Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 161

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 161

Namun, karena Hek-eng Taihiap bukan orang bodoh dan usul Hwi Ling tersebut jelas mengandung maksud tertentu, pendekar ini tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Nona, kakakmu lebih dikenal daripada Sin-to Sam-enghiong ini. Pangeran tentu lebih mengenalnya daripada orang lain. Kim-mou-eng lebih baik bersamanya karena keberadaan kakakmu merupakan jaminan kepercayaan untuk menghapus syak wasangka di hati Pangeran. Kalau kau tak biasa berpisah dengan kakakmu, sebaiknya kau pun ikut. Ini lebih bagus!"

Hwi Ling terkejut. "Kami berdua?"

"Begitu lebih baik, Nona. Kami yang lain, lima orang, akan menghadapi Hek-bong Siang-lo-mo itu. Tentu sanggup ditambah Bu-ciangkun serta Cu-ciangkun sendiri!"

Hwi Ling tak dapat berkutik. Namun, karena urusan pribadi jauh lebih kecil dibanding urusan negara, akhirnya Hwi Ling tak menjawab. Ia diam melirik kakaknya, mengerling pula ke arah Kim-mou-eng dengan mata bersinar aneh—mata yang tidak senang.

Ketika yang lain setuju dan Yu Bing serta Hek-eng Taihiap akan menolong Bu-ciangkun yang diperkuat Sin-to Sam-enghiong, akhirnya rombongan ini pecah dua. Senang tidak senang, Hwi Ling dan kakaknya harus ikut Kim-mou-eng. Sungguh keterlaluan kalau mereka menolak, karena itu adalah urusan bangsa mereka sendiri. Kim-mou-eng yang berdarah campuran saja memperhatikan keselamatan bangsa mereka, masa mereka kalah?

Maka begitu rombongan dipecah dua dan masing-masing berangkat menuju tujuan sendiri-sendiri, Kim-mou-eng berpisah dengan Hek-eng Taihiap dan kawan-kawan. Perjalanan kelompok Kim-mou-eng terasa lucu. Hwi Ling dan kakaknya berjalan di belakang, tak mau mendekat; mereka seperti satu kepala dengan dua tubuh.

Kim-mou-eng tersenyum saja dan tertawa pahit. Diam-diam ia memaki suheng-nya karena akibat perbuatan Gurba, ia yang mendapat getahnya. Ia tak mau segera memberi tahu kesalahpahaman dua kakak beradik itu. Biarlah kelak Hwi Ling dan kakaknya tahu sendiri.

Ketika mereka hampir memasuki gerbang kota raja, secara mengejutkan Salima muncul. "Suheng!"

Kim-mou-eng tertegun. Ia melihat bayangan sumoi-nya berkelebat; begitu gembira gadis itu hingga langsung menubruk dan memeluknya. Kim-mou-eng tentu saja jengah karena Sin Kok dan Hwi Ling melihat pemandangan itu. Ketika ia berbisik menyuruh sumoi-nya melepaskan diri karena ada dua muda-mudi di situ, Salima terbelalak dengan muka merah. Tiga laki-laki muda juga muncul memberi hormat di depan Kim-mou-eng.

"Suheng, ini tiga murid terlihai dari Seng-piauw-pang. Susah aku mencarinya, mereka hampir tak kujumpai di markas yang telah kosong!" Salima berkata, masih menunjukkan perhatiannya pada Kim-mou-eng dengan wajah berseri-seri.

Hwi Ling cemberut di kejauhan, sementara kakaknya bengong memandang Salima dengan kagum. Ketika tiga murid Sin-piauw Ang-lojin itu berlutut di depannya, segera Kim-mou-eng menyuruh mereka bangkit.

"Kalian tahu tugas masing-masing?"

"Kami tahu," seorang di antaranya mewakili menjawab. "Dan kami akan membalas kematian guru kami, Kim Taihiap. Sungguh bantuan Sian-lihiap ini membesarkan hati kami!"

"Tapi kalian hanya bertiga?"

"Tidak, yang lain-lain sudah memasuki kota raja, Suheng. Semua berjumlah empat puluh orang. Yang ini menunggu di sini menanti kedatanganmu. Mereka membawa berita seseorang akan membunuh Pangeran Mahkota. Minta pendapat apa yang harus dilakukan!"

"Hm, kau sendiri bagaimana pendapatmu, Sumoi?"

"Aku sendiri masa bodoh. Biar Pangeran itu mampus. Toh kita selalu tak dipercayai."

"Tidak," Kim-mou-eng tersenyum. "Pangeran harus diselamatkan, Sumoi. Dan berita itu memang sudah kuketahui, kini aku membawa teman."

Kim-mou-eng menoleh ke belakang, Sin Kok dan Hwi Ling tiba-tiba melengos. Mereka enggan maju, bahkan mundur seolah hendak menjauhkan diri. Ketika Salima sadar dan memperhatikan dua muda-mudi itu, gadis itu mendengus dan membelalakkan mata. "Siapa mereka? Kenapa angkuh amat?"

"Ah, mereka baik-baik, Sumoi. Putera-puteri mendiang Ang Bin Ciangkun. Bersikap begitu karena mengira ayahnya terbunuh olehku. Kau ingat perbuatan Gurba suheng, bukan? Aku terkena getahnya. Disangka membunuh ayah mereka. Tapi jangan kau marah. Siang-kiam-low Yu Bing bertemu aku di tengah jalan tadi bersama Hek-eng Taihiap. Mereka diserahkan padaku untuk menghadapi rencana pembunuhan Pangeran Mahkota. Tak perlu kau cemberut."

Kim-mou-eng menceritakan pertemuannya dengan Yu Bing dan lainnya tadi, menjelaskan keberadaan Hwi Ling dan kakaknya yang diperbantukan untuk menghadapi rencana pembunuhan Pangeran Mahkota. Yu Bing dan Hek-eng Taihiap sendiri menuju tempat Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun untuk menghadapi Hek-bong Siang-lo-mo.

Setelah mendengarkan dengan alis berkerut tapi bibir tetap tersenyum mengejek, Salima mengangguk-angguk. "Suheng, perbuatanmu benar-benar tak kepalang tanggung. Kalau mereka diperbantukan padamu, sebaiknya mereka disuruh kembali saja membantu Bu-ciangkun. Bagaimana kalau kita berdua menghadapi orang yang akan membunuh Pangeran Mahkota itu?"

"Tidak," pendekar ini tak setuju. "Hek-eng Taihiap menghendaki dua kakak beradik itu tetap di sini agar dikenal Pangeran Mahkota. Kalau kita berdua, jangan-jangan Pangeran Mahkota tak percaya lagi."

"Hm, maksudmu agar pertolonganmu ini dipercayai Pangeran Mahkota? Mereka itu sebagai orang yang dapat memberi keterangan?"

"Begitu yang dimaui Hek-eng Taihiap, Sumoi. Dan kupikir pendapatnya pun benar. Tanpa mereka, tentu Pangeran Mahkota akan menyambut kita dengan sikap lain, meskipun kita menyelamatkan Pangeran itu!"

"Kalau begitu, biar aku saja yang bersama mereka!" Salima mendadak berkata. "Kau pergi menghadapi Hek-bong Siang-lo-mo itu!"

Kim-mou-eng terkejut. "Kenapa begitu?"

"Aku ingin membalas kelakuan Pangeran itu, Suheng. Biar dia malu kalau nanti dia tahu bahwa orang yang menolongnya adalah orang yang selama ini dimusuhi. Aku ingin memukul perasaan Pangeran itu!"

Kim-mou-eng tertegun. "Kau tak setuju?" Sumoi-nya mendadak bertanya. "Kau ingin... hm, berdekatan dengan gadis bernama Hwi Ling itu?"

Kim-mou-eng tersentak. Sekarang ia menangkap apa sebenarnya yang dimaui sumoi-nya; keberadaan Hwi Ling membuat sumoi-nya cemburu! Ketika mata tajam itu memandangnya penuh selidik, Kim-mou-eng hanya tertawa tersenyum kecut.

"Sumoi, kau ini terlalu. Masa setiap gadis yang dekat padaku harus kau sorot seperti itu? Hwi Ling memusuhiku, tak mungkin dia berpikiran macam-macam!"

"Tak usah memberi tahu. Aku wanita, jauh lebih tahu darimu tentang perasaan wanita! Sudahlah, kau menolak?"

Terpaksa Kim-mou-eng menggeleng. Karena menolak bakal membuat ribut lagi dengan sumoi-nya, akhirnya Pendekar Rambut Emas ini menahan tawa dengan perasaan gemas. Ia tak keberatan tugasnya diganti. Namun, karena yang bersangkutan harus ditanya dulu, Kim-mou-eng memanggil dua kakak beradik itu untuk memberitahukan maksud Salima.

Hwi Ling dan Sin Kok tampak tertegun. Namun, Sin Kok yang rupanya girang mendapat perubahan ini segera menganggukkan kepala, melirik gadis Tartar yang diam-diam dikaguminya itu.

"Kami setuju, sama saja bagi kami."

"Bagus, kalau begitu kalian ikut sumoi-ku, Sin Kok. Aku menyusul Hek-eng Taihiap membantu Bu-ciangkun." Sembari memandang sumoi-nya, pendekar ini berkata, "Sumoi, hati-hati. Aku pergi dulu. Nanti kita bertemu lagi!"

Begitu sumoi-nya mengangguk dan tersenyum aneh, Kim-mou-eng sudah berpindah menuju tempat Bu-ciangkun. Hwi Ling dan kakaknya mengikuti Salima. Putera Ang Bin Ciangkun itu tampak gembira bersama gadis Tartar ini, sementara adiknya mencibir sembari menowel lengan kakaknya, membuat Sin Kok tersipu. Ketika Salima berkelebat menyuruh kakak beradik itu mengikutinya, tiga murid Seng-piauw-pang juga diperintahkan memanggil yang lain menuju hutan untuk membantu Pangeran Mahkota.

Kita ikuti dulu sepak terjang Kim-mou-eng. Pendekar ini telah mencari rombongan Hek-eng Taihiap. Begitu bertemu, tentu saja Hek-eng Taihiap dan kawan-kawan terkejut, bertanya kenapa pendekar itu meninggalkan tugasnya, juga di mana Hwi Ling dan kakaknya. Namun, setelah pendekar itu mengatakan apa yang terjadi, Hek-eng Taihiap girang berseri-seri.

"Aih, sumoi-mu datang, Taihiap? Dia mengambil alih tugasmu? Bagus sekali, tapi tenaga di sini menjadi berlebih-lebihan. Bagaimana kalau Yu Bing atau Sin-to Sam-enghiong membantu sumoi-mu itu? Keselamatan Bu-ciangkun memang penting, tapi keselamatan Pangeran lebih penting lagi!"

"Terserah kau, aku tinggal mengikuti, Siok-iwako. Siapapun bagiku sama saja."

"Kalau begitu bagaimana dengan Bing-te ini?"

"Aku sedia," Yu Bing mengangguk. "Aku siap membantu siapa saja, Twako. Boleh di sini atau di sana."

"Kalau begitu kau saja membantu Sian-li-lihiap. Biar aku bersama Sin-to Sam-enghiong di sini. Bagaimana pendapatmu, Kim Taihiap?"

"Boleh juga, tapi aku belum mengerti bagaimana rencanamu."

"Aku ke gedung Cu-ciangkun, Taihiap. Sedang kau sebaiknya ke gedung Bu-ciangkun. Aku telah menghadap dua panglima itu dan memberi tahu."

"Baik, kalau begitu kita berpisah. Dan aku minta kalau penjahat itu lebih dulu datang di tempat kalian, sebaiknya beri tanda kepadaku. Aku akan datang."

"Terima kasih. Kami mulai, Taihiap."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment