Chapter 148
Aku curiga pada orang-orang pemerintah itu, rupanya ada sesuatu yang penting! Kereta pertama itu dan maksudku.
"Ya, dan aku sudah curiga sejak Lui Tai berada di kereta pertama itu, Suheng."
"Sayang kau membebaskan pelukis itu dan membiarkan dia pergi!"
"Kau tak tahu maksudku? Ah, kau bodoh, Sumoi. Justru dengan begitu Lui Tai dan teman-temannya merasa aman karena mengira kita tak mengejar mereka!" Kim-mou-eng tertawa. "Kita tak boleh menunjukkan kecurigaan kita, Sumoi. Sebab sekali mereka tahu, mungkin mereka bungkam atau melarikan diri!"
"Jadi, kau sudah curiga sejak pertama kali?"
"Ya, kau kira tidak? Aku pura-pura saja, Sumoi. Aku mengelabui mereka agar mereka tidak curiga kepada kita!"
"Ah, hebat. Aku terkecoh, sungguh tolol...!" Salima yang tertawa memandang Suhengnya tiba-tiba menyambar lengan Suhengnya itu, "Kalau begitu ayo, Suheng. Kita berangkat!"
Salima menyendal lengan Suhengnya, mengajak pergi, dan berkelebat mengerahkan ginkang. Tentu saja Suhengnya mengangguk dan mengikuti, tertawa melihat Sumoinya begitu gembira. Begitu keduanya beriringan dan berlari cepat, akhirnya rombongan empat kereta itu pun disusul tanpa banyak cakap lagi. Ke mana rombongan Liang-taijin dan kereta-kereta lain itu? Sungguh menarik untuk diikuti.
***
Kim-mou-eng dan Salima mendapati empat kereta ini berhenti sebentar di Kota Yin. Mereka memasuki sebuah rumah gedung di pinggiran kota, keluar lagi, dan tak lama kemudian meneruskan perjalanan ke satu arah, yaitu ke barat. Ketika mereka berhenti lagi di Kota Cih dan Sun untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan tergesa-gesa, tiba di sebuah persimpangan, mendadak empat kereta itu berpisah. Liang-taijin dan rombongannya ke selatan, sementara Lui Tai dan kereta nomor dua terus ke barat, di mana kali ini Sin Lee Lo-jin tampak mengawal kereta Lui Tai.
Ketika dua rombongan itu berpisah dan Salima tertegun untuk mengikuti yang mana, Suhengnya bertanya, "Bagaimana, kita berpisah juga, Sumoi?"
"Tidak," Salima terkejut. "Aku tak mau jauh darimu, Suheng. Sebaiknya kita ke barat dan ikuti perjalanan So Lui Tai itu!"
"Tapi Liang-taijin penting juga diawasi. Pembesar ini pun mencurigakan gerak-geriknya!"
"Ha, bagaimana kalau begitu?" Salima bingung.
"Sebaiknya kita berpisah, Sumoi. Kau ikuti perjalanan So Lui Tai itu dan aku mengejar Liang-taijin. Belokan ke selatan itu akhirnya menuju pula ke Telaga Po-yang. Gubernur itu rupanya memutar!"
"Untuk apa?"
"Mana kutahu? Sebaiknya kita pecah tugas masing-masing, Sumoi. Aku mengejar Liang-taijin, sementara kau mengikuti si pelukis she So itu!"
Salima mengerutkan kening. Dia otomatis cemberut, sungguh perpisahan ini tak dikehendakinya. Tapi ketika Suhengnya memberi tahu bahwa belokan ke selatan itu akhirnya dapat menuju Po-yang juga, akhirnya dia mengangguk meskipun dengan berat hati.
"Baiklah, aku setuju, Suheng. Tapi janji, kau harus ke Po-yang dan kita bertemu di sana lagi!"
"Tentu, bukankah kasak-kusuk mereka mengatakan ke Po-yang? Aku tentu ke sana, Sumoi. Aku tak tahu kenapa gubernur ini harus memisah!"
"Jangan-jangan kita tercium," Salima mengerutkan kening semakin dalam. "Apakah ada orang yang mengetahui pengintaian kita, Suheng?"
"Kurasa tidak, mungkin sekadar sikap hati-hati dari Liang-taijin itu. Sudahlah, aku tak mau terlambat. Cepat kau pergi dan kita melaksanakan tugas masing-masing!"
Aneh, Salima terisak. Ketika Kim-mou-eng menyuruhnya pergi dan tiga kali gadis itu belum beranjak juga, akhirnya Kim-mou-eng memandang Sumoinya. "Apa lagi? Apa yang kau tunggu?"
Salima semburat merah. "Kau hanya menyuruhku begini saja, Suheng? Tidak... tidak memberi sesuatu?"
"Sesuatu apa? Kau ingin apa?" Namun, ketika pandang mata mereka bertemu dan Kim-mou-eng menangkap getaran mesra dari mata Sumoinya itu, mendadak pendekar ini tergetar dan tersipu. Maklumlah dia akan apa yang dikehendaki Sumoinya ini; ucapan sayang atau kecupan berpisah. Ketika Sumoinya mengeluh dan menubruk dirinya, tubuh gadis itu terisak berguncang.
"Suheng, mestikah kuberitahu? Bukankah kau mengerti?"
Terpaksa, karena Sumoinya "menuntut" dan mereka pun telah mempunyai ikatan batin, Kim-mou-eng memeluk dan mencium kening Sumoinya itu. Itu saja, tak lebih tak kurang. Sumoinya tersenyum dan tertawa kecil, mata yang tadi dipejamkan itu terbuka. Salima memandangnya dengan senyum dan tawa yang menggoda. Kim-mou-eng ikut tersenyum, agak malu.
Ketika Sumoinya mengucap terima kasih dan melompat pergi, tiba-tiba gadis itu berseru dari kejauhan, "Lain kali tak hanya di situ, Suheng. Aku minta seperti dulu...!"
Kim-mou-eng semburat merah. Sumoinya itu memang bersikap bebas, terbuka, dan blak-blakan, meskipun masih dalam batas normal. Namun, ketika Sumoinya lenyap dan dia menekan degup jantungnya, Kim-mou-eng memutar tubuh dan berkelebat mengejar Liang-taijin. Sejenak kemudian dia menyusul kereta pembesar itu, melihat jalanan berbelok-belok dan hampir dia kehilangan jejak. Begitu buruan dapat dikejar, Kim-mou-eng tak ingin kehilangan lawannya lagi; pendekar ini sudah melayang dan menempel di atap kereta.
Inilah jalan untuk mendengarkan pembicaraan di dalam. Kim-mou-eng mendengar pembesar itu menyebut-nyebut Mao-taijin, juga Lui Tai. Ketika kereta terus bergerak dan dua malam Kim-mou-eng mengikuti perjalanan gubernur itu, mendadak dengan muka berubah, pendekar ini mendengar rencana pemberontakan yang dipimpin Siauw-ong-ya. Berdetaklah hatinya. Kim-mou-eng teringat pada mendiang Seng-piauw-pangcu, kakek tinggi besar yang gagah itu, yang tewas ketika mencoba memberi tahu pangeran mahkota, tak dipercayai, dan akhirnya bertemu dengan Siauw-bin-kwi dan teman-temannya.
Sungguh pembicaraan di dalam terasa penting. Mendiang Seng-piauw-pangcu pun juga berbicara tentang rencana pemberontakan itu. Ketika pembicaraan menyebut-nyebut nama Mao-taijin dan beberapa nama lain yang dikenal Kim-mou-eng sebagai menteri-menteri istana, Liang-taijin mengakhiri ceritanya, "Kita harus memberi tahu pangeran mahkota, Pat-busu. Setelah itu kita melapor pada kaisar dan pulang kembali!"
"Baik!" dan delapan laki-laki di dalam kereta yang tidak berbicara lagi akhirnya diam sampai di Telaga Po-yang. Perjalanan kiranya berakhir, dua kereta itu berhenti dan Kim-mou-eng melesat mendahului, menghilangkan jejaknya. Tentu saja tak boleh diketahui orang-orang di dalam.
Telaga Po-yang membentang luas di depan dan Liang-taijin turun dari keretanya, seseorang menyambut. Nama pangeran mahkota kembali disebut-sebut dan Kim-mou-eng mengira penyambut itu adalah utusan pangeran mahkota. Untuk sementara ia menganggap Liang-taijin adalah orang jujur dan setia pada kaisar. Ketika Liang-taijin dibawa ke sebuah rumah di ujung telaga dan delapan pengikutnya mengiring di belakang, Kim-mou-eng melihat rombongan itu keluar lagi menghampiri sebuah perahu.
"Pangeran mahkota menantimu di tengah telaga, Taijin. Harap naik dan ikuti kami!"
Gubernur itu mengangguk, delapan pengiringnya melompat dan naik juga ke atas perahu. Sebelas orang sekarang ada di situ. Kim-mou-eng bingung, penguntitan tak dapat diteruskan lagi karena Liang-taijin dan rombongannya berada di telaga terbuka. Dia tertegun di pinggiran. Ketika dia celingukan mencari sana-sini, mendadak dia teringat Sumoinya, juga dua kereta Lui Tai dan temannya itu. Sekarang mereka sama-sama ada di Po-yang dan dia harus bertemu dengan Sumoinya.
Kim-mou-eng sudah memutari telaga, sementara perahu yang ditumpangi Liang-taijin dan rombongannya kian jauh ke tengah menuju sebuah pulau. Samar-samar sebuah rumah bagus berdiri di sana, dikelilingi pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi. Saat Kim-mou-eng berputaran mencari Sumoinya tapi tak didapat juga, mendadak sebuah perahu menghampirinya tenang.
"Mau berpelesir, Kongcu? Mari, kau dapat menyewa perahuku dengan sepuluh tail sekali putar. Atau dua puluh tail berikut sebotol arak wangi!"
Kim-mou-eng tak tertarik. Dia menggeleng, kembali menyusuri pinggiran telaga sambil mencari sana-sini. Tukang perahu itu rupanya tahu, mengikuti dan tertawa. Ketika Kim-mou-eng jengkel dan gemas, si tukang perahu—seorang laki-laki tegap berkulit hitam—berseru padanya, "Seorang diri berkeliaran memang tak enak, Kongcu. Kalau Kongcu inginkan seorang wanita, aku pun sanggup menyediakannya. Beberapa jam yang lalu seorang gadis cantik pun ditemani seorang pemuda. Rupanya gadis itu gadis Tartar!"
Kim-mou-eng berjengit. Disebutnya nama gadis Tartar membuat dia terbelalak, melayang, dan tiba-tiba sudah berkelebat memasuki perahu. Gerak kakinya ringan, tak mengguncangkan tubuh perahu. Si tukang perahu kaget, baru sadar bahwa Kim-mou-eng bukan seorang Kongcu (tuan muda) melainkan seorang Kang-ouw, seorang ahli silat. Saat si tukang perahu tertegun, lehernya ditangkap.
"Kapan kau melihatnya? Dia memakai apa?"
"Uh," tukang perahu ini mencoba melepaskan cengkeraman. "Aku... aku melihatnya dua jam yang lalu, Siauwhiap (pendekar muda). Ampuni aku kalau salah bicara...!"
"Dia memakai apa? Bersama siapa?"
"Seorang temannya, Siauwhiap. Dia memakai topi bulu burung dan tampak gagah sekali."
"Ia ke mana?"
Tukang perahu itu ketakutan. "Ampun, lepaskan aku dulu, Siauwhiap. Aku tercekik...!"
Kim-mou-eng mengendurkan cengkeramannya. "Ke mana dia? Cepat, aku buru-buru!" Kim-mou-eng tak sabar, membentak dan sudah berdebar karena tukang perahu itu memberi tahu Sumoinya bersama seorang pemuda, mungkin teman atau mungkin juga musuh. Dia harus bertindak.