Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 15

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 15

Ketika dia melihat Salima terisak dan tiba-tiba menangis, melompat ke arah barat menuju Kabupaten Chi Cou dan mengancam akan membunuh gadis cantik itu, mendadak Kim Mou Eng membentak dan mengejar sumoinya ini. Ia langsung menyambar pundak dan seketika itu juga menghentikan Salima. Dan ketika Salima menangis dan meronta melepaskan diri, dengan suara gemetar pendekar ini berkata.

"Sumoi, kau tak perlu menuduh yang tidak-tidak. Aku tidak mencintai gadis itu seperti yang kau katakan. Hubungan kami melulu sebagai kakak dan adik."

Salima berhenti meronta. Mereka saling beradu pandang dengan mata sama-sama penuh selidik. Salima masih berapi-api dan menyala seolah hendak membakar suhengnya itu. Tapi ketika bentrok dengan pandangan suhengnya yang lembut dan melihat muka suhengnya masih penuh jelaga, tiba-tiba Salima mengeluh dan duduk membanting diri di atas tanah.

"Suheng, kau kejam... kau..." Salima menangis tersedu-sedu. Lenyap sudah kegarangan dan keganasannya tadi, kembali seperti wanita biasa yang penuh rasa curiga; rupanya cemburu.

Kim Mou Eng menarik napas mendekati sumoinya ini, lalu duduk mendampingi dengan senyum pahit. "Sumoi, kau tahu aku melakukan perjalanan bukan untuk mencari wajah cantik. Kau tahu bahwa aku ke Tiong Goan karena hendak mencari kampung halaman ibuku. Kenapa curiga yang tidak-tidak dan selalu mengikutiku? Aku akan kembali ke luar pedalaman setelah semuanya selesai. Tak perlu kau mengejar-ngejarku seperti ini seolah aku musuh bebuyutanmu yang berhutang jiwa."

Salima tersedu-sedu. "Tapi kau... tapi kau menipuku di tempat Bupati Wang itu, Suheng. Kau meninggalkan aku ketika berjanji untuk kembali ke suku bangsa kita!"

"Hm, itu karena waktu itu kau terlampau mendesakku, Sumoi. Kau memaksakan kehendak sendiri tanpa mau mengerti keinginanku."

"Jadi kau tetap tak mau pulang?"

"Kalau belum terpenuhi keinginanku, Sumoi. Aku hendak mencari dulu kampung halaman ibuku itu!"

Salima melompat bangun. Ketegasan dalam jawaban suhengnya ini menunjukkan kekerasan hati suhengnya itu; bahwa suhengnya tak mau pulang sebelum menemukan kampung halaman ibunya. Itu adalah sikap yang tak mau dibantah. Dan Salima yang terbelalak memandang suhengnya itu tiba-tiba terisak dan berkata, "Baik, kalau begitu aku ikut."

Kim Mou Eng terkejut. "Apa, kau mau ikut?"

"Ya!" Salima tegas menjawab. "Aku ikut denganmu, Suheng. Aku tak mau kembali kalau kau juga tak mau pulang."

Kim Mou Eng membelalakkan mata. Dia tertegun oleh kata-kata sumoinya ini, melihat pula kekerasan sumoinya itu menyatakan keinginan. Tapi sambil tersenyum dan tertawa lebar, mendadak pendekar ini menyambar sumoinya. Merasa geli, ia memegang lengan sumoinya yang lembut namun penuh getaran tenaga.

"Sumoi, untuk apa kau ikut? Bukankah ini perjalanan keras yang penuh bahaya yang tidak kita ketahui? Apalagi kau telah membuat ribut di kota raja, Sumoi. Jit-liong Ciangkun tentu tak akan tinggal diam membiarkan kita."

"Peduli amat!" Salima tak ambil pusing. "Aku tak takut dengan mereka itu, Suheng. Dan masalah keras, agaknya tempat kita jauh lebih keras dibanding tempat ini!"

"Baiklah," Kim Mou Eng maklum akan kekerasan hati sumoinya. "Aku tak keberatan kau ikut, Sumoi. Tapi aku minta satu hal padamu agar dapat mengendalikan diri dan tidak bersikap telengas terhadap musuh. Kau berjanji?"

Salima tersenyum. "Asal kau tak meninggalkan aku, tentu semua kata-katamu kuturut, Suheng. Tapi sekali kau menipuku, tentu aku tak berani tanggung akan sepak terjang diriku sendiri!"

Kim Mou Eng tertawa pahit. Dia mengangguk, maklum akan kata-kata sumoinya ini yang merupakan setengah ancaman—ancaman agar dia tak meninggalkan sumoinya. Berdebar hatinya bahwa dia harus melakukan perjalanan berdua dengan gadis yang luar biasa itu; manis memikat tapi juga berkepandaian tinggi!

Dan ketika dia setuju dan Salima tampak girang diperbolehkan ikut bersama suhengnya itu, tiba-tiba gadis ini melompat pergi mencari air. Ia datang sambil tertawa-tawa dan sudah mengeluarkan saputangan. Dan ketika Kim Mou Eng heran dan tak mengerti oleh sikap sumoinya itu, tahu-tahu Salima telah membersihkan mukanya yang penuh jelaga.

"Suheng, kau tak boleh pergi dengan muka seperti ini. Nanti orang takut mengira dirimu setan!"

Kim Mou Eng tertawa. Dia melihat sumoinya itu sudah membasuh mukanya dengan sikap begitu lembut. Jari-jari yang mungil itu tampak bergetar penuh rasa, menyalurkan kehangatan cinta yang membuat Kim Mou Eng tersentak. Dan ketika Salima selesai dan jelaga itu sudah bersih dari mukanya, maka meluncurlah pujian jujur dari sumoinya ini, "Suheng, kau tampan."

Kim Mou Eng jengah tersipu. Dia tahu sikap blak-blakan sumoinya ini; bahwa Salima tanpa tedeng aling-aling menyatakan apa yang dia rasakan. Gadis yang biasa bersikap jujur dan terbuka, sama terbukanya seperti tempat tinggal mereka di luar Tembok Besar sana. Dan ketika Salima tertawa dan giginya yang berderet rapi itu tampak berkilat menyilaukan mata, tiba-tiba tanpa sadar Kim Mou Eng juga memuji, "Dan kau cantik, Sumoi. Kau manis!"

Salima tertawa. Dia ganti tersipu oleh pujian suhengnya ini, tapi melompat memutar tubuh dan tiba-tiba menyambar lengan suhengnya itu. "Hayo, kita mulai perjalanan kita, Suheng. Aku tak sabar lagi menemukan kampung halaman ibumu."

Begitu Salima bergerak mengerahkan ginkangnya, sebentar kemudian Kim Mou Eng terbawa meninggalkan hutan itu. Ia tersenyum dan berdebar karena kini Salima yang mencekal tangannya, merasakan kehangatan yang aneh dari telapak sumoinya itu; kehangatan yang membangkitkan berahi. Tapi Kim Mou Eng yang mampu mengendalikan diri dan menekan bangkitnya nafsu itu sudah berendeng dan berlari cepat bersama sumoinya. Dan begitu dua muda-mudi ini meninggalkan hutan itu, tempat itu pun sunyi kembali seperti sedia kala.

***

"Taijin, mana gadis itu?"

Mao Taijin menjatuhkan diri berlutut. "Ampun, belum hamba ambil, Sri Baginda. Masih menunggu hari baik agar tak membawa sial bagi Paduka."

"Hm, kenapa lama amat? Kapan kau ambil?"

Mao Taijin mulai berceloteh. Pagi itu dia dipanggil kaisar yang menanyakan tentang puteri jelita yang bukan lain adalah Cao Cun adanya. Ia gugup karena Bupati Wang dan gadis itu telah meninggalkan gedungnya. Mencari seribu akal agar dia dapat menjawab dengan tepat tanpa kena marah. Dan kaisar juga manusia biasa yang percaya akan takhayul dan segala macam tanda-tanda hidup yang bersifat mistis, maka ke sanalah jawaban Mao Taijin diarahkan.

Dia menyodorkan ilmu kuno, bahwa membawa gadis itu harus menurut hari yang baik, jam yang baik, dan tanggal yang baik. Ia berceloteh yang sebenarnya hanya ingin membujuk kaisar untuk mengulur-ulur keadaan belaka, bahkan mengharap kaisar tidak lagi mengingat gadis itu. Gadis itu pembawa "sial" bagi Mao Taijin karena Wang Taijin tak mau memberi "upeti", bahkan menghinanya dengan kata-kata keras yang membuat menteri itu naik pitam.

Tapi beberapa hari kemudian Sri Baginda Kaisar masih menanyainya dan mendesak menteri itu agar secepatnya membawa Cao Cun, maka bingung dan guguplah menteri ini. Sebenarnya kalau Wang Taijin mau membayar 500 ons emas seperti yang dia minta, maka saat itu juga Cao Cun pasti sudah dihadapkan pada junjungannya ini. Tapi karena Wang Taijin orang jujur dan dia harus mengumpat caci bupati ini atas kekerasan sikapnya yang begitu "alot", akhirnya menteri ini membiarkan saja urusan Cao Cun terbengkalai, tak menyangka kaisar ternyata menanyainya berulang-ulang.

Dan karena Kim Mou Eng telah lolos dan Pendekar Rambut Emas itu terang-terangan membantu bupati ini, maka Mao Taijin tak berani meneruskan niatnya untuk menyuruh bunuh secara diam-diam bupati yang tak dapat dibujuk itu.

Dan hari itu Sri Baginda menanyainya untuk yang terakhir, "Bagaimana, sudah kautemukan hari baik itu, Taijin? Kapan dia kau bawa ke mari? Jangan main-main, aku sudah tak sabar!"

Mao Taijin kecut. "Ampun, seminggu lagi, Sri Baginda. Hamba telah bertanya pada orang-orang pandai yang mahir menentukan hari baik untuk membawa juwita itu bagi Paduka. Harap Paduka bersabar."

"Hm, seminggu lagi?"

"Ya, seminggu lagi, Sri Baginda. Mohon Paduka bersabar karena bidadari ini harus diboyong menurut hari yang baik. Hamba akan mengatur itu untuk Paduka!"

Kaisar mengangguk. "Baik, ini yang terakhir, Taijin. Kau jangan mengulur waktunya lagi, karena aku benar-benar sudah tak sabar lagi menemui juwitaku itu. Persiapkan segalanya!"

"Baik, baik!" Mao Taijin manggut-manggut, kecut dan gentar menerima keputusan itu. Bahwa seminggu lagi dia harus membawa Cao Cun, padahal Cao Cun dan ayahnya telah memusuhi dirinya. Mungkin mereka tidak mau datang!

Dan Mao Taijin yang buru-buru menyambung agar Sri Baginda memberikan capnya pada surat perintah memanggil gadis itu kepada keluarganya, akhirnya disambut heran oleh kaisar.

"Apakah kedudukanmu tak cukup menundukkan gadis itu, Taijin?"

"Ah, ampun...!" Mao Taijin sudah mendapat akal. "Gadis ini memang benar-benar istimewa sekali, Sri Baginda. Dia memiliki kewibawaan yang sederajat dengan Paduka. Hamba terus terang harus mengaku kalah pengaruh oleh calon kekasih Paduka itu. Karena itu mohon Paduka berikan cap agar gadis itu tak menolak bila hamba memanggilnya ke mari!"

Sri Baginda tertawa. Dia merasa geli tapi juga girang oleh cerita menterinya ini; bahwa calon kekasihnya itu wanita yang demikian berwibawa, membuat Mao Taijin takut dan kalah pengaruh. Agaknya keningrat-ningratan! Ia tidak merasa curiga bahwa sebetulnya Mao Taijin hendak menggunakan capnya itu sebagai jalan terakhir kalau Cao Cun dan ayahnya tak mau dibujuk datang.

Akhirnya kaisar memberi juga apa yang diminta menterinya ini. Ia menandatangani surat perintah seperti yang dimaui Mao Taijin, meminta juwitanya itu datang menghadap melalui menterinya ini. Dan ketika Mao Taijin berangkat dan pergi meninggalkannya dengan penuh harap, menteri itu sudah mengatur siasat bagaimana caranya mendatangkan Bupati Wang, tentu saja bersama puterinya, Cao Cun sang bidadari yang membuat kaisar tergila-gila.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment