Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 143

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 143

"Bora dan teman-temannya orang-orang picik, bodoh, dan tolol. Sebaiknya tinggalkan mereka dan pimpinlah kami."

Bora marah. Namun, Gurba yang girang oleh munculnya Siga tiba-tiba melompat maju, menepuk pundak Siga yang tegap dan kuat.

"Siga, kau datang membawa pasukanmu?"

"Ya, kami datang setelah mendengar suara Hanggoda. Kami siap membela namamu dari Bora dan orang-orangnya itu!"

"Tidak, kalian tak boleh bertempur. Kalian tak boleh berkelahi," seru Gurba yang gembira, membelalakkan matanya, dan buru-buru mengangkat lengannya ke atas. "Hei! Kalian adalah orang-orang satu suku. Kita bangsa Tartar yang besar. Tak perlu menumpahkan darah sesama teman sendiri."

Bora menjengek, "Tapi kami tidak mengakui dirimu, Hanggoda. Kami kelompok terpisah yang tidak ingin hidup bersama kalian!"

Siga marah, "Bora, tahan mulutmu! Hanggoda adalah pemimpin besar suku kita. Dialah yang menyatukan kita dan membuat bangsa Tartar menjadi bangsa yang besar!"

"Itu dulu, Siga. Kami tak mengakui dirinya lagi sejak dia berbuat zina dengan wanita pedalaman itu. Bangsa Tartar pantang menerima anggotanya yang berzina dengan istri orang lain!"

"Keparat!" Siga membentak. "Kau tak tahu malu menghina pemimpin besar, Bora? Ku-robek mulutmu nanti, kubunuh kau!"

"Hm, dengan bantuan Hanggoda ini? Boleh, Siga, majulah dan biar aku mati membela kelompokku." Bora tersenyum mengejek. Siga memekik dan hampir melompat maju. Suasana menjadi panas.

Namun, Gurba yang menggeleng tak menghendaki keduanya bertempur tiba-tiba maju ke depan mencengkeram bahu dua pemuda itu. "Siga, Bora, aku tak menghendaki kalian berkelahi. Mundur!"

Kedua pemuda itu terpelanting. Baik Bora maupun Siga tentu saja tak dapat menerima kekuatan Gurba; masing-masing mengeluh, tapi melompat bangun lagi dengan mata melotot. Ketika mereka beradu pandang dan orang-orang Bora mengepung dengan senjata terangkat, tiba-tiba Siga berseru lantang sambil mengacungkan tombaknya.

"Hanggoda, biarkan aku menghadapi orang-orang ini. Namamu patut dibela, Bora memang tak tahu diri, dan biarkan kami selesaikan persoalan ini dengan cara kelompok suku!"

Sebelum Gurba melarang atau bertindak sesuatu, Siga sudah menyuruh orang-orangnya mundur, menantang Bora. "Bora, urusan di antara kita rupanya sudah mencapai puncaknya. Hanggoda di sini, biarlah kita tentukan persoalan kita dengan cara jantan. Beranikah kau menerima duel perorangan dan bertanding cara Tartar?"

Bora mengangguk, "Aku tak takut ancamanmu, Siga. Tapi jelaskan dulu arti tantanganmu; apakah kau dibela Hanggoda atau tidak? Kalau kau berdua mau maju, tentu aku kalah. Kita tak usah bertanding dan kuberikan kepalaku secara cuma-cuma!"

"Tidak!" Siga membentak. "Hanggoda di sini hanya sebagai saksi, Bora. Siapa yang curang harus mendapat hukumannya. Kita berdua bertanding secara jantan; siapa kalah, sisa kelompoknya harus mengikuti yang menang. Kau berani?"

Bora terkejut. "Kenapa membawa-bawa kelompok?"

"Kau takut?"

"Siapa takut?" Bora meradang. "Hanya ini pertandingan berdua, Siga. Kenapa membawa-bawa orang lain sebagai taruhan? Aku siap membunuh atau dibunuh, tapi anak buah kita sebaiknya tak perlu diikutsertakan!"

"Kalau begitu kau dan kelompokmu pengecut. Coba dengar apa yang diserukan anak buahku... Hei!" Siga langsung menghadapi orang-orangnya dan berseru, "Apakah kalian takut kalau aku kalah dalam pertandingan ini, lalu aku menjadi pengecut yang tidak setuju dengan caraku ini, dan kalian siap membantah?"

Pengikut Siga memekik, "Tidak, kami tidak takuti siapa pun, Siga. Kalau kau mau bertanding dengan cara Tartar dan mempertaruhkan kami sebagai taruhan, tentu saja kami tak akan menolak. Kau adalah pemimpin kami setelah Hanggoda. Karena itu, apa yang kau lakukan tak akan kami tolak karena kami tahu bahwa yang kau lakukan sebenarnya adalah demi kami juga, bangsa Tartar yang gagah perkasa!"

"Nah, kau dengar, Bora?" Siga mengejek. "Orang-orangku siap mendukungku dalam pertarungan ini. Kalau kau dan orang-orang pengecut tak berani menerima tantangan, sebaiknya tak perlu mengaku sebagai bangsa Tartar yang gagah dan perwira!"

Bora terpukul. Sikap dan kata-kata lawan memang tegas sekali. Dia diajak taruhan; duel cara Tartar di mana pemimpin melawan pemimpin dengan anak buah sebagai taruhan. Yang kalah harus menyerahkan diri dan kelompoknya harus mengikuti kelompok yang menang. Padahal dia menghendaki duel itu bersifat pribadi saja tanpa mengikutsertakan anak buah. Namun, karena anak buah Siga sudah menyatakan pendapatnya sementara dia dan anak buahnya tentu saja tak boleh kalah muka, Bora termangu sejenak dengan muka merah padam.

Bora harus mengikuti Siga. Menolak berarti pengecut. Bora membalikkan badan menghadapi anak buahnya dan akhirnya bertanya dengan nada geram, "Bagaimana, kalian berani menerima tantangan?"

Serempak kelompok Bora mengangguk. "Kami berani, lakukan saja, Bora. Kami juga bukan pengecut dan mempercayakan kemenangan padamu!"

Bora menghadapi Siga kembali. "Nah, kau dengar. Kelompok Bora bukan manusia penakut, Siga. Kalau kau menantang kami, tentu saja kami terima. Aku siap mempertaruhkan nyawaku demi kelompok sukuku!"

"Bagus, kau memang jantan. Kalau begitu mari kita mulai, masing-masing kelompok sebagai saksi!"

Siga meraih tombak seorang pembantunya dan melemparkannya pada Bora; akhirnya dibalas dengan hal yang sama ketika Bora melemparkan tombaknya. Masing-masing bertukar tombak lawan, boleh memeriksa dan minta ganti kalau mendapatkan sesuatu yang mencurigakan. Biasanya, pantang bagi mereka memberikan tombak yang retak.

Ketika masing-masing memeriksa dan menerima tombak lawan, keduanya minta disediakan seekor kuda. Itulah cara orang Tartar berduel. Mereka akan mengadu kepandaian di atas kuda, saling menusuk dan menyerang. Kalau salah satu roboh dan tewas, maka yang lain dianggap menang. Tapi kalau tombak sama-sama patah, maka mereka boleh minta yang baru sampai tiga kali berturut-turut. Kalau masih juga seri, maka mereka akan bertarung tanpa senjata di atas tanah; saling banting dan cekik, pertarungan gulat sampai salah satu roboh atau menyerah.

Ketika kuda telah disiapkan dan masing-masing kelompok mundur menjauhi arena, Siga dan Bora telah melompat di atas punggung kuda masing-masing.

"Bora, arah mana yang kau inginkan?"

"Aku di barat, kau di timur."

"Baik." Siga bertukar tempat menuju arah timur dan mencambuk kudanya menuju tempat itu.

Genderang tiba-tiba dipukul. Dua kelompok besar itu memperhatikan tindak-tanduk keduanya, betapapun ketegangan menyelinap di hati mereka. Siga dan Bora sama-sama pemuda yang pandai memainkan tombak, begitu pula dalam hal menaiki kuda. Masing-masing agaknya tak berbeda jauh.

Ketika semuanya siap dan Bora menuju arah barat, terompet ditiup sebagai tanda dimulainya serangan.

"Bora, maju...!"

Bora mengangguk. Di pihak sana, Siga juga sudah menarik tali kekang kudanya. Keduanya bergerak cepat dan masing-masing sama berderap untuk menghampiri lawan, tombak terangkat, dan Siga maupun Bora memandang beringas. Ketika kuda sama-sama berpacu dan masing-masing tuannya membentak, dua ekor kuda itu pun mencongklang mendekati yang lain.

"Hyahh...!"

Orang-orang memandang tegang. Derap kaki kuda seakan menghentak-hentak jantung mereka, mendebarkan, dan membuat degup meloncat-loncat. Dua pemuda itu telah saling menghampiri dengan cepat.

Ketika mereka berpapasan dan Siga maupun lawan memekik menusukkan tombaknya, dua senjata panjang itu bertemu di udara.

"Crang...!"

Siga dan lawannya terputar. Kuda mereka tak kuat menahan benturan, meringkik, dan ikut terputar setengah lingkaran dengan kedua kaki diangkat. Siga dan lawan cepat merangkul leher kuda dan menenangkan hewan itu. Ketika kuda menurunkan kakinya kembali dan mereka cepat mengendalikan kuda, masing-masing sama berputar dan menusukkan tombaknya lagi.

"Crang! Crang!"

Dua tombak sudah mulai berdentingan. Siga dan Bora mengadu kecepatan, tentu saja juga kekuatan. Keduanya mulai berlaga, tombak saling tusuk dan tikam. Mereka sering menyerang dan bertempur di atas kuda. Pertarungan berlangsung seru karena mereka harus mendahului yang lain, mencuri kelengahan. Sekali kena, tentu yang lain roboh.

Bora tampak lebih ganas karena pemuda ini teringat kematian saudaranya, Munga, di tangan Siga dulu, yang membuat bangsa Tartar pecah dan tersibak menjadi dua kelompok. Ketika Bora membentak-bentakkan tombak di tangannya, mematuk kiri-kanan bagai singa haus darah, Siga melayaninya dengan tenang tapi hati-hati.

Di sinilah mulai tampak perbedaan. Bora kelihatan beringas, sementara Siga melawannya dengan hati-hati. Keduanya memiliki tenaga berimbang, tapi Bora kelihatannya lebih kuat; tenaganya besar tapi sering meleset karena kelitan Siga yang manis. Dua-tiga gebrakan membuat Siga terdorong; orang melihat Siga kalah posisi. Tak lama kemudian, dia sering menangkis daripada menyerang, sering mundur dalam usahanya mengelak. Mata tombak Bora yang mengejarnya tak kenal ampun.

Ketika satu saat baju pundak Siga termakan tombak lawan, mendadak kelompok Bora berteriak gemuruh. "Bagus, desak terus, Bora! Bunuh dan lemparkan lawanmu dari atas kudanya!"

Bora mendapat semangat. Dia tertawa mengejek, matanya nyalang penuh nafsu membunuh, mencecar, dan terus mendesak Siga. Kuda mereka sering meringik karena perut sering dijepit, kesakitan, dan terus beringas seperti tuannya. Ketika Bora kembali berhasil menyontek rambut Siga dan hampir pemuda itu dicoblos kepalanya, kelompok Bora terjingkrak-jingkrak penuh kegembiraan.

"Bora, bunuh dia! Coblos sedikit ke bawah!"

Bora tertawa bergelak. Dia merasa gembira melihat lawan mundur-mundur. Siga tampak kewalahan tapi belum berhasil juga dilempar dari kudanya, hal yang membuat Bora gemas sekaligus penasaran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment