Chapter 137
Hidup mewah dengan uang melimpah. Namun, suatu hari seorang pemuda bopeng datang. Saat itu Kiat Kongcu juga ada di sana, dan sebuah pengalaman penting terjadi yang mengguncang serta menyadarkan Sien Nio.
Waktu itu, Kiat Kongcu dan teman-temannya sedang bercanda dengan Sien Nio. Mereka mengelilingi gadis itu, minum minuman keras, mabuk sambil tertawa-tawa, serta mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor. Sien Nio melayani mereka dengan pakaian setengah telanjang yang mempertontonkan tubuhnya. Paha dan dadanya menjadi incaran utama gerayangan tangan kelima pemuda itu.
Ketika Sien Nio terkekeh, menggeliat ke sana kemari, dan merasa geli oleh jari-jari kelima pemuda tersebut, tiba-tiba pemuda bopeng itu muncul.
"Kau Sien Nio?"
Sien Nio terkejut. "Kau siapa?"
"Aku Boen Sek. Kau Sien Nio, bukan?"
"Ya, ada apa?"
"Aku ingin menikmati belaianmu. Aku datang karena mendengar kabar tentang kehebatanmu melayani laki-laki. Aku ingin mencoba!"
"Huh!" Sien Nio tersenyum mengejek. "Kau buruk, muka bopeng. Aku tak biasa melayani orang-orang macam dirimu, kecuali seperti Kiat Kongcu dan teman-temannya yang tampan ini!"
Pemuda itu mendadak marah. "Kau menghina," katanya. "Bukankah uang yang kau cari? Aku dapat membayar seperti mereka. Kau harus melayani aku!"
Si bopeng maju ke depan dan tiba-tiba menyambar serta menerubruk Sien Nio. Sien Nio mengelak, menjerit, dan meminta bantuan Kiat Kongcu beserta teman-temannya. Tentu saja Kiat Kongcu marah karena "kembang" mereka diganggu. Ketika pemuda itu mengejar dan Sien Nio lari bersembunyi di balik punggung Kiat Kongcu, akhirnya si bopeng harus berhadapan dengan mereka. Terjadilah perkelahian; Kiat Kongcu dan empat temannya menghajar dan mengeroyok pemuda itu. Karena satu lawan lima, si bopeng babak belur menerima bogem mentah.
Si bopeng berteriak-teriak, mengancam, dan menyebut-nyebut nama seorang pembesar. Sien Nio mengira itu hanyalah gertakan kosong untuk menaklukkan Kiat Kongcu. Karena Kiat Kongcu dan teman-temannya sedang dipengaruhi arak, mereka tertawa-tawa menghajar pemuda itu hingga akhirnya si bopeng pergi dengan tubuh memar dan lebam kebiruan di sana-sini.
Sien Nio merasa lega. Dia mengira persoalan itu sudah habis dan si bopeng tidak akan mengganggu lagi sehingga dia dapat terus melayani Kiat Kongcu, yang memberinya banyak uang. Namun, dua jam berlalu saat Sien Nio masih melayani kelima pemuda itu dengan tubuh hampir telanjang, tiba-tiba sepasukan pengawal memasuki rumahnya dan membentak Kiat Kongcu.
"Bocah she Kiat, Boen Taijin mencarimu!"
Kiat Kongcu dan teman-temannya terkejut. Dua puluh pengawal tiba di situ dengan muka bengis. Golok dan tombak dihunus telanjang hingga membuat Sien Nio ngeri. Kini dia mulai percaya bahwa si bopeng tadi tidak melancarkan gertak sambal. Sien Nio memang belum mengenal siapa bopeng tersebut sehingga ia sempat memandangnya rendah.
Kiat Kongcu dan teman-temannya yang masih mabuk ternyata menghadapi para pengawal itu dengan tertawa-tawa. Mereka terhuyung-huyung, dibentak, tetapi membalas makian kotor kepada para pengawal. Tentu saja sang komandan menjadi marah, lalu memerintahkan untuk menangkap kelima pemuda itu, termasuk Sien Nio. Mereka dikeroyok, dipukuli, dan diseret keluar menuju rumah Boen Taijin dengan tubuh babak belur.
Ketika mereka disiram air dingin hingga sadar, Sien Nio terbelalak saat digelandang ke ruangan dalam gedung itu. Mereka semua melihat si bopeng ada di sana, duduk dengan mata beringas memandang keenam orang tersebut.
"Ah, Boen Kongcu!" Kiat Lam atau Kiat Kongcu terkejut. Sekarang dia sadar, napasnya tertahan dan wajahnya pucat pasi memandang si bopeng yang duduk di sebelah kiri seorang laki-laki gendut dengan kepala botak, berkumis tipis dan panjang melilit seperti kumis tikus, serta bermata sipit.
Si bopeng mendengus bangkit berdiri, marah memandang keenam orang itu, terutama Kiat Lam. "Bagus, kau sekarang tahu, Kiat Lam? Kau mau apa?"
Kiat Lam menggigil. "Maaf, aku... aku tak sadar, Boen Kongcu. Waktu itu kami mabuk."
"Tapi kau membuatku babak belur. Kau mengeroyok bersama teman-temanmu ini!"
"Kami tak sengaja, Kongcu. Harap ampunkan kami."
"Huh, begitu enak? Lihat ini!" Boen Kongcu menunjuk kulitnya yang lebam. "Kalian harus menerima balasannya, Kiat Lam. Aku tak mau tahu, biar bapakmu pun kemari!"
"Tapi kami juga sudah dihajar, para pengawalmu sudah memberi hukuman!"
"Itu lain, Kiat Lam. Aku sendiri belum membalas sakit hatiku!"
Seseorang memberikan cambuk besar dan kuat kepada Boen Kongcu. Pemuda itu menghampiri Kiat Lam dengan mata gembira dan buas. Ketika Kiat Lam ketakutan dan menggigil, Boen Kongcu mulai mencambuknya.
"Orang she Kiat, aku akan mencambukmu dua puluh kali, dan empat temanmu yang lain juga dua puluh kali hingga kalian menerima seratus cambukan... tar!"
Cambuk yang menyengat kulit Kiat Lam disambut pekik kesakitan pemuda hartawan itu. Dia menggeliat dan mengaduh sementara teman-temannya yang lain pucat ketakutan. Kiat Lam merintih saat cambuk menghujam berulang-ulang. Hitungan terus dilanjutkan sementara pemuda she Kiat itu kian tersiksa. Permintaan ampunnya tidak digubris. Ketika cambukan kedua puluh berhenti, baju serta kulit Kiat Kongcu pecah-pecah hingga akhirnya pemuda itu pingsan dan roboh.
Sien Nio ngeri melihat pemuda she Boen itu melampiaskan dendamnya. Empat teman Kiat Lam yang lain sudah merintih minta ampun sebelum dicambuk, ditonton para pengawal yang tertawa-tawa seolah melihat pertunjukan menarik. Laki-laki gendut bermata sipit itu tersenyum-senyum, melirik Sien Nio berulang-ulang dengan pandangan aneh.
Sien Nio dibawa dalam keadaan hampir telanjang. Ketika empat pemuda lainnya tak digubris permintaan ampunnya dan masing-masing tetap mendapat hukuman cambuk dua puluh kali, akhirnya mereka terkapar mandi darah dan pingsan. Kini, Boen Kongcu memandang Sien Nio penuh ancaman, membuat gadis itu gentar.
Namun, ketika pemuda itu hendak menghampirinya, Sien Nio mengambil keputusan berani. Dia lari menjatuhkan diri dan berlutut di depan laki-laki setengah tua, laki-laki gendut yang kini dikenalnya sebagai Boen Taijin.
"Taijin, ampun. Tolonglah aku!"
Sien Nio menangis, gemetar, dan menggigil di depan laki-laki itu, yang diketahuinya secara diam-diam meliriknya dengan pandangan penuh nafsu—pandangan "ingin" dari seorang laki-laki. Ketika Boen Taijin terkejut dan Boen Kongcu tertegun, Sien Nio mengangkat dadanya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang membusung. Dia meratap dengan suara yang dibuat sedemikian rupa hingga laki-laki yang keras pun bakal luluh.
"Taijin, aku tak tahu apa-apa tentang pemuda itu. Kiat Kongcu memang salah, dia telah mendapat hukuman. Tapi aku tak ikut-ikut. Harap Taijin bantu aku melepaskan diri. Aku siap melakukan apa saja bila Taijin menolong aku!"
Sien Nio mengerling dengan sudut mata yang tajam, membuka dan menutup matanya dengan gerakan yang membuat laki-laki gemas dan terangsang. Apalagi buah dadanya diperlihatkan semakin jelas. Laki-laki mana pun pasti akan ngiler. Sien Nio mengiringinya dengan isak tangis yang serak-serak basah, tiba-tiba Boen Taijin tersenyum dan tertawa.
"He-he, kau rupanya kembang yang selama ini kudengar, Sien Nio. Kau yang tinggal di barat kota, bukan?"
"Benar."
"Dan kau menghina puteraku."
"Tidak!" Sien Nio menukas. "Aku tidak menghina siapa-siapa, Taijin. Aku tidak menghina atau merendahkan puteramu!"
"Tapi kau mengejeknya, kau mengatai puteraku buruk, bopeng!"
Sien Nio terkejut. Untuk ini memang ia tak dapat menangkis karena Boen Kongcu sendiri ada di situ. Namun, tidak kehilangan akal, Sien Nio menundukkan kepalanya dan pura-pura menyesal.
"Maaf, aku menyatakan seperti apa kenyataannya, Taijin. Aku tidak bermaksud menghina atau mengejeknya. Puteramu itu hendak memaksaku, dan aku menolak berdasar alasan itu. Kalau saja dia bersikap lembut dan halus seperti Taijin ini, tentu aku tak akan mengatainya seperti itu. Maaf!"
Boen Taijin tertegun. Kata-kata Sien Nio ini memujinya; dia disebut lembut dan halus. Suatu pujian yang membuat dia bangga. Ketika dia tertegun dan Sien Nio mengangkat kembali mukanya, gadis itu mendesah dengan suara lirih dan enak didengar.
"Taijin, setelah kau tahu semuanya ini, apakah kau tak mau menolong aku? Aku tak bersalah, Taijin. Tolong bebaskan aku dan aku akan membalas budimu. Suruh pergi anak dan para pengawalmu itu!"
Sien Nio melempar kerling penuh arti, kerling yang dimengerti oleh pembesar itu. Boen Taijin menyeringai dan tersenyum lebar. Dia mengangguk, lalu menoleh ke arah Boen Kongcu.
"Siek-ji (anak Siek), gadis ini rupanya memang tak bersalah. Kau telah menghukum Kiat Kongcu dan teman-temannya itu. Dia kubebaskan, tak perlu dihukum!"
Boen Kongcu terkejut. "Tapi dia telah mengatai-ngatai aku, Ayah."