Chapter 162
"Dan biar sekalian kuberitahu kedatanganmu ini pada Bu Ciangkun!" Hek-eng Taihiap girang, merasa tenaganya semakin kuat dengan adanya Pendekar Rambut Emas itu. Betapapun yang akan dihadapi adalah sepasang iblis cebol yang lihai, Hek-bong Siang-lomo yang sakti.
Malam itu, mereka menunggu di tempat masing-masing. Kim-mou-eng berjaga di tempat Bu Ciangkun. Panglima ini duduk bersandar di kursi, jenggotnya yang lebat tetap dipelihara, memberikan kesan angker dan berwibawa. Tubuhnya yang tinggi besar menunjukkan kegagahannya saat ia meminum arak sendiri di taman belakang. Tempat itu tidak begitu luas dan tak seorang pun pelayan menemaninya. Kim-mou-eng kagum; panglima itu tidak tampak takut sedikit pun, padahal ia tidak bersenjata. Sesekali ia bicara dan tertawa sendiri, seperti orang mabuk.
Ketika malam semakin gelap dan lima guci arak telah dihabiskan, pada kentongan kesepuluh, sesosok bayangan meluncur dan berlompatan di atas wuwungan gedung yang tinggi. Kim-mou-eng yang bersembunyi di puncak sebatang pohon melihat bayangan itu, hanya seorang pendek dan lincah seperti gerakan iblis. Ia segera mengenalinya sebagai Ji-lo-mo, orang kedua dari Hek-bong Siang-lomo. Kim-mou-eng terdetik; pikirannya yang cerdas segera menduga tentu Twa-lomo berada di lain tempat. Rupanya dua iblis itu memecah tugas, karena jarang Siang-lomo (sepasang iblis) ini berpisah.
Ketika bayangan itu tiba dan melompat turun ke taman, Ji-lo-mo tertawa menghadapi Bu-ciangkun yang tenang saja. "Orang she Bu, Giam-lo-ong (Malaikat Maut) datang menjemput nyawamu!"
Bu-ciangkun bangun berdiri. Panglima tinggi besar ini tidak terkejut, membuat Ji-lo-mo tampak heran karena tak menyangka rencananya sudah diketahui. Mendadak panglima itu tertawa terbahak-bahak, menimpali suara lawan. "Setan cebol, kau Ji-lo-mo atau Twa-lo-mo? Mana saudaramu? Kau datang mengantar nyawa?"
Iblis ini terbelalak. "Kau bicara apa? Kau mabuk? Aku Ji-lo-mo, saudaraku ada di lain tempat."
"Di gedung Cu-ciangkun?"
"Eh, dari mana kau tahu?"
"Ha-ha, aku punya telinga dan mata, Ji-lo-mo. Tak perlu kau heran karena kedatanganmu ini pun telah kuketahui! Kau mau membunuhku, bukan? Majulah, kau boleh membunuhku kalau bisa. Kalau tidak, justru aku akan menangkapmu dan menuntut pertanggungjawaban pada orang yang menyuruhmu!"
Panglima tinggi besar itu bersiap-siap, kedua tangannya terjulur ke depan dengan suara berkerotok. Itulah *Kang-jiu-kang* (Tenaga Tangan Baja) yang khusus dipunyai panglima ini. Ji-lo-mo terbelalak dan mundur selangkah, namun kemudian tertawa aneh. "Bu-ciangkun, omongan apa yang kau katakan ini? Aku tak mungkin gagal kalau hanya hendak membunuhmu. Lihat!"
Iblis cebol itu berkelebat ke depan, mencengkeram dan menyerang tenggorokan panglima itu. Tubuhnya mencelat ke atas karena tinggi badannya hanya setinggi perut panglima Bu, tentu saja ia harus meloncat. Namun, Bu-ciangkun yang waspada mengelak ke kiri dan menggerakkan lengannya yang berkerotok.
"Dukk!" *Kang-jiu-kang* bertemu lengan kecil iblis cebol itu. Seharusnya iblis cebol itu yang terbanting karena lengannya kalah besar, tetapi justru Bu-ciangkun yang terpental ke tanah. "Bruk!" Panglima itu terguling-guling.
Bu-ciangkun kaget dan melompat bangun. Ji-lo-mo terkekeh-kekeh dan kembali berkelebat maju. "Bagaimana, kau dapat menahanku, Bu-ciangkun? Biar kau gorok leher sendiri kalau begitu, ha-ha!" Iblis cebol itu terus menyerang dengan sepuluh jarinya yang tajam, membuat panglima itu kalang kabut. *Kang-jiu-kang* miliknya sungguh tak berdaya menghadapi *sinkang* lawan yang lebih kuat. Tangkisannya selalu mental, iblis itu tertawa-tawa.
Ketika Bu-ciangkun membentak dan memainkan *Kang-jiu Sin-hoat*-nya (Silat Tangan Baja), serangannya selalu tertolak oleh angin pukulan lawan. Panglima ini terdesak dan wajahnya pucat. Ji-lo-mo tidak segera membunuh, ia malah mempermainkan dan mengejeknya. Bu-ciangkun harus mengakui kesaktian lawan yang jauh di atas dirinya.
Saat panglima itu mundur dan lawan menekannya dengan ketat, ia menyambar guci kosong dan memainkan ilmu silat guci. Namun, guci itu ditolak hingga pecah. Lima guci kosong habis dipakainya sebagai senjata. Betapapun, ilmu silatnya memang kalah jauh; Ji-lo-mo adalah seorang dari Tujuh Iblis Dunia Kang-ouw.
Ketika panglima itu memaki namun tidak gentar, Ji-lo-mo menyuruhnya memanggil pengawal. "Tidak!" jawab panglima itu gagah. "Kalau aku mati, biar mati sendiri, iblis busuk. Aku tak suka mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan jiwaku!"
"Kalau begitu kau mati tak enak. Tak ada teman di perjalanan ke alam baka!"
"Persetan ejekanmu!"
Panglima itu tetap bertahan dengan mata mendelik merah, meskipun tubuhnya mulai menerima tamparan dan pukulan si cebol hingga terhuyung-huyung. Kim-mou-eng yang mengintai di atas menjadi kagum; ternyata Bu-ciangkun seorang laki-laki gagah, tak salah kaisar memilihnya sebagai pembantu.
Tiba-tiba, iblis itu mencabut senjata sabit yang tajam mengerikan. "Bu-ciangkun, aku sekarang akan membunuhmu. Kau mintalah ampun dan cium lututku kalau tak ingin kubunuh!"
Bu-ciangkun mendelik. "Keparat kau! Aku tak akan minta ampun, cebol buruk. Kau bunuhlah aku, tak perlu banyak bacot lagi!"
Ji-lo-mo melotot marah dan berteriak menyeramkan. Ia mengayunkan sabitnya ke arah leher panglima itu. Keadaan tak memungkinkan lagi bagi panglima untuk berkelit. Namun, persis saat sabit menuju lehernya, Kim-mou-eng melayang turun. Pendekar Rambut Emas ini tak menunda waktu lagi; Kim-mou-eng mendorongkan kedua tangannya, menangkis dengan pukulan jarak jauh.
"Ji-lo-mo, cukup! Enyahlah kau... bress!"
Pukulan Kim-mou-eng menghantam sabit itu dengan dahsyat. Karena tak menduga kedatangan Kim-mou-eng, Ji-lo-mo terbanting dengan sabit terlempar. Iblis itu bergulingan, menyambar sabitnya lagi, dan melompat bangun. Saat melihat siapa lawannya, Ji-lo-mo memekik penuh gusar, "Kim-mou-eng!"
Kim-mou-eng mengangguk. "Ya, aku, Lo-mo. Kau masih dapat membunuh Bu-ciangkun lagi?"
"Keparat jahanam kau!" Ji-lo-mo menubruk dan menerjang Pendekar Rambut Emas. Senjatanya menjadi kilatan putih yang bergerak luar biasa cepat. Kim-mou-eng yang tertawa, mengerahkan *Tiat-lui-kang*-nya, menangkap ujung sabit yang tajam itu. "Bret-plak!"
Bu-ciangkun hanya mendengar seruan kaget Ji-lo-mo saat iblis itu terlempar dan berjungkir balik. Ji-lo-mo melengking marah bukan kepalang, baju purdaknya robek. Saat iblis itu membalik dan mengayun sabitnya lagi, Kim-mou-eng dikelilingi sinar putih yang berkelebatan. Ji-lo-mo lenyap digulung permainan sabitnya yang ganas hingga daun-daun pohon di sekitar situ rontok berhamburan. Namun, Kim-mou-eng mampu menolak semua serangan itu. Ji-lo-mo memekik karena sabitnya tak mampu melukai tangan pendekar itu, bahkan sabitnya terus ditangkap oleh Kim-mou-eng. Kim-mou-eng tidak dapat didesak.