Chapter 149
Ketika tukang perahu itu tampak ragu, Kim Mou-eng merasa gemas. Tiba-tiba tukang perahu itu berkata dengan suara gemetar, "Ke sana, ke tengah telaga! Ke pulau di tengah-tengah itu!"
"Baik, kalau begitu kusewa perahumu. Ayo jalan, cepat!" sahut Kim Mou-eng sembari mendorong dan mengambil alih dayung.
Si tukang perahu tampak ketakutan dan bingung, namun matanya berkilat-kilat. Saat menerima dayung dan mulai mengayuh, gerakannya tampak lamban sehingga Kim Mou-eng menjadi tidak sabar.
"Dorong sekuat tenaga, cepat! Aku buru-buru!" bentak pendekar itu.
Si tukang perahu menyatakan sanggup. Dia mengayuh sekuat tenaga sambil melirik ke sana kemari. Merasa tidak puas, Kim Mou-eng tiba-tiba melemparkan sekeping uang emas dan menyambar dayung itu.
Begitu kepingan uang emas diterima, pendekar ini berseru perlahan, "Kau pegang erat-erat pinggiran perahu, awas, aku melaju!"
Begitu dayung diputar, perahu meluncur seperti perahu motor; mencelat dan terbang seolah memiliki sayap. Ombak terbelah menyibak di kiri kanan. Si tukang perahu memekik-mekik, namun Kim Mou-eng tidak menghiraukan karena ia telah mengerahkan tenaga dalam (*sinkang*) yang membuat perahu seakan didorong tangan raksasa.
Perahu miring ke kiri dan kanan namun tetap meluncur deras. Ketika si tukang perahu berteriak-teriak dan tidak tahan lagi berpegangan, tubuhnya terlempar keluar dari perahu dan tercebur ke telaga.
"Hei... byur!"
Kim Mou-eng tidak menghiraukan. Ia melihat tukang perahu itu pandai berenang, sementara dua perahu lain tiba-tiba muncul. Namun, ketika ia meneruskan gerakannya dan perahu mendekati tengah pulau, mendadak perahunya bocor!
"Keparat, apa ini?" Kim Mou-eng terkejut. Air menyembur masuk dari bawah, kakinya terendam, dan perahu bolong. Begitu cepat kejadiannya. Ketika ia tetap mencoba mendayung, perahu terasa berat, terguling, dan tenggelam.
Saat itu, sepasang tangan meraih kakinya. Sebuah kepala muncul; Kim Mou-eng ditarik dan diseret ke dalam air. Rupanya ada seseorang di bawah sana yang membocorkan perahu tersebut. Orang itu terbahak menyeramkan dan Kim Mou-eng terseret masuk ke dalam telaga.
"Byur!" Kim Mou-eng gelagapan karena ia tidak mahir di dalam air. Orang itu terus menariknya ke dasar. Tiba-tiba, kaki dan tangannya ditangkap oleh orang lain lagi; ada empat orang jumlahnya, termasuk si tukang perahu tadi. Mereka adalah perenang andal yang hendak membunuhnya. Leher Kim Mou-eng dipiting hingga ia tercekik.
"Keparat!" Kim Mou-eng marah. Meskipun tidak mahir bertarung di dalam air, ia memiliki kemampuan menahan napas yang luar biasa. Ia mencengkeram tangan lawan, mengerahkan tenaga, dan menendang tepat mengenai dagu orang yang memegang kakinya. Air menggelembung; dagu orang itu terasa pecah karena hantaman *sinkang* Kim Mou-eng. Dua orang melepaskan cengkeramannya.
Melihat dua lainnya terbelalak, Kim Mou-eng menusukkan dua jarinya ke kepala lawan yang mencekik lehernya, sementara lawan yang satu lagi disodok perutnya dengan siku. Empat lawan itu kocar-kacir; yang matanya tertusuk menjerit, air menggelembung dan memerah oleh darah.
Kim Mou-eng menjejakkan kaki sekuat tenaga dan muncul ke permukaan air. Ia selamat. Keempat lawannya muncul kembali; tiga temannya ngeri melihat satu orang meraung buta. Namun, dua perahu baru muncul dan tiga orang lainnya mencabut belati sembari menyerang, "Pendekar Rambut Emas, kami akan membunuhmu!"
Kim Mou-eng naik darah. Ketika tiga pisau menyerang tubuhnya, ia mengerahkan *sinkang*. Lawan berseru kaget karena pisau mereka patah saat membentur kekebalan tubuh sang pendekar. Kim Mou-eng menampar hingga mereka terpental, dua di antaranya patah tulang. Lawan terakhir gentar, namun Kim Mou-eng meremas sesuatu di dalam air dan melemparkan sebongkah es yang telah ia bekukan dengan tenaga dalamnya tepat ke dahi orang itu.
Empat lawan itu gelagapan dan menjerit ketakutan, meski di dalam air, kehebatan Kim Mou-eng tetap menggiriskan. Saat dua perahu baru mendekat, sebatang dayung menghantam kepalanya. Dayung itu pecah, sementara kepalanya baik-baik saja.
Kim Mou-eng diserang tujuh laki-laki berpakaian hitam dengan lukisan tengkorak di dada. Ia sadar mereka adalah kelompok bajak laut Tengkorak Hitam. Pemimpinnya yang bertubuh gempal memberi aba-aba dari ujung perahu.
Ketika sebatang dayung kembali pecah menghantam kepalanya, Kim Mou-eng membentak dan menangkap salah satu dayung lainnya. Pemiliknya ditarik hingga terjatuh ke air, lalu Kim Mou-eng melompat dan "terbang" ke atas perahu lawan.
"Hei, tahan dia! Awas!"
Tujuh orang di perahu tidak mampu mencegah kedatangannya. Tangan Kim Mou-eng bergerak mengibas ke kiri dan kanan; dayung lawan hancur berkeping-keping. Dengan tendangan dan dorongan, semua orang di perahu itu kecuali si Tengkorak Hitam tercemplung ke air.
Si Tengkorak Hitam yang marah menerjang dan menghantam kepala Kim Mou-eng dari belakang. Pendekar itu tidak mengelak, ia hanya memiringkan kepala dan menerima hantaman itu dengan bahu kirinya. Dayung mental, telapak tangan si Tengkorak Hitam pecah dan berdarah. Begitu kuat pantulan tenaga lawan. Ketika Kim Mou-eng bergerak hendak menampar pelipisnya, si kepala bajak itu ketakutan dan melompat ke air.
Kim Mou-eng kini sendirian. Delapan orang di dalam air menyelam dan lenyap. Kim Mou-eng sadar mereka akan menyerang dari bawah. Benar saja, perahunya terguncang dan mulai bocor kembali. Ia membentak dan mengayuh secepat mungkin.
Namun, celaka. Seseorang melekat di bawah sana, perahu mengalami kebocoran besar. Kim Mou-eng marah saat perahu itu akhirnya terbelah. Saat jarak tinggal seratus tombak lagi, ia memecahkan sekeping papan, berjungkir balik, dan hinggap di atas papan itu seperti capung.
Ketika Tengkorak Hitam dan anak buahnya muncul ke permukaan untuk menyerang, Kim Mou-eng telah melaju di atas sekeping papan itu seperti orang bermain ski. Semua lawan terbelalak melihat pendekar itu meluncur dengan ringan dan luar biasa di atas air.