Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 159

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 159

Beng Kwan yang kembali menyambitkan golok terbang dan menghalangi perwira itu akhirnya membuat Thai Hok marah dan berbalik menyerang lawan ini, meninggalkan Beng Kwi yang pingsan dan mengeroyok lawan.

Ketika dua dari Sin-to Sam-enghiong itu harus bekerja keras menghadapi musuh-musuhnya, lima pengawal kembali roboh, tetapi mereka sendiri juga mendapat tambahan luka. "Bunuh mereka ini, jangan diberi ampun!" Dua laki-laki gagah itu kewalahan. Mereka tinggal menghadapi sepuluh lawan, yang sebenarnya sudah terasa ringan. Namun, karena mereka kehilangan banyak tenaga dan darah saat menghadapi Thai Hok dan anak buahnya, tak lama kemudian dua laki-laki ini terdesak, mundur, dan kembali mendapat bacokan.

Kapak Thai Hok masih menyambar ganas biarpun dipegang dengan tangan kiri. Perwira itu beringas sekali dan marah melihat dua puluh anak buahnya kocar-kacir. Ketika Beng Kwan dan adiknya, Beng San, terus didesak dan golok-golok terbang yang mereka miliki sudah habis dipergunakan untuk merobohkan para pengawal, dua orang ini akhirnya roboh saat pengeroyoknya tinggal lima orang ditambah Thai Hok.

"Crung-crang!" Golok di tangan dua orang itu terlepas. Mereka sudah kehabisan tenaga menghadapi lawan yang demikian banyak. Namun, ketika Thai Hok hendak membunuh dua orang ini dengan ayunan kapaknya yang terakhir, sekonyong-konyong dua pendatang baru berkelebat muncul.

"Thai Hok, lepaskan dua orang ini!" Thai Hok terkejut. Saat itu, bersama lima pembantunya, dia hendak membunuh Beng San dan kakaknya. Senjata sudah terayun dan siap membantai, tetapi begitu dua bayangan itu membentaknya dari samping, tiba-tiba lima pengawal roboh sementara Thai Hok sendiri menghadapi sebuah tepukan di pundak.

Perwira ini terpelanting. Thai Hok kaget dan berguling-guling, lalu berteriak melompat bangun dengan marah. Namun, ketika dia melihat siapa yang datang, perwira ini tertegun dan berseru tertahan, "Hek-eng Taihiap (Garuda Hitam)!"

Dua orang itu mengangguk. "Ya, aku, Thai Hok. Kau masih tak mau melepas Sin-to Sam-enghiong ini?"

Thai Hok terbelalak. Dia rupanya gentar, tetapi memekik keras dan tiba-tiba menerjang dengan nekat, menyuruh pembantunya yang tinggal lima orang itu menyerang Hek-eng Taihiap, laki-laki gagah berusia tiga puluh lima tahun itu, juga temannya yang hampir sebaya dan tak kalah gagah. Namun, begitu Hek-eng Taihiap mengibaskan lengan ke kiri dan ke kanan, tiba-tiba perwira she Thai itu berteriak dan terjungkal kembali. Lima pembantunya juga mengalami hal yang sama; mereka melompat bangun dan kembali menyerang, sang komandan pun marah bukan main dan bersikap nekat. Namun, ketika Hek-eng Taihiap berkelebat ke sana kemari dan menotok lawan-lawannya, tiba-tiba Thai Hok terbanting dan roboh pingsan, sementara lima pengawalnya tertotok lumpuh.

"Kalian tak usah keras kepala. Kalau membandel, akan kuhajar lebih keras lagi!" Hek-eng Taihiap berkata dengan sikap tenang namun berwibawa.

Lima pengawal itu dibebaskan kembali dan disuruh membawa Thai Hok pergi. Ketika mereka tertatih-tatih membawa komandan itu serta mengurus yang lain, Beng Kwi, orang tertua dari Sin-to Sam-enghiong, menghampiri Pendekar Garuda Hitam ini. "Hek-eng Taihiap, terima kasih. Kami berhutang budi padamu!"

"Ah, tak perlu begitu. Kita sesama teman sendiri, Saudara Beng. Buang sikap sungkanmu itu dan mari kita bebaskan putra-putri Beng Ciangkun ini."

"Nanti dulu, aku ingin membereskan orang she Thai itu!" Beng Kwan tiba-tiba meloncat. "Orang ini harus dibunuh, Hek-eng Taihiap. Dia itu rupanya pembantu Tan Taijin yang setia!" Masih teringat keganasan perwira ini, tiba-tiba Beng Kwan merebut golok dan hendak menggorok leher lawannya itu.

Namun, Hek-eng Taihiap berkelebat, menghadang, dan sudah menekan pundak orang tertua dari Sin-to Sam-enghiong itu. Ketika Beng Kwan terbelalak dan adiknya juga melompat maju, Pendekar Garuda Hitam ini berkata, "Saudara Beng, maafkan pendapatku. Perwira ini tak perlu dibunuh. Korban telah cukup banyak dan tak perlu menumpahkan darah lagi. Dia hanya suruhan, betapapun biang keladinya bukan dia. Biarkan dia kembali bersama lima pengawalnya ini."

"Tapi dia pengkhianat, dia hampir membunuh kami!"

"Perhitungan sudah dibayar dengan terbunuhnya para pengawal di tangan kalian, Saudara Beng. Harap ingat ini dan jangan diamuk emosi. Betapapun kalian selamat dan tidak terbunuh!"

Beng Kwan tertegun. Sebenarnya dia marah, tapi karena ingat bahwa Hek-eng Taihiap telah mengembalikan nyawa mereka dan tanpa kehadiran pendekar ini tentu mereka sudah binasa, akhirnya dengan kesal dan tidak puas, Beng Kwan mundur dan tidak membantah. Hek-eng Taihiap menarik napas dan menyuruh para pengawal segera pergi. Anak buah perwira she Thai itu sudah menggigil pucat.

Ketika musuh-musuh pergi dan tempat itu bersih dari bekas pertempuran, Sin Kok dan adiknya menjatuhkan diri berlutut di depan Sin-to Sam-enghiong, penolong pertama mereka. "Paman, terima kasih. Kami berdua tak tahu harus berkata apalagi!"

"Sudahlah, bukan kepada kami kau harus berterima kasih, Sin Kok. Hek-eng Taihiap inilah yang sebenarnya menyelamatkan kita semua!"

"Benar, kami pun berterima kasih padanya." Sin Kok dan adiknya memberi hormat pada Pendekar Garuda Hitam itu. "Tapi maaf, siapa enghiong yang satu ini?"

"Dia Yu Bing." Hek-eng Taihiap tersenyum. "Teman sekaligus sahabat baru kalian. Eh, Cuwi Enghiong, perkenalkan ini temanku, Saudara Yu Bing yang datang ingin membantu kalian!"

Semua orang buru-buru memberi hormat. Dia memang Yu Bing, murid Cheng-bin Yu-lo yang lihai itu. Ketika Yu Bing tersipu membalas hormat, Sin-to Sam-enghiong yang bicara sambil mengobati lukanya mulai bertanya pada Pendekar Garuda Hitam itu, "Hek-eng Taihiap, bagaimana kau bisa tiba di sini? Apakah kota raja memberikan berita baru?"

"Ya, Kim Taijin menyuruhku mencari kalian, Sam-wi Enghiong. Tak disangka kalau Saudara Sin Kok dan Nona Hwi Ling ini ditangkap!"

"Apa yang terjadi? Kim Taijin memberi perintah apa?"

"Ada berita baru. Kim-mou-eng membuat geger di istana. Kim Taijin melihat persekutuan-persekutuan rahasia yang membahayakan kaisar."

"Ah, si Tatar itu memang keparat! Dia ikut campur? Ingin kubunuh dia kalau aku mampu!" Beng Kwan mengerotkan gigi, mukanya tiba-tiba beringas mendengar disebutnya nama Kim-mou-eng. Kebenciannya meledak. Hwi Ling serta kakaknya yang juga geram mendengar nama ini tiba-tiba mengepal tinju. "Ya, kami pun ingin membalas kematian ayah, Paman. Kalau kepandaian kami tidak rendah begini, tentu sudah kubunuh si Rambut Emas itu!"

"Hm," Hek-eng Taihiap mengerutkan kening. "Kalian salah, Sam-wi Enghiong. Apa yang diperbuat Kim-mou-eng justru harus membuat kita malu. Pendekar sakti itu kejatuhan getah, kalian salah paham."

"Salah paham apa? Dia membunuh suhengku. Beng Ciangkun tewas gara-gara si Rambut Emas ini!"

"Dan Kim-mou-eng juga membunuh ayahku, Taihiap. Betapapun, aku harus membalas dendam untuk sakit hati ini!" Hwi Ling dan kakaknya ikut berseru.

"Baiklah kalian terbakar emosi," Hek-eng Taihiap berkerut semakin dalam. "Tapi sesungguhnya pendekar itu berjasa besar. Dari dialah mula-mula Kim Taijin menaruh perhatian. Gejala pemberontakan sudah mulai membayang, Kim-mou-eng telah datang ke istana dan untuk kedua kali memperingatkan kaisar. Kita harus malu padanya karena salah dulu!"

Ketika teman-temannya terbelalak dan heran memandang pendekar ini, Hek-eng Taihiap berkata, "Saudara-saudara sekalian, tahukah sebenarnya dari mana Kim Taijin mendapat masukan?"

"Tentu saja darimu, bukankah kau yang membantu Kim Taijin secara diam-diam, Hek-eng Taihiap?" Beng San kali ini bicara.

"Ya, tapi tahukah kalian dari mana aku mendapatkan berita?"

"Tentunya kau cari sendiri!"

"Salah, aku tak akan bergerak kalau Kim-mou-eng tidak membuat keributan, Sam-wi Enghiong. Dari tindakan pendekar itulah aku baru mulai bekerja, dan Saudara Yu Bing banyak memberi tahu padaku!"

Semua orang tertegun. "Kalian tak mengerti? Baiklah dengarkan. Kim-mou-eng ternyata bersungguh-sungguh bersama Sin-piaw Ang-lojin, dia memberitahu Pangeran Mahkota akan rencana pemberontakan itu. Mereka berdua melapor, tapi tak dipercaya. Ang-lojin akhirnya terbunuh. Pangeran Muda memang banyak memiliki andil. Aku telah menangkap seorang pengkhianat untuk dihadapkan kepada Kim Taijin sendiri. Tahukah kalian siapa pengkhianat itu?"

"Siapa?"

"Cu-thaikam?"

"Ah..." Beng Kwan terkejut. "Pembantu Pangeran Mahkota itu?"

"Ya, dialah yang kutangkap, Saudara Beng. Di hadapan Kim Taijin, pembesar kebiri ini berhasil kupaksa mengaku tentang rencana pemberontakan itu." Ketika semua temannya terhenyak seakan tak percaya, Hek-eng Taihiap bicara lagi, "Sekarang keterangan Kim-mou-eng dapat dipercaya, Sam-wi Enghiong. Sebagai bukti pertama, besok kita akan menghadapi pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota. Besok Pangeran Mahkota akan berburu dan dia akan dibunuh lalu dikabarkan tewas diterkam harimau. Kita harus bersiap-siap untuk menolong pangeran ini."

Beng Kwan melotot. "Kalau begitu kita gagalkan rencana itu. Pangeran dapat diberi tahu dan tak perlu berburu!"

"Tidak." Hek-eng Taihiap justru menggelengkan kepala. "Kim Taijin tak menghendaki pemberitahuan ini, Saudara Beng. Malah menghendaki agar rencana pembunuhan itu tetap berjalan, tak perlu melapor!"

"Kenapa begitu?" Beng Kwan dan adik-adiknya kaget. "Bukankah ini membahayakan pangeran?"

"Karena itulah kita harus melindunginya, Saudara Beng."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment