Chapter 138
"Aku harus membalas hinaannya itu!"
"Itu urusanku, aku dapat membuatnya bertobat!" Boen Taijin yang tak mau dibantah dan sudah mengangkat lengannya, tiba-tiba mengusir sambil memberi perintah pada para pengawalnya, "Bawa cecunguk-cecunguk ini, biar orang tua mereka datang kemari."
Boen Kongcu dan para pengawal tak dapat membantah. Mereka pergi menyeret Kiat Kongcu dan teman-temannya yang pingsan, menunggu orang tua mereka datang untuk meminta ampun dengan membawa uang sebagai syarat pembebasan. Boen Taijin memang berkuasa.
Malam itu, ketika Sien Nio berdua saja dengan pembesar tersebut, Boen Taijin mendapatkan pelayanan istimewa dari gadis remaja itu. Sien Nio memberikan servis yang melangit hingga Boen Taijin tergila-gila dan mabuk dalam buaiannya. Anaknya mengumpat dan memaki bapaknya sendiri; dia yang menawan, namun sang bapak yang menikmati. Keesokan harinya, ketika Boen Taijin tergolek kelemasan dan Sien Nio berhasil meninabobokan pembesar ini, hari demi hari Sien Nio terus melayani.
Kian lama kian memabukkan hingga Boen Taijin tidak kuat jika harus hidup tanpa Sien Nio. Pembesar itu sempat ingin memberi imbalan, namun Sien Nio menolak dengan dalih bahwa semua itu dilakukan demi kegembiraan, kebahagiaan, dan cintanya kepada Boen Taijin. Ketika Boen Taijin sudah tergila-gila dan melarang Sien Nio melayani laki-laki lain, itu menjadi kesempatan emas bagi Sien Nio yang memang sudah lama menantikan kejadian ini.
"Ah, mana mungkin, Taijin? Hamba butuh hidup dan makan. Hamba bisa mati kalau tidak bekerja!"
"Kau tak perlu bekerja, kau tinggal saja di sini!"
"Tapi aku..."
"Sudahlah, kau kuambil sebagai istri, Nio-nio. Kau boleh tinggal di sini dan minta apa saja dariku. Kau tak boleh melayani laki-laki lain kecuali diriku seorang!"
Pembesar itu menyambar Sien Nio, menciumi, dan tak habis-habisnya menikmati daun muda ini. Sien Nio hampir terpekik dan girang bukan main. Rencananya selama ini berhasil; dia dapat menjadi istri seorang pembesar, meskipun bukan istri pertama. Ketika Boen Taijin terengah dan mendengus, Sien Nio terkekeh. Dia tahu saat itu dia telah "naik pangkat" dari seorang pelacur menjadi istri seorang pejabat. Karena Sien Nio pandai memainkan peranannya dan Boen Taijin berhasil ditundukkan luar dalam, Sien Nio akhirnya berhasil menguasai pembesar itu dan memainkan peranan penting dalam bidang pemerintahan pula. Hebat!
Namun, Sien Nio menghadapi masalah. Gadis ini tidak berjalan tanpa rintangan. Ada persoalan intern karena Boen Siek, putra Boen Taijin yang kecewa pada gadis remaja itu, mulai melawannya. Pemuda ini dibantu oleh ibu dan keluarga lain yang benci pada Sien Nio. Mereka mulai mengganggu, bersikap keras, dan menentang kehadiran Sien Nio karena menganggapnya sebagai biang penyakit yang harus disingkirkan.
Sien Nio merasa terganggu dan tidak tenang karena yang dihadapinya adalah keluarga Boen Taijin. Ketika gangguan ini kian tegang, Sien Nio mengadukan masalahnya.
"Suamiku," isak Sien Nio, "aku hidup tak tenang. Keluargamu mengancam dan pagi tadi memasang jebakan. Mereka memberikan minuman beracun. Inilah buktinya!"
Sien Nio menunjukkan cawan anggur yang hampir diminumnya, namun segera diletakkan kembali ketika mencium bau yang aneh. Dia sudah curiga karena anggur itu pemberian A-len, pembantu istri Boen Taijin. Boen Taijin terbelalak dan bertanya, "Siapa yang mau membunuhmu? Dari siapa kau dapat ini?"
"A-len, suamiku. Dia diutus istrimu pertama."
Boen Taijin tertegun. Ia jarang mendengar perang dingin antara istrinya dengan Sien Nio. Namun, setelah mendengar laporan itu, ia marah besar kepada istri pertamanya dan memanggil A-len. Pelayan itu pucat pasi dan menggigil saat menghadap. Ketika A-len mengakui bahwa ia disuruh oleh Lo-hujin (istri tua) untuk memberikan anggur tersebut kepada Sien Nio, pembesar itu terbelalak. Sien Nio lalu berkata, "Suruh dia minum, suamiku. Biar kau buktikan benarkah omonganku atau tidak. Panggil juga istrimu itu, suruh lihat apa yang terjadi!"
"Tidak!" seru A-len ketakutan. Ia menolak karena tahu minuman itu beracun. Sien Nio yang gusar mencengkeram pelayan itu, "A-len, kau harus minum! Kalau begitu, panggil majikanmu ke mari. Cepat!"
A-len berlari ketakutan. Sesampainya di ruang lain, ia justru ditampar oleh Lo-hujin. "Keparat, kau bodoh, A-len! Siapa suruh kau mengaku?" Boen Kongcu yang marah akhirnya menghajar pelayan itu hingga babak belur. Saat Boen Kongcu memberikan perintah kepada pengawal untuk membunuh A-len, pelayan itu pun tewas dibacok.
Sien Nio dan Boen Taijin tiba-tiba muncul. Keributan mulut tak terelakkan. Sien Nio menuduh, namun Lo-hujin menangkis dengan kasar. Suasana menjadi geger karena saksi tunggal telah tewas. Sien Nio mendadak menampar Lo-hujin di depan Boen Taijin. Lo-hujin yang tak terima membalas dengan amarah yang memuncak. Mereka berdua berkelahi dan saling pukul. Lo-hujin yang dibantu oleh anak dan saudara-saudaranya mulai mengeroyok Sien Nio hingga gadis itu menjerit histeris. Boen Taijin akhirnya melerai mereka.
Sambil menangis tersedu-sedu, Sien Nio meminta agar Boen Taijin menceraikan istri tuanya. "Kalau kau memberatkan dia, lebih baik aku pergi dari sini atau kau menceraikan istrimu itu!"
Boen Taijin bingung. Ia berat menceraikan istrinya karena wanita itu adalah adik dari Liem Taijin, gubernur di Shensi yang berpangkat jauh lebih tinggi darinya. Namun, karena sudah tergila-gila, Boen Taijin akhirnya memenuhi permintaan Sien Nio.
Benar saja, urusan berbuntut panjang. Boen Taijin mendapat macam-macam gangguan. Mula-mula ia dimutasi, kemudian dipindah ke tempat yang lebih rendah dan terpencil. Kekuasaannya menyusut. Setahun kemudian, Boen Taijin dipecat karena dianggap tidak becus.
Laki-laki itu pun merana. Ia tak memiliki apa-apa lagi; kekuasaan dan jabatannya tinggal kenangan. Melihat itu, Sien Nio mulai menjauh dan akhirnya pergi entah ke mana. Sien Nio memang tak dapat dipercaya. Apa sebenarnya yang ia inginkan? Sederhana saja: kekuasaan. Dulu, ia mengejar uang Kiat Kongcu, namun setelah melihat peristiwa Boen Siek dan Boen Taijin, ia sadar bahwa uang tanpa kekuasaan tidaklah berarti. Uang bisa kalah wibawa, tetapi kekuasaan adalah sesuatu yang jauh lebih kuat.