Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 151

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 151

Dia melihat sumoinya bertempur seru dengan Sai Mo-ong; pertandingan kembali berulang seperti dulu. Ketika Siauw Bin-kwi dan kawan-kawan hendak mengeroyok sumoinya dan Tok-gan Sin-ni menjelarkan rambut, pendekar ini membentak sambil menangkis serangan.

"Sin-ni, jangan mengeroyok. Hadapi aku!"

*Plak!* Rambut yang terpental serta membalik melecut Tok-gan Sin-ni, tiba-tiba membuat nenek itu marah dan berseru keras, meminta agar Siauw Bin-kwi dan Coa-ong Tok-kwi maju menyerang pendekar ini. Coa-ong terkekeh dan maju mengeroyok, sementara Siauw Bin-kwi rupanya lebih senang mengeroyok Salima sehingga pertempuran pecah menjadi dua. Kim-mou-eng dikeroyok Sin-ni dan Coa-ong, sedang Salima dikerubuti Mo-ong dan Bin-kwi.

Pertandingan berjalan seru dan ramai. Salima masih melengking-lengking dan berkelebat menamparkan Tiat-lui-kang-nya. Sang suheng melayani Sin-ni dan Coa-ong dengan kening berkerut; ia tenang, tetapi dapat menghalau serangan dua lawannya. Ketika pertandingan meningkat dan Coa-ong serta Sin-ni berteriak-teriak karena selalu terpental oleh tolakan lawan, di lain pihak Mo-ong dan Bin-kwi terkekeh-kekeh mendesak Salima.

Memang benar, di pihak Salima pertandingan berjalan timpang. Kim-mou-eng khawatir melihat keadaan sumoinya itu. Betapapun ia tahu bahwa dikeroyok dua oleh lawan yang setingkat membuat sumoinya tak mungkin menang. Mo-ong dan sumoinya berimbang, kalau ditambah Bin-kwi, tentu sumoinya terdesak. Maka, ketika sumoinya mulai mengeluh dan dua kakek iblis itu tertawa-tawa mempermainkan Salima, tiba-tiba Kim-mou-eng membentak mendesak lawan. Ia harus cepat merobohkan Coa-ong ataupun Sin-ni, tak dapat membiarkan lawan menekan sumoinya.

Dua kali sumoinya menerima pukulan dan terhuyung. Beberapa jurus lagi mungkin ia akan celaka dan roboh. Maka, ketika Tok-gan Sin-ni kembali melecutkan rambut dan Coa-ong memasukkan sulingnya, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas membentak menerima dua serangan itu. Rambut ditangkap dan dibetot, Tok-gan Sin-ni menjerit karena kesakitan tertarik maju. Ketika suling menyambar dan Coa-ong terkekeh, Tok-gan Sin-ni tertendang menerima serangan suling itu.

"Hei!" Gebrakan berlalu cepat. Coa-ong terkejut karena kawan sendiri menerima tusukan sulingnya. Tok-gan Sin-ni memaki dan menjerit. Namun, karena semuanya berlangsung cepat dan Coa-ong maupun Sin-ni tak dapat berbuat banyak, ujung suling sudah menotok dada Sin-ni, satu serangan maut yang dapat membuat nenek itu binasa. Coa-ong melencengkannya sedikit dan Tok-gan Sin-ni mengeluh mengerahkan sinkang, menahan totokan maut yang nyaris mengenai jalan darah kematian itu.

Ketika Coa-ong berseru tertahan dan Sin-ni terlempar roboh, Kim-mou-eng berkelebat menendang dagu si raja ular itu.

"Dess!" Coa-ong menjerit terputar roboh. Kakek ini terlempar bergulingan mendekati temannya, rahangnya serasa retak dan mulut terkatup sakit bukan kepalang. Ketika dia melompat bangun dan menggigil memandang Kim-mou-eng yang telah berkelebat menolong Salima, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni yang marah karena tertotok sulingnya tadi menggaploknya pulang-balik sambil memaki, "Setan ular, lain kali hati-hati menyerang kawan... *plak, plak!*"

Coa-ong yang terpelanting oleh tamparan temannya tiba-tiba bangun dan marah memaki Sin-ni, lalu menerjangnya. Tentu saja dia sakit hati dan tak mau digaplok. Ketika Sin-ni tertekan dan menghindar ke sana kemari, Coa-ong sudah menyerangnya membabi buta. Dasar sewot!

"Hei, jangan gila! Kalian jangan bertempur!" Sai Mo-ong berteriak, kaget melihat dua temannya saling baku hantam. Sin-ni juga marah karena Coa-ong menyerangnya tak mau sudah; ia membalas dan dua orang itu segera terlibat dalam pertarungan sengit. Sai Mo-ong mencak-mencak dan Pangeran Muda muncul, membentak dua orang itu agar menghentikan perkelahian.

Coa-ong tetap menyerang dan Tok-gan Sin-ni juga menangkis, balas pula menyerang. Sementara itu, di pihak lain, Sai Mo-ong dan Siauw Bin-kwi berkaok-kaok ketika Kim-mou-eng mendesak mereka, berhasil menolong sumoinya. Inilah kaum sesat; watak mereka memang aneh. Coa-ong tak mau mendengar seruan pangeran maupun temannya. Tok-gan Sin-ni juga marah dan membalas pukulan-pukulan lawan.

Ketika Siauw Bin-kwi dan Mo-ong terus terdesak dan mundur, Salima mendaratkan satu tamparan keras yang mengenai leher Mo-ong. Kakek iblis itu terpelanting dan roboh memaki. Siauw Bin-kwi juga mendapat ganjaran yang sama karena Kim-mou-eng menekan mereka hingga sumoinya dapat membalas. Tentu saja dua kakek iblis itu marah-marah dan gentar. Tapi, karena Kim-mou-eng tak bermaksud membunuh selain ingin menyelamatkan sumoinya saja, Pendekar Rambut Emas yang berwatak halus ini mengajak sumoinya pergi.

"Sumoi, tak perlu membunuh. Desak saja mereka dan kita pergi!"

"Untuk apa?" Salima menolak. "Aku hendak membalas sakit hatiku, Suheng. Sebaiknya kubasmi dan kubunuh dua tua bangka ini!"

"Tapi kita terkurung telaga. Kita masih harus mencari perahu dan keluar melalui jalan air. Sebaiknya cepat pergi mumpung Coa-ong dan Sin-ni masih bertempur sendiri!"

"Tidak," Salima menggeleng. "Aku penasaran, Suheng. Aku hendak membunuh dulu mereka ini. Aku tak takut kalau Tok-gan Sin-ni maupun Coa-ong maju mengeroyok!"

Terpaksa Kim-mou-eng menarik napas panjang. Dia menyesal sumoinya tak mau diajak pergi, betapapun dia mengenal kekerasan watak sumoinya itu. Padahal, maksudnya adalah memanfaatkan kesempatan mumpung Coa-ong dan Sin-ni berkelahi sendiri, sehingga mereka tak berat menghadapi empat lawan sekaligus.

Ketika Mo-ong kembali jatuh berteriak mendapat pukulan dan Bin-kwi juga berjengit dihantam Tiat-lui-kang, tiba-tiba Bu-kongcu maju dibantu barisan Tengkorak Hitam yang kini sudah mendarat dan menyerbu atas bentakan Sai Mo-ong.

"Kalian jangan melotot saja, serang dari jauh dengan panah atau apa saja!"

Bu Ham mengangguk. Dia sudah membantu gurunya, seisi pulau tiba-tiba dikerahkan dan Kim-mou-eng mengerutkan kening. Memang dia dapat meruntuhkan atau memantalkan semua panah dan tombak, begitu pula sumoinya. Tapi karena gangguan itu dimanfaatkan Mo-ong untuk menarik napas, iblis ini mengeluarkan pelor-pelor rahasianya dan Siauw Bin-kwi juga bersiap dengan granat tangannya yang berbahaya. Akhirnya, Kim-mou-eng menyambar sumoinya dan mengajak lari. Mereka menghantam dan kembali membuat Mo-ong dan Bin-kwi terguling-guling hingga berteriak-teriak.

Ketika panah dan tombak dipukul runtuh dan Kim-mou-eng melihat bahaya bagi mereka, dengan cemas dia menarik sumoinya meloncat jauh, melihat sebuah perahu tertambat tak jauh dari situ, perahu si Tengkorak Hitam.

"Sumoi, ayo pergi. Tak guna membuang tenaga lagi di sini. Kau harus menurut!"

Salima terkejut. Sebenarnya dia amat marah terhadap musuh-musuhnya itu. Sai Mo-ong dan Bin-kwi tentu akan dibunuhnya karena suhengnya membantu. Keadaan menguntungkan bagi mereka. Tapi karena suhengnya membetot dan memperingatkan bahwa keadaan bisa berbalik kalau Coa-ong dan Sin-ni menyerang, akhirnya dengan gemas Salima menurut. Dia menangkap sebatang tombak dan melontarkannya kembali ke anak buah bajak; jeritan ngeri terdengar di sana ketika senjata makan tuan. Salima masih meraup lagi beberapa batang anak panah yang menyambar dirinya, dilempar balik, dan kembali jeritan ngeri bergema. Setelah tujuh anak buah bajak roboh tewas dan Salima agak puas, ajakan suhengnya diikuti dan mereka menghilang dari tempat itu.

Mo-ong berteriak-teriak dan menyemprot Tok-gan Sin-ni dan Coa-ong habis-habisan; sang pangeran juga marah-marah. Ketika dua iblis itu mendapat dampratan dan sadar bahwa musuh melarikan diri, mereka mengejar dan menghentikan pertempuran.

"Bodoh, goblok! Kalian seperti anak-anak kecil saja. Ayo kejar dan tangkap Pendekar Rambut Emas itu!"

Tok-gan Sin-ni dan Coa-ong menyesal. Mereka menghentikan pertikaian, betapapun gugup dan merasa bersalah karena Kim-mou-eng melarikan diri. Musuh tak boleh keluar dan harus ditangkap. Pangeran Muda memaki-maki dan melototi mereka. Tapi karena Kim-mou-eng telah tiba di perahu dan bersama sumoinya mendorong perahu itu, mereka kehilangan jejak ketika lawan meluncur ke tengah telaga.

"Kejar, tangkap dengan perahu lain. Jangan melamun!"

Pangeran Muda marah-marah. Sai Mo-ong dan teman-temannya mencari perahu lain; perahu kaum bajak dipakai. Empat perahu mengejar Kim-mou-eng, berusaha menangkap tapi sia-sia. Salima dan suhengnya telah tiba di seberang. Ketika dua orang itu menghilang di luar telaga, akhirnya mereka kembali menerima dampratan Pangeran Muda.

"Kalian keterlaluan. Ini semua gara-gara Coa-ong!"

"Maaf," Sai Mo-ong buru-buru meredakan suasana. "Coa-ong memang salah, Pangeran. Tapi sebaiknya tak perlu memaki-maki lagi. Kita akan keluar, kami berempat akan menyusul dan bersatu menangkap Kim-mou-eng."

"Juga sumoinya, gadis liar itu harus dibunuh!"

"Baik."

Coa-ong yang diberi isyarat agar menurut akhirnya diajak Mo-ong dan teman-temannya meninggalkan pulau. Mereka meneruskan pengejaran dan mewanti-wanti agar Tok-gan Sin-ni maupun si raja ular jangan bertingkah macam-macam. Betapapun lawan yang mereka hadapi amat lihai, Kim-mou-eng perlu diperhatikan lebih utama.

Namun, ketika dua hari mencari dan mencari tanpa hasil, akhirnya Sai Mo-ong mengajak teman-temannya kembali dan melapor pada junjungannya. Alangkah kagetnya Sai Mo-ong; Pangeran tampak terikat di tengah ruangan dengan muka matang biru dan mulut disumpal. Bu Ham juga terikat sungsang tak keruan di atas belandar, tidak dapat bicara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment