Chapter 141
Rasanya memang nikmat, tetapi hanya membawa kebahagiaan semu, bukan yang abadi dan bukan pula yang sejati. Ah, jauh dari itu.
Dan karena kaisar memang hanya mencintai kenikmatan badani semata dan bukanlah cinta yang luhur, maka itulah pula yang kaisar dapatkan. Dia memburu kesenangan, bukan kebahagiaan. Dan karena kesenangan itu selalu berubah-ubah dan menganggap yang di depan mata lebih menyenangkan dan lebih nikmat lagi, maka apa yang dilakukan Sien Nio dan telah berulang kali dinikmati kaisar ini sudah tidak lagi memberikan kenikmatan seperti dulu.
Ada semacam erosi di situ. Kenikmatan itu mulai digerogoti oleh rasa bosan dan jemu. Kaisar merasa jenuh dan butuh pembaharuan, serta penyegaran. Dan karena hubungan badan yang kerap dengan orang yang itu-itu saja menimbulkan keausan rasa nikmat, maka tak ayal lagi kaisar meminta sesuatu yang baru, yang belum pernah berhubungan dengannya. Wanita segar, yang masih memikat.
Dan karena kaisar adalah orang yang berkuasa, dan kekuasaan mampu memberikan segala-galanya yang bersifat duniawi, maka tak lama kemudian kaisar telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Seorang gadis cantik, mulus, dan tak kalah pandai dengan Sien Nio. Diam-diam, ia telah menyuruh seorang kasim (pembesar kebiri) untuk mendidik dan memberikan pelajaran tentang bercinta kepada gadis baru itu, Le Yang. Hasil didikan atau "resep" yang diketahui kaisar dari Sien Nio sendiri. Jadi, kaisar "mencuri" kepandaian gadis itu untuk diberikan kepada Le Yang, melalui seorang kasim.
Dan karena Le Yang mampu memberikan kesenangan dan kenikmatan yang tak kalah dibandingkan dengan Sien Nio, maka lantas kaisar segera memilih gadis ini, yang dianggapnya baru. Belum ada kejenuhan atau kebosanan baginya.
Dan Sien Nio yang marah melihat semuanya itu, tiba-tiba dengan berani dan nekat menyuruh seseorang, seorang dayang, membunuh Le Yang, melalui minuman beracun. Persis hasil pengalamannya dulu di rumah Boen-taijin, di Cun Tien!
Gegerlah istana. Kaisar marah-marah, menyuruh orang menyelidiki, dan Sien Nio pun ketahuan. Dayangnya ditangkap. Dan ketika dayang itu mengaku dan Sien Nio terseret, akhirnya dengan menangis tersedu-sedu, ia pun mengakui perbuatannya. Kaisar terbelalak, Sien Nio menyatakan itu karena cemburu.
Tetapi ketika Sien Nio hendak dihukum dan tiba-tiba muntah-muntah, kaisar tertegun. Seorang tabib berseru tertahan, "Dia berbadan dua...?" Kiranya Sien Nio mengandung. Dia telah hamil, menerima benih dari kaisar. Tentu saja kaisar terkejut dan membatalkan hukumannya. Tidak mungkin ia membunuh Sien Nio, karena ia berbadan dua. Selirnya itu akan memberikan keturunan.
Dan karena urusan itu memang bersifat internal dan perbuatan Sien Nio dilakukan karena kelalaian kaisar sendiri yang sudah tidak menengok selirnya ini, akhirnya Sien Nio pun diampuni dan dibebaskan dari hukuman, karena telah mengandung. Sebuah keberuntungan yang membuat dia selamat. Dan ketika beberapa bulan kemudian dia melahirkan anak laki-laki dan kaisar girang mendapatkan keturunan ini, maka perbuatan Sien Nio dianggap selesai dan urusan diputus sampai di situ saja.
Tetapi ada satu kerugian Sien Nio yang tidak tampak di depan mata. Dia dianggap tidak baik oleh kaisar. Wataknya culas. Kaisar mulai mengenal selirnya ini jahat dan keji. Tetapi karena Sien Nio tidak melakukan apa-apa lagi setelah peristiwa itu, maka kaisar pun tidak mendapatkan bukti, dan ia memperlakukan selirnya ini seperti biasa.
Tahun demi tahun berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Semuanya tenang. Begitu kelihatannya. Dan ketika tiga puluh tahun berlalu dan Sien Nio tidak menunjukkan tingkah yang macam-macam lagi, maka kaisar pun pulih kepercayaannya dan menganggap Sien Nio telah menjadi baik. Inilah kelengahan dalam mengamati manusia. Manusia adalah makhluk hidup, dia terdiri dari dua unsur, positif dan negatif. Jadi, kalau menganggap manusia positif saja dan melalaikan yang negatif ini, maka itulah kelengahan sang pengamat.
Sien Nio memang baik, begitu kelihatannya. Kaisar tidak tahu bahwa kebaikan ini adalah kebaikan semu yang dipoles Sien Nio. Betapa pun, Sien Nio akhirnya tahu bahwa kaisar telah mencap dirinya sebagai wanita yang culas. Tentu saja dia berhati-hati dan tidak berani sembrono lagi setelah pembunuhan terhadap Le Yang. Wataknya diubah seratus delapan puluh derajat dengan sikap buatan. Ambisinya tidak padam, sejenak terhenti setelah dia merasakan nikmatnya menjadi selir kaisar. Walaupun begitu, ia punya kekuasaan yang "lebih" pula, apalagi kalau dibandingkan sewaktu dia masih di tempat Pin-Loya, perkampungan tuan tanah itu. Oh, hidupnya sekarang jauh lebih baik. Bahkan amat baik, teramat baik.
Tetapi karena seperti telah diceritakan di depan, kaisar tidak kerap lagi menghubungi gadis ini karena kejenuhan mulai melanda kaisar, maka keistimewaan Sien Nio lama-kelamaan dianggap biasa. Sien Nio, meskipun masih diperhatikan, tetapi tidak seperti dulu-dulu lagi. Tidak seperti waktu pertama kalinya. Maklum, cinta yang bersifat badani memang begitu. Dan ketika Sien Nio mengandung dan kaisar mencari kesenangannya pada selir lain — sebuah kodrat yang memang tidak dapat ditolak — Sien Nio telah tersingkir, kasih sayang kaisar pun agak berkurang.
Dan ketika semuanya itu ditambah dengan kelahiran putra mahkota dari rahim permaisuri, tiba-tiba Sien Nio merasa terancam kedudukannya. Kaisar melimpahkan kasih sayangnya pada putra mahkota itu. Tidak perlu diherankan, itulah calon pemimpin negara. Dan ketika tahun demi tahun berlalu, sementara putra mahkota juga menjadi besar dan anak Sien Nio sendiri juga menjadi laki-laki dewasa yang tumbuh dengan sehat, maka Sien Nio yang menyimpan ambisi setinggi langit ini mulai mengatur rencana. Dia merasa dirinya kian tua. Kaisar hampir tidak pernah lagi menjamahnya sejak dia berumur tiga puluh lima tahun.