Chapter 153
"Kalau bukan karena suhengku, tentu tak sudi aku menginjakkan kaki di sini!"
"Ah...!" sang pangeran yang gusar melototi Salima, tiba-tiba dilerai oleh Kim-mou-eng yang mengerutkan kening.
"Sumoi, tak perlu membuat ribut. Kalau pangeran tidak percaya, biarlah kita pergi!" Kim-mou-eng menyambar Liang Taijin, lalu tiba-tiba melompat menyambar lengan sumoinya pula.
Sungguh kecewa dan penasaran hatinya melihat sikap Pangeran Mahkota, ia tak tahu bahwa Pangeran Muda telah menghasut adiknya agar tidak gampang percaya padanya, dengan alasan bahwa Kim-mou-eng adalah orang Tar-lar yang suka mengadu domba. Mungkin ada hubungannya dengan kehancuran suku bangsa itu ketika menyerang kota raja. Pangeran Mahkota dapat menerimanya dan karena itu memaki-maki Kim-mou-eng. Pendekar ini tak tahu latar belakangnya. Ketika malam itu ia membawa Liang Taijin pergi meninggalkan gedung Pangeran Mahkota, ia menuju ke istana kaisar.
"Mau ke mana, Suheng? Kenapa masuk semakin dalam?"
"Aku mau mencari kaisar, Sumoi. Kalau Pangeran Mahkota tak dapat menerima laporanku, biarlah ayahandanya yang mendengarkan!"
"Tidak, jangan...!" Liang Taijin pucat, kaget mendengar ini. "Aku jangan dibawa ke sana, Kim Taihiap. Jangan!"
"Tapi kau berdusta. Kau membuat pangeran tak percaya padaku dan membuat kami sakit hati. Kau harus kubawa ke sana dan kaisar akan mendengar segalanya!" Kim-mou-eng tak peduli, ia gemas dan marah pada gubernur yang licik ini. Gubernur itu terang-terangan berkhianat tapi tak mau mengaku, malah berdalih dipaksa. Ia seolah ingin memaksa gubernur itu mengakui rencana pemberontakan. Ketika ia meninggalkan Pangeran Mahkota untuk menemui kaisar, istana terkejut oleh kehadirannya yang tiba-tiba. Kaisar terhenyak.
"Apa ini? Kau Kim-mou-eng, bukan?"
"Benar, hamba Kim-mou-eng, Sri Baginda. Maafkan malam-malam begini datang menyerahkan gubernur busuk ini. Ada segerombolan pengkhianat di sekeliling Paduka, dan satu dari gerombolan itu adalah Liang Taijin!"
"Apa yang kau lakukan?"
"Ampun, hamba... hamba tidak bersalah, Sri Baginda. Hamba ditangkap dan entah kenapa disuruh mengakui pemberontakan yang tidak hamba perbuat!"
"Hm!" Salima tiba-tiba menjepit tengkuk pembesar ini, menekan jalan darah gu-cenghiat-nya. "Kau tidak mau mengaku, sebenarnya Gubernur busuk? Kau minta kusiksa baru bicara jujur?"
"Aduh, tidak... aduh!" Liang Taijin menjerit kesakitan oleh rasa nyeri yang sangat.
Ketika kaisar terbelalak dan menyuruh Salima melepaskan gubernur itu, kaisar bertanya dengan kening dikerutkan, "Liang Taijin, apa yang kau lakukan? Benarkah ada sekumpulan pemberontak seperti kata Kim-mou-eng ini?"
"Tidak, eh... aduh, ya...!" Pembesar itu bingung saat jalan darahnya ditekan kembali. "Hamba... hamba tidak tahu, Sri Baginda. Hamba tidak mengerti!"
"Tapi kau berkomplot dengan Pangeran Muda. Kau hendak berkhianat!" Salima membentak. "Jangan macam-macam, Liang Taijin. Kalau tidak, kau akan kubunuh!"
"Tidak, aku... aku tidak tahu...!" Saat Liang Taijin berteriak-teriak dan Bu Ciangkun serta Cu Ciangkun muncul, tiba-tiba seseorang menghardik dan menyuruh Salima melepaskan korbannya.
"Gadis liar, bersikaplah hormat terhadap kaisar!"
Semua orang tertegun. Seorang wanita setengah tua muncul, masih cantik dengan sanggul tinggi, berjalan dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaisar. Kim-mou-eng tidak mengenal wanita ini. Ketika wanita itu bangun dan memandang Kim-mou-eng serta sumoinya, terdengarlah suaranya yang nyaring dan tinggi.
"Sri Baginda, dua orang ini pengacau. Putera Anda, Pangeran Mahkota, telah datang ke tempat hamba memberitahu kejadian ini. Dia Pendekar Rambut Emas, bukan? Dia bersama sumoinya entah dengan maksud apa telah memaksa Liang Taijin untuk mengakui sebuah pemberontakan. Hamba mempunyai bukti bahwa apa yang dikatakan tidak benar!"
Kim-mou-eng terkejut. "Kau siapa?"
"Dia selirku, Kim-mou-eng. Ibu dari anakku, Pangeran Muda!" kaisar tiba-tiba berseru, membuat Kim-mou-eng dan sumoinya terkejut.
Baru sekarang mereka tahu bahwa Pangeran Muda masih mempunyai ibu. Inilah orangnya. Kim-mou-eng menangkap kecerdasan amat tinggi yang dimiliki wanita ini; pandang matanya dingin menusuk, bola matanya hidup, dan tarikan mulutnya membayangkan seseorang yang telah banyak pengalaman. Kim-mou-eng tertegun, tapi masih tidak sadar bahwa wanita inilah sebenarnya sumber dari segala sumber penyakit, dalang yang mengatur anaknya sendiri. Tokoh di belakang layar. Salima juga tak tahu itu. Ketika mereka terbelalak, wanita itu, Sien Nio, berdiri mengedikkan kepala.
"Sri Baginda, bolehkah hamba mewakili Paduka bertanya jawab dengan Pendekar Rambut Emas ini?" Kaisar mengangguk, percaya akan kecerdasan selirnya itu.
"Nah, mari kita mulai. Tuduhan apa yang kau tujukan pada Liang Taijin ini, Kim-mou-eng?"
Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Pemberontakan."
"Kau tahu dia akan memberontak? Dari mana kau tahu?"
"Gubernur ini sendiri yang berbicara di dalam keretanya. Aku tahu karena mendengar pembicaraannya!"
"Bagus, tapi Liang Taijin sendiri menyangkal. Kau menangkap dia di rumahnya, bukan di tengah perjalanan. Kau bohong, kau dusta. Liang Taijin tak ada di dalam kereta karena waktu itu dia menjadi tamuku!"
Kim-mou-eng terkejut. "Siapa bilang?"
"Banyak saksi di sini, Kim-mou-eng. Dan aku saksi utamanya! Liang Taijin menjadi tamuku dan waktu itu kusuruh beristirahat di Puri Kuning. Waktu itu dia ada di sana dan kau datang menangkap!"
Sien Nio bicara dengan tangkas dan gencar, mengatakan bahwa waktu itu Liang Taijin mencari Pangeran Muda, tidak ketemu, lalu menjadi tamu selir ini, bercakap-cakap, dan akhirnya disuruh beristirahat di Puri Kuning. Beberapa pengawal melihat bayangan Kim-mou-eng masuk. Mereka tak dapat mencegah karena Kim-mou-eng lihai, ia memburu gubernur itu yang hendak masuk ke kamarnya. Sebentar kemudian ia berkelebat keluar sudah menenteng gubernur itu. Para pengawal berteriak-teriak dan mengejar. Kim-mou-eng menuju gedung Pangeran Mahkota dan pengawal terpaksa berhenti di sana, tak berani masuk.
Ketika Sien Nio bicara macam-macam dan berbalik menuduh Kim-mou-eng mencari sensasi dan sengaja mencari-cari kesalahan orang lain untuk mengadu domba orang-orang istana, Kim-mou-eng kian lama kian pucat dan marah. Ia membentak dan menyuruh Sien Nio diam.
Ketika selir itu terengah-engah menghentikan serangannya, Kim-mou-eng berkata, "Itu tidak benar. Gubernur ini kutangkap di Telaga Poyang ketika menerima undangan anakmu. Dia hendak memberontak dan membicarakan perihal pemberontakan itu di tengah telaga!"
"Oh, anakku terlibat? Bagus sekali! Kau tak tanggung-tanggung, Kim-mou-eng. Tapi semua yang kau katakan dusta belaka! Anakku tak ada di Telaga Poyang, dia sedang berburu di Hutan Cemara. Kau boleh tanya beberapa orang di sini, Hun-ciangkun, Kok-taijin, maupun Han-taijin sendiri. Kalau kau tidak percaya dan penasaran padaku, boleh kau tanya mereka-mereka itu. Buktikan apakah benar atau tidak!"
Selir itu menuding-nuding ke kiri kanan dengan sikap penuh semangat dan meyakinkan. Ekspresinya begitu sungguh-sungguh hingga kaisar dan yang lain terpengaruh, mengangguk-angguk. Kim-mou-eng tertegun dan menjublak kaget.
Selir itu bertanya kembali, "Dan kau, adakah saksi-saksi bahwa Liang Taijin benar kau tangkap di Telaga Poyang? Adakah bukti bahwa gubernur ini berada di sana saat itu?"
"Saksinya adalah sumoiku ini, Paduka Selir. Dialah yang tahu apa yang terjadi di sana!"
"Oh, sumoimu sendiri? Mana dapat dipercaya? Seorang saksi harus orang lain, Kim-mou-eng. Sri Baginda tentu tak akan mempercayaimu karena kalian bisa saja dianggap berkomplot. Itu bukan saksi!"
Kaisar mengangguk. Kim-mou-eng marah, dan mendadak Salima berkelebat maju menangkap selir ini, tak tahan lagi.
"Suheng, ibu seorang busuk tentu busuk pula perangainya. Sebaiknya wanita ini ditarik lidahnya agar tidak mengeluarkan kata-kata busuk!"
Salima sudah mencengkeram, membanting, dan melempar wanita itu hingga Sien Nio menjerit dan terguling-guling. Salima tak dapat menahan dirinya lagi karena suhengnya berkali-kali dipukul, disemprot, dan dihina. Ketika ia berkelebat lagi dan Bu Ciangkun serta Cu Ciangkun berteriak kaget, tiba-tiba Kim-mou-eng maju menyambar mencegah sumoinya, melihat bayangan Pangeran Mahkota memasuki ruangan.
"Sumoi, jangan membunuh! Tahan!"
Salima maunya menolak. Ia sudah memberontak dan siap menghajar lawannya; Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun sudah melindungi selir kaisar ini. Betapapun mereka marah kepada Salima, mereka tidak berani membuat onar di depan kaisar. Ketika suhengnya mencengkeram dan Salima tak dapat melepaskan diri, berkatalah pendekar ini menghadapi kaisar.
"Sri Baginda, rupanya apa yang hamba laporkan mendapat tanggapan salah. Kalau Paduka masih mempercayai selir Paduka itu, biarlah hamba pergi. Hamba tak bermaksud membuat onar!"
"Oh, pergi setelah menggaplok orang? Tidak, Kim-mou-eng dan sumoinya ini harus ditangkap, Baginda. Jatuh nama Paduka nanti kalau membiarkan mereka begitu saja!" Sien Nio berteriak marah. Kaisar dapat melihat itu dan membenarkan omongan ini. Kewibawaannya bisa jatuh di mata orang lain. Betapapun, Kim-mou-eng rupanya tersudut dan tak dapat menangkis omongan selirnya. Kim-mou-eng tak punya saksi.