Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 145

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 145

Orang-orang hanya melihat Siga melepaskan tangannya dari tangan Bora, bergerak ke bawah menuju pusar. Ketika Siga mencubit dan memencet dengan keras, mendadak terdengar raungan Bora yang tinggi memecah jantung.

"Augh....!" Orang-orang terkejut.

Mereka melihat Bora melepaskan cekikannya pada leher Siga, terguling dan meringkuk, mengeluh seperti ayam yang dicabuti bulunya. Namun, ketika pemuda itu tidak bergerak lagi dan pingsan di atas tanah, tiba-tiba kelompok Siga bersorak penuh kegembiraan.

"Siga menang!" "Bora kalah!"

Orang-orang Bora tertegun. Mereka tidak menyangka perubahan yang di luar dugaan itu. Bora tersungkur dan tidak bergerak lagi, padahal tadi dengan sikap yang meyakinkan, pemuda ini akan keluar sebagai pemenang. Karena orang-orang tidak melihat kecurangan di situ, bahkan Bora dianggap kurang sportif dengan gigitannya tadi, kemenangan Siga disambut dengan heran dan takjub. Bagaimanapun, mereka harus mengakui kepandaian pemuda itu dibandingkan Bora.

Ketika kelompok Siga berteriak-teriak dan Bora dinyatakan kalah, orang-orang pun termangu. Mereka membiarkan lawan melepas kegembiraannya dengan cara mereka sendiri, menyerbu ke arah Siga, dan memanggul pemuda itu. Siga dielukan.

Namun, teringat Bora yang masih pingsan di atas tanah, tiba-tiba seorang anggota kelompok Siga menyerahkan tombak, menyuruh Siga membunuh lawannya yang terkapar. "Siga, kau telah memenangkan pertarungan. Hukum Tartar mengesahkan kau membunuh lawanmu. Bunuhlah dia dan ambil tombak ini."

Siga menggeleng. "Tidak, Bora adalah saudaraku sendiri, Kima. Aku tak bermaksud membunuh, selain memenangkan pertandingan belaka."

"Tapi dia bermaksud membunuhmu. Kau adalah pemenangnya!"

Siga tetap menggeleng. Ketika orang-orangnya tertegun dan kelompok Bora memandang ke arahnya, tiba-tiba Siga menghadapi mereka. "Sahabat-sahabatku, kalian adalah saudara sama seperti kata Hanggoda tadi. Kita satu suku, kita satu bangsa. Karena itu, meskipun Bora kalah, aku tak mau membunuhnya karena dia adalah saudaraku. Angkat dia dan sadarkan dia. Bora adalah teman, bukan musuh!"

Kelompok Bora yang tentu saja gempar oleh peristiwa yang dianggap aneh ini segera menjadi kagum dan simpatik kepada Siga. Mereka memberi pertolongan pada Bora dan pertikaian tiba-tiba lenyap. Siga menarik hati semua orang, baik kelompok sendiri maupun kelompok Bora.

Ketika Bora sadar dan Siga mengajak menghadap Gurba, raksasa tinggi besar ini tersenyum menyambut mereka. "Bora, kau benar-benar mengakui kemenangan Siga?"

"Aku mengakui," Bora berkata gagah, bagaimanapun memang dia kalah. "Siga memang lebih pandai, Hanggoda. Dan sesuai janjiku, aku menyerahkan anggotaku dan diriku sendiri!"

"Terima kasih, kau cukup jantan!" Gurba tertawa, menarik kedua pemuda itu, lalu menepuk-nepuk mereka penuh sayang. Diam-diam ia melirik Siga yang mengucap terima kasih dengan bahasa isyarat. Gurba gembira dan mengajak bangsanya berpesta api unggun, semata-mata untuk mengucap syukur bahwa dua kelompok besar itu dapat bersatu.

Tidak terpecah-belah lagi, Bora maupun kelompoknya dapat menerima kejadian dahulu, saat Gurba terjebak dan Siga menginsyafkan mereka. Ketika hari itu bangsa Tartar bersenang-senang dalam persatuan yang kokoh, beberapa hari kemudian Gurba mulai mengatur rencana tentang penyerbuan besar-besaran yang akan ia lakukan terhadap istana.

Namun, suatu gangguan kecil tiba-tiba datang. Malam itu Gurba berada di kemahnya, Siga dan Bora datang menghadap. Ketika kedua pemuda itu menjatuhkan diri berlutut dan Gurba tersenyum menyambut mereka, raksasa tinggi besar itu segera bertanya apa maksud kedatangan mereka, diam-diam girang karena Siga dan Bora ternyata benar-benar dapat bersatu.

"Maaf, ada pertanyaan yang sedikit mengganjal kami, Hanggoda. Bolehkah kami ajukan dan mohon penjelasan?"

"Tentang apa?"

"Tentang Bi Nio."

Gurba terkejut. "Apa maksud kalian?"

"Maaf," Siga maju berlutut. "Aku mendengar sesuatu yang tidak enak, Hanggoda, bahwa kau menerima selir kaisar itu sebagai isterimu. Benarkah?"

Gurba tertegun, tak menjawab. Ketika Siga mengulang pertanyaannya dan Bora ikut memandang tajam, tiba-tiba Gurba bangkit berdiri, mengibaskan lengannya. "Siga, apa hubungan pertanyaanmu ini dengan kita semua? Kenapa kau tanyakan ini?"

"Maaf, hubungannya menyangkut rakyat banyak, Hanggoda. Bahwa kami bangsa Tartar ingin mengetahui jawabanmu tentang ini. Benarkah kau menerima selir itu dan berarti mengikat persahabatan dengan kaisar, ataukah berita yang kami tangkap ini suatu dusta?"

"Kalau benar?"

"Kami menyesalkannya."

"Kalau tidak?"

"Kami bersyukur."

"Hm, apa maksudmu, Siga?" Gurba mulai tak senang. "Apakah kalian hendak berontak dan menggagalkan rencana semula?"

"Maaf," Bora kali ini maju ke depan. "Kami berdua mewakili suku bangsa kami, Hanggoda. Bahwa kami mendengar kau menerima selir kaisar itu. Kalau benar, artinya kau tak memusuhi kaisar lagi, kau bersahabat. Tapi kenapa sekarang hendak menyerang dan berbalik sikap? Apakah kaisar tahu perbuatanmu ini? Kami bangsa Tartar selalu menjunjung tinggi kegagahan, Hanggoda. Kalau kau telah bersahabat dengan kaisar dan kini hendak merusak tali persahabatan itu dengan serangan ke sana tanpa sebab yang pasti, maka ini adalah sebuah pengkhianatan terhadap seorang sahabat. Kami tak suka itu!"

Gurba terbelalak.

"Dan kami datang untuk minta penjelasanmu, Hanggoda," Siga menyambung lunak karena kata-kata temannya terasa keras. "Karena itu, sukalah kau menjawab apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah kau menerima selir kaisar itu dan menjadikannya sebagai isterimu?"

Gurba menggigil. Sebenarnya, menyebut-nyebut nama Bi Nio membuat ia marah. Ia teringat akan segala kekecewaannya dahulu, kegagalannya terhadap sumoinya dan hal-hal lain yang membuat ia memusuhi sute dan sumoinya itu, Kim Mou-eng dan Salima. Tapi karena orang-orang Tartar memang suku bangsa yang gagah dan mereka menjunjung tinggi nilai persahabatan, ia pun tertegun dan terbelalak memandang kedua pembantunya itu, bingung harus menjawab bagaimana.

Rencana serangan ini sebenarnya adalah atas kehendak Wan Cu, atau lebih tepatnya kehendak Pangeran Muda dengan Wan Cu sebagai penunduknya. Ia telah tergila-gila benar pada wanita cantik itu, permainannya di atas ranjang sebagai pengobat kecewa terhadap cintanya yang gagal kepada Salima. Namun, sambil mengeraskan dagu dan memutar otak, raksasa ini segera mendapatkan jawabannya, jalan yang dianggap baik saat itu.

Ketika ia mengaku bahwa Bi Nio benar diberikan kaisar kepadanya dan Siga serta Bora saling pandang, tiba-tiba kedua pemuda itu mengerutkan alis.

"Jadi benar berita yang kami terima ini, Hanggoda?"

"Benar."

"Dan kau mengikat persahabatan dengan kaisar?"

"Benar, tapi dulu."

"Jadi bagaimana ini, Hanggoda? Kenapa sebuah persahabatan kau khianati seperti ini? Dan, maaf, kenapa pula kau menerima persahabatan itu, Hanggoda? Bukankah kaisar telah menghancurkan bangsa kita?"

Gurba mendengus pendek, lalu duduk kembali. "Siga, dan kau Bora, dengarkan baik-baik apa yang akan kuceritakan pada kalian ini. Aku memang telah menerima uluran tali persahabatan kaisar karena kita ternyata diadu domba. Kalian masih ingat Siauw Bin Kwi dan Hek Bong Siang-lo Mo itu?"

"Ya."

"Nah, mereka itulah biang penyakitnya. Waktu dulu kita menyerbu ke sana dan aku bertemu kaisar sementara kalian ribut sendiri, maka di situlah baru kutahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa kita diadu domba. Bahwa bangsa Tartar dipermainkan Iblis Muka Ketawa itu bersama Hek Bong Siang-lo Mo hingga kita berperang dengan Jit-liong Ciangkun dan anak buahnya itu. Kita terperangkap. Kaisar dan aku baru tahu setelah kami berhadap-hadapan, setelah dua pihak saling hancur-menghancurkan. Tapi begitu kami menyadari bahwa permusuhan ini diciptakan pihak ketiga dan Siauw Bin Kwi bertanggung jawab untuk urusan ini, maka kaisar menghentikan pertikaian dan menawarkan kepadaku sebuah persahabatan."

"Dengan memberikan selirnya itu?"

"Ya."

"Maaf, bagaimana kau bisa percaya bahwa ini adu domba dari Siauw Bin Kwi, Hanggoda?"

"Kau ingat tiga utusan Bin Ciangkun?" Gurba balik bertanya. "Nah, itulah pangkal mulanya, Siga. Bahwa utusan yang kita tolak ini dibunuh Siauw Bin Kwi dan Bin Ciangkun menganggap kita yang membunuh utusan itu. Salah paham mulai terjadi di sini. Siauw Bin Kwi bekerja di belakang layar dan kita menjadi korbannya. Bin Ciangkun menuduh dan menyerang, dan selebihnya kau tahu sendiri karena kita balas menyerang panglima itu sampai berlarut-larut."

Siga tertegun. "Jadi Iblis Muka Ketawa itu membunuh utusan?"

"Ya."

"Dan kau telah menangkap iblis itu, Hanggoda?"

"Belum, aku belum sempat. Iblis itu melarikan diri, tapi satu saat tentu dia akan kubekuk!"

Gurba yang menceritakan pertemuannya dengan kaisar di kota raja dahulu akhirnya membuat kedua pembantunya menahan napas. Cerita ini memang belum mereka ketahui, bahwa Siauw Bin Kwi mengerjai mereka dan mengadu domba mereka. Namun, begitu Gurba selesai menceritakan pengalamannya, segera Bora maju bertanya dengan alis dikerutkan.

"Hanggoda, maaf. Kalau begitu kenapa sekarang kau hendak menyerang istana? Bukankah kaisar tidak bersalah? Kita bangsa Tartar memang harus mencari Iblis Muka Ketawa itu, tapi tolong beritahukan pada kami kenapa kaisar harus dimusuhi lagi!"

"Hm, ini urusan pribadi, Bora. Aku sebenarnya enggan menjawab. Tapi kalau kalian ingin tahu, baiklah. Aku... aku merasa tertipu oleh kaisar itu," Gurba berbohong, merasa kepalang basah. "Kaisar telah memberiku sesuatu yang amat menghina."

"Apa itu?"

"Selirnya itu, Bi Nio."

"Ada apa dengan Bi Nio?" Bora dan Siga kaget.

"Selir itu telah hamil, Siga. Dan aku terhina oleh sikap kaisar yang kuanggap kurang ajar!" Gurba meradang, pura-pura marah, dan kedua pembantunya tertegun. Sungguh tak mengira kalau itu soalnya. Kaisar memberikan selir yang telah hamil, padahal Gurba mengada-ada karena bingung harus menjawab dengan keterangan yang sebenarnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment