Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 146

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 146

Ketika Gurba mengoceh dan menyebarkan cerita burung bahwa Bi Nio telah hamil oleh kaisar sebelum berhubungan dengannya, tiba-tiba saja Siga dan Bora marah.

"Keparat, kalau begitu kaisar itu tak mengenal arti sebuah persahabatan, Hanggoda. Untuk itu memang layak dia kita serang. Kaisar harus kita bunuh. Aku akan memenggal kepalanya kelak kalau aku berhasil masuk istana!"

"Ya, dan dia akan kutelanjangi dan kuarak sepanjang jalan, Hanggoda. Hitung-hitung sebagai balas dendam atas kekurangajarannya kepadamu." Bora berkeretak, menyambung dengan marah dan mengepal tinjunya, mukanya merah padam.

Ketika dua pembantu Gurba itu marah-marah dan omongan Gurba termakan oleh dua pemuda ini, akhirnya persoalan dianggap jelas oleh Siga dan Bora. Mereka sungguh marah; betapapun kebencian mereka terhadap bangsa Han berkobar lagi. Mereka merasa terhina karena pemimpin yang mereka hormati diberi selir yang sudah hamil. Tentu ini merupakan "barang bekas".

Karena bangsa Tartar boleh dibunuh tapi jangan dihina, maka hasutan Gurba berbuntut panjang. Memang tak ada jalan lain bagi raksasa ini untuk menyembunyikan keinginan pribadinya; satu-satunya jalan ya memang begitu: berbohong dan berdusta. Tak ingat akan ekor di belakang hari. Atau mungkin Gurba memang tak peduli pada semuanya itu karena terancam. Bangsa Tartar harus diajaknya berperang agar dia mendapatkan Wan Cu. Sedikit kebohongan tak apa, sedikit fitnah tak peduli.

Ketika Gurba bercerita macam-macam lagi yang semuanya dimaksud untuk membakar dua anak buahnya, akhirnya Siga dan Bora mengoper cerita ini pada suku bangsa Tartar. Tentu saja bangsa Tartar bangkit kemarahannya mendengar cerita ini. Tak sadar dihasut Gurba, mereka masih memaki-maki kaisar itu, mengutuk, dan menyumpah serapah.

Untuk kedua kalinya Gurba melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Dulu berbohong pada sumoinya, sekarang pada suku bangsanya. Semuanya berbau fitnah demi kepentingan pribadi. Dan ketika Gurba berhasil membujuk dan menyiapkan suku bangsanya dalam sebuah pasukan besar yang siap melakukan serangan, seminggu kemudian raksasa itu telah menggiring anak buahnya memasuki Tembok Besar.

Gegerlah orang-orang pedalaman. Mereka diserang pasukan Gurba. Bangsa Tartar menjadi bangsa yang beringas dan ganas. Mereka menyerang serta menerjang kota dan dusun. Gurba membuka jalan bagi pasukannya; di setiap pintu gerbang penjagaan dihancurkan hingga pasukannya dapat masuk. Bangsa Tartar menjadi wabah bagi penduduk pedalaman yang tidak berdosa. Mereka dibunuh tanpa pandang bulu.

Gurba bergerak di belakang layar; entah kenapa memesan pada pasukannya agar tak menyebut namanya. Siga dan Boralah yang ditonjolkan ketika sebulan kemudian pasukan ini terus bergerak masuk dan menyerbu lebih ke dalam. Akhirnya, gerakan mereka mendekati kota raja di mana para pembantunya berada!

Tercapailah sudah sebagian besar rencana Gurba. Dia berhasil membawa pasukannya meluruk tinggal beberapa hari lagi ke kota raja. Gurba tentu saja terus mengadakan kontak dengan orang-orang Pangeran Muda yang bergerak dari dalam. Tak lama kemudian akan menampakkan diri dan menangkap kaisar itu.

Tapi ketika hari itu Gurba tiba di kota Cin-sin dan menduduki kota ini, mendadak seorang utusan muncul mengejutkan raksasa ini. Di istana terjadi perubahan besar yang tidak disangka. Wan Cu ditangkap, kaisar marah-marah dan mencium persekutuan busuk di lingkungannya sendiri. Dan ketika utusan itu memberitahu bahwa semuanya ini gara-gara Kim-mou-eng, mendadak Gurba tertegun membelalakkan mata.

"Kau tidak salah?"

"Tidak, hamba melihat sendiri, Hanggoda. Dan Siauw-ong-ya menyuruh Paduka datang ke istana sekarang juga. Keadaan dinilai gawat!"

"Lalu mana Siauw bin-kwi dan teman-temannya itu?"

"Hamba kurang jelas, Hanggoda. Tapi Hek-bong Siang-lo-mo terluka dan kini menghilang!"

"Baik, aku akan ke sana. Kau kembalilah!"

Gurba yang terpaksa menunda serangannya memanggil Siga dan Bora, akhirnya memesan singkat saja. "Bora, dan kau Siga. Untuk beberapa hari ini kalian tinggal dulu di sini. Ada persoalan penting yang harus kuselesaikan. Jangan maju dan tunggu sampai aku kembali!"

"Ada apa, Hanggoda? Kenapa berhenti?"

"Kalian tak perlu tahu. Pokoknya tinggal di sini dan tunggu aku!"

Gurba meradang, membalikkan tubuh dan sudah berkelebat meninggalkan dua pembantunya itu. Siga dan Bora bengong, merasa sayang kenapa gerakan yang tinggal sedikit harus dihentikan. Tak tahu Gurba lagi bingung memikirkan Wan Cu, kekasihnya. Dan ketika Gurba berangkat meninggalkan Cin-sin dan utusan Siauw-ong-ya juga kembali secara diam-diam, maka raksasa ini berlari cepat menuju ke kota raja.

Apa yang terjadi? Mari kita lihat.

Siang itu, secara kebetulan saja Kim-mou-eng mengajak sumoinya beristirahat. Matahari terlampau panas bagi mereka. Mereka baru saja melewati sebuah dusun ketika sebuah kereta berderak di jalanan berbatu. Kim-mou-eng dan sumoinya mendengar suara orang bercakap-cakap. Ketika kereta itu muncul di tikungan jalan dan seorang sais tampak buru-buru melarikan kudanya, Salima mengerutkan kening melihat debu mengotori udara.

"Sialan, ini membuat polusi. Siapa mereka itu? Kenapa buru-buru?"

"Ah," Kim-mou-eng tertawa. "Untuk apa mengurusi orang lain, Sumoi? Kita istirahat saja mengaso di sini."

"Tapi sais itu melotot kepada kita. Dia, eh... dia berputar!" Salima terbelalak melihat sais itu berhenti dan tiba-tiba memutar kudanya, kembali ke arah semula.

Kim-mou-eng yang terheran melihat itu tiba-tiba merasa mengenal si sais ini. "Dia Lui Tai!" Kim-mou-eng akhirnya ingat, tentu saja tertarik dan geli melihat sais itu memutar keretanya. Lui Tai, si tukang lukis yang kini menjadi sais kereta itu. Salima yang juga ingat tampang si sais ini tiba-tiba mengangguk dan menjadi curiga.

"Benar, dialah si tukang gambar itu. Ada apa ketakutan melihat kita?"

"Tentu jerih, Sumoi. Bukankah kau terkenal galak dan suka menurunkan tangan besi?" Kim-mou-eng tertawa, tak curiga dan menganggap pelukis itu wajar saja bertemu mereka, ketakutan, dan kini terbirit-birit melarikan diri.

Tapi Salima yang curiga dan tak percaya ini mendadak berkelebat mengejar. "Suheng, kau tunggu di sini!"

Salima melompat, terbang, dan sebentar kemudian telah menyusul kereta itu. Kim-mou-eng tertegun melihat sumoinya melayang di atas kereta; kuda tiba-tiba meringkik dan Lui Tai terjungkal, menjerit terlempar dari atas keretanya. Karena Kim-mou-eng tak mau sumoinya membuat onar dan pelukis itu tak ada urusan dengannya, akhirnya Kim-mou-eng berkelebat menyusul sumoinya itu.

"Sumoi, jangan membuat ribut. Hindari pertengkaran!"

Lui Tai sudah gemetaran tak keruan. Pelukis ini lecet sedikit, tentu saja mengenal Salima dan Kim-mou-eng. Keduanya membuat dia gentar, dan Kim-mou-eng melihat pelukis itu menggigil di depan sumoinya, tanpa sebab meminta-minta ampun. Pakaiannya bagus dan indah, tentu hasil kekayaannya memeras hartawan yang anak gadisnya minta dilukis si tukang gambar ini, ketika dulu kaisar belum menemukan Cao Cun.

Ketika Kim-mou-eng tersenyum dan sumoinya memasang muka bengis, terdengar sumoinya itu menghardik, "Orang she So, ada apa kau kelayapan di sini? Apa yang kau bawa?"

"Ampun, aku... aku tak membawa apa-apa, Lihiap. Kereta ini kosong kecuali berisi seorang wanita!"

"Siapa?"

"Isteriku!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment