Chapter 154
Sumoinya sendiri tak bisa dianggap saksi karena mereka berdua adalah *suheng* dan *sumoi*, sekomplot.
Ketika selirnya berseru marah dan kembali mengingatkan kebesaran seorang kaisar, pangeran mahkota yang telah tiba di dalam juga berseru, "Benar, mereka menginjak-injak kita, Ayahanda. Sebaiknya Kim Mou-eng dan *sumoi*-nya ini dibekuk. Hamba juga tak percaya mereka!"
Lengkaplah sudah. Kaisar menjadi marah, matanya berapi, dan Kim Mou-eng dianggap pengacau yang membangunkan tidur kaisar, namun tuduhan itu tak terbukti. Ketika Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun mendapat isyarat, tiba-tiba Kaisar menggebrak lengan kursi dan menyuruh pengawalnya menangkap dua orang itu.
"Baik, bekuk mereka!" perintah Kaisar.
Bu Ciangkun dan temannya bergerak. Mereka menerjang dibantu pengawal-pengawal lain; para *busu* dan si Wi maju menghambur. Bu Ciangkun tak gentar meskipun agak ragu. Maklum, dulu mereka tak berhasil mengalahkan Pendekar Rambut Emas ini ketika mereka masih utuh sebagai Jit-liong Ciangkun.
Ketika semua orang menubruk dan Salima mendapat serangan tombak, tiba-tiba gadis ini menerimanya sekaligus mematahkannya.
"Terima kembali!" gadis itu membentak. Patahan tombak dilontarkan dan meluncur ke tenggorokan pemiliknya. Tentu saja ia akan tewas kalau Kim Mou-eng tidak mengibaskan lengannya dari jauh, berseru agar *sumoi*-nya tidak membunuh.
Ketika yang lain kembali menyerbu, Kim Mou-eng mengerutkan kening. Tiba-tiba pendekar ini menyapu semua orang hingga semua senjata rontok terpukul. Saat semua orang terhuyung, Kim Mou-eng menyambar *sumoi*-nya untuk mengajaknya pergi.
"Sumoi, tinggalkan tempat ini. Tak perlu bertempur!"
Salima melotot. Sebenarnya dia ingin menumpahkan kemarahan di situ, terutama kepada selir kaisar dan Liang-taijin. Marahnya bukan main, tapi karena *suheng*-nya membetot dan Kim Mou-eng tidak memberi kesempatan padanya untuk menolak, mereka melewati kepala banyak orang dan lolos keluar, lalu lenyap.
"Kejar mereka, tangkap...!"
Namun, seruan Sien Nio itu sia-sia belaka. Orang boleh memburu Kim Mou-eng, mencegah, dan menyerangnya, tapi kalau Kim Mou-eng mau menghilang, siapa yang dapat mengikuti? Maka, biarpun pengawal di luar sudah mengejar dan mengepung, pendekar itu tetap tak dapat dicegah dan melompati kepala mereka. Gerakannya seperti iblis atau asap; menghilang dan sebentar kemudian tak diketahui di mana adanya.
Ketika Bu Ciangkun gagal mengejar pendekar ini dan Sien Nio marah-marah, malam itu Kaisar ikut berang dan gusar kepada Kim Mou-eng. Kaisar menyuruh penjagaan diperketat dan para pengawal dikerahkan beberapa kali lipat karena tidak mau terganggu tidurnya. Ketika semua orang ribut membicarakan hal ini, Kim Mou-eng dan *sumoi*-nya telah meluncur jauh meninggalkan kota raja.
***
"Suheng, apa artinya ini? Kenapa kau mencegah aku membunuh?" Salima memprotes. Mereka berhenti dan Kim Mou-eng berkerut kening. Sungguh gelap mukanya. Ketika *sumoi*-nya kembali marah dan bertanya, akhirnya pendekar ini duduk dengan mata bersinar-sinar.
"Sumoi, aku tak mau kau membunuh karena aku terpukul oleh kata-kata pangeran mahkota. Aku tak mau dicap bahwa kedatanganku selalu membawa korban!"
"Tapi mereka yang lebih dulu menyerang, dan ibu Pangeran Muda itu jahat benar mulutnya!"
"Itulah, aku merasa kalah bertanding lidah, Sumoi. Tapi aku tetap akan mengusut ini sampai tuntas. Aku penasaran oleh kebohongan selir itu!"
"Apa lagi yang mau kau lakukan?"
"Kembali ke kota raja, mencari bukti yang konkret hingga Pangeran Muda dan ibunya tak bisa berkutik!"
"Kau gila? Kau masih saja mau mengurusi ini? Kau tak dipercaya, Suheng. Bahkan pangeran mahkota menganggapmu sebagai pengacau karena kau bangsa Tartar!"
"Tidak, aku tak sepenuhnya berdarah Tartar, Sumoi. Ibuku adalah seorang wanita Han. Aku berdarah campuran dan tidak benar dikata sebagai Tartar sepenuhnya!"
Karena marah mengenang kejadian itu, tiba-tiba Kim Mou-eng bangkit berdiri. "Sumoi, sebaiknya kau kembali saja ke suku bangsa kita. Aku ingin bekerja sendirian. Aku khawatir kau menurunkan tangan besi terhadap lawan-lawanku!"
Salima melonjak dan ikut bangkit berdiri. "Kau mengusirku? Kau tak mau kuikuti lagi, Suheng?"
"Eh, bukan begitu," Kim Mou-eng terkejut. "Yang kumaksud adalah biarkan aku tenang melakukan apa yang akan kulakukan ini, Sumoi. Aku tidak mengusirmu, melainkan minta agar kau menjauhi persoalan ini."
"Sama saja! Itu artinya mengusir! Apa yang telah kulakukan hingga kau tak senang padaku, Suheng? Bukankah semua nasihatmu kuturut? Kau bilang jangan membunuh, dan aku pun tidak membunuh. Kau bilang kita pergi, dan aku pun pergi. Apalagi yang tidak kuturuti? Kau mau beralasan apa lagi?"
Kim Mou-eng tertegun, dan *sumoi*-nya menyemprot lagi, "Dan kau tak perlu menyembunyikan sesuatu, Suheng. Aku tahu apa yang menjadi beban pikiranmu. Kau rupanya mau menemui puteri Wang-taijin itu!"
"Ah!" Kim Mou-eng terkejut. "Omongan apa ini? Siapa bilang? Tidak, kau salah paham, Sumoi. Aku tidak memikirkan itu selain persoalan Pangeran Muda. Kau salah paham. Kau ngawur. Tidak betul!"
Kim Mou-eng buru-buru menenangkan *sumoi*-nya bahwa dia semata memikirkan rencana pemberontakan itu dan menjelaskan bahwa dia khawatir *sumoi*-nya menurunkan tangan besi kalau ikut campur. Akhirnya, penjelasan itu disambut ejekan *sumoi*-nya yang mencibirkan bibir.
"Tapi aku selalu patuh padamu, Suheng. Meskipun hampir aku tak dapat menahan diri, tapi selalu kuturut nasihatmu. Mau apa lagi? Kurang apa lagi? Bukankah aku tak melanggar laranganmu?"
"Benar, tapi...."
"Tapi kau mau menjenguk Wang-siocia itu, bukan? Baik, lakukanlah. Dan aku akan mengamuk di kota raja sampai mampus!"
Salima terisak, memutar tubuh, dan berkelebat menuju kota raja, terbang tidak menghiraukan *suheng*-nya. Kim Mou-eng tersentak, tapi begitu sadar, dia berseru keras dan melayang di atas kepala *sumoi*-nya.
"Sumoi, tahan. Jangan mengacau!"
Kim Mou-eng menangkap pundak *sumoi*-nya itu. Salima melengking dan mengelak, lalu menendang dan menampar *suheng*-nya. Suara "plak" yang keras membuat pendekar itu terhuyung.
Salima tertegun. "Kau...?"
"Kau pukullah aku, Sumoi. Lampiaskanlah kemarahanmu daripada kau membuat onar di sana. Tamparlah, pukullah! Aku menyiapkan diri untuk menerima cemburumu yang tidak bertanggung jawab ini!"
Kim Mou-eng memutus, pandang matanya penuh sesal dan sedih. Salima terbelalak dan mundur. Ketika *suheng*-nya maju kembali dan menyiapkan pipinya, tiba-tiba Salima menangis dan menubruk *suheng*-nya itu.
"Suheng, maafkan aku...!" Gadis itu terisak, mengelus, dan menciumi pipi *suheng*-nya. Kim Mou-eng terharu. Salima memang tak bermaksud menamparnya kalau bukan karena cemburu.
Betapapun, ia menghela napas. Ketika dengan air mata bercucuran *sumoi*-nya itu menciumi pipinya penuh sesal dan dua mata mereka beradu pandang, seolah magnet bertemu magnet, Kim Mou-eng menundukkan kepalanya dan mencium bibir *sumoi*-nya itu.
"Sumoi...!"
"Suheng...!"
Dua mulut bertaut erat. Salima menggelinjang penuh bahagia di dekapan *suheng*-nya. Bumi serasa berputar, kaki serasa melayang tinggi di tempat para bidadari dan peri-peri cantik. Salima mengeluh dan membalas ciuman *suheng*-nya.
Ketika mereka terengah dan melepaskan diri, tiba-tiba Salima mengeluarkan erangan lirih dan menyembunyikan mukanya di dada *suheng*-nya, tak sanggup beradu pandang. "Suheng, maafkan aku. Aku... aku memang tak bertanggung jawab..."
"Sudahlah," Kim Mou-eng sadar, merah mukanya menahan nafsu. "Aku tahu apa yang menjadi jalan pikiranmu, Sumoi. Tapi tuduhanmu tadi sungguh mengejutkan aku."
"Maaf, aku... aku cemburu, Suheng. Tapi cinta tanpa cemburu bukanlah cinta, bukan?"
"Hm...." Kim Mou-eng berdebar. Betapapun, hampir dia mabuk oleh ciuman tadi. Begitu nikmat hingga menyesap sumsum tulang belakangnya. Hampir dia melakukan tindakan lebih jauh, tapi dia menahan diri dan mencium rambut *sumoi*-nya. Pendekar ini mendorong *sumoi*-nya agar beradu pandang.
"Sumoi, dapatkah kau tidak membicarakan puteri Wang-taijin itu lagi?"
"Kenapa?"
"Aku tak suka, Sumoi. Aku ingin memusatkan perhatianku pada masalah pemberontakan itu!"
Kim Mou-eng memejamkan mata. Sesungguhnya bukan karena itu, tapi karena teringat janjinya pada Cao Cun bahwa dia akan mengambil gadis itu sebagai istrinya, padahal dia telah melakukan hal yang sama pada *sumoi*-nya ini (terikat!).
Ketika *sumoi*-nya mengangguk dan tersenyum, tiba-tiba gadis itu tertawa manis sekali. "Suheng, kau bersikeras berarti mencampuri urusan pemberontak. Ada apa, sih? Kau ingin mendapat pangkat dari kaisar?"
"Tidak," Kim Mou-eng bersungguh-sungguh. "Aku tidak mengharapkan sesuatu dari permasalahan ini, Sumoi. Melainkan semata kulihat orang-orang tidak benar macam Siauw bin Kwi dan kawan-kawannya itu ada di pihak Pangeran Muda."
"Tapi kau mencampuri urusan orang lain. Pangeran mahkota dan kaisar sendiri tidak menganggapmu sebagai bangsa Han."
"Aku tak peduli. Permasalahannya sekarang menyangkut kebenaran dan kezaliman, Sumoi. Perbedaan kulit dan suku bagiku tak menghalangi. Aku ingin menenangkan arwah Seng Piauw Pangcu dan aku akan mencari catatan yang dulu hilang dibawa A-cong!"
"A-cong? Siapa itu?" Salima mengerutkan kening. "Oh, kacung Sin Meng itu?" dia tiba-tiba teringat. "Tapi bocah ini telah tewas, Suheng. Bagaimana mencarinya?"
"Aku akan mencari pembunuhnya, Sumoi. Dan aku akan melacaknya ke Pi-yang!" Kim Mou-eng bersinar-sinar; dia telah merencanakan sesuatu. *Sumoi*-nya tertegun.