Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 135

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 135

"Kalian dan teman-temanmu itu coro yang tidak becus!" Goh Beng dan teman-temannya tak berkutik. Mereka membiarkan saja tuan tanah itu memaki-maki seenak udelnya sendiri karena Pin-loya memang berkuasa. Harta bendanya dapat membuat mereka tunduk dan patuh seperti kerbau-kerbau tolol. Ketika hari itu Hok-kauwsu lolos dan mereka menjadi sasaran kemarahan, seharian itu tuan tanah ini berkaok-kaok.

Namun, Hok-kauwsu memang menghilang entah ke mana. Laki-laki ini telah merampas sejumlah besar uang milik Pin-loya yang diberikan Sien Nio, tetapi kini direbutnya kembali. Bahkan, gelang dan perhiasan lain yang dimiliki Sien Nio ikut terbawa. Sien Nio sendiri langsung anjlok. Tak punya apa-apa lagi.

Lain dengan Pin-loya yang meskipun kehilangan harta, masih punya uang dan sawah. Betapapun, tak mungkin dia jatuh rugi. Harta yang dicuri Hok-kauwsu itu tak seberapa baginya karena kekayaannya terlalu besar. Ketika Pin-loya di sana marah-marah dan mencaci anak buahnya, di sini, di rumah baru itu, Sien Nio menangis. Dia marah dan sakit hati sekali oleh perbuatan Hok-kauwsu itu. Dendam. Baru kali ini dia tertipu setelah susah payah mengumpulkan uangnya.

Nyaris putus asa dan memaki-maki pula tukang pukul itu. Namun, ketika dia bercermin dan melihat dirinya masih muda dan cantik, tiba-tiba Sien Nio menghentikan tangisnya. Dia masih punya modal; kecantikannya dan kemudaannya. Kenapa harus menangis? Hok-kauwsu memang bangsat, tapi dia dapat mencari uang lagi dengan modal tubuhnya yang masih segar dan molek.

Ketika hari itu semua orang ramai membicarakan Hok-kauwsu dan otomatis membicarakan dirinya pula, Sien Nio yang ingin menghilangkan malu akhirnya minggat. Gadis ini tak tinggal lagi di daerah Pin-loya. Dia menaruh harapan dan ingin mencari uang sebanyak-banyaknya. Teknik dan pengalamannya selama ini membuat dia yakin akan masa depan; gampang mencari duit dengan menjual tubuhnya. Tak apa, yang penting kesenangan dan kenikmatan hidup dapat dia nikmati. Asal berhati-hati saja agar tidak ditipu lelaki seperti Hok-kauwsu itu.

Namun, ketika Sien Nio menerobos malam dan siap menuju ke kota, mendadak Ban-centeng dan Goh-centeng menghadangnya.

"Sien Nio, kau mau ke mana?"

"Ah, aku mau pergi!" Sien Nio terkejut dan otomatis berhenti. "Kalian mau apa?"

"Hm, kami menantimu, Sien Nio. Kami curiga kau masih mendapat banyak sisa dari curian Hok-kauwsu!"

"Ah, tidak. Aku tak punya apa-apa. Aku..." Sien Nio disergap. Dia telah ditubruk dan ditangkap Ban-centeng. Tubuhnya digerayangi, jari-jari tukang pukul itu kurang ajar meremas sana-sini. Sien Nio menjerit-jerit, ketakutan dan marah. Ketika Goh-centeng juga menerkamnya dan membungkam mulutnya, kedua laki-laki itu mencari sisa uang yang mungkin ada di tubuh gadis remaja ini.

Namun, apa yang mereka cari tak mereka dapatkan. Sien Nio memang kosong. Dia tidak punya apa-apa. Ketika Sien Nio dilepas dan Ban-centeng mengumpat, gadis ini dipegang kedua bahunya.

"Sien Nio, kau benar-benar tak menyimpan sisa harta?"

Sien Nio melotot. "Kau telah menggeledah tubuhku, Ban-centeng. Tak perlu kujawab lagi!"

"Tapi kau bisa menipu kami. Hok-kauwsu mungkin telah mengajakmu bersandiwara dan sengaja berbohong!"

"Aku tak tahu, aku berani sumpah!"

"Kalau bohong?"

"Kau boleh bunuh aku, Ban-centeng!" Sien Nio menangis. "Kalian boleh cincang tubuhku sepuas hati!"

Bao Cwan percaya. Dia melihat Sien Nio menangis begitu sedih hingga boleh dibunuh kalau gadis itu berbohong. Melihat perhiasan Sien Nio juga lenyap dan Sien Nio memaki-maki Hok-kauwsu di sela tangisnya, Goh-centeng juga mulai percaya. Namun, melihat Sien Nio tersedu-sedu sementara tubuh gadis itu berguncang, mendadak Goh-centeng menyeringai menunjukkan nafsu jalangnya.

"Ban Cwan, Sien Nio rupanya memang tak punya apa-apa. Dia mau pergi, bagaimana pendapatmu? Apakah kita bebaskan begitu saja?"

Ban-centeng mengerutkan kening. "Aku kira begitu, Goh-twako. Tapi, hm..." tukang pukul ini pun menyeringai, mengerti pandangan mata temannya. "Apakah Sien Nio tak memberikan tanda kenangan pada kita?"

"Ha-ha, aku pun berpikir begitu, Ban Cwan. Gadis ini seharusnya tahu diri akan kebaikan kita." Sambil mengelus gadis itu dengan pandangan mata kurang ajar, Goh Beng bertanya, "Sien Nio, kau mau kami bebaskan?"

"Tentu saja, bukankah aku tak punya apa-apa lagi?"

"Salah, kau masih mempunyai tubuhmu yang hangat ini, Nio-nio. Bagaimana kalau kau melayani kami dan setelah itu kami bebaskan?"

Sien Nio tertegun. "Kalian mengancam?"

"Ah, tidak. Jangan kau marah, anak manis. Kami kedinginan malam ini. Kau mau pergi, bukankah sebaiknya kita saling memberi tanda kenangan? Kami membebaskanmu dan kau memberi pelayanan kepada kami, Nio-nio. Setelah itu masing-masing boleh urus pekerjaannya sendiri."

"Hmm...!" Sien Nio sudah mengerti arti kata melayani ini. "Berapa kalian mau bayar?" Matanya bersinar, mulai membayangkan bahwa kali ini dia harus dapat duit. Dua tukang pukul ini dapat diperas.

Namun, Goh-centeng yang terbelalak mendengar ini tiba-tiba tertawa. "Apa, kau masih minta bayaran? Bukankah pembebasanmu ini merupakan imbalannya?"

"Huh!" Sien Nio bersikap angkuh dan jual lagak. "Kalau begitu pelayanan yang kuberikan tak istimewa, Goh-centeng. Ada uang ada servis!"

"Kalau begitu kami akan bersikap seperti Hok-kauwsu," Ban-centeng tiba-tiba berkata, menjengek. "Kau boleh saja minta duit, Sien Nio. Tapi setelah itu kami rampas kembali!"

Sien Nio terkejut. Goh-centeng tertawa bergelak. Ketika Ban Cwan mencengkeram pundaknya, tiba-tiba tukang pukul itu bertanya, "Bagaimana, kau masih mau minta uang?"

Sien Nio terisak. Untuk kedua kalinya ia ketanggor, harus mengakui apa yang dikatakan Ban-centeng itu betul. Mereka dapat memberinya uang lalu merampasnya kembali. Sungguh kurang ajar, menyakitkan sekali. Ketika Goh-centeng juga mendengus dan sudah meraba kulit lehernya, tiba-tiba tukang pukul kedua itu mendesis.

"Nio-nio, kau masih tak mau tahu keadaan dirimu? Kami berkuasa, kami pula yang menentukan apa yang ingin kami lakukan. Kau tinggal menurut atau menolak!"

"Dan menolak berarti mati," Ban Cwan tiba-tiba menimpali. "Dan kami berdua dapat memperkosamu, Nio-nio. Setelah itu kami buang mayatmu ke dalam hutan untuk menjadi santapan binatang buas!"

"Tidak!" Sien Nio menangis, tentu saja ketakutan. "Kalian boleh minta apa saja, Ban-centeng. Aku akan melayani kalian kalau kalian minta. Biarlah tanpa uang, asalkan jangan dibunuh." Sien Nio yang sudah melepas bajunya memeluk Ban Cwan, tiba-tiba menghentikan tangisnya. Menggigil ia berbisik, "Ban-centeng, siapa yang harus kulayani dulu?"

"Aku!" Goh-centeng tiba-tiba tertawa bergelak dan melompat maju. "Kau boleh layani aku dulu, Nio-nio. Setelah itu baru Ban Cwan!"

"Tidak," Ban Cwan mengerutkan kening. "Kita berdua bisa sama-sama dilayani gadis ini, Twako. Tak perlu kita bertengkar. Sien Nio bisa melayani berbarengan."

"Tapi..."

"Sudahlah, kita tak boleh ribut. Pertengkaran di antara kita hanya merugikan kita sendiri. Ayo kita bawa gadis ini ke gubuk!"

Ban-centeng yang sudah merobek baju Sien Nio hingga menyembulkan buah dadanya membuat dua laki-laki itu beringas. Goh-centeng tak membantah, mengangguk, menunduk, dan tertawa mencium bagian itu. Sien Nio mengeluh tapi tak dapat berbuat apa-apa. Ketika Ban-centeng menyeretnya dan Goh-centeng juga tertawa menggerayangi tubuhnya dengan sikap tak sabar, akhirnya gadis remaja ini dibawa ke gubuk tempat dia biasa melayani laki-laki. Terpaksa menurut dan tunduk saja pada apa yang diminta dua tukang pukul itu.

Ketika pintu gubuk ditutup dan Ban Cwan serta temannya tertawa-tawa mempermainkan Sien Nio, maka untuk malam yang sial itu Sien Nio melayani dua lelaki sekaligus. Sien Nio menggigit bibir. Dia memang tak berdaya; tubuhnya sudah dibelejeti dan baik Goh-centeng maupun Ban-centeng juga melepas pakaian masing-masing. Dua lelaki itu tak malu-malu pula untuk telanjang bersama, mengadakan permainan menjijikkan di mana Sien Nio menjadi pelampias nafsu mereka. Tiada ubahnya seekor anjing betina yang dipermainkan dua anjing jantan, diseret ke sana-sini. Sien Nio harus melayani dua orang itu. Kasar dan tidak mengenal sopan santun.

Tapi karena Sien Nio sendiri sudah dikenal sebagai remaja yang pandai melayani lelaki dan dia pun sanggup melayani dua orang sekaligus, maka jadilah ketiganya pemburu nafsu yang tidak mengenal norma-norma susila. Malam itu, Ban-centeng serta temannya dibuat puas. Mereka kelelahan, Sien Nio menghibur dan membuat keduanya kehabisan tenaga. Ketika malam semakin larut dan Sien Nio diajak tidur di tengah-tengah mereka, gadis remaja ini pun tak dapat menolak. Dia kembali menekan rasa marah, masih menjadi gerayangan dua laki-laki itu sampai mereka terlelap.

Sien Nio tentu saja tak dapat tidur karena sesungguhnya dia ingin cepat-cepat pergi. Perbuatan Ban-centeng dan Goh-centeng itu membuat dia sakit hati. Kemarahannya bertumpuk. Ketika dua laki-laki itu tertidur dan napas mereka bagai babi mendengkur mendadak, golok yang tersisih di pinggang Ban-centeng membuat Sien Nio beringas.

Dia terhimpit di antara dua laki-laki itu, tapi dapat menarik golok yang ada di pinggang Ban Cwan. Laki-laki ini pun ngorok tak kalah keras dengan Goh-centeng. Sien Nio yang berhati-hati melepaskan diri dari himpitan dua lelaki itu akhirnya berhasil turun dari pembaringan bambu. Mata gadis ini menyorotkan dendam mengerikan. Kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Begitu sekarang merasa bebas dan golok itu membuat matanya bersinar, mendadak pikiran setan merasuk di hati gadis remaja ini. Golok diambil, lalu dilolos perlahan-lahan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment