Chapter 150
Ketika mereka berseru kagum, Kim-mou-eng terus meluncur dengan cepat. Akhirnya, pendekar ini tiba di tepi pulau, menginjakkan kakinya di situ, dan membuang kepingan papan yang telah mengantar dirinya.
Setelah merasa selamat dan menghapus peluh, ia memandang marah ke arah Si Tengkorak Hitam dan kawan-kawannya. Namun, begitu angin terdesir dan berkesiur halus, tiba-tiba musuh yang lain datang menyambut pendekar ini.
"Ha-ha, hebat, Kim-mou-eng. Kau memang hebat dan mengagumkan kami!"
Kim-mou-eng memutar tubuh. Empat bayangan telah mengepungnya dari depan dan belakang. Kim-mou-eng terkejut karena itulah Sai-mo-ong dan teman-temannya: Tok-gan Sin-ni, Siauw-bin-kwi, serta Coa-ong Tok-kwi, si kakek ular bercawat yang membawa suling. Mereka terkekeh dan tertawa menyeramkan menyambut kedatangannya.
Kim-mou-eng terbelalak dan terkejut karena tak menyangka empat iblis ini ada di pulau tengah telaga. Tiba-tiba, Liang Taijin muncul bersama Siauw-ong yang sedang menangkap sumoinya, Salima.
"Suheng...! Sumoi...!" seru Kim-mou-eng.
Ia sungguh tak menyangka semua itu. Bu-kongcu tiba-tiba muncul dan menyambar lengan Salima. Pemuda berwajah putih pucat itu tertawa-tawa sambil mencoba mencium pipi Salima, namun Salima mengelak, mendelik, dan meludahi pemuda itu hingga Bu-kongcu mundur kembali.
Kim-mou-eng terhenyak karena mereka terkepung dan sumoinya tertangkap. Saat ia masih bengong tak percaya, sumoinya yang marah dan memaki-maki berteriak padanya, "Suheng, bunuh iblis-iblis ini! Mereka menangkapku di dalam air. Curang. Sikat dan basmi manusia-manusia tak tahu malu ini!"
"Ha-ha!" Sai-mo-ong tertawa bergelak. "Apa yang kau katakan tak mudah dilakukan, Tiat-clang Sian-li. Sebaiknya kau diam dan biarkan kami bicara dengan suhengmu ini!"
Menghadapi Siauw-ong, iblis muka singa itu bertanya, "Pangeran, apa yang harus kami lakukan? Membekuk dan menangkap Pendekar Rambut Emas ini?"
"Tidak," Pangeran Muda tertawa manis dengan senyum mengejek. "Kim-mou-eng bukan musuh kalau dia mau membantuku, Mo-ong. Tapi kalau dia menolak, tentu saja sikap kita akan lain."
Pangeran itu menghadapi Kim-mou-eng. "Bagaimana kalau kita tukar-menukar, Kim Taihiap? Aku ingin bantuanmu, sumoimu kuserahkan kembali kalau kau mau bekerja sama denganku. Kita sebaiknya tak usah bermusuhan. Bagaimana?"
"Tidak!" Salima kembali berteriak. "Mereka ini iblis, Suheng. Tak usah menerima, serang saja mereka itu!"
"Hm!" Tok-gan Sin-ni tiba-tiba tertawa, berkelebat di belakang gadis itu, dan jarinya menyentuh ubun-ubun Salima. "Kalau begitu kau akan mampus, Sian-li. Suhengmu tak dapat menolongmu kalau dia bergerak maju!"
"Aku tak takut! Mati bagiku bukan apa-apa. Ayo, serang, Suheng! Basmi dan bunuh mereka itu, jangan hiraukan aku," teriak Salima gagah dan tak kenal takut.
Kim-mou-eng tertegun karena Sai-mo-ong dan teman-temannya tersenyum mengejek, sementara Tok-gan Sin-ni siap menotok jalan darah kematian di kepala sumoinya. Jarak terlalu jauh, tak mungkin baginya menolong. Saat sumoinya masih berteriak-teriak, nenek iblis itu tiba-tiba menotok urat gagu sumoinya.
"Diam, jangan cerewet kau... plak!"
Salima yang tak dapat berkata-kata lagi mendelik pada nenek itu, lalu roboh dan diterima oleh Pangeran Muda yang tertawa memandang Kim-mou-eng. "Bagaimana, kau dapat bersikap bijaksana, Kim Taihiap?"
Kim-mou-eng bingung. Sebenarnya, kalau saja sumoinya tak ada di tangan lawan, tentu dia sudah menerjang dan menyerang mereka. Dia tak takut dikeroyok, meski Sai-mo-ong akan mengeroyoknya berempat ditambah kehadiran si Raja Ular. Namun, karena sumoinya ada di sana dan kini lawan siap membunuhnya sewaktu-waktu, terpaksa pendekar ini menahan diri.
"Bagaimana, kau menerima tawaranku, Kim Taihiap?" Pangeran Muda kembali bertanya.
"Apa yang harus kulakukan?" Pendekar Rambut Emas akhirnya balik bertanya. "Bantuan apa yang kalian minta?"
"Aku menghendaki kau bergabung dengan pembantu-pembantuku, Kim-mou-eng. Kalau sumoimu mau membantu sekalian, tentu aku lebih gembira."
"Bergaul dengan setan-setan macam Sai-mo-ong ini?"
"Ha-ha, mereka setan kalau diajak bermusuhan, Kim Taihiap. Tapi sahabat yang baik kalau diajak berdamai. Tak perlu khawatir, suhengmu pun, Gurba, telah membantuku dan kini telah bekerja sama dengan baik dengan para pembantuku!"
Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Gurba? Suheng membantumu?"
"Ya, dan dia jinak sekali, Kim Taihiap. Kau boleh selidiki kalau tidak percaya!"
Kim-mou-eng tertegun untuk kedua kalinya. Bahaya benar-benar mengancam jika suhengnya berbalik haluan. Pangeran ini merencanakan pemberontakan dan suhengnya bisa terlibat, padahal bangsa Tartar dengan kaisar sebenarnya tak bermusuhan lagi. Pangeran ini terlalu ambisius dan ingin menariknya karena dialah yang tahu rencana pemberontakan itu. Tentu ia tak mau melepasnya pergi karena takut Kim-mou-eng berbuat macam-macam.
Saat Kim-mou-eng bingung, Tok-gan Sin-ni terkekeh mencabut jarumnya, siap menusuk sumoinya. "Pangeran, sebaiknya Paduka tak perlu banyak bertanya lagi pada si sombong ini. Kim-mou-eng merasa dirinya bersih, kaum pendekar, barangkali jijik bergaul dengan kami orang-orang yang dianggap kaum sesat. Bagaimana kalau kita bunuh sumoinya ini dan tangkap saja dia itu? Aku tak sabar, Pangeran."
"Ha-ha, betul!" Siauw-bin-kwi berceloteh. "Aku juga tak sabar berlama-lama, Pangeran. Sebaiknya Kim-mou-eng ini dibunuh dan sumoinya itu kita permainkan, atau sumoinya kita bunuh dan Kim-mou-eng kita permainkan. Bagaimana, Pangeran?"
Pangeran Muda tersenyum, tapi belum sempat menjawab, Sai-mo-ong mendahului mendamprat temannya, "Bin-kwi, sebaiknya dua-duanya dibunuh! Kau manusia homo yang selalu mengiler melihat pemuda tampan. Siapa tidak tahu maksudmu dengan menyuruh tangkap Kim-mou-eng ini? Huh, sebaiknya mereka dibasmi saja, Pangeran. Kim-mou-eng dan sumoinya ini berbahaya!"
"Terserah yang bersangkutan," Pangeran Muda akhirnya tertawa mengejek. "Itu tergantung Kim-mou-eng, Mo-ong. Kalau dia tak sayang sumoinya, tentu saja aku mengizinkan kalian membunuh. Tapi tunggu dulu jawabannya. Bagaimana, Kim-mou-eng?"
Kim-mou-eng melihat bahaya. Ia melihat jarum di tangan Tok-gan Sin-ni sudah bergetar menempel di kepala sumoinya. Keadaan benar-benar gawat. Menyadari di saat kritis seperti ini iblis macam Tok-gan Sin-ni bisa saja membunuh tanpa berkedip, akhirnya dengan muka gelap, pendekar ini berkata, "Baik, aku menyerah, Pangeran. Tapi biarkan dulu aku berpikir sehari. Bebaskan sumoiku!"
"Kau menerima tawaranku?"
"Kalau kau membebaskan sumoiku, Pangeran. Tapi biarkan dulu aku berpikir sehari!"
"Ha-ha, bagus. Kalau begitu silakan masuk, Kim Taihiap. Sumoimu tentu kami bebaskan setelah sehari juga. Kini kau menjadi tamuku istimewa, mari masuk! Kita rayakan bakal kerja sama ini dengan arak dan minuman!"
Pangeran yang cerdik itu memberi isyarat kepada Tok-gan Sin-ni. Kim-mou-eng tertegun dan kecewa karena janjinya masih belum dipercaya. Pangeran ini benar-benar siluman; ia hanya akan membebaskan Salima setelah Kim-mou-eng memberikan keputusan positif. Diam-diam, sang pendekar merencanakan untuk mengulur waktu.
Tok-gan Sin-ni terkekeh dan menarik jarumnya. Sai-mo-ong dan teman-temannya juga mundur menjauh karena menganggap Kim-mou-eng menyerah. Mereka tidak tahu bahwa diam-diam Kim-mou-eng telah melepas kancing bajunya dan siap menyerang begitu jarum Tok-gan Sin-ni menjauh.
Begitu semua orang mundur, Kim-mou-eng menjentikkan jarinya. Sekonyong-konyong, tiga sinar putih berkelebat menyambar Tok-gan Sin-ni ke arah mata dan jarum, sementara sinar ketiga menyambar pundak Salima untuk membebaskan totokan. Gerakan itu begitu cepat hingga Tok-gan Sin-ni terkejut dan berteriak karena mata tunggalnya diserang, sementara jarum di tangannya berdenting jatuh ke tanah. Saat ia harus berkelit, Kim-mou-eng membentak dan menampar wanita itu dengan pukulan Tiat-lui-kang. Salima seketika bebas!
"Hei...!" "Keparat...!"
Teriakan ramai dan caci-maki terdengar. Sai-mo-ong dan teman-temannya terkejut; mereka terkecoh dan lengah oleh kata-kata Kim-mou-eng. Tok-gan Sin-ni mencoba menangkis tapi roboh terpelanting. Ia marah bukan main dan menggulingkan tubuh menjauh karena pukulan Tiat-lui-kang meledak di sisi kepalanya. Debu mengepul dan nenek itu terguling-guling.
Saat Tok-gan Sin-ni melompat bangun, Salima yang sudah bebas melengking tinggi dan menghantam Pangeran Muda yang menjadi biang keroknya.
"Pangeran, awas!"
Sai-mo-ong mencelat, sementara Bu-kongcu mencoba melindungi namun terlempar oleh angin pukulan Salima hingga terbanting dan menjerit. Pukulan itu terus meluncur, tetapi Sai-mo-ong keburu tiba, mencabut kipas hitamnya, dan langsung menangkis Tiat-lui-kang.
Ketika pukulan bertemu kipas dan ledakan keras mengguncang tempat itu, Salima terpental, berjungkir balik, dan menyerang lagi dengan melengking penuh kemarahan, tetap mengincar Pangeran Muda. Sai-mo-ong yang marah menangkis dan menendang Pangeran Muda agar menjauh. Pangeran itu pucat dan gemetar sambil mengusap keringatnya; nyaris saja dia binasa. Sepak terjang Salima benar-benar ganas!
Ketika Salima melengking-lengking, kini ia harus berhadapan dengan kakek iblis itu. Tok-gan Sin-ni dan yang lainnya sadar lalu menerjang maju.
"Mo-ong, bunuh siluman betina itu! Hancurkan kepalanya!"
Namun, Kim-mou-eng tentu saja tak tinggal diam.