Chapter 147
Ia duduk di samping suhengnya yang tertawa geli melihat Salima masih cemberut. Ketika Salima bertanya mengapa suhengnya tertawa, Kim Mou Eng menjawab, "Kau cemberut seperti kuda marah, sumoi. Mana bisa aku menahan geli? Aku tergelitik, kau sungguh terasa lucu!"
"Aku kau anggap kuda?"
Saat itu, kereta lain muncul. "Ah, polusi lagi. Kita sungguh sial kalau duduk di pinggir jalan!" Salima mengomel dan merasa terganggu. Kim Mou Eng hanya tersenyum, memandang kereta yang sebentar kemudian tiba di dekat mereka. Ketika debu mengepul tinggi, Salima menutupi hidung sambil memaki. Mendadak, kereta berhenti di depan mereka diiringi ringkik kuda yang nyaring; kusir itu menyentak tali kekangnya dengan kuat.
"Kalian melihat kereta di sini?" tanya si kusir dengan nyaring. Sikapnya tidak sopan.
Kim Mou Eng mengerutkan kening. Salima sudah bangun berdiri, kemarahannya bangkit dan siap membentak. Kim Mou Eng menyadarinya, maka saat Salima melotot, pendekar itu bangkit menahan lengan sumoinya dan berbisik agar diam.
"Sst, tenang. Tak perlu marah-marah, sumoi. Biar kujawab sais kereta itu," ucapnya. Menghadapi lawan bicaranya, Kim Mou Eng menggeleng. "Kami tak tahu, kami tak melihat kereta apa pun di sini kecuali keretamu. Kalian siapa dan mencari apa?"
"Huh, untuk apa bertanya? Kau rupanya bodoh. Sudahlah, kucari sendiri!" Cambuk dilecutkan ke punggung kuda, kereta bergerak kembali, dan rodanya berderap di jalanan berbatu.
Salima memaki dan hampir tidak tahan, namun suhengnya mencekal lengan gadis itu. "Tak perlu, biarkan dia pergi, sumoi. Kita mengaso lagi dan ayo nikmati arak."
"Tapi kusir itu kurang ajar, aku gemas ingin menggaploknya!"
"Sudahlah, tak perlu ribut. Ayo urus pekerjaan kita sendiri dan duduk kembali." Kim Mou Eng menarik dan menenangkan sumoinya yang terpaksa menurut meski masih cemberut.
Kim Mou Eng sengaja membohongi kusir itu untuk membalas sikapnya yang tidak sopan. Namun, ketika mereka duduk kembali untuk beristirahat, tiba-tiba dua kereta datang berderap mendekati tempat mereka.
"Sialan, kenapa kita diganggu saja, suheng? Sebaiknya kita tak usah duduk di sini, orang-orang di kereta itu mengentuti kita dengan debu yang keparat!" Salima kembali marah dan melotot memandang dua kereta itu. Derak rodanya di jalanan berbatu terdengar kasar mengganggu telinga. Ketika berhenti mendadak di depan mereka, si kusir bertanya, "Hei, kalian berdua. Adakah melihat kereta lain sebelum kami?"
Salima gusar, "Kami tak tahu. Cari sendiri dan tak perlu bertanya!"
"Eh, kau berani kurang ajar? Ini rombongan Liang-taijin, menyesal kau nanti!" Si kusir mengayunkan cambuknya, berpura-pura mengancam. Salima yang sudah dua kali diganggu hari ini tidak dapat menahan diri. Begitu orang itu membunyikan cambuk, ia melompat dan menerjang sang kusir. Tangannya bergerak menyambar dengan luar biasa cepat hingga kusir itu menjerit. Salima membanting dan melempar kusir tersebut hingga jatuh terbanting ke bebatuan.
"Bruk... aduh!" Kusir dan seisi kereta terkejut. Punggung si kusir serasa patah.
Kim Mou Eng terkejut, namun ia tidak dapat mencegah tindakan sumoinya. Ketika kusir di kereta kedua ribut dan para penumpang membuka tirai, tampak sembilan laki-laki melompat keluar dengan marah. Salima berhadapan dengan mereka, dipimpin oleh seorang kakek berwajah bengis yang membawa cakar baja berbentuk cakar ayam.
Namun, ketika Kim Mou Eng berkelebat mendekati sumoinya, kakek bercakar baja itu tertegun dan berseru tertahan, "Kim Mou Eng..."
Kim Mou Eng juga terkejut. Ia mengenal kakek itu, tidak lain adalah Sin-kee Lo-jin, pembantu Mao-taijin di kota raja. Kakek yang pernah ia hajar itu kini gentar dan mundur selangkah. Delapan temannya yang lain pun ikut menciut nyalinya.
Dari atas kereta, seorang laki-laki bertubuh gemuk keluar dan buru-buru memberi hormat. "Aih, Kim Mou Eng-taihiap kiranya? Maaf, jangan berkelahi, Taihiap. Kami tak suka ribut-ribut. Kusir kami mungkin salah. Ini tentu Tiat-cang Sian-li-lihiap itu. Maaf, aku Liang-taijin. Mohon Taihiap tak mengganggu dan membiarkan orang-orang kami meneruskan perjalanan."
Laki-laki gemuk itu menjura dengan wajah cemas. Kim Mou Eng mengenal namanya sebagai Liang-taijin, Gubernur Liang atasan Bupati Wang. Melihat mereka tampak gelisah, Kim Mou Eng yang lembut hati mengangguk.
"Taijin, kau Gubernur Liang itu? Kami tak mengganggu, hanya kusir itulah yang tak sopan. Kalau kalian mau meneruskan perjalanan, silakan."
"Dan kusirmu itu harus berlutut mengangguk seratus kali kepadaku, Taijin. Dia tak boleh pergi kalau belum memenuhi permintaanku!" seru Salima tajam.
Liang-taijin membentak kusirnya agar berlutut dan minta ampun. Dengan gemetar dan pucat, kusir itu menjalankan hukumannya. "Ampunkan aku, Lihiap..." Ia berlutut dan mengangguk berulang kali hingga seratus kali. Setelah selesai, ia jatuh pingsan karena kelelahan.
Liang-taijin segera menyuruh kusir lainnya bersiap dan bertanya kepada Kim Mou Eng, "Bagaimana kami bisa pergi, Lihiap? Atau Kim-taihiap mungkin akan memberi petunjuk?"
Kim Mou Eng menarik napas, "Sudahlah, pergilah. Kami tak akan mengganggu."
Setelah rombongan itu pergi, Salima menegur suhengnya, "Suheng, kenapa si Cakar Ayam itu tidak dihajar duluan? Bukankah dia orangnya Mao-taijin?"
"Kita tak perlu ribut, Sumoi. Kusir yang bersalah sudah menerima hukumannya."
"Apa yang mau kau kerjakan?" tanya Salima.
"Aku ingin ke Po-yang. Bagaimana, Sumoi?"
Salima menatap tajam suhengnya. "Untuk apa? Kau mau bersenang-senang seperti orang she So itu?"
Kim Mou Eng tertawa, "Sumoi, pikiran apa itu? Aku hanya ingin mengikuti perjalanan Liang-taijin. Tidakkah kau curiga mengapa pembesar ini bersama orang-orangnya Mao-taijin?"
"Kiranya diam-diam kau pun menaruh curiga!" Salima girang karena sesungguhnya ia pun ingin menyelidiki rahasia di balik empat rombongan kereta tersebut.
"Baik, kapan kita berangkat, Suheng?"
"Sekarang juga. Tapi jangan timbulkan curiga. Po-yang cukup jauh, sebaiknya kita berhati-hati dan ikuti secara diam-diam."