Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 160

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 160

Kim-taijin tak ingin mengulang kegagalan Kim-mou-eng yang telah dua kali dilakukan. "Apa maksudnya ini?" Hek-eng Taihiap lalu menerangkan, "Saudara Beng dan teman-teman yang lain, kalian tentunya telah mendengar betapa dua kali laporan Kim-mou-eng tak mendapat tanggapan sebagaimana mestinya. Pangeran mahkota tak percaya, kaisar juga tak percaya. Itu disebabkan karena kaisar maupun pangeran mahkota telah termakan omongan Pangeran Muda dan ibunya, apalagi kebetulan Pendekar Rambut Emas itu keturunan Tartar. Hal ini menyulitkan dirinya."

"Dan karena Kim-taijin tak mau mengambil risiko dan menghadapkan Cu-thaikam yang telah berkhianat, maka Kim-taijin menghendaki biarlah rencana pembunuhan itu tetap berjalan dan menimpa pangeran. Dengan demikian, pangeran mahkota terbuka matanya, tak perlu kita banyak menerangkan lagi dan pangeran akan tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu, begitu besok sang pangeran berburu, maka kita bersiap-siap melindunginya dari ancaman pembunuhan ini. Baru setelah itu bukti-bukti berikut akan muncul dengan sendirinya!"

Beng Kwan dan teman-temannya tertegun. Sekarang mereka mengerti, memang telah mendengar kegagalan Kim-mou-eng yang dianggap pengacau. Tapi Beng Kwan yang teringat sesuatu tiba-tiba mengerutkan kening. "Tapi kami juga mendapat berita baru. Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun besok akan menghadapi serangan gelap!"

"Dari mana kalian tahu?"

"Kami mendengarnya dari seorang pembantu di dalam istana, Taihiap. Jadi besok dua kejadian sekaligus akan menggegerkan istana! Bagaimana baiknya ini?"

Hek-eng Taihiap mengerutkan kening. "Kalau begitu berbahaya. Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun memang dikenal sebagai panglima-panglima yang tak mau dibujuk. Mereka tetap setia pada kaisar. Kalau begitu tenaga harus kita pecah untuk menghadapi dua kejadian ini."

"Benar, tapi siapa yang akan menyerang tiga panglima itu, Saudara Beng?" Yu Bing tiba-tiba bertanya. "Sebab kalau dihadapi dengan jalan terburu-buru dan penyerang orang biasa-biasa saja, sebaiknya berita itu tidak perlu diperhatikan dan biar Bu-ciangkun maupun Cu-ciangkun menghadapi lawannya itu sendiri."

"Tidak, mereka adalah orang-orang dari kelompok Jit-mo Kang-ouw. Kalau tidak salah, Siang-lo adalah sepasang iblis cebol Hek-bong-m!" Beng Kwan menjawab, membuat orang terkejut, dan Yu Bing serta Hek-eng Taihiap berubah mukanya. Betapa pun nama sepasang iblis cebol itu bukan nama sembarangan.

Mereka tertegun dan Beng Kwan serta adiknya tampak khawatir. Maka Beng Kwi, orang termuda dari Sin-to Sam-enghiong itu tiba-tiba bertanya, "Dan di pihak pangeran mahkota sendiri, siapa bakal pembunuh itu, Taihiap?"

"Aku belum jelas, tapi katanya seseorang yang juga lihai. Mungkin seorang atau dua orang dari kelompok Jit-mo Kang-ouw juga!"

"Ah, kalau begitu kita harus mencari bantuan. Kita bukan tandingannya!"

"Ya, sudah kupikir itu, Saudara Beng Kwi. Tapi dalam keadaan demikian dekat siapa yang harus dicari? Waktu kita sempit, aku tak tahu siapa yang dapat dimintai bantuannya. Kalau saja..."

"Kalau saja Kim-mou-eng atau sumoinya ada di sini!" Yu Bing tiba-tiba nyeletuk, mengejutkan teman-temannya. "Tentu kita tak usah pusing-pusing, Sam-wi Enghiong. Atau..."

"Sst...!" Hek-eng Taihiap tiba-tiba berkelebat, menghentikan omongan Yu Bing karena telinganya menangkap gerakan sesuatu di atas sana. Yang lain tentu saja terkesiap karena gerakan Pendekar Garuda Hitam itu tiba-tiba sekali. Dan ketika mereka mendongak dan Hek-eng Taihiap mengeluarkan bentakan menjulurkan lengan ke atas tebing, mendadak sesosok bayangan berseru perlahan menangkis serangan Pendekar Garuda Hitam itu.

"Dukk!" Hek-eng Taihiap terpental turun, berteriak tertahan, dan berjungkir balik melayang ke tanah. Tentu saja mencelos karena kalah kuat. Tapi begitu menginjakkan kaki melihat siapa yang diserang, tiba-tiba pendekar ini berseru girang disusul teman-temannya yang lain, terutama Yu Bing.

"Pendekar Rambut Emas...!"

Kim-mou-eng tersenyum kecil. Memang dia yang diserang Hek-eng Taihiap ini, memperdengarkan gerakan sedikit di atas sana tapi sudah tertangkap oleh Pendekar Garuda Hitam ini. Tahulah dia bahwa Hek-eng Taihiap ini memiliki kepandaian paling tinggi, masih di atas Yu Bing. Tadi sengaja mencoba dan kini dapat mengira-ngira kepandaian pendekar itu, laki-laki gagah yang simpatik dipandang mata.

Dan ketika dia sudah berada di tengah-tengah kerumunan orang dan Hek-eng Taihiap terbelalak memandangnya, maka Kim-mou-eng yang telah mendengarkan semua percakapan di bawah buru-buru menjura. "Hek-eng Taihiap, maafkan aku. Rupanya kehadiranku ini mengganggu pembicaraan kalian!" dan tersenyum memandang Sin-to Sam-enghiong, pendekar ini bertanya, "Sam-enghiong, apa kabar? Kalian baik-baik saja? Dan ini Saudara Sin Kok dan Nona Hwi Ling. Mudah-mudahan tak marah dan menyerang padaku lagi."

Semua orang tertegun. Kalau saja tak ada Hek-eng Taihiap di situ, mungkin kebencian dan kemarahan Sin-to Sam-enghiong ini tak akan berkurang, begitu pula Sin Kok dan adiknya. Tapi karena Pendekar Garuda Hitam telah memberitahu mereka bahwa Kim-mou-eng membantu pemerintah dan urusan pribadi rupanya harus ditunda untuk kepentingan yang lebih besar, akhirnya Beng Kwan dan dua adiknya menyambut masam, Sin Kok juga begitu, sementara Hwi Ling bersinar-sinar.

"Kim-mou-eng, apa maksudmu datang ke sini? Kau mengintai pembicaraan kami?"

"Maaf," Kim-mou-eng menanggapi omongan yang kurang ramah dari Sin-to Sam-enghiong ini. "Aku memang telah mendengar pembicaraan kalian, Sam-wi Enghiong. Tapi percayalah aku tak bermaksud buruk."

"Dan kerjamu rupanya menguping!" Hwi Ling melepas geram. "Apakah begini sepak terjangmu sehari-hari, Kim-mou-eng?"

Tapi Hek-eng Taihiap buru-buru menyela. "Kim-taijin, apakah secara kebetulan saja kau berada di sini? Mana sumoimu?"

Kim-mou-eng menarik napas. "Sumoiku tak ada di sini, dia kusuruh mengumpulkan anak buah Seng-piauw-pang yang kocar-kacir. Maaf, aku tak sengaja melihat semuanya ini, Hek-eng Taihiap. Aku berhenti karena melihat tertangkapnya Saudara Sin Kok dan adiknya itu. Bermaksud menolong tapi keduluan oleh Sin-to Sam-enghiong ini dan dirimu sendiri."

"Kalau begitu kau sudah lama?"

"Sebelum kedatangan Sin-to Sam-enghiong ini."

"Ah, kalau begitu kau membuat malu aku. Aku telah menunjukkan kepandaianku yang tiada guna!"

"Tidak, justru kepandaianmu membuat aku kagum, Hek-eng Taihiap. Tapi yang lebih mengagumkan lagi adalah kepatriotikanmu itu. Aku benar-benar tak menyangka kalau kau tertarik urusan pemberontakan ini!"

