Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 142

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 142

Sakit sekali rasanya. Namun, Sien Nio yang pandai menyimpan perasaan dan menekan semua keinginannya mencoba bersabar untuk menunggu saat yang tepat.

Saat itu akhirnya tiba. Putranya dicalonkan menjadi penasihat kaisar, kelak ketika putra mahkota telah menggantikan kedudukan ayahnya. Tentu saja itu berkat perjuangan Sien Nio yang merengek-rengek pada kaisar. Suatu hari, ia berhasil mendapatkan janji kaisar ketika anaknya berumur sembilan tahun, saat ia melayani dan membangkitkan kenangan lama kaisar akan kenikmatan dan kesenangan yang telah ia berikan.

Ketika putra mahkota resmi ditentukan sebagai pewaris takhta dan putranya menjadi calon penasihat, saat itulah Sien Nio mulai menunjukkan watak kejinya. Siapakah putra wanita ini? Pembaca dapat menduga. Benar, dialah Pangeran Muda, pangeran yang mewarisi kecerdikan ibunya dan kini mulai mengumpulkan para datuk sesat, seperti Mo-ong dan teman-temannya. Tentu saja ibunya berada di belakang layar. Karena Sien Nio telah menyiapkan rencana ini bertahun-tahun lamanya dengan sabar, Pangeran Muda pun tidak dapat banyak bertindak sebelum ibunya memberi isyarat.

Titik rencana mulai disulut. Pangeran Muda, melalui pengaruh ibunya, mulai mengadakan persekutuan dengan para pembesar durna yang tamak akan harta dan kedudukan. Mereka adalah incaran Sien Nio yang pandai. Betapapun Sien Nio mengenal watak orang-orang tertentu di sana, seperti Mao-taijin dan lainnya, pengetahuan Sien Nio yang luas cukup membuat segan orang-orang istana. Ketika satu demi satu rencana sudah diatur dan sumbu dinamit sewaktu-waktu dapat diledakkan, Sien Nio mulai tersenyum keji melihat persiapannya yang matang. Wanita ambisius ini siap mendudukkan putranya menjadi orang paling berkuasa di negara itu. Puncak kepercayaannya menjadi kuat setelah Gurba masuk, tokoh bangsa liar yang dikenal hebat itu. Saat senyum itu semakin melebar dan Sien Nio yakin akan keberhasilannya, tiba-tiba gadis remaja yang telah menjadi wanita setengah umur ini memencet tombol dan hilang di balik pintu rahasia.

Lama kita tidak mengikuti Gurba. Kisah Sien Nio si gadis desa telah kita ikuti. Bagaimana dengan raksasa tinggi besar ini? Sebenarnya sama saja, hanya berbeda kembangnya. Gurba dibuat kecewa oleh urusan cinta. Ia gagal dan kini terhasut bujukan Pangeran Muda. Ia terpikat dan tergila-gila oleh obat kecewa berupa Wan Cu, si cantik yang disodorkan Pangeran Muda untuk menjerat raksasa itu karena tenaganya dibutuhkan. Di antara kelompok Mo-ong, dialah yang memiliki kepandaian paling tinggi dan hebat.

Gurba yang tunduk pada perjanjian untuk mengadakan serangan di luar Tembok Besar segera menanti dan mengumpulkan bekas suku-suku nomad yang dulu tercerai-berai. Tidak sukar bagi raksasa ini untuk menemui suku bangsanya, tapi tidak mudah baginya untuk membujuk mereka. Karena peristiwa dulu, "perzinaan" Gurba dengan Bi Nio ternyata menimbulkan semacam trauma bagi bangsa Tartar, terutama bagi kelompok Munga yang tewas di tangan Siga, pembantu Gurba.

Ketika Gurba datang ke sana, ia disambut dengan pandangan mata yang keras. Gurba membelalakkan mata. "Mana Siga?" Tidak ada yang menjawab. "Hei, mana Siga! Tulikah kalian?" Gurba menjadi marah dan menyambar seorang di antaranya yang berdiri paling depan. Hampir saja ia membanting orang itu kalau seseorang tidak datang—seorang pemuda bertubuh tegap bermata lebar dengan sebatang tombak di tangannya.

"Hanggoda, lepaskan orang itu. Sebaiknya kau bicara dengan aku!" Gurba tertegun. "Kau siapa?" Ia lupa-lupa ingat. "Aku Bora, adik dari Munga!" Gurba segera mengenal orang ini, melempar laki-laki yang dicengkeramnya, lalu melangkah maju dengan mata berkilat. "Bagus, aku ingat kau. Kau benar Bora, adik dari Munga. Mana Siga dan kenapa orang-orang ini melotot seperti tikus kelaparan?"

Bora, pemuda bermata lebar itu mendengus. "Kami tidak tahu di mana Siga, Hanggoda. Tapi kami tak ingin kau menginjakkan kaki di sini!" "Kenapa?" "Bangsa Tartar tak menerima tamu yang telah melakukan perbuatan hina. Kau telah melakukan apa yang menjadi pantangan bangsa kami, berzina dengan Bi Nio!"

"Keparat!" Gurba mengerang marah. "Kau berani bicara seperti itu di depan aku, Bora? Kau minta kubanting?" Bora tersenyum mengejek. Sekumpulan orang di sekelilingnya maju melindungi pemuda itu. Mereka tahu Gurba memiliki kepandaian tinggi dan Bora bisa dibunuh jika raksasa itu marah. Namun, Bora mengembangkan lengan, menyuruh orang-orangnya minggir. Dengan dada terangkat dan tombak melintang, ia melangkah maju.

"Hanggoda, kami tahu bahwa kami mungkin bukan lawanmu. Kau kebal, ilmu silatmu tinggi, dan aku tentu mampus melawan kesaktianmu. Tapi kami kelompok Tartar yang menjunjung kegagahan dan keperwiraan sebagai laki-laki jantan tidak takut padamu. Aku sekarang pemimpin di sini. Kalau kau memang tak memusuhi kami dan mencari Siga, sebaiknya kau pergi. Tapi, kalau kau mau memusuhi kami dan mencari keributan, aku akan maju menghadapimu membela suku bangsaku, meskipun aku harus mampus di tanganmu!"

Gurba tertegun. Ia marah besar dan siap melepaskan pukulan maut, namun melihat kegagahan pemuda ini, ia membelalakkan mata dengan gemetar. "Bora, kau berani mengucapkan kata-kata seperti itu di depan aku yang pertama memimpin kalian? Aku datang bukan untuk membunuh, melainkan mengumpulkan kalian untuk bersatu seperti dulu, menyerang musuh!"

"Dan kembali beralasan terjebak kalau musuh mempergunakan wanita? Hm, kami tidak mau bersatu denganmu, Hanggoda. Kau telah meninggalkan titik noda yang tidak dapat kami hapus. Hidup atau mati, kami ingin sendiri." Bora menancapkan tombaknya dengan tegas. Gurba merasa terpukul. Raksasa itu mengerang dan hampir mencelat maju, namun seorang kakek berseru nyaring, "Gurba, kau boleh membunuh Bora. Boleh saja mencincang dan menyiksa dia. Tapi kalau kelompok tak mau ikut padamu dan membenci dirimu, maka percuma saja kau memaksa kami, biarpun kau membunuh kami semua!"

Gurba tertegun. "Kau Kakek Yami?" "Ya, aku si tua Yami." "Dan kau membela si tolol ini?" "Bukan aku saja, Gurba. Melainkan semua orang yang kau anggap tolol di sini." Gurba terhenyak. Ia tahu keteguhan suku bangsa Tartar; kekerasan hati, kejantanan, dan sikap pantang dihina. Gurba memandang si tua Yami dengan mengeluh dan mundur terhuyung. "Kakek Yami, aku datang bukan untuk membunuh kalian. Aku datang untuk meminta bersatu."

"Tapi kami tak dapat menerimamu, Gurba. Hanya mengingat jasa-jasamu di waktu yang lalu kami masih menyambutmu baik-baik. Kalau tidak, tentu kami sudah menyerangmu." Gurba mengerang. Ia mendelik memandangi semua orang di situ. Ia sakit hati dan terpukul. Namun, tiba-tiba angin berkesiur disusul menancapnya sebuah lembing di depan kaki Bora, diiringi bentakan seorang laki-laki.

"Bora, kau tak tahu adat menyambut pemimpin besar. Aku, Siga, datang menegur perbuatanmu!" Begitu seseorang melompat ke depan, Bora dan orang-orangnya terkejut. Muncullah seorang pemuda lain dengan seekor rusa berlumuran darah di pundaknya. Siga, pemuda gagah yang menjadi andalan Gurba ketika menyerang kota raja, telah datang.

Bora dan yang lainnya mundur selangkah. Suara berkerosak menyuarakan padang rumput disusul bayangan ratusan laki-laki yang muncul bagai iblis. "Hanggoda, kami datang!" Kakek Yami dan yang lain semakin terkejut. Itulah orang-orang Siga, kelompok lain yang dipimpin pemuda itu semenjak mereka pecah menjadi dua akibat peristiwa Bi Nio yang menjebak Gurba.

Ketika ratusan laki-laki itu muncul, meneriakkan nama Gurba, dan menjatuhkan diri berlutut, Siga segera memberi hormat. "Hanggoda, kami datang sebagai anak buahmu yang setia. Kami lama menunggu kedatanganmu. Kalau Bora dan teman-temannya tak mau ikut, biarlah tinggalkan si pandir itu untuk memimpin kami."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment