Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 16

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 16

Dan ketika benar Wang-taijin tak mau dipanggil karena mereka telah saling bermusuhan, maka surat kaisar inilah yang dipergunakan menteri itu. Tadinya Bupati Wang memang menolak ketika Mao-taijin memanggilnya secara pribadi. Bahkan ia marah-marah karena mengira menteri itu lagi-lagi mau membujuknya, menyuruhnya menyuap, padahal perbuatan itu amat dibencinya.

Tapi ketika utusan Mao-taijin datang kembali dan kini membawa surat kaisar yang sudah diberi cap kerajaan, tiba-tiba saja Wang-taijin tertegun. "Apa ini? Kau tidak main-main?"

Sang utusan tersenyum mengejek. "Kami tidak memalsu cap kaisar, Taijin. Kalau kau tak mau, tak apa. Kami tak akan mendesak. Kami akan kembali melaporkan penolakanmu."

Wang-taijin pucat. Dia memeriksa surat itu dan melihat bahwa surat itu benar-benar dari kaisar. Tidak main-main, otentik! Dan Wang-taijin yang tentu saja terkejut dan berubah mukanya, buru-buru ke dalam menemui puterinya.

"Celaka!" demikian bupati ini bicara setengah berteriak. "Menteri she Mao itu mempengaruhi kaisar memanggil dirimu, Cun-ji. Apa yang harus kita lakukan?"

Cao Cun menangis. Saat itu dia berada di kamarnya bersama ibunya. Sudah beberapa minggu ini ia murung, yakni sejak Kim Mou-eng meninggalkannya begitu saja di taman ketika Salima muncul, gadis Tartar yang gagah tapi galak itu. Dan melihat Mao-taijin mengutus orangnya dengan membawa surat kaisar yang tentu saja tak dapat mereka bantah, tiba-tiba saja gadis cantik ini terguguk.

Ia sebenarnya mulai jatuh hati pada Kim Mou-eng, pendekar muda yang gagah dan tampan itu. Pendekar yang aneh dengan rambut yang aneh pula, keemasan disertai matanya yang hidup seperti bintang. Diam-diam ia merasa nelangsa (berduka) mengapa pendekar itu demikian cepat meninggalkannya, padahal mereka baru asyik membicarakan cinta!

Dan Cao Cun yang tentu saja kecewa oleh kepergian pemuda itu akhirnya tak menjawab ketika ayahnya kembali bertanya, "Bagaimana, apa yang harus kita lakukan, Cun-ji? Kau tentu tak akan menyusahkan ayahmu dengan menolak perintah ini, bukan?"

Cao Cun tersedu-sedu. "Terserah kau, Ayah. Kalau kaisar sendiri telah memanggilku, lalu apa yang dapat kuperbuat? Aku menyerahkannya padamu. Aku tak akan menolak karena tentu akan menyusahkan kita sekeluarga!"

Wang-taijin mengusap dada. Dia memaklumi apa sebenarnya yang terjadi pada saat itu dan apa gerangan yang membuat puterinya terganggu serta murung selama dua minggu lebih. Tapi melihat kaisar mengutus Mao-taijin untuk menjemput puterinya menghadap sang junjungan, terang saja bupati ini tak berani menolak. Sebenarnya itu malah keberuntungan besar. Puterinya diambil kaisar, hal yang tidak gampang dialami setiap orang. Termasuk langka dan merupakan anugerah!

Maka melihat puterinya tak menolak dan menyerahkan hal itu padanya, akhirnya Wang-taijin menyuruh anak gadisnya itu bersiap-siap. Cao Cun memang sedang gundah. Dua minggu ini ia kecewa karena cinta yang mulai bersemi di hatinya terhadap Kim Mou-eng kandas di tengah jalan gara-gara Salima. Maka mendengar kaisar menyuruh orang menjemputnya, akhirnya Cao Cun menganggap bahwa nasibnya memang rupanya harus begitu; bahwa dia ditakdirkan hidup di istana dan harus melupakan pemuda yang mulai dipujanya itu. Agaknya sudah nasib!

Dan Cao Cun yang tak ingin membuat kedua orang tuanya celaka—karena penolakannya berarti maut bagi ayah dan ibunya—lalu pergi memenuhi permintaan ini.

Tapi Mao-taijin rupanya memang bangsat. Menteri ini memanggil sang bupati ke kamarnya, membujuk lagi agar Wang-taijin menyerahkan "uang terima kasih" itu. Ia bersikap agak lunak karena bupati itu sekarang agak di atas angin, maklum kaisar sendiri yang menyuruhnya datang lewat dia, meskipun kaisar menghendaki secara langsung.

Dan Mao-taijin yang tertawa menyambut bupati itu ketika sang bupati datang, buru-buru mempersilakan Wang-taijin duduk dengan manis pula. "Aha, selamat datang, Wang-taijin. Kau benar-benar beruntung dan hok-gi sekali. Rezekimu benar-benar luar biasa!"

Bupati Wang mengerutkan alis. Dia sudah memiliki perasaan antipati terhadap menteri pemeras ini. Tapi karena tuan rumah mempersilakan duduk dan saat itu dia berada di bawah kekuasaan menteri ini sebelum menjumpai kaisar, maka mau tidak mau Wang-taijin mengangguk juga sambil memberi hormat.

"Maaf, ada apa kau mengundangku ke mari, Taijin? Bukankah kaisar memanggilku ke mari?"

"Ah, jangan buru-buru. Kaisar sedang beristirahat, Taijin. Aku akan mengantar kalian besok, bersabarlah."

"Hm," Wang-taijin mulai merasa tak enak. "Dan maksud Paduka, ada apa menahan kami di sini?"

Menteri itu tertawa menyeringai lebar. "Aku hendak bercakap-cakap denganmu, Wang-taijin. Ingin membicarakan kembali masalah... hm, masalah yang menarik!" Dan tanpa menghiraukan perubahan muka bupati itu, Mao-taijin sudah menyuruh pelayan menuang minuman. Kemudian tanpa memberi kesempatan bupati itu menolak, Menteri Mao sudah mengangkat cawannya. "Ayo, minum dulu, Taijin. Jangan buru-buru!"

Mao-taijin sudah meneguk minumannya. Sekali teguk ia menghabiskan anggur merah yang harum, manis, dan lezat itu. Dan Wang-taijin yang tentu saja sungkan menolak, akhirnya meneguk juga minuman nikmat itu. Ia mulai diajak bicara ngalor-ngidul oleh Menteri Mao yang berbasa-basi sebentar. Dan ketika percakapan mulai hangat menuju pada persoalan Cao Cun yang beruntung diambil Sri Baginda, menteri ini tak malu-malu bicara.

"Wang-taijin, aku sungguh iri atas keberuntungan puterimu. Kau dapat hidup jauh lebih mewah daripada sekarang!"

Wang-taijin mengerutkan alis. "Aku tak mabuk kemewahan hidup, Paduka Menteri. Kami sekeluarga sudah biasa hidup sederhana."

"Ha-ha, itu dulu, Taijin. Kalau puterimu telah tinggal di istana, tentu kalian semua harus menyesuaikan keadaan. Kau dan puterimu benar-benar mendapat hok-gi (rezeki) luar biasa!"

Wang-taijin mulai waspada. "Dan maksud Paduka, ada apa mengajak hamba ke mari?"

Mao-taijin meletakkan cawannya, mengusap bibir tampak nikmat, wajahnya merah dan matanya mulai bersinar memandang bupati yang keras hati ini. Dan ketika dia tertawa dan berhati-hati membujuk bupati itu, akhirnya keluar juga kata-kata menteri ini. "Bupati Wang, besok nasib anakmu menghadap kaisar ada di tanganku. Terus terang aku ingin meminta sekadar jasa. Bagaimana jika permintaanku dulu kuulangi di sini?"

Wang-taijin marah dan bangkit dari kursinya. "Mao-taijin, Paduka hendak memeras hamba untuk masalah ini? Paduka masih juga nekat meminta uang sogok?"

"Aku tak meminta uang sogok, Wang-taijin. Aku sekadar minta uang jasa atas semua budi kebaikanku."

"Ah, budi kebaikan tak diperjualbelikan seperti barang dagangan, Mao-taijin. Kalau Paduka memberi budi, justru Paduka tidak akan mengungkit-ungkit masalah itu. Budi yang diminta kembali adalah budi yang palsu, rendah, dan hina!"

Mao-taijin terkejut. "Kau berani memaki?"

"Maaf," Wang-taijin sudah merah mukanya, melotot menahan marah. "Seribu kali kau memerasku, maka seribu kali itu pula kau tak akan berhasil, Taijin. Camkan bahwa Bupati Wang bukan orang yang mudah menyogok!"

"Meskipun keputusan anakmu di tanganku?"

"Keputusan anakku bukan di tanganmu, Taijin, melainkan di tangan kaisar!"

"Tapi aku dapat mengubahnya, Bupati Wang. Aku adalah orang yang langsung dapat mempengaruhi kaisar!"

"Tak mungkin!"

"Kau tak percaya?"

"Tidak!"

"Baik, kau boleh lihat besok!" Dan Mao-taijin yang gusar membentak bupati ini, akhirnya menyuruh Wang-taijin pergi.

Tapi Wang-taijin minta agar puterinya diambil, tak mau meninggalkannya sendirian di tempat menteri pemeras itu. Dan ketika Mao-taijin menolak dan terjadi keributan di kamar itu, tiba-tiba Sin Kee Lojin muncul menghantam bupati ini.

"Wang-taijin, kau enyahlah seperti yang dikatakan majikanku. Keluarlah... dess!"

Wang-taijin mencelat, jatuh terguling-guling menerima pukulan kakek itu ketika Sin Kee Lojin juga marah pada bupati ini. Tapi ketika Sin Kee Lojin hendak membunuh bupati itu dan Wang-taijin yang pucat membentak marah, tiba-tiba bupati ini berteriak.

"Mao-taijin, kau boleh siksa dan bunuh aku sampai mampus. Tapi Kim Mou-eng akan mencarimu dan membuat perhitungan!"

Mao-taijin terkejut. Sin Kee Lojin juga tersentak. Maklum, mereka berdua telah melihat kepandaian Pendekar Rambut Emas yang luar biasa itu, yang agaknya ada hubungan dengan bupati ini. Bahkan Sin Kee Lojin baru saja sembuh dari patah tulangnya setelah menghadapi pendekar itu. Ia menggeram dan tidak jadi membunuh. Akhirnya kakek ini memukul pingsan bupati she Wang itu, setelah mendengar seruan Mao-taijin agar tidak menghabisi nyawa bupati tersebut.

Begitu sang bupati terlempar dan roboh pingsan, akhirnya Menteri Mao menyuruh orang menyiapkan sebuah kereta lengkap dengan kusirnya untuk membawa pulang bupati itu ke Chi-cou, kabupaten di mana ia menjadi kepala daerah. Tentu saja kepulangannya disambut jerit tangis istrinya. Dan begitu Wang-taijin dipulangkan ke rumahnya, maka tinggallah Cao Cun sendirian di gedung menteri itu, tanpa mengetahui keributan yang baru saja terjadi antara ayahnya dengan Menteri Mao.

Wang-taijin yang merasa cemas dan gelisah bersama sang istri hanya bisa berdoa tanpa dapat berbuat apa-apa. Tapi ia merasa ancamannya berhasil. Dia telah menakut-nakuti menteri itu dengan nama sahabat barunya, sang bintang penolong, Kim Mou-eng alias Pendekar Rambut Emas. Nama yang membuat Mao-taijin dan pembantunya gentar, terbukti dia tidak jadi dibunuh dan hanya dibuat pingsan saja.

Namun, Wang-taijin yang bagaimanapun juga mencemaskan nasib anak perempuannya, akhirnya menyuruh Hok Gwan, sang pengawal setia, ke kota raja untuk menyelidiki berita secara diam-diam. Wang-taijin tertegun saat mendengar kabar bahwa puterinya benar-benar tidak jadi dihadapkan kepada kaisar, persis seperti ancaman menteri pemeras itu. Ia dibawa ke Istana Dingin sebagai "calon" yang siap dipanggil saja. Entah bagaimana, menteri itu benar-benar berhasil mempengaruhi kaisar untuk tidak mengambil puterinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment