Chapter 157
Suling dan tongkatnya berbahaya sekali, menotok dan menggebuk menuju tempat-tempat mematikan. Cepat dan penuh tenaga.
Dan ketika Tiat Lui-kang mampu menahan dan malah menolak suling, tiba-tiba irama suling menjadi kacau dan ratusan ular berdiri bingung berhenti di dekat pertempuran.
"Keparat! Jahanam...!" Yu Hak memaki-maki, marah dan mengerutkan kening karena segera dia terdesak.
Jarum-jarum halus kembali meluncur dari ujung tongkatnya, tapi semua ditiup runtuh Kim-mou-eng. Mukanya mulai berubah dan Hong Jin dua kali mendapat tamparan di pundak.
Kedudukan mulai membahayakan mereka sementara Kim-mou-eng sendiri terus menampar dan mendorong. Tiat-lui kangnya tak dapat ditahan dan sekarang dia tahu bahwa Ya Hak ini memiliki kepandaian sedikit di bawah Coa-oog. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa laki-laki ini kiranya sute si Raja Ular itu.
Dan ketika dia membentak dan lawan terpental mundur, tiba-tiba laki-laki itu meniup sulingnya tinggi rendah.
"Maju, anak-anak. Serang dia...!" Kim-mou-eng terkejut.
Ratusan ular yang tadi berhenti tiba-tiba bergerak, maju menyerang dengan mulut mendesis-desis. Rupanya suara suling itu telah memberi aba-aba tegas pada mereka.
Kim-mou-eng diserang dan tiba-tiba diserbu. Hong Jin melompat mundur melepaskan pisau-pisau terbangnya. Yu Hak juga begitu, kembali menyambit dengan lima golok terbang.
Dan ketika pisau dan golok ditangkis runtuh dan sebagian diterima begitu saja oleh Pendekar Rambut Emas yang melindungi diri dengan kekebalan, tiba-tiba barisan ular telah mengepungnya. Kedua orang itu melarikan diri!
"Hei, berhenti kalian...!" Kim-mou-eng membentak, menyulut obor dan tiba-tiba melempar obor ke tengah-tengah ular.
Barisan ular serentak minggir dan mendesis-desis ketakutan. Betapa pun api adalah musuh yang tak dapat mereka lawan. Dan ketika mereka menyibak minggir dan Kim-mou-eng meloncat, maka kedua orang itu segera dikejar.
"Keparat...!" Ya Hak mengumpat. "Kau ke kiri, Hong Jin. Aku ke kanan!" Hong Jin mengangguk.
Mereka berpencar. Hong Jin ke kiri sementara Yu Hak ke kanan. Mereka memasuki hutan di depan. Dan karena bentakan Kim-mou-eng sudah dekat di belakang mereka dan Hong Jin serta Yu Hak buru-buru... tiba-tiba!
Hong Jin keserimpet akar, terpelanting roboh berteriak, tapi sudah melompat bangun dengan muka gelisah. Yu Hak menendangnya hingga kakek bermuka kuning ini mendapat dorongan keras, kesakitan, tapi sudah memasuki semak belukar. Lenyap di sebelah kiri.
Dan ketika Yu Hak juga melompat dan lenyap di sebelah kanan, akhirnya Kim-mou-eng tertegun melihat kedua lawan berpencar tiba di situ, tapi terlambat menangkap lawan. Kedua musuhnya menghilang di dalam.
Tapi setelah berpikir siapa yang harus dikejar dulu, tiba-tiba pendekar ini meloncat ke kiri.
"Hong Jin, kau tak dapat melepaskan dirimu!" Pendekar ini mencari-cari. Dia harus melompat ke sana-sini mencari bayangan kakek itu. Hutan cukup gelap, tapi matanya yang tajam mampu menembus ke dalam. Pendengaran juga dipasang baik-baik untuk menangkap gerakan.
Dan ketika dia melihat jejak kaki dan injakan tak beraturan di semak belukar, akhirnya pendekar ini mendengar napas ditahan kakek bermuka kuning itu, di sebelah kanannya. Telinga Kim-mou-eng bergerak dan secepat kilat dia berkelebat ke tempat ini.
Dan ketika tangannya menguak dan kakek itu bersembunyi di dalam, tiba-tiba golok tombak yang ada di tangan kakek itu menyambar dirinya.
"Kim-mou-eng, mampuslah...!" Kim-mou-eng mengelak. Dia menghindari tusukan lawan, jarinya bergerak, dan tiba-tiba senjata sudah ditangkap. Gerakannya cepat mengejutkan kakek itu.
Dan ketika lawan berseru tertahan melihat senjata ditangkap, tiba-tiba Kim-mou-eng menekuk jarinya, mematahkan golok tombak itu. "Krek!" Hong Jin terbelalak gentar.
Dia mundur melompat menjauh. Keringatnya bertetes-tetes, pucat bukan main melihat pendekar itu memandangnya tajam. Kim-mou-eng siap menangkap, merobohkan kakek ini.
Tapi belum dia menghampiri dan mengejek kakek ini, tiba-tiba Hong Jin melempar granat tangan ke muka lawannya.
"Daarr!" Kim-mou-eng terkejut. Dia tak menyangka kakek ini memiliki granat tangan, rupanya diberi Yu Hak. Dua kali granat kembali meledak membuat Kim-mou-eng berjungkir balik menyelamatkan diri.
Betapa pun ledakan itu tak mungkin dilawannya dengan begitu saja. Bisa hancur tubuhnya. Dan ketika dia membentak memaki kakek itu terhalang asap tebal, maka Hong Jin sudah melarikan diri ke arah timur.
"Kim-mou-eng, kau tak dapat menangkap aku!" Kim-mou-eng menggeram. Seruan si kakek justru membuat dia girang tahu lawan berada di mana.
Maka, berjungkir balik melayang di atas pohon, segera dia melihat lawannya itu melarikan diri ke timur. Jarak cukup jauh, sekitar seratus tombak. Kakek itu memang licik. Tapi Kim-mou-eng yang berlompatan dari pohon ke pohon mengerahkan ginkangnya, akhirnya mengejar lawan tua ini dengan cepat. Gerakannya bagai burung elang. Sebentar kemudian, mendekati lawan dari belakang.
Hong Jin tak tahu. Dan persis kakek itu menuju sebatang pohon besar mencari perlindungan, tiba-tiba Kim-mou-eng memetik sebuah daun dan menimpuk punggung lawan di jalan darah liong hu-hiatnya.
"Crep—aduh!" Hong Jin terguling roboh. Si kakek terkejut dan baru sadar bahwa Kim-mou-eng tak dapat dihindarinya. Betapa pun dia kalah lihai.
Dan ketika Kim-mou-eng melayang turun dan berhadapan dengan kakek ini, maka Hong Jin gemetaran memaki gusar.
"Kim-mou-eng, keparat kau. Terkutuk!"
"Hm, yang terkutuk adalah kau, Hong Jin. Kau berwatak culas dan curang!" Kim-mou-eng sudah di dekat kakek ini, jari tangannya siap menotok lagi jalan darah di bawah telinga. Lawan terbelalak memandangnya.
Dan ketika kakek itu memaki dan bertanya apa yang diminta pendekar ini, maka Kim-mou-eng mendengus menjawab pendek.
"Aku mencari pembunuh A Ciong, aku mencari kitab catatan itu!"
"Aku tak tahu. Aku tak mengenal siapa itu A-Ciong, Kim-mou-eng. Kau carilah sendiri dan jangan tanya aku!"
"Hm, jangan berpura-pura, Hong Jin. Muridmu telah memberitahu padaku bahwa kau tahu!" Kim-mou-eng membentak. "Sebaiknya berterus terang saja dan jangan biarkan aku memaksamu!"
"Kau mau apa?" Hong Jin terbelalak. "Kau mau membunuh aku?"
"Tidak, aku tak suka membunuh orang! Tapi kalau kau bandel, jalan darah su-liong-biatmu akan kutotok!" Hong Jin pucat.
Jalan darah ini adalah jalan darah yang bakal membuat orang serasa digerumuti ribuan semut api. Sekali sentuh saja, orang akan berteriak-teriak kengerian, tubuh serasa ditusuk-tusuk jarum. Memang tidak akan mematikan, tapi cukup merupakan siksa yang hebat. Rasa panas dan pedih akan membuat orang menggigit bibir, disertai pula oleh rasa gatal yang kian ditahan akan kian menghebat.
Hong Jin tentu saja marah, tapi juga takut. Dan ketika dia terbelalak memandang pendekar itu dan Kim-mou-eng merasa tak sabar, akhirnya jalan darah di bawah telinga itu mulai disentuh.
"Bagaimana, kau mau bicara jujur atau tidak?" Kakek ini melotot.
"Aku tak takut mati, sebaiknya kau bunuh aku!"
"Aku tak suka membunuh orang, Hong Jin. Kalau kau tak takut mati, tentunya juga tak takut siksa. Baiklah, biar kumulai!"
Dan Kim-mou-eng yang menotok jalan darah itu disambut jengit lawannya, tiba-tiba membuat kakek ini mendesis menahan sakit. Ribuan semut api tiba-tiba seakan merayapi sekujur tubuhnya, panas dan perih mulai menggigit.
Hong Jin coba bertahan. Tapi ketika rasa nyeri mulai menyengat dan kakek ini menggeliat, akhirnya dia berteriak memaki pendekar itu.
"Kim-mou-eng, kau bunuhlah aku! Keparat kau, jahanam kau!" Kim-mou-eng mundur, menonton.
Tidak menjawab dan melihat lawan mulai menggigit bibir, menggeliat-geliat, dan akhirnya berteriak-teriak seperti anak kecil dihajar rotan. Rupanya kakek itu tak tahan akan sengatan gatal dan panas. Siksaan itu mulai berjalan. Kim-mou-eng sendiri sebenarnya tak tega, tapi terpaksa melakukan itu. Kakek ini bandel sekali, juga jahat.
Dan ketika lawan mulai merintih dan semakin rasa gatal itu ditahan, semakin hebat ia menyerang, akhirnya kakek ini bergulingan menjerit-jerit.
"Kim-mou-eng, bunuhlah aku. Remukkanlah kepalaku!"
"Tidak, aku akan menontonmu, Hong Jin. Sampai kau menggelepar dan bersedia mengaku!"
"Aku tak tahu. Aku tak kenal siapa itu yang kau cari!"
"Bohong, kau dusta. Kalau begitu, akan kutinggalkan dirimu sendirian di sini sampai kau bertobat!"
Dan Kim-mou-eng yang benar-benar mau pergi meninggalkan kakek itu dalam siksaannya yang tak tertahankan, tiba-tiba membuat kakek itu terkejut dan berteriak agar Kim-mou-eng tidak meninggalkan dirinya. Hong Jin ketakutan dan seluruh mukanya basah oleh keringat, menggeliat dan bergulingan tak kuat.
Dan ketika Kim-mou-eng berhenti dan lawan terengah-engah, akhirnya kakek ini bicara.
"Tobat, bebaskan aku... aku mau mengaku...!"
"Sungguh?"
"Aku tak menipu, Kim-mou-eng. Bebaskan aku dan biarkan aku bicara!"
"Baik," dan Kim-mou-eng yang menepuk leher kakek itu membebaskan siksaan, akhirnya membuat kakek ini mengeluarkan keringat dingin, gentar memandang Kim-mou-eng. Betapa pun lawan dapat melakukan hal lebih jauh lagi kalau pendekar itu mau.
Hong Jin pucat dan menghapus peluh di mukanya. Dan ketika Kim-mou-eng menunggu dan kakek itu marah tapi gentar, akhirnya sebuah pengakuan mulai meluncur dari mulut kakek ini.
"Bocah itu dibunuh Yu-busu (pengawal Yu). Dialah yang menghabisi anak itu dan mengambil kitab catatannya."
"Orang she Yu itu? Siapa sebenarnya dia?" Hong Jin takut-takut.
"Tak perlu takut, tak ada yang mengancammu di sini." Kakek itu akhirnya bicara, "Dia pengawal pribadi paduka selir. Orang kepercayaan di sana yang bekerja secara diam-diam."
"Selir yang mana? Siapa?"
"Ibu Siauw-ong, ya itu, Kim-mou-eng! Yu Hak, orang kepercayaan selir itu, yang memiliki kekuasaan di istana!"
Kim-mou-eng tertegun. Segera dia teringat selir setengah umur itu, selir yang cerdik dan amat pandai bicara. Dia pun kalah berhadapan dengan selir ini.