Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 158

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 158

Keadaan berbalik dan dia yang dituduh. Kaisar pun percaya dan akhirnya menganggapnya pengacau, hendak mengadu domba, serta dianggap pemfitnah yang tidak bertanggung jawab. Padahal, justru selir itulah yang memutarbalikkan kenyataan.

Ketika dia mengerutkan kening, teringatlah dia pada orang she Yu itu. "Dan Yu Hak itu, apakah dia sute si Raja Ular?"

"Benar, orang ini sute Coa-ong Tok-kwi, Kim-mou-eng."

"Tapi mereka bekerja sendiri-sendiri dan Yu Hak lebih pintar."

"Maksudmu lebih cerdik? Coa-ong memang setengah gila, sutenya ini tidak, tapi kekejaman mereka sama! Hong Jin, kau harus membawaku menemui temanmu itu!"

Kim-mou-eng tiba-tiba berkata, "Kau harus mengantarku ke sana dan merampas kembali kitab catatan itu!"

"Tidak!" Hong Jin tersentak. "Aku tak dapat membawamu ke sana, Kim-mou-eng. Aku sudah berkhianat dengan memberitahukan ini padamu!"

"Kenapa? Kau takut? Aku melindungimu, kita cari orang ini dan kau harus ikut!"

"Aku tak mau. Aku tak berani....!" Hong Jin yang bangun berdiri dan berlari kencang tiba-tiba berteriak menolak dengan muka ketakutan.

Kim-mou-eng terkejut, tapi ketika ia hendak mengejar dan menangkap kakek itu, tiba-tiba Hong Jin terperosok ke sebuah jurang. Pekik tinggi mengiringi kakek itu. Kim-mou-eng melihat kakek itu lenyap di sebuah jurang yang dalam. Pekiknya masih menggema. Dia tertegun, sadar bahwa kakek ini rupanya memilih bunuh diri ketimbang dibawa mencari Yu Hak. Mungkin kekejaman sute si Raja Ular itu membuat kakek ini ketakutan, betapapun orang itu memang keji.

Ketika dia berdiri di pinggir jurang mengawasi hilangnya Hong Jin, tiba-tiba tawa bergelak yang dikenalnya sebagai tawa laki-laki itu terdengar mengejutkan, melingkar-lingkar.

"Ha-ha, kau boleh mencari aku di istana, Kim-mou-eng. Kutunggu di sana kalau kau berani."

Kim-mou-eng tertegun. Dia memperhatikan asal suara, tapi karena tempat itu merupakan sebuah celah dan suara itu mengaung ke segenap penjuru, akhirnya sukar bagi pendekar ini menentukan asal suara. Dia menggeram. Orang menantangnya ke istana, tentu ke tempat selir itu, ibu dari Pangeran Muda. Begitu berkelebat menjejakkan kakinya, tiba-tiba Kim-mou-eng membalik menuju kota raja.

Namun, di tengah jalan sesuatu menahannya. Dia melihat iring-iringan panjang mengawal sebuah kerangkeng besar. Ketika dia menghampiri dan melihat siapa yang dikerangkeng itu, dia mendadak tertegun melihat sepasang muda-mudi terikat tangannya di balik kerangkeng.

"Sin Kok dan Hwi Ling....!"

Kim-mou-eng mengejapkan mata. Dia hampir tak percaya dengan penglihatannya. Hwi Ling dan kakaknya ditangkap orang-orang istana, padahal mereka adalah putra-putri mendiang Ang Bin Ciangkun, seorang tokoh istana yang cukup dikenal karena Ang Bin Ciangkun adalah salah satu dari kelompok Tujuh Panglima Naga. Jadi, hal ini sangat mengherankan!

Ketika Kim-mou-eng berhenti dan mengamati barisan panjang ini, dilihatnya Hwi Ling dengan dada membusung dan kepala tengadah bersandar di kerangkeng, memaki-maki seorang tinggi besar yang rupanya menangkap mereka.

"Thai Hok, kau perwira busuk yang tak tahu malu. Kenapa menangkap kami tanpa alasan yang jelas? Apa kesalahan kami?"

Laki-laki itu tak menjawab, tetap berjalan tak menggubris omongan si gadis. Tapi ketika Hwi Ling memaki-makinya lagi dan mencap dia sebagai anjing Tan-taijin (pembesar Tan), mendadak laki-laki ini membalik dan menampar gadis itu.

"Bocah she Ang, diam kau. Kubunuh kau nanti!"

Hwi Ling terjengkang. Dia marah dan berteriak-teriak, masih memaki-maki lawannya itu. Ketika Thai Hok kehilangan sabar dan menempeleng, mulut Hwi Ling dibungkam dengan sebuah kain kotor sehingga tidak dapat bicara. Tentu saja Hwi Ling mendelik.

Sin Kok yang tak tahan melihat adiknya diperlakukan kasar tiba-tiba membentak si tinggi besar itu, "Thai Hok, kau perwira tak tahu aturan. Bukankah pertanyaan adikku benar? Kami tak tahu sebab apa kami ditangkap, sekarang kami bertanya, tapi kau membalas dengan sikapmu ini. Apakah kau berani melakukan hal begini bila ayahku masih hidup?"

"Tak perlu banyak mulut. Kaupun jangan cerewet, Sin Kok. Lain sekarang lain dulu. Ayahmu yang mampus itu tak perlu disebut-sebut!"

"Keparat, kau kurang ajar. Kau...."

*Plak!* Sin Kok mendapat tamparan keras. "Kau masih juga berkaok-kaok, bocah? Kupukul mulutmu nanti, diam tak perlu memaki orang lain. Aku hanya mendapat perintah!"

Sin Kok berang. Dia tak terima diperlakukan begitu, sama seperti adiknya, dia mulai melepas caci maki pada perwira bernama Thai Hok ini. Si perwira menjadi gusar dan marah. Sin Kok digaplok kembali hingga bengkak. Ketika pemuda itu masih cuap-cuap membakar hati perwira ini, tiba-tiba Thai Hok menyumpal mulut pemuda itu seperti Hwi Ling. Sin Kok mendelik dan hanya pandang matanya yang memaki-maki perwira itu. Thai Hok tak peduli.

Ketika iring-iringan ini terus berjalan dan tiba di sebuah tikungan, mendadak tiga laki-laki kekar berkelebat menghadang.

"Thai Hok, bebaskan dua muda-mudi itu!"

Thai Hok terkejut. Kim-mou-eng sendiri yang mengintai di atas juga terkejut melihatnya. Itulah Sin-to Sam-enghiong, tiga orang sute mendiang Beng Ciangkun. Ketika rombongan berhenti dan Thai Hok maju dengan muka geram, di dalam kerangkeng Hwi Ling dan kakaknya tampak girang bukan main melihat kedatangan tiga laki-laki pendek ini, sahabat ayah mereka.

"Kau mau apa?" Thai Hok menghardik. "Kenapa mencegat perjalanan orang?"

Sin-to Sam-enghiong berdiri berjejer. "Kami minta kau membebaskan dua muda-mudi itu, Thai Hok. Kami mendengar kau menangkap atas perintah Tan-taijin!"

"Benar, Tan-taijin yang menyuruh ini. Kalian mau apa?" Thai Hok menantang. "Berani melawan alat negara?"

Orang yang di tengah dari Sin-to Sam-enghiong itu tertawa mengejek. "Thai Hok, mengingatkan tak perlu kita sesama teman sebaiknya ancam-mengancam. Aku bukan menghadapi alat ilegal, melainkan justru mengingatkan dirimu bahwa Tan-taijin adalah calon pemberontak. Kau bebaskan dua muda-mudi itu dan kita tangkap bersama Tan-taijin itu!"

"Kalian memberontak?" Thai Hok marah. "Kalian memutarbalikkan kenyataan?"

"Tidak, aku bicara benar, Thai Hok. Sebaiknya sesama bekas teman sendiri tak perlu kita ribut mulut. Kau diperalat, Tan-taijin dan menteri-menteri lain sudah merencanakan pemberontakan. Hari ini mereka akan menyergap pula tiga dari Jit-liong Ciangkun!"

Thai Hok terbelalak. Rupanya dia kaget mendengar kata-kata itu, tapi kemudian dia membentak menyuruh pengawal, tiba-tiba dia menerjang memberi aba-aba, mencabut senjatanya yang mengerikan, sebuah kapak.

"Serang, bunuh mereka ini!"

Para pengawal yang maju menyerang dengan senjata masing-masing tiba-tiba mengerubut dan mengeroyok tiga laki-laki pendek ini. Sin-to Sam-enghiong dihujani senjata dari segala penjuru; tombak dan pedang berhamburan ke tubuh ketiganya. Tapi ketika mereka menangkis dan pedang serta tombak terpental semua, kecuali kapak di tangan Thai Hok, maka pertempuran menjadi sengit. Tiga orang dikeroyok puluhan, tak kurang dari tiga puluh orang!

*Trang! Trang! Trang!* Thai Hok dan para pengawalnya marah. Dua di antara pengawal sudah terjungkal, tangkisan Sin-to Sam-enghiong membuat pengawal mundur, dua terluka. Gebrakan berlangsung cepat dan Thai Hok berteriak kembali menyuruh pasukannya maju. Perwira ini sendiri sudah mengayunkan kapaknya dengan dahsyat, tenaganya luar biasa dan benar-benar hebat. Hanya dialah yang dapat menandingi Sin-to Sam-enghiong.

Ketika pertempuran kembali berjalan dan para pengawal terus maju, Sin-to Sam-enghiong menghadapi serangan baru setiap kali yang lain roboh. Para pengawal cukup banyak dan mereka harus menghadapi masing-masing sepuluh lawan, bekerja keras memutar golok. Kalau tak ada perwira tinggi besar itu, mungkin masing-masing dari Sin-to Sam-enghiong ini dapat merobohkan lawan, biarpun satu dikeroyok sepuluh. Tapi karena perwira Thai Hok itu amat berbahaya dengan kapaknya dan setiap ayunan tentu mengguncangkan lengan lawannya, maka Sin-to Sam-enghiong segera terdesak ketika pertempuran berjalan menguras tenaga.

"Bunuh mereka, jangan diberi ampun!"

Sin-to Sam-enghiong mulai kewalahan. Mereka telah merobohkan sembilan pengawal, kini musuh tinggal dua puluh satu orang ditambah Thai Hok sendiri. Dua di antara mereka sudah terbabat pundaknya oleh ayunan kapak. Thai Hok memang berbahaya.

Ketika kembali pertempuran berjalan beberapa saat dan lima pengawal kembali roboh, Beng Kwi, orang termuda di antara Sin-to Sam-enghiong, terjungkal oleh kapak di tangan Thai Hok. Dua dari sisa Sin-to Sam-enghiong ini menjadi pucat, marah bukan main. Melihat Beng Kwi menggulingkan tubuh mendesis kesakitan, lengannya terkuak lebar oleh mata kapak yang tajam, tentu saja tak dapat bertempur dengan baik. Thai Hok mengejarnya dengan kapak menyambar leher; Beng Kwi hendak dibunuh dan berada di ambang maut.

Dua saudaranya terbelalak dan kaget serta khawatir. Ketika Thai Hok sudah dekat dan mengayunkan kapaknya itu pada adik mereka yang sedang bergulingan, maka Beng Kwan, orang tertua dari Sin-to Sam-enghiong, menyambit golok terbangnya dengan luar biasa cepat.

*Crep!*

Golok kecil itu menancap di pangkal lengan Thai Hok. Perwira tinggi besar ini tersentak, gerakannya tentu saja tertahan dan kapak terhenti di udara. Beng Kwi melompat bangun terhuyung-huyung. Ketika dia sadar dan menjerit, tiba-tiba perwira ini mencabut golok terbang itu dan menyambit ke Beng Kwi. Orang termuda dari Sin-to Sam-enghiong mengelak, golok lewat tapi dia roboh kehabisan tenaga.

Ketika Thai Hok menggeram melompat maju, tiba-tiba kaki perwira tinggi besar itu mendupak lawan.

*Dess!*

Beng Kwi mengeluh pendek. Dia terlempar terbanting roboh, pingsan. Thai Hok memburunya dengan muka beringas, kapak dipindah di tangan kiri karena tangan kanan sudah terluka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment