnya—rumah pemberian Hok-kauwsu yang telah mencarikannya tempat tinggal sebagai pengganti rumah ibu angkatnya. "Tangkap, Hok-kauwsu itu maling!" "Kejar, dia bersembunyi di sini!" Sien Nio terkejut. Suara gaduh dan ribut-ribut itu menuju tempat tinggalnya; belasan orang mencari dan masuk ke halaman rumahnya. Bahkan Pin Loya terlihat mencak-mencak di situ dalam keadaan pakaian kedodoran namun tidak peduli; dia marah-marah dan melotot memaki-maki tukang pukulnya yang bermarga Hok itu.

Saat Sien Nio membuka jendela dan melongok keluar, tiba-tiba pintu kamarnya didobrak dan Hok-kauwsu muncul sambil mengacungkan golok! "Jangan berteriak, kubunuh kau nanti!" Sien Nio bagaikan disengat kalajengking. Hok-kauwsu melompat dan menempelkan golok di lehernya—leher yang biasanya dielus, dicium, dan dirayu oleh laki-laki ini. Kini tiba-tiba saja leher itu "dicium" dan "dirayu" oleh golok!

Saat Sien Nio tertegun sementara orang-orang di luar mengepung Hok-kauwsu, laki-laki itu dengan jari menggigil membentak, "Sien Nio, sekarang serahkan semua uang yang kau dapat dariku. Itu milik Pin Loya!" "Apa? Kau gila, Kauwsu?" "Tak perlu cerewet! Uang itu hasil curianku di rumah Pin Loya, sekarang aku ketahuan. Cepat serahkan atau kau kubunuh!" Sien Nio menggigil ketakutan karena golok tajam yang mengkilat itu menempel di lehernya. Sekali tebas, mungkin leher mulusnya akan putus!

Teriakan di luar kian hebat. Hok-kauwsu dimaki-maki, hingga akhirnya Pin Loya dan para pembantunya tiba di depan jendela Sien Nio. "Cepat, aku harus mengembalikan uang itu, Sien Nio! Aku harus minta ampun dan lolos dari tempat ini!" Sien Nio tidak punya jalan lain. Dia sangat benci memandang laki-laki yang kerap menjadi kekasihnya ini. Pin Loya dan orang-orangnya sudah maju mendobrak pintu karena tahu Hok-kauwsu ada di situ. Dengan terpaksa, dia mengangguk dan memberikan simpanannya yang hampir selaksa tail. Hok-kauwsu tertawa terbahak-bahak sambil merampas pundi-pundi uang itu.

"Bagus, terima kasih, Sien Nio. Lain kali kita jumpa lagi... wut!" Hok-kauwsu keluar melalui jendela dan tiba-tiba berteriak menghadapi Pin Loya yang sudah mengepung tempat itu, "Loya, uangmu kukembalikan, tapi dengan syarat aku harus kau bebaskan!" "Gila!" Pin Loya mencak-mencak. "Kau laki-laki gila, Hok-kauwsu. Kau pagar makan tanaman! Aku tidak akan mengampunimu!" "Kalau begitu uang ini akan kuhambur-hamburkan. Kau boleh membunuhku, tapi hartamu akan menjadi rebutan orang banyak!" "Tidak, eh... jangan! Berikan uang itu. Kau boleh bebas!" Pin Loya buru-buru melompat mencegah dan mengulurkan lengannya. "Hok-kauwsu, berikan uang itu. Aku mengampunimu..."

"Haha, tidak semudah itu, Loya. Kau mungkin menipuku. Sebaiknya orang-orangmu itu kau suruh mundur, baru uang kuberikan!" "Baik, kau memang keparat...!" Tuan tanah Pin yang marah namun tidak berkutik akhirnya menyuruh orang-orangnya mundur, termasuk Ban Centeng dan Goh Centeng, dua tukang pukul teman Hok-kauwsu sendiri. Saat semuanya mundur, tiba-tiba orang bermarga Hok ini menangkap Pin Loya!

"Eh, kau mau apa?" Pin Loya kaget dan meronta, tetapi tidak dapat melepaskan diri dari cengkeraman bekas tukang pukulnya ini. Hok-kauwsu tertawa merasa di atas angin dan berseru, "Kau tidak perlu banyak cakap. Aku ingin menyanderamu, Loya. Uang boleh kuberikan, tapi kau harus ikut aku!" "Ke mana?" "Ke tepi sungai. Sediakan perahu dan biarkan aku benar-benar bebas!" "Ah, kau licik, Kauwsu! Kau curang!" "Terserah, kau tinggal mau atau tidak. Aku tidak mau kau tipu!" Hok-kauwsu menempelkan golok di leher tuan tanah itu hingga Pin Loya menyerah. Betapa pun kekejamannya sudah dikenal, begitu pula kelicikan tukang pukul bermarga Hok ini. Pin Loya sendiri memang bukan orang jujur; dia selalu menggunakan pembantunya untuk menindas orang lain.

Karena tidak ada jalan lain dan golok menempel di lehernya, akhirnya tuan tanah ini menurut saat digelandang ke tepi sungai. Di situ dia menyuruh pembantu-pembantunya menyiapkan sebuah perahu. Lehernya terus ditempeli golok karena Hok-kauwsu tidak ingin korbannya lepas; tuan tanah itu adalah satu-satunya jaminan yang bisa diandalkan. Setibanya di sungai, Hok-kauwsu menyeringai melihat sebuah perahu sudah disiapkan. Tukang pukul ini berkata, "Sekarang suruh orang-orangmu menjauh. Aku ingin pergi!" Pin Loya kembali tidak berkutik dan menyuruh orang-orangnya menjauh. Hok-kauwsu masih tidak puas dan menyuruh mereka menjauh lagi. Goh Centeng dan Ban Centeng melotot padanya, merasa gemas dan iri pada kelicikan mantan teman mereka itu.

Ketika mereka cukup jauh, Hok-kauwsu tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba dia melepaskan Pin Loya dan melompat ke dalam perahu tanpa memberikan uang yang dibawanya. Dia melanggar janji. Begitu dayung diangkat dan digerakkan, orang bermarga Hok itu melarikan diri bersama perahunya. Sungguh akal yang licik! "Haha, selamat tinggal, Pin Loya. Sekarang kalian boleh pulang dan tidak akan bertemu aku lagi."

Pin Loya terkejut melihat tukang pukul yang curang itu sudah sampai ke tengah sungai yang lebar. Dia melotot dan mencak-mencak karena ditipu mentah-mentah. Karena tidak ada perahu lagi—perahu yang dibawa Hok-kauwsu adalah satu-satunya—tuan tanah ini gusar dan bingung menyuruh pembantunya mengejar. "Hei, kejar dia! Jangan bengong seperti kerbau!" Tukang pukulnya terkejut. "Mana mungkin, Loya? Tak ada perahu di sini, Hok-kauwsu sudah jauh!" "Goblok! Kalian terjun ke sungai, kejar sambil berenang!" "Ah, tidak mungkin, Loya. Orang bermarga Hok itu hampir menyeberang!" "Kalau begitu gaji kalian kupotong, aku tidak mau tahu!" Ancaman potong gaji itu membuat Goh Centeng dan teman-temannya tertegun. Alamat anak istri mati kelaparan!

Karena Goh Centeng tidak ingin hal itu terjadi dan perintah Pin Loya harus dijalankan, dia membentak teman-temannya agar mencebur ke sungai. "Ayo kejar! Byur... byur!" Tukang pukul itu sudah mendahului, disusul temannya Ban Cwan dan yang lainnya. Tak kurang dari lima belas tukang pukul mengejar. Namun, karena Hok-kauwsu menggunakan perahu dan menang jarak, pengejaran Goh Centeng dan teman-temannya tidak berhasil. Mereka susah payah mencapai seberang, namun Hok-kauwsu telah lenyap sehingga tidak dapat ditemukan lagi. Karena mereka sudah berusaha tetapi orang bermarga Hok itu lebih cerdik, mereka kembali melapor pada Pin Loya. "Goblok! Anjing! Kalian manusia-manusia dungu. Masa mengejar seorang saja tidak mampu? Kalian hanya gentong-gentong kosong, Goh Beng!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment