Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 14

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 14

Dia gusar melihat pengawal ini berani mati. Melihat para pengawal di luar taman berdatangan kaget.

Tak kurang dari sebelas orang.

Dan ketika pengawal itu masih juga berteriak-teriak dan rupanya berani karena merasa ada di kandang sendiri, mendadak Salima menampar kepalanya, langsung membunuh.

"Diam kau..."

"Prak!" Pengawal itu terkulai roboh.

Dia langsung tewas karena tamparan Salima adalah tamparan maut. Bangkit tangan besinya melihat pengawal itu merunyamkan keadaan.

Dan ketika sebelas pengawal berdatangan ribut dan pengawal satunya yang masih hidup, pucat dan gemetar melihat kematian pengawal She Sun ini, mendadak Salima menendang mayat di atas pohon itu, menyambut para pengawal yang berdatangan ke tempat itu.

Dan ketika para pengawal di bawah kaget dan berseru tertahan ditimpa mayat pengawal She Sun ini, maka Salima menendang juga pengawal satunya dan melayang turun.

"Pergi kau..."

"Dess!" Pengawal itu menjerit.

Dia langsung jatuh dari puncak pohon yang tinggi, didupak mencelat. Sementara Salima sendiri sudah berkelebat turun, dipapak golok dan tombak yang ditangkis berpelantingan. Semuanya menjerit dan terlempar roboh karena gerakan Salima seperti iblis marah, begitu cepat dan tahu-tahu menghilang dari tempat itu menuju tempat lain.

Dan ketika para pengawal ribut dan berteriak-teriak ada maling, maka di ujung timur tiba-tiba terjadi kebakaran!

Rupanya Salima mengamuk.

Gadis Tar-tar ini marah oleh perbuatan pengawal She Sun, membunuh pengawal itu sampai mampus, tapi rasa gusar terlanjur berkobar.

Tak lagi sembunyi-sembunyi melainkan terang-terangan mengacau tempat itu, membakar gedung atau apa saja yang dilihatnya.

Menendang dan melempar roboh setiap penjaga yang berani mendekatinya.

Dan ketika Salima berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam usahanya mencari penjara bawah tanah, maka sekeliling istana tiba-tiba sudah penuh api oleh perbuatan gadis ini.

Tak ayal, seluruh pasukan bangun dari tidurnya.

Mereka telah mendengar kedatangan gadis ini, ribut dan berteriak-teriak ke sana ke mari.

Sebentar saja istana menjadi gaduh dan kebakaran melanda di mana-mana, membuat Jit-liong Ciangkun tergugah dan marah mendengar laporan seorang gadis Tar-tar mengamuk.

Dan karena mereka dapat menduga bahwa gadis itu tentu mencari Kim-mou-eng karena pendekar itu juga keturunan Tar-tar, akhirnya Panglima Tujuh Naga ini langsung ke tempat Kim-mou-eng dipenjarakan.

Maklum, ke sanalah titik tujuan gadis Tar-tar yang mengamuk itu.

Dan ketika mereka tiba di sana dan ternyata benar Salima telah berhasil menemukan tempat ini, maka terlihatlah para pengawal roboh bergelimpangan dan berteriak-teriak menuding ke dalam.

"Dia di sana, gadis itu memasuki penjara bawah tanah...!" Jit-liong Ciangkun berkelebat.

Mereka tergetar melihat bekas amukan Salima, melihat penjaga di dalam penjara tumpang-tindih, mereka langsung masuk dan harus melalui pintu berlapis tujuh karena penjara itu memang dibuat sedemikian rupa agar musuh yang tertangkap tak gampang melarikan diri.

Dan ketika mereka tiba pada pintu terakhir dan melihat pintu itu hancur ditendang menganga lebar, maka berkelebatlah pada saat itu juga Salima yang baru membebaskan suhengnya!

"Suheng, bunuh saja musuh di depan. Jangan mereka diberi ampun!" Jit-liong Ciangkun terkejut.

Pendekar Rambut Emas menyongsong mereka dengan muka penuh jelaga, hampir tak dikenal karena kebakaran juga melanda tempat itu, menghanguskan dinding dan membuat tempat itu menjadi hitam.

Dan ketika Salima muncul dan gadis itu berteriak-teriak agar musuh di depan dibunuh saja dan sepak terjang gadis Tar-tar itu tampak demikian ganas dan mengerikan, akhirnya Panglima Tujuh Naga ini menjadi marah.

"Gadis siluman, kau mengacau tempat orang...!" Salima tertawa mengejek.

Dia girang bahwa suhengnya berhasil dibebaskan, mengejek melihat tujuh panglima itu menyerangnya.

Sebagian mengeluarkan senjata.

Dan Salima yang berkelebat menyambut dengan tamparan dan tendangan menangkis serangan tujuh orang panglima itu, tiba-tiba mengerahkan sinkang, membentak seraya mendorong.

"Plak-dess!" Tujuh panglima itu terkejut.

Mereka terdorong setindak dengan lengan tergetar, kaget melihat gadis itu tak kalah hebat dengan Kim-mou-eng sendiri.

Dan sementara mereka terbelalak dan kaget di tempat, sekonyong-konyong Salima melengking menyerang mereka, melakukan tamparan dan tendangan yang bersiut tajam, dingin, menyeramkan, disertai bentakannya yang menggetarkan ruangan.

Dan ketika mereka menangkis dan gadis itu berani menyambut senjata mereka dengan jari-jari terbuka, mendadak tujuh panglima itu terkejut ketika tombak dan senjata lain di tangan mereka patah-patah.

"Des-des-krakk...!" Tujuh Panglima Naga itu terpekik.

Mereka terpental dan kontan terpelanting, kaget melihat senjata patah-patah disambar lawan mereka.

Tapi Salima yang masih menyambar dan rupanya geram pada tujuh panglima ini, tiba-tiba berkelebat mengayun tangannya ke kepala musuh-musuhnya.

Dan Kim-mou-eng yang tentu saja kaget oleh keganasan sumoinya, tiba-tiba membentak dan menangkis dari samping.

"Sumoi, jangan... dukk!" Ruangan itu seakan dilanda gempa.

Jit-liong Ciangkun terlempar oleh bunyi benturan ini, demikian dahsyat hingga dinding ikut ambrol oleh getaran suara itu. Melihat Salima mencelat sementara Kim-mou-eng sendiri terhuyung.

Kaget dan ngeri oleh kehebatan kakak-beradik itu.

Dan ketika Salima memekik dan membentak memaki suhengnya, maka Kim-mou-eng sudah meloncat menyambar sumoinya itu.

"Sumoi, jangan main bunuh di sini. Jit-liong Ciangkun bukanlah orang jahat!" Salima membanting-banting kaki.

Dia meronta dan mau melepaskan diri dari suhengnya itu, tapi Kim-mou-eng yang khawatir akan sepak terjang sumoinya dan melihat Jit-liong Ciangkun juga mau menyerang kembali dan sudah melompat bangun, mendadak menyendal lengan sumoinya ini.

Dan begitu dia berseru keras melompat tinggi, tahu-tahu Kim-mou-eng telah membawa sumoinya keluar dari penjara bawah tanah itu, melalui pintu berlapis-lapis.

"Jit-liong Ciangkun tak perlu mengejar kami. Kami tidak bermaksud buruk pada kalian!"

PANGLIMA TUJUH NAGA itu tertegun.

Mereka melihat Kim-mou-eng lenyap membawa sumoinya, gadis Tar-tar yang ganas itu.

Gadis yang lincah dan hebat!

Tapi demi menjaga nama mereka, mereka membentak juga memburu muda-mudi itu. Namun Jit-liong Ciangkun menahan napas.

Mereka melihat Kim-mou-eng lolos dengan mudah, merobohkan para pengawal di luar penjara sementara mencegah sumoinya melakukan pukulan maut.

Sebentar saja keluar dari kompleks istana dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Dan ketika mereka tertegun dan api masih berkobar di sana-sini dipadamkan para pengawal, akhirnya dua jago muda itu menghilang dari kota raja bagai bayangan iblis yang tak diketahui ke mana perginya.

"Hebat, gadis siluman itu luar biasa sekali. Dia tak kalah oleh Kim-mou-eng!" Ang Bin Ciangkun mendesak.

"Tentu saja. Dia adalah sumoi pemuda itu, Toan Ciangkun. Dia adalah Tiat Ciang Sian Li (Dewi Bertangan Besi) Salima!"

Dan ketika tujuh panglima itu berbisik-bisik dan saling membicarakan Pendekar Rambut Emas bersama sumoinya yang datang seperti singa betina yang haus darah itu dengan muka pucat, maka untuk kedua kalinya kota raja dibuat gegar.

Salima, si Dewi Bertangan Besi, mendapat nama. Begitu saja melejit seperti suhengnya.

Tapi, kalau Kim-mou-eng dikenal lunak dan sabar menghadapi lawan, maka gadis Tar-tar itu dikenal orang dengan rasa takut dan gentar.

Ngeri oleh sepak terjangnya yang ganas. Tak memberi ampun pada musuh.

Benar-benar bertangan besi!

Dan ketika kota raja geger dan kebakaran berhasil dipadamkan, maka jauh di luar sana, di luar hutan di sebelah kota raja, Salima telah berdiri saling berhadapan dengan suhengnya itu, marah-marah.

"Suheng, apa yang kaulakukan ini? Kau tidak tahu membalas budi?" Salima menyemprot langsung, melepaskan diri dari suhengnya dengan tarikan kasar dan mundur dengan mata berapi-api, tampak marah besar dan gusar pada suhengnya itu.

Tapi Kim-mou-eng yang menghela napas sendu dan bersikap tenang, enak saja menjawab, kalem.

"Sumoi, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak memusuhi kita. Jit-liong Ciangkun bukan lawan, tak perlu kita bersikap keras atau membunuh mereka."

"Tapi mereka telah menangkapmu, Suheng. Mereka memenjarakanmu di ruang bawah tanah dan siap menghukummu mati. Menunggu perintah kaisar!"

"Hm, semudah itukah mereka menghukum mati padaku? Tidak, mereka tak gampang membunuhku, Sumoi. Aku dapat menyelamatkan diri kalau benar-benar mereka hendak membunuhku. Yang menjadi gara-gara di sini adalah Mao Taijin. Menteri itulah yang menjadi biang keladinya."

"Kenapa?"

"Karena dia hendak membunuh Bupati Wang. Kupergoki, dan akhirnya terjadi semua keributan itu."

"Hm..." Salima tiba-tiba bersinar mukanya.

"Bupati yang punya anak gadis cantik itu?"

"Benar."

"Dan kau membela Bupati ini?"

"Tentu saja. Dia tak bersalah, Sumoi. Bupati itu orang baik dan...."

"Suheng!" Salima tiba-tiba membentak, memotong kata-kata suhengnya itu.

"Siapakah sebetulnya yang hendak kaubela? Bupati tua itu ataukah anak perempuannya yang jelita? Kau tak perlu bohong padaku, Suheng. Kau rupanya sudah tergila-gila pada gadis siluman itu. Kau jatuh hati padanya." Kim-mou-eng terkejut.

"Sumoi..."

"Tak perlu mengelak!" Salima membentak lagi, merah mukanya.

"Aku tahu hubunganmu dengan puteri Wang-Taijin itu, Suheng. Dan tidak kusangka kalau dia berhasil memelet dirimu sedemikian rupa. Terkutuk gadis siluman itu! Semoga dia disambar bledek (geledek)!" Kim-mou-eng marah.

Dia terkejut dan gusar mendengar sumoinya ini memaki-maki Cao Cun, puteri Bupati Wang itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment