Chapter 144
Dan ketika kelompoknya mulai histeris dan Siga bermandi peluh, Bora menyeringai girang serta berkata sombong, "Kau kalah, sebaiknya menyerah dan lepaskan tombakmu, Siga. Minta ampun dan nyatakan dirimu kalah!"
"Tidak, aku masih kuat. Jangan sombong, Bora. Keadaan bisa berbalik dan kesombonganmu akan menjatuhkan dirimu sendiri."
"Ha-ha, tak mau menyerah? Kalau begitu kau akan kubunuh... wutt!"
Tombak di tangan Bora yang menusuk panjang tiba-tiba ditangkis, membuat Bora terbelalak. Siga masih memiliki tenaga yang hebat; mereka sama-sama tergetar dan terdorong. Begitu Bora membentak dan berteriak nyaring, pemuda itu menubruk maju lagi, tetapi Siga mengelak. Siga seakan takut menghadapi tombak Bora. Tentu saja Bora marah dan memaki Siga pengecut.
Siga tersenyum dan mulai menjauhkan kudanya, lalu bertempur sambil lari menghindar.
"Licik! Pengecut! Kau tak jantan, Siga. Kau curang!"
Siga tertawa. Perbuatannya membuat semua orang membelalakkan mata, bahkan pihaknya sendiri mengerutkan kening. Perbuatan itu dianggap pengecut dan menjatuhkan harga diri. Ketika Bora terus menyerang namun selalu luput, tiba-tiba Siga berbalik menerima tusukan tombak lawan: "Crang!"
Bora kaget setengah mati. Dia menyadari tenaganya berkurang banyak karena terbuang sia-sia saat mengejar Siga. Dia sadar Siga menggunakan taktik tersebut untuk membiarkannya kehabisan tenaga. Bora terjebak.
Ketika Siga maju menyerang balik, Bora mengeluh karena tombaknya terpental dan lawan masih tegar.
"Ha-ha, bagaimana, Bora? Kau masih sombong dengan kata-katamu tadi?"
Bora mendelik. Sekarang dia merasa tertipu, sadar bahwa lawannya cerdik. Dia tidak hanya menggunakan otot, melainkan juga akal. Kelompoknya tiba-tiba diam, sementara kelompok Siga berteriak girang melihat pemuda itu mendesak Bora. Ketika baju pundak Bora tertusuk tombak hingga robek panjang, kelompok Siga berseru gemuruh.
"Bunuh, lempar dia dari kudanya, Siga. Tusuk dan tikam jantungnya sampai mampus!"
Siga tertawa. Bora pucat melihat lawan menyerang terus, sementara tenaganya kian lemah akibat nafsu yang tak terkontrol. Saat Bora menangkis hingga tombak hampir terlepas dari tangannya, Siga mengejek, "Bora, kau akan kalah. Sebaiknya menyerah dan cepat minta ampun!"
"Siapa mau? Aku belum roboh, Siga. Senjata masih kupegang teguh. Tak perlu banyak mulut!"
Bora mulai berputar-putar di atas kudanya dan membalas dengan taktik yang sama. Dia membiarkan lawan membuang tenaga sementara dirinya memulihkan diri. Siga tertegun dan mengumpat karena Bora membalas dengan cara yang sama.
"Keparat, kau licik, Bora. Kau pengecut!"
"Ha-ha, siapa pengecut? Kau pun tadi melakukan hal yang sama, aku sekadar meniru untuk membalasmu!"
Bora mengejek, dan Siga pun dibuat mendongkol. Kelompok Bora bersorak, kagum akan kecerdikan keduanya. Namun, karena Bora hanya meniru, kelompok Siga memaki Bora sebagai pengecut yang tidak jantan dan berotak tumpul. Bora mendelik merah; telinganya panas karena tersinggung.
Ketika kekuatannya pulih, Bora menyergap dan memapak tombak Siga sekuat tenaga. Siga melakukan hal yang sama. Saat kedua tombak beradu di udara, keduanya patah dan mereka sama-sama terpelanting dari atas kuda. Mereka terbelalak melihat hasil yang seri.
Setelah mengambil tombak baru, pertarungan dilanjutkan di atas tanah. Berkali-kali tombak mereka patah hingga akhirnya mereka harus bertarung dengan tangan kosong.
"Keparat, kita bertarung dengan tangan kosong. Kucekik kau!"
Bora menubruk dengan beringas. Siga menangkis, lalu menangkap dan membanting lawannya. Bora membalas dengan tendangan ke perut hingga Siga terbanting. Mereka bergulingan melakukan gulat, masing-masing saling memiting dan membelit. Pertarungan menjadi liar dan tidak beretika.
Bora berhasil menindih dan mencekik Siga hingga napasnya terhenti dan pandangannya memudar. Bora bahkan menggigit daging Siga. Kelompok Bora bersorak, sementara kelompok Siga mendesak Siga untuk membalas dengan gigitan. Namun, Siga menolak karena itu dianggap perbuatan memalukan.
Saat napas Siga hampir habis, Gurba berbisik, "Siga, tolol kau. Kenapa tidak memencet jalan darah tong-peh-hiatnya? Lepaskan tanganmu dari lengan lawanmu dan cubit jalan darah itu. Sekali saja, yang keras dan lawanmu tentu roboh!"
Siga seakan hidup kembali. Dia teringat letak jalan darah tong-peh-hiat di bawah pusar. Begitu bisikan Gurba diturut, pemuda itu segera menggerakkan tangannya ke bawah.