"Ah, yang kagum adalah aku, Kim-taijin. Sebagai bukan orang Han kau memperhatikan bangsa ini. Inilah yang lebih mengagumkan dibanding aku. Kau pembela kebenaran sejati, seorang pendekar tulen!"

Kim-mou-eng tiba-tiba mengerutkan kening. "Hek-eng Taihiap...!"

"Maaf, kau sebut saja namaku, Taihiap. Aku orang she Siok, namaku Gwan Beng." Hek-eng Taihiap memotong, malu rupanya disebut "Taihiap" (pendekar besar) oleh Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas itulah yang pantas disebut Taihiap.

Dan Kim-mou-eng yang tersenyum dapat mengerti perasaan orang tiba-tiba tersenyum. "Baiklah, kupanggil kau Siok-twako (kakak Siok), Hek-eng Taihiap. Aku sebenarnya sedih kalau dianggap bangsa Tartar tulen. Aku memiliki juga darah Han, ibuku orang Han. Kenapa orang harus menganggapku bangsa asing? Darah ayahku rupanya memang lebih banyak mengalir di tubuhku, tapi betapapun aku juga merasa sebagai orang Han karena ibuku bangsa Han. Karena itu jangan merasa terlalu aneh kalau aku ingin menumpas pemberontakan yang ingin mengacau ketenteraman bangsa Han!"

Hek-eng Taihiap tertegun. "Benar, kami rupanya melukai perasaanmu, Taihiap. Karena rambutmu yang keemasan ini memang tak ada dijumpai dalam bangsa Han."

"Karena itu kuminta janganlah kalian menganggapku bangsa asing. Aku ingin membantu kalian karena darah ibuku juga mengalir di tubuhku!"

"Baik, kalau begitu apa maksudmu sekarang, Taihiap?"

"Aku ingin membantu kalian. Aku telah mendengarkan pembicaraan kalian. Karena itu, kalau kalian tak menolak, aku ingin menyelamatkan pangeran mahkota sementara yang lain membantu Bu-ciangkun. Bagaimana?"

Hek-eng Taihiap bersinar-sinar matanya. Tapi sebelum dia bicara mendadak Yu Bing mendahului, "Kim-taijin, bagaimana kalau kau menyelamatkan Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun saja? Katanya Hek-bong Siang-lo ada di situ, kami yang lain-lain biar melindungi pangeran mahkota!"

"Terserah," Kim-mou-eng tersenyum tenang. "Aku hanya membantu, Saudara Yu Bing. Barangkali boleh juga begitu karena siapa tahu pangeran mahkota lagi-lagi tak suka melihat kehadiranku!"

"Ah, tidak!" Hek-eng Taihiap berpikir lain. "Justru kehadiranmu menolong pangeran mahkota dapat membersihkan kesan yang selama ini ditangkap salah, Kim-taijin. Sebaiknya kau ditemani seorang di antara kami menyelamatkan pangeran itu. Itu sudah cocok!"

Kim-mou-eng tertawa. "Boleh juga," katanya. "Siapa yang akan menemaniku?"

"Sebaiknya Saudara Sin Kok ini!"

Sin Kok terkejut. "Bagaimana, Saudara Sin? Kau tak keberatan menemani Kim-taijin, bukan?" Hek-eng Taihiap langsung saja bertanya, diam-diam punya maksud agar permusuhan di hati pemuda itu terhapus setelah nanti mengetahui sepak terjang Pendekar Rambut Emas. Tentu saja Sin Kok bingung tak segera menjawab. Dan ketika pertanyaan diulang kembali dan pemuda itu tampak bimbang, tiba-tiba adiknya bicara, "Hek-eng Taihiap, kenapa kakakku yang dipilih? Aku tak biasa berpisah, dan lagi mungkin seorang dari tiga paman Sin-to Sam-enghiong ini lebih cocok, kepandaiannya lebih tinggi?" Inipun taktik Hwi Ling. Gadis itu tahu kakaknya tentu tak enak harus berdampingan dengan Kim-mou-eng, betapapun ganjalan sakit hati masih terpendam. Sekarang secara cerdik dia mengajukan orang lain agar kakaknya tak terpilih. Sin-to Sam-enghiong ditunjuk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment