Chapter 140
"Sudikah Paduka dilayani hamba? Hamba nyatakan ini agar Paduka tak kecewa!"
Sang Kaisar tertegun, lalu tertawa lebar. "Aku tahu, kau kira bentuk potongan tubuhmu dapat menyembunyikan hal itu dariku, Sien Nio! Tidak perlu kau beritahukan sekalipun, aku tahu bahwa kau sudah bukan perawan lagi!"
"Kalau begitu, Paduka tak kecewa?"
"Karena kau tak perawan?"
"Benar."
"Ah, itu tak jadi soal bagiku, Sien Nio. Aku tidak membutuhkan keperawananmu, aku membutuhkan permainanmu yang bersifat menghibur!"
Sien Nio terkejut. Dia sadar bahwa kali ini yang dihadapi adalah laki-laki yang sudah berpengalaman. Kaisar bukan laki-laki muda yang masih hijau. Kaisar telah menikmati hubungan cinta dengan banyak wanita; selirnya saja seabrek. Sien Nio sudah mendengar itu. Jadi, kalau dia mengira Kaisar mengincar yang perawan saja dan dia takut Kaisar marah padanya karena ia sendiri sudah tidak perawan, maka hal itu sungguh di luar dugaannya. Kaisar telah tahu bahwa dia bukan perawan lagi. Tanda bahwa Kaisar memiliki mata tajam yang membuat dia terkejut. Tentu saja begitu, karena Kaisar ini adalah laki-laki yang sudah matang pergaulannya dengan perempuan. Dia tahu dan dapat membedakan mana yang perawan dan mana yang bukan dengan melihat bentuk tubuhnya saja, melihat potongannya, mungkin ditambah lagi dengan melihat sikap atau gerak-gerik wanita yang bersangkutan. Jadi, sungguh bodoh kalau menganggap Kaisar tidak tahu apakah dia perawan atau tidak.
Satu hal yang sudah dia buktikan. Sien Nio terkejut dan kagum juga. Tapi, karena penasaran mengapa Kaisar tidak peduli dia perawan atau bukan, tiba-tiba Sien Nio ingin tahu lebih lanjut alasan Kaisar bersikap begitu.
"Maaf, hamba penasaran. Bolehkah hamba bertanya tentang sesuatu, Sri Baginda?"
"Tentang apa? Tentang keperawanan?"
Sien Nio lagi-lagi terkejut. "Dari mana Paduka tahu?"
"Ha-ha, sinar matamu saja sudah memberitahukan itu padaku, Sien Nio. Bahwa kau penasaran kenapa aku tidak marah karena kau tidak perawan lagi!"
"Benar!" Sien Nio hampir terpekik. "Apa yang Paduka katakan sungguh benar, Sri Baginda. Itulah yang hamba pikir dan dengan cepat sekali Paduka tebak!"
"Aku tidak menebak, aku memang tahu itu. Nah, apa yang mau kau bicarakan lagi?"
Sien Nio tertegun. Sekarang dia menyadari bahwa dia benar-benar berhadapan dengan seorang lawan berat, laki-laki yang matang dan mahir pula membaca pikiran orang lain—hal yang membuat Sien Nio tergetar dan berdebar. Tapi karena kagum dan ingin tahu lebih lanjut, akhirnya gadis ini bertanya dengan menggigil, "Sri Baginda, maafkan hamba. Hamba ingin bertanya sekadar menambah pengetahuan belaka. Paduka tadi mengatakan tak peduli akan keperawanan karena Paduka lebih membutuhkan permainan yang bersifat menghibur. Padahal kebanyakan lelaki lebih mementingkan keperawanan daripada yang lain. Apakah sebenarnya yang membuat Paduka berpandangan begitu? Bolehkah hamba tahu?"
Kaisar tersenyum. "Kau serius?"
"Kalau Paduka berkenan menjawabnya, Sri Baginda. Dan maafkan kalau hamba dianggap lancang."
"Baiklah, akan kujelaskan padamu," sang Kaisar tertawa, lalu menatap gadis ini dengan omongan yang berbobot. "Sien Nio, ada dua hal yang membedakan gadis perawan dan yang tidak perawan. Yang pertama lebih bersifat dilayani, yang kedua melayani. Dan karena aku mengharap yang kedua, maka pilihan itulah yang kucari. Kau mengerti?"
"Tidak."
"Kalau begitu kau bodoh," Kaisar tertawa. "Hal ini sebenarnya sederhana, Sien Nio. Bahwa antara yang melayani dan yang dilayani terdapat perbedaan besar."
"Hamba masih belum mengerti." Sien Nio merah mukanya, merasa Kaisar itu memang pandai. "Hamba belum paham akan apa yang Paduka maksudkan, Sri Baginda. Mohon pemberitahuan secara jelas agar hamba mengerti."
"Baiklah, kau tampaknya berminat belajar." Kaisar tersenyum seraya membelai gadis itu. "Sien Nio, aku tak suka yang perawan karena aku mendapat pengalaman berkali-kali bahwa yang perawan masih bodoh. Aku hanya sekadar bersenang-senang, tak mengadakan ikatan dengan wanita yang berduaan denganku. Kalau dia bodoh dan harus banyak diberi tahu ini-itu, bukankah kesenanganku terganggu? Aku ingin dihibur, bukannya menghibur. Jadi kalau mereka tak tahu apa-apa dan aku harus banyak memberi petunjuk, maka kesenangan yang kuinginkan berubah menjadi kejengkelan! Kau pernah dibuat jengkel lelaki?"
Sien Nio tertegun. "Eh, kau pernah dibuat jengkel lelaki?"
"Per... pernah!" Sien Nio terkejut, gugup secara mendadak. "Hamba pernah dibuat jengkel lelaki, Sri Baginda. Dan hamba memang marah dibuatnya!"
"Nah, itulah," Kaisar tertawa. "Begitu pula aku, Sien Nio. Gadis yang dibawa ke sini dan masih perawan ternyata harus diberi tahu ini-itu agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Dan ini berarti mereka harus dilayani, bukannya melayani. Karena aku tidak bermaksud mengadakan ikatan dengan mereka, tentu saja aku tidak senang dan lebih baik memilih yang tidak perawan saja tapi pandai melayani laki-laki. Kau paham?"
Sien Nio tertegun. "Paham. Lalu yang jenis kedua itu, yang melayani itu, bagaimana, Sri Baginda?"
"Mereka tentu saja pandai. Aku tak repot-repot, mereka benar-benar dapat menghibur dan memberi kesenangan padaku, bukannya kejengkelan."
Sien Nio mengangguk-angguk. "Begitukah?"
"Ya, kau mengerti?"
"Hamba mengerti. Tapi bagaimana perbedaan dasar di antara keduanya itu, Sri Baginda? Bolehkah hamba bertanya lebih lanjut? Maaf, hamba ingin tahu."
"Apa maksudmu?"
"Artinya apa kelebihan dan kekurangan masing-masing pihak itu, Sri Baginda? Artinya kesimpulan apa yang harus diberikan pada kedua kelompok itu."
Kaisar tertawa. "Artinya, untuk kelompok yang pertama itu mereka menang penampilan, Sien Nio. Sedang yang kedua menang dalam segi permainan."
Sien Nio terkejut. "Penampilan dan permainan?"
"Ya, tidakkah kau lihat itu? Gadis yang masih perawan biasanya menang penampilan. Mereka itu masih suka 'gaya'. Padahal kalau mereka diajak bermain cinta, sungguh kepandaian mereka itu nol besar. Mereka hanya berlagak, penampilannya memang boleh. Tapi sekali diajak main ranjang, sungguh mereka itu menjemukan karena tak tahu apa-apa sama sekali. Nol besar!"
Sesudah puas, lalu melepaskan diri, tiba-tiba Kaisar melonjak berseru aneh. Sien Nio memang pandai, dia memang jagoan. Dan karena Kaisar mendapatkan orang yang tepat dan Sien Nio pandai menghibur, akhirnya malam itu Sien Nio tak kembali ke kamarnya sendiri, di mana Fang Taijin menunggu dengan harap-harap cemas akan kembalinya selirnya itu.
Keesokan harinya, ketika Fang Taijin bangun dengan kaget karena seorang pengawal mengetuk pintunya, mendadak ia dipanggil Kaisar.
"Maaf, hamba diutus kembali, Taijin. Sri Baginda memanggil Paduka!"
"Ada apa?" Fang Taijin pucat. "Ada kesalahankah?"
"Hamba tak tahu."
"Dan di mana Sien Nio?"
"Hamba juga tak tahu, Taijin. Tapi semalam berada di kamar Sri Baginda."
"Ah, baiklah. Tunggu sebentar...!" Fang Taijin yang gugup dan pucat membayangkan kesalahan, tiba-tiba sudah mengikuti sang pengawal menghadap Kaisar. Di tengah perjalanan ia kebat-kebit tak tahu apa kira-kira yang membuat Kaisar memanggilnya, mungkin ada hubungan dengan Sien Nio. Barangkali Sien Nio kurang ajar dan tidak menyenangkan Kaisar, atau hal lain yang tidak ia ketahui.
Tapi ketika ia tiba di sana dan Kaisar memberi tahu bahwa Sien Nio hendak dimintanya sebagai selir, mendadak gubernur ini tertegun dengan mata terbelalak, hampir tak mempercayai telinga sendiri dan nyaris menolak. Kembang kesayangannya diminta orang lain. Tapi karena yang meminta itu adalah Kaisar dan ia terang tak berani menolak, akhirnya pembesar ini gigit jari menganggukkan kepalanya. Betapapun, ia tak berani main-main. Hidup matinya di tangan junjungannya itu. Sekali menolak, tentu ia akan mendapat banyak gangguan. Yang jelas, pangkatnya dicabut dan mungkin nyawanya ikut dicabut pula. Maklum, ia menghadapi orang yang paling top kekuasaannya. Kekuasaan lagi-lagi mengalahkan segalanya.
Ketika gubernur ini gigit jari dan pulang kembali ke Hu Peh, maka sejak saat itu Sien Nio tinggal di istana menjadi selir Kaisar. Sungguh kemajuan yang luar biasa pesat, mengingat Sien Nio dulunya gadis desa, perawan kampung!
Fang Taijin yang pulang ke Hu Peh dengan tangan hampa dibuat lebih mendongkol lagi karena Sien Nio yang dimanja dan disayangnya itu sama sekali tak mau memberi ucapan selamat berpisah. Sungguh menyakitkan! Tapi Fang Taijin mendapat imbalan lain; Kaisar membebaskannya selama lima tahun untuk memberi upeti. Jadi, upeti itu menambah kekayaan gubernur ini sendiri. Karena Fang Taijin kecewa dan mendongkol oleh semuanya itu, maka sebagai gantinya pembesar ini lalu mencari Sien Nio-Sien Nio lain untuk pelampias kecewanya.
Sien Nio memang tak dapat ditemui lagi sejak dipanggil Kaisar itu. Gadis ini telah memasuki era kehidupan baru. Kemewahan dan kenikmatan memandikannya di tempat ini, bergelimang harta dan perhiasan menarik yang diberikan Kaisar kepadanya. Maklum, Kaisar pun mabuk dan jatuh sayang padanya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena kepandaiannya bermain cinta itu. Kaisar mendapat lawan setingkat. Tapi karena kenikmatan nafsu berahi tak kenal artinya puas yang sejati, maka beberapa bulan kemudian Kaisar mulai jarang minta dikunjungi Sien Nio. Hal yang membuat Sien Nio mengerutkan kening karena itu berarti permintaannya akan ini-itu berkurang. Kaisar tak memberinya hadiah lagi. Lama-lama kok terasa "pelit" dan Sien Nio penasaran, ingin tahu sebabnya.
Dan ketika dia tahu sebabnya bahwa Kaisar mendapat selir baru yang tak kalah cantik dan pandai dengannya, tiba-tiba saja Sien Nio sakit hati dan marah. Itulah kenikmatan badan. Kenikmatan badan selalu berhubungan dengan ego. Rasa keakuan. Semakin dituruti, semakin menggila.