Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 156

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 156

Kiranya rumah ini mengandung ranjau. Pantas Siong-kongcu tidak mau masuk dan ketakutan. Kini, ia hanya menuding-nuding, lalu terkulai lemah dan tewas.

Ketika Kim-mou-eng tertegun dan terpaku di tempat, tiba-tiba sesosok bayangan muncul di ruangan dalam, mengintai, lalu menarik mukanya kembali dari balik pintu besar. Kim-mou-eng melihat itulah Hong Jin, orang yang dicarinya. Terdengar seruan marah di sana, tetapi sosok itu segera menghilang dengan cepat. Gerak-geriknya sangat mencurigakan.

"Pendekar Rambut Emas, sungguh berani kau datang kemari. Ayo masuklah, kulihat seberapa besar nyalimu!"

Kim-mou-eng terkejut. Ia merasa mengenal suara itu, samar-samar namun teringat kembali saat melihat bayangan Hong Jin. Sute mendiang Seng-piauw-pangcu itu menyelinap di ruang tengah, mendengus, dan sekilas meliriknya dengan pandangan marah.

Kim-mou-eng tidak mau menyia-nyiakan waktu. Ia segera berkelebat ke depan sambil membentak, mengejar laki-laki bermuka kuning itu. Namun, begitu tubuhnya masuk ke dalam ruangan dan berjungkir balik—karena tidak ingin menginjak lantainya—tiba-tiba seutas benang tersenggol dan sepuluh batang anak panah meluncur menyambar dirinya. "Ser-serr...!"

Kim-mou-eng bergerak cepat. Ia tidak sudi takut oleh anak panah semacam itu; ia menyampok dan memukul runtuh semua anak panah tersebut. Namun, ketika sepuluh anak panah rontok ke lantai dan pintu tengah hampir dicapai, mendadak pintu itu menutup. Sebuah suara keras menggelegar menggetarkan isi ruangan.

"Blang!"

Kim-mou-eng terkesiap. Ia secara otomatis menghantam pintu, namun terkejut karena pintu itu ternyata terbuat dari baja yang amat tangguh. Pintu itu tidak bergeming, dan ia pun jatuh ke lantai. Hal ini sangat dihindarinya karena ia khawatir akan jebakan rahasia di lantai seperti yang dialami Siong-kongcu tadi.

Ketika ia harus berjungkir balik dan hinggap di atas belandar, tiba-tiba pintu depan juga menutup. Kim-mou-eng terkurung!

"Ha-ha, kau seperti katak dalam tempurung, Pendekar Rambut Emas. Kau tak dapat keluar!"

Kim-mou-eng marah. Ia melihat semua jalan keluar tertutup tembok dan pintu baja. Tawa bergelak itu kembali terdengar dan bayangan Hong Jin tiba-tiba muncul. Kim-mou-eng melihatnya di sebuah cermin. Saat ia menubruk ke arah itu, mendadak Hong Jin lenyap dan cermin yang dipukulnya hancur berkeping-keping.

Kim-mou-eng tertipu!

"Keparat, kau siapa?"

"Ha-ha, aku orang yang kau cari, Kim-mou-eng. Aku Yu Hak."

Kim-mou-eng terkejut. "Kau tahu aku mencarimu?"

"Tentu, bukankah kau memaksa Siong-kongcu kemari? Dan dia mati karena ulahmu, kau harus bertanggung jawab!"

Sebuah geraman penuh kemarahan dan sakit hati terdengar. Orang itu adalah laki-laki tinggi tegap yang dikenal Kim-mou-eng sebagai lawan yang berkali-kali menolong Hong Jin dan adik-adiknya. Terakhir, ia melihat laki-laki itu menyelamatkan sute mendiang Seng-piauw-pangcu yang berkhianat di kediaman Siong-taijin.

Laki-laki yang memiliki granat tangan itu kini tampak di balik belasan cermin besar yang muncul dari dalam lantai. Kim-mou-eng mendengar suara berderak. Saat Kim-mou-eng tertegun memandang laki-laki itu—yang pertama kali dikenal dalam perkumpulan Seng-piauw-pang—Hong Jin muncul kembali bersama sutenya nomor dua, Wan Tiong Lojin, di balik bayangan cermin yang berputar-putar membingungkan.

"Kim-mou-eng, dia berhutang nyawa kepadaku. Dulu suteku, Ki Siong Cinjia, dan kini muridku yang baru, Siong Gwao. Kau harus bertanggung jawab!"

Kim-mou-eng mendengus, "Kau tak perlu mencari-cari alasan, Hong Jin. Suhengmu sendiri terbunuh gara-gara tingkahmu."

"Tapi itu kesalahannya sendiri. Suheng memusuhi pemerintah dan tidak mau ikut nasihatku!"

"Hm, pemerintah yang mana? Pemerintah Siauw-ongya itukah? Dia calon pemberontak, bukan pemerintah, dan sebaliknya adalah pengkhianat!"

"Tak perlu banyak mulut, kau Tar-tar pengacau!"

Hong Jin mendelik, menekan sesuatu, dan tiba-tiba menyerang Kim-mou-eng dengan tombak terbang. Serangan itu ditangkis dan tombak tersebut patah saat mengenai lengan pendekar itu. Wan Tiong Lojin juga melemparkan pisau terbangnya sebanyak sembilan kali berturut-turut, namun semuanya runtuh karena Kim-mou-eng sudah mengebutkan lengan bajunya.

Namun, ketika pendekar ini menujukan perhatiannya ke kakak beradik itu, tiba-tiba Yu Hak yang berada di belakang melepas seekor ular terbang.

"Ssh!"

Kim-mou-eng terkejut. Ia membalikkan badan dan menangkap ular itu, tetapi sang ular melejit karena dapat terbang di udara. Dengan sayapnya yang kecil, ular aneh itu tiba-tiba menukik sambil membuka mulutnya. Kim-mou-eng melihat lidahnya yang bercabang tiga; jelas ular yang amat beracun. Dengan kaget, ia menahan napas, cepat mengelak, menangkap ekor ular itu, lalu dengan tepat mencengkeram lehernya hingga hancur di tangannya.

Yu Hak terkejut dan memaki-maki. Saat Kim-mou-eng membuang bangkai ular itu dan memandang lawan dengan marah, Hong Jin dan sutenya sudah menyerang dari balik tembok rahasia.

"Gunakan asap! Pakai belerang beracun...!"

Kim-mou-eng terbelalak. Ia melihat asap belerang menyembur dari lubang-lubang dinding. Ia terkesiap dan marah karena teringat pengalamannya di kota raja dulu, ketika Jieliong Ciangkun menyemburkan belerang pembius dalam lubang jebakan. Kini, Hong Jin dan teman-temannya melakukan hal yang sama. Karena ia terkurung dan asap sudah mulai memenuhi ruangan, tiba-tiba pendekar ini membentak dan menghantam langit-langit ruangan—satu-satunya jalan keluar saat itu.

Ia tidak mau berlama-lama lagi. Genteng serta papan-papan di atas pecah semua, suaranya hiruk-pikuk hingga atapnya runtuh. Ketika orang-orang di balik tembok berseru kaget, Kim-mou-eng sudah melesat melalui tempat terbuka itu. Pendekar itu lolos dengan berjungkir balik ke luar, melihat Hong Jin dan sutenya di balik tembok, sementara Yu Hak di sebelah kiri tertegun memandangnya.

Semua orang terbelalak. Begitu melayang turun menuju musuh-musuhnya, Kim-mou-eng segera membentak dan mencengkeram Hong Jin.

"Pengkhianat busuk, kau harus sembahyang di makam suhengmu!"

Hong Jin kaget sekali. Ia menangkis dan membanting tubuh bergulingan, melepas tiga pisau terbang ke arah Kim-mou-eng, namun disampok hingga runtuh ke tanah. Hong Jin bergulingan menjauh. Karena Wan Tiong Lojin ada di sebelahnya dan pendekar ini geram pada sute mendiang Sin-piauw-ang-lojin itu, ia segera berbalik meneruskan serangannya pada Wan Tiong Lojin.

Kakek ini baru sadar setelah serangan itu datang, mencoba menangkis, tetapi menjerit ketika jari-jari lawan menyambar tenggorokannya. Kim-mou-eng mengangkat tubuh kakek itu dan membantingnya sampai kelengar.

"Tunggu dulu di situ, brukk!"

Wan Tiong Lojin mengaduh tertahan, pantatnya serasa menghantam kepala gajah, terduduk, lalu akhirnya pingsan oleh bantingan yang amat keras itu. Kakek itu memang bukan lawan Kim-mou-eng. Saat Kim-mou-eng berkelebat mengejar Hong Jin, kakek muka kuning itu berseru pada temannya.

"Tolong...!"

Yu Hak menggeram. Ia melemparkan empat golok terbang yang bersiut menyambar ke depan Kim-mou-eng. Dua golok mengarah ke mata, tentu sangat berbahaya, sehingga Kim-mou-eng mengelak. Pisau itu meluncur lewat sisi kepalanya, tak disangka terus menyambar Wan Tiong Lojin yang ada di tanah, menancap di dada kiri dan kanan kakek yang pingsan itu.

Wan Tiong Lojin kontan menghembuskan napas terakhirnya. Tewas saat itu juga!

Ketika Hong Jin terkejut dan Kim-mou-eng juga terbelalak, laki-laki tinggi tegap itu sudah menyerang Kim-mou-eng dengan suling di tangan kiri dan tongkat bercagak di tangan kanan.

"Hong Jin, buru si Rambut Emas ini! Jangan melotot...!"

Hong Jin sadar. Sebenarnya ia bingung saat itu, tidak tahu siapa yang harus dituduh membunuh sutenya; Kim-mou-eng yang mengelak serangan atau Yu Hak yang melempar golok. Keduanya bisa dianggap penyebab kematian saudaranya. Namun, karena Kim-mou-eng dianggap lebih berbahaya, kakek ini mencabut golok-tombaknya dan menerjang Kim-mou-eng.

"Benar, Tar-tar ini pengacau, Yu-busu. Serang dan bunuh dia!"

Kim-mou-eng mengejek. Ia tidak takut pada golok-tombak di tangan Hong Jin; sekali kebut, golok-tombak itu mental dan nyaris mengenai Hong Jin sendiri. Namun, ketika suling dan tongkat di tangan Yu Hak menyambar dan jarum-jarum kecil meluncur dari balik tongkat, tiba-tiba Kim-mou-eng berseru keras menangkis lawan yang satu ini. Ia terkejut karena serangan laki-laki itu jauh lebih cepat dan lebih bertenaga dibandingkan Hong Jin, menunjukkan sinkang yang lebih hebat.

Saat laki-laki itu menggerakkan sulingnya, terdengar irama aneh yang membuat ratusan ular berdatangan dari dalam hutan.

"Ah, kau murid Coa-ong (Raja Ular)...!"

Kim-mou-eng terbelalak melihat gerakan-gerakan yang mirip dengan si Raja Ular itu. Lawan tidak menjawab, tetapi suling dan tongkat bercagaknya terus menyambar-nyambar. Sebentar kemudian, Kim-mou-eng terkepung, dan ratusan ular sudah datang mendekat. Hong Jin juga membantu dan ikut mengacaukan perhatian Kim-mou-eng.

Namun, karena Kim-mou-eng bukan lawan sembarangan dan memiliki kesaktian tinggi, setelah melihat gebrakan lawan, ia segera mengeluarkan Tiat-lui-kang-nya.

"Plak! Plak! Plak!"

Suling dan tongkat diusir pergi. Hong Jin sendiri terpelanting saat terserempet angin pukulan Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas itu membentak, lebih tertarik perhatiannya pada laki-laki tinggi tegap ini yang diduga sebagai murid Coa-ong, atau mungkin adiknya seperguruan, karena kepandaian laki-laki ini memang tinggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment