Chapter 152
Tubuhnya babak belur setelah dihajar; pemuda itu tampak bengkak dengan wajah yang memar. Baik sang pangeran maupun Bu Ham dalam kondisi setengah pingsan. Ketika mereka ditolong dan dua orang itu mengaduh panjang pendek, sang pangeran menceritakan bahwa Kim-mou-eng datang untuk mengambil Liang Taijin.
"Apa? Kim-mou-eng datang kembali?"
"Ya, kalian terkecoh, Mo-ong. Mereka tidak takut dan kembali ke sini malam itu, ketika kalian pergi. Gadis setan itu menggaplokku berulang kali tak keruan. Keparat, dia harus dibunuh. Liang Taijin harus dicari dan kita harus segera pergi dari sini."
Mo-ong tertegun. Apa yang terjadi? Kiranya Pendekar Rambut Emas hanya bersiasat saja. Pendekar itu membawa lari sumoinya, tentu saja bukan karena takut, melainkan demi keselamatan sumoinya. Sepanjang jalan, Salima terus mengomel dan menggerutui suhengnya, yang hanya disambut senyum oleh sang suheng sampai Salima merasa lelah sendiri dan kesal.
Ketika mereka tiba di hutan dan berhenti, Kim-mou-eng bertanya, "Sudah? Kau puas menggerutu?"
Salima jengkel. "Apa maksudmu, Suheng? Bukankah kita dapat melawan mereka berempat itu? Kalau tidak mengenal dirimu, tentu kuanggap kau penakut dan pengecut. Sungguh, aku penasaran dengan sikapmu yang tidak kumengerti ini!"
"Baiklah, sekarang dengarkan. Menurutmu, apa anggapan mereka kalau kita melarikan diri begini, Sumoi?"
"Tentu saja takut, apalagi?"
"Dan mereka merasa besar hati, bukan? Mereka akan mengejar, dan itulah kesempatan kita untuk kembali ke sana!"
"Ke mana?"
"Tentu saja ke pulau, ke mana lagi?"
Salima tertegun. "Kau mau kembali untuk menangkap pangeran itu, Suheng?"
"Bukan sang pangeran, Sumoi, tetapi Liang Taijin!"
"Liang Taijin? Untuk apa? Dedengkotnya adalah pangeran itu, bukan Liang Taijin!"
"Benar, tapi dari Liang Taijin inilah kita akan mendapatkan pengakuan, Sumoi. Karena itu, gubernur itulah yang harus ditangkap!"
"Aku tak mengerti, caramu membingungkan."
"Kau tak mengerti karena kau kurang mau berpikir, Sumoi. Kau masih dilanda emosimu itu. Dengarkan, pangeran tak mungkin kita tangkap karena dia adalah putra kaisar sendiri. Dia...!"
"Dia pemberontak! Tidak peduli dia putra kaisar, dia harus tetap ditangkap!" potong Salima.
"Ah, nanti dulu. Kalau kita menangkapnya, mana mungkin pangeran itu melanjutkan rencananya? Kau jangan memutus pembicaraan dulu; kita harus membiarkan dia melaksanakan maksudnya. Jika Liang Taijin yang kita tangkap sementara pangeran itu tetap melanjutkan rencananya, maka kita memiliki bukti kuat untuk membuka mata kaisar. Kau mengerti?"
Salima tertegun. "Begitukah?"
"Ya, apa kau sudah jelas? Karena itu, Liang Taijin kita culik, Sumoi. Kita pergi ke kota raja membawa gubernur itu selagi Mo-ong dan teman-temannya mengejar kita."
Salima terbelalak. Wajahnya kini berseri penuh gembira; dia mengerti dan memandang suhengnya dengan kagum. Suhengnya memang tidak gegabah; semua diperhitungkan dengan cermat dan cerdik. Ketika suhengnya tersenyum dan memandangnya kalem, tiba-tiba Salima menubruk dan memeluknya. "Suheng, kau cerdik. Kau pintar...!"
Kim-mou-eng mengelus rambut sumoinya. Saat seperti ini, sumoinya tampak begitu manja. Tanpa terasa, dia mendaratkan ciuman halus di pipi sumoinya. Salima tersentak melepas diri, pipinya memerah. Namun, dia tidak marah, bahkan merasa girang. Salima berbisik, "Suheng, kau tidak permisi dulu?"
Kim-mou-eng sadar. Dia hampir hanyut oleh pelukan sumoinya, sedikit tersipu, dan meminta maaf. Bagaimanapun, pelukan seorang gadis membuat darahnya berdesir; tubuh sumoinya lembut, hangat, dan harum. Ketika dia menarik diri dan sumoinya memandang mesra, dia bertanya bagaimana sumoinya itu bisa tertangkap.
Salima tiba-tiba berapi-api. "Aku diserang anak buah Tengkorak Hitam itu, Suheng. Perahuku ditenggelamkan dan aku ditangkap!"
"Bagaimana dengan Lui Tai?"
"Pelukis itu menuju pulau. Kuikuti, tapi di tengah telaga aku diserang secara curang!"
"Ah, seperti aku juga?"
"Kau juga dicurangi anak buah bajak itu?"
"Ya, di tengah jalan perahuku bocor, oleng, dan karam. Tapi katanya kau ke pulau bersama seorang pemuda. Siapa dia?"
"Siapa yang bilang?"
"Seorang anggota bajak."
"Dia menipu, kau dibohongi! Aku datang seorang diri, Suheng. Aku menyewa perahu, tapi perahu itu rupanya milik si anak buah bajak. Perahuku bocor, dan ketika tenggelam, aku diserang tujuh laki-laki di dalam air!"
"Hm, kalau begitu aku dikibuli. Sungguh kurang ajar!" Kim-mou-eng lalu meminta sumoinya menceritakan apa yang didapat dari pengintaian dua hari ini. Ternyata hasilnya hampir sama: beberapa pembesar diundang oleh Pangeran Muda untuk membicarakan pemberontakan di Telaga Poyang. Sin-kee Lo-jin mendahului Mao Taijin untuk melihat keadaan, bersama Lui Tai, seolah menjadi utusan di depan.
Ketika Salima bercerita bahwa di pulau itu terdapat beberapa pejabat istana yang memenuhi undangan Siauw Ong-ya, Kim-mou-eng mendesah dan mengerutkan kening. "Kalau begitu, mereka juga akan kita tangkap sebagai saksi yang amat berharga bagi kaisar."
"Dan malam nanti kita menyerbu, Suheng?"
"Ya, tapi sebenarnya lebih cepat lebih baik. Kita harus bersabar; tunggu Mo-ong keluar, baru kita masuk."
Demikianlah, Kim-mou-eng bersama sumoinya bersabar di dalam hutan menunggu malam tiba. Ketika matahari beringsut ke barat, mereka segera meluncur ke pulau di tengah telaga. Mereka telah melihat bayangan Mo-ong dan teman-temannya mengejar mereka, tiba di sana dengan selamat, dan tentu saja mengejutkan Pangeran Muda dan yang lain-lain; Bu-kongcu ada di situ menemani sang pangeran.
Salima mencari Liang Taijin dan menangkap gubernur itu, sementara yang lain telah pergi. Kiranya mereka takut dan menyelamatkan diri setelah Kim-mou-eng dan sumoinya lolos. Satu bahaya bagi mereka! Ketika Salima melampiaskan kemarahannya dengan menampar pangeran itu berulang kali dan Bu Ham juga mendapatkan ganjarannya, Kim-mou-eng segera mengajak sumoinya pergi.
Sebenarnya Salima tidak puas. Gadis ini ingin membunuh Pangeran Muda, begitu pula Bu-kongcu. Namun, suhengnya memperingatkan dan mencegah sumoinya melakukan pembunuhan. Bagaimanapun, Liang Taijin telah berhasil ditangkap dan gubernur ini merupakan bukti yang cukup penting; yang lain yang tidak tertangkap biarlah merayap. Kim-mou-eng cukup puas.
Malam itu juga, mereka terbang ke kota raja dengan Liang Taijin yang menggigil di tangan Kim-mou-eng.
"Apa, Kanda Pangeran mau memberontak? Kau mengada-ada, Kim-mou-eng! Kau mencari keributan dan rupanya tak puas dengan kejadian dulu! Lepaskan gubernur ini, aku mau memeriksa," damprat Pangeran Mahkota saat ditemui Kim-mou-eng.
Seperti diketahui, pangeran ini tidak suka pada Pendekar Rambut Emas sejak peristiwa terbunuhnya Seng-piauw Ang-lojin. Keributan terjadi, dan keterangan Seng-piauw-pangcu ditolak. Pangeran Mahkota menganggapnya fitnah. Kini untuk kedua kalinya Kim-mou-eng datang, membawa gubernur Liang dan menyatakan bahwa kakaknya, Pangeran Muda, benar-benar merencanakan pemberontakan.
Gubernur itu menggelepar dan berteriak menolak tuduhan, mukanya pucat pasi di hadapan Pangeran Mahkota, gelisah jika sampai dihadapkan kepada kaisar. Ketika keributan terjadi dan Kim-mou-eng melihat wajah Pangeran Mahkota memerah karena tidak percaya, pendekar itu berkata, "Kalau begitu, silakan Paduka bertanya pada gubernur ini, Pangeran. Hamba membawanya sebagai bukti."
"Baik, tapi apa maksudmu melakukan semuanya ini, Kim-mou-eng? Pamrih apa yang kau sembunyikan di balik perbuatanmu ini?"
Kim-mou-eng terkejut. "Apa maksud Paduka?"
"Kim-mou-eng," Pangeran Mahkota marah. "Kau adalah orang asing, kau orang luar. Kalau betul terjadi pemberontakan, mestinya itu urusan dalam negeri kami sendiri. Untuk apa kau sebagai orang Tartar ikut campur? Aku tidak percaya karena kau bukan bangsaku. Aku cenderung menuduhmu melakukan politik adu domba agar aku bermusuhan dengan saudaraku sendiri!"
Ketika Kim-mou-eng terbelalak mendengar kata-kata sang pangeran, pangeran itu menghadapi Liang Taijin. "Taijin, benarkah tuduhan Kim-mou-eng bahwa kau dan Kanda Pangeran mau memberontak?"
"Tidak!" sang gubernur langsung berseru. "Hamba dan kakak Paduka tidak melakukan seperti yang dituduhkan itu, Pangeran. Hamba bahkan tidak mengerti kenapa Kim-tahiap dan sumoinya ini menyuruh hamba mengaku melakukan pemberontakan!"
"Nah, kau dengar?" Pangeran Mahkota berbalik menghadapi pendekar itu. "Agaknya kau tak puas-puasnya mengadu domba, Kim-mou-eng. Dulu membawa ketua Seng-piauw-pang itu, dan sekarang membawa Liang Taijin. Aku khawatir di mana pun kau datang, selalu terjadi pembunuhan!"
Kim-mou-eng tertegun. "Pangeran..."
"Apa lagi yang ingin kau sampaikan? Liang Taijin tidak mengaku, dan Kanda Pangeran kebetulan tidak ada di sini. Kau mau menghadapkan kakakku itu?" potong Pangeran Mahkota dengan marah.
Ia tampak sangat geram hingga Kim-mou-eng terbelalak. Berkali-kali didamprat, namun ia mencoba untuk bersabar. Ketika sang pangeran melotot dan mengepal tinju, Salima yang tidak dapat menahan diri tiba-tiba berseru gusar.
"Pangeran, kami datang untuk membuka rahasia kebusukan. Kalau kau tidak dapat menerimanya, biarlah kami pergi, tidak perlu mengumpat dan mencaci. Suhengku memang orang Tartar, tapi dasar dan jalan pikirannya adalah bangsa Han sejati. Kalau kau tidak percaya itu, biarlah kau mampus dicekik antek-antekmu sendiri."
Pangeran Mahkota terbelalak. "Kau menghina diriku?"
"Kau yang menghina kami, Pangeran. Kau yang mendahului mengeluarkan caci maki."