Chapter 155
Dan ketika dia bertanya lagi bagaimana suhengnya itu akan mencari si pembunuh maka Kim-mou Eng menjawab, "Aku akan menangkap anak walikota itu, sumoi. Dan dari sini aku akan terus ke atas menangkap Hong Jin dan yang lain-lain."
"Si muka kuning itu?"
"Ya, sute mendiang Seng-piauw-pangcu."
"Dan aku, hm... apakah aku tak boleh ikut, suheng? Kau tetap..."
"Tidak, kau tetap membantuku, sumoi. Tak perlu kembali." Kim-mou Eng buru-buru memotong.
"Tapi..."
"Tapi apalagi?" Salima agak cemas. "Kita harus membagi pekerjaan, sumoi. Kau terpaksa ke lain tempat dan kita berpisah sejenak."
"Tak mau!" Salima tiba-tiba menggeleng. "Aku tak mau berpisah, suheng. Aku ingin selalu di dekatmu. Hidup mati aku ingin bersamamu!"
Kim-mou Eng tergetar. Pandang mata sumoinya yang tajam menusuk, tetapi lembut mengharukan, membuat dia tersentuh, begitu mesra, tetapi keras. Keras tak mau berpisah!
Dan ketika sumoinya menubruk dan menangkap lengannya, Salima meneruskan, "Aku tak mau berpisah lagi, suheng. Aku khawatir seperti kejadian di telaga. Kalau kau tak datang, tentu aku sudah menjadi bahan hinaan musuhku. Tidak, kita melakukan pekerjaan bersama-sama!" Dan tak mau melepas lengan suhengnya, tiba-tiba Salima, si Dewi Bertangan Besi ini, terisak menyembunyikan mukanya.
Kim-mou Eng lagi-lagi terharu dan mengelus kepala sumoinya itu. Keadaan membawa mereka pada suasana lembut, getaran cinta kasih membuat kembang-kembang seakan mekar bersemi, membuka sayap kuncupnya lebar-lebar. Betapapun, sikap dan kata-kata si Dewi Bertangan Besi itu jelas memperlihatkan perasaannya yang dalam.
Dan ketika Kim-mou Eng kembali mengelus kepala sumoinya dan Salima terguncang, maka pendekar ini menarik napas memberi pengertian.
"Sumoi, dengar baik-baik kata-kataku ini. Pekerjaan kita terlalu banyak. Aku minta tolong padamu untuk pekerjaan yang ringan. Kau dengarlah dulu, jangan memotong. Kau tentu mau membantuku, bukan?"
"Tentu, tapi jangan berpisah, suheng. Aku ingin melakukan itu bersama-sama dirimu!"
"Tentu saja, tapi tak selamanya kita harus berdua, sumoi. Ada saat-saat di mana kita harus mengerjakan tugas masing-masing. Dan kini saat itu tiba, harap kau bersikap dewasa."
"Apa yang kau maksud?"
"Ke perkumpulan Seng-piauw-pang, sumoi. Cari dan kumpulkan bekas anak buah perkumpulan itu."
Salima terbelalak. "Mengumpulkan bekas anak buah perkumpulan yang sudah porak-poranda itu?"
"Demi keberhasilan, sumoi. Karena tak mungkin kita hanya berdua saja, meskipun kepandaianmu dapat diandalkan!"
Salima tertegun. Sekarang dia berkejap-kejap, rupanya heran tapi juga bingung akan jalan pikiran suhengnya, mau bertanya. Tapi Kim-mou Eng yang sudah mendahului mengulapkan lengan berkata, "Ini persoalan serius, Sumoi. Kita tak cukup berdua saja menandingi kekuatan lawan. Kita harus mencari bantuan, dan orang-orang Seng-piauw-pang itu dapat dipakai. Kematian ketuanya tentu membangkitkan kemarahan mereka! Kau mengerti?"
"Ya, tapi ke mana aku membawa mereka itu, suheng? Aku dapat mencari dan mengumpulkan mereka, tapi tak tahu harus kubawa ke mana mereka itu!"
"Langsung saja ke kota raja, kenapa pusing? Biarkan mereka berada di sana, sumoi. Dan suruh mereka menunggu sampai mendapat aba-aba kita. Cari tiga yang terpandai di antara mereka dan perintahkan yang tiga ini mengatur teman-temannya."
"Baik, kapan aku harus berangkat? Malam ini juga?"
Kim-mou Eng tertegun. Dia menangkap isyarat tertentu dari pertanyaan sumoinya ini, seakan uji coba. Sumoinya memandangnya tajam, dan bola mata yang berkilau itu bersinar-sinar kepadanya. Suara yang gelisah dan agak tak puas terkandung di situ. Kim-mou Eng menenangkan getaran perasaannya, menghela napas.
Dan karena malam-malam tak enak melepas sumoinya pergi sendiri, akhirnya Kim-mou Eng sadar bahwa sumoinya ini betapapun tak menghendaki perpisahan mereka di saat itu. Sumoinya agaknya menginginkan malam itu mereka tetap berdua, sampai besok.
Dan karena menyadari bentuk pertanyaan itu bersifat uji coba, dan takut sumoinya marah, tiba-tiba pendekar ini menarik sumoinya, bertanya tersenyum, "Kau sendiri, kapan berangkat, sumoi? Kau mau malam-malam begini pergi?"
Salima terkejut. "Kenapa balik bertanya? Bukankah yang mengatur adalah kau, suheng?"
"Benar, tapi aku juga ingin tahu pendapatmu, sumoi. Apakah malam-malam begini kau mau berangkat atau tidak!"
"Itu terserah dirimu, aku sih hanya mengikut."
"Kalau begitu malam ini kita berdua. Besok kita berpisah menunaikan tugas masing-masing. Kita tidur di sini, di dalam hutan. Kau setuju?"
Senyum Salima mendadak merekah. Dia mengangguk, dan sorot mata girang terpancar dari sepasang matanya yang melebar itu. Dugaan Kim-mou Eng tepat. Sumoinya ingin berdua dulu sebelum mereka berpisah, sampai keesokan harinya.
Dan ketika malam itu Kim-mou Eng membuat api unggun dan sang sumoi merebahkan diri, maka Pendekar Rambut Emas ini melepas mantelnya.
"Sumoi, lantai tanah amat dingin. Sebaiknya kau pakai ini sebagai alas."
"Kau sendiri?"
"Aku akan bersamadhi, sumoi. Tak kuperlukan benda itu. Pakailah."
"Terima kasih."
Dan Salima yang gembira mempergunakan mantel suhengnya akhirnya merebahkan diri sambil tersenyum. Kim-mou Eng masih memberinya sebuah selimut, mereka bercakap-cakap sejenak. Dan ketika kantuk mulai menyerang sumoinya itu dan Kim-mou Eng tertawa, pendekar ini akhirnya menyuruh sumoinya tidur.
"Sumoi, kau tidurlah. Aku akan menjagamu."
"Mmm..."
Dan Salima yang sudah tertidur memejamkan mata, tiba-tiba pulas dan menyungging sebuah senyum manis di bibirnya, tenang dan amat bahagia berada di dekat api unggun. Atau, lebih tepat, tenang dan bahagia berada di dekat suhengnya ini.
Kim-mou Eng sudah bersamadhi dan tersenyum melihat keadaan sumoinya itu. Dan ketika malam itu mereka melewatkan kesunyian dengan cara masing-masing, dan menjelang pagi Kim-mou Eng membuka matanya, maka pendekar ini terpesona melihat kecantikan sumoinya itu. Salima berkali-kali mengigau. Dua kali menyebut namanya. Kim-mou Eng terharu.
Dan ketika gadis itu menggeliat dan sebelah lengan diletakkan di atas dahi, tiba-tiba Kim-mou Eng ternganga, melihat betapa manis dan cantiknya sumoinya itu. Sejam mengagumi keindahan ini dengan mata bersinar-sinar. Kokok ayam hutan pun mulai terdengar.
Dan ketika warna semburat mulai membayang di ufuk timur, tiba-tiba Kim-mou Eng sadar bahwa perpisahan harus segera diadakan. Waktu untuk berdua telah habis. Kim-mou Eng terpesona dan menundukkan kepalanya.
Dan ketika sumoinya mengigau dan kembali menyebut namanya, tiba-tiba pendekar ini mencium sumoinya penuh kasih sayang, dua kali di pipi kiri dan kanan.
"Sumoi, aku pergi. Kita berpisah dulu...!"
Salima mengeluh. Kim-mou Eng telah berkelebat lenyap meninggalkan sumoinya itu. Salima sadar dan terkejut, membuka mata.
Dan begitu melompat bangun melihat suhengnya terbang di kejauhan sana, tiba-tiba Salima berteriak, "Suheng, di mana kita bertemu nanti?"
"Di kota raja, sumoi. Maaf aku meninggalkanmu duluan!" Kim-mou Eng sempat menangkap pertanyaan sumoinya, balas menjawab dan akhirnya lenyap di luar hutan.
Salima tertegun dan tampak kecewa. Tapi ia mengusap pipinya, bekas ciuman suhengnya tadi. Salima pun melipat selimut, merapikan buntalannya, sejenak termangu dan menarik napas panjang. Pagi telah tiba, dan mereka pun harus berpisah. Tugas menanti di depan mata.
Dan begitu kantuk lenyap dan sisa kelelahan telah sirna dari tubuhnya, tiba-tiba Salima menggerakkan kaki dan lenyap menuju perkumpulan Seng-piauw-pang.
Tak sukar bagi Kim-mou Eng mencari anak Walikota Piyang ini. Siong-kongcu lagi enak-enak tidur di kamarnya ketika Kim-mou Eng datang. Kaget bukan main melihat pendekar itu datang, Siong-kongcu menggigil dan langsung pucat oleh kehadirannya yang tidak disangka-sangka. Matanya berkejap, seolah tak percaya.
Tapi ketika Kim-mou Eng menotoknya roboh dan menyuruh pemuda itu menjawab pertanyaannya, mendadak pemuda ini gemetar menggeleng berulang-ulang.
"Aku tak tahu... aku tak tahu, Kim-taihiap. Ampunkan aku...!"
"Kau bohong. Kau tahu di mana gurumu itu berada. Kau minta kusiksa agar mengaku dengan benar?"
"Tidak, jangan... tidak, Taihiap. Ampun!"
"Kalau begitu, katakan di mana gurumu itu. Siapa yang membunuh Aciong!"
Siong-kongcu menggigil. "Taihiap, aku sungguh mati tak tahu siapa yang membunuh anak laki-laki itu. Tapi Suhu menyebut-nyebut seorang ternama, Yu Hak. Barangkali dia."
"Siapa Yu Hak? Di mana dapat kutemui?"
"Aku tak tahu, Taihiap. Yang dapat menunjukkan adalah Suhu!"
"Baik, di mana gurumu sekarang?"
Mata pemuda ini jelalatan. "Di... di barat kota."
"Di mana itu?"
"Di sebuah rumah di pinggiran, Taihiap! Gedung peristirahatan Ayah yang biasa dipakai menjamu tamu-tamu dari pusat."
"Kalau begitu, kau ikut aku."
"Tidak, eh...!"
Tapi Siong-kongcu yang sudah disambar dan dibawa melayang keluar, tiba-tiba terhenti teriakannya karena Kim-mou Eng sudah membawanya menerobos jendela. Seruannya tercekik karena Pendekar Rambut Emas tak membiarkannya banyak bicara lagi.
Pemuda itu dibawa terbang ke barat kota, sebentar kemudian telah tiba di sebuah bangunan baru yang sunyi, seperti yang dikatakan pemuda itu. Dan ketika Siong-kongcu dilepaskan dan disuruh berjalan di depan, tiba-tiba pemuda ini menangis.
"Taihiap, ampun. Aku... aku tak berani memasuki rumah itu!"
"Kenapa? Bukankah ini rumah ayahmu sendiri?"
"Benar, tapi... tapi..."
Kim-mou Eng tak sabar jadinya. Dia menendang pemuda itu hingga Siong-kongcu menjerit, langsung memasuki pintu depan. Pendekar ini tak takut karena Hong Jin dan yang lain-lain bukanlah lawan berat.
Tapi begitu Siong-kongcu memasuki rumah dan terbanting di lantai, mendadak delapan tombak menyambar pemuda ini dari langit-langit ruangan.
"Aduh...!"
Kim-mou Eng terkejut. Dia melompat melihat pemuda itu tertusuk tubuhnya. Siong-kongcu menggelepar dan mendelik padanya. Langit-langit ruangan menunjukkan delapan lubang bekas sembunyian delapan tombak itu.