Chapter 163
Ketika iblis itu meraung dan Bu-ciangkun yang menjublak memandang pertempuran tampak bengong dengan mata tak berkedip, sekonyong-konyong iblis itu memutar sabitnya tiga kali untuk kemudian menyambar dari atas ke bawah, menuju ubun-ubun kepala lawan.
"Kim-mou-eng, sekarang kau mampus!" Kim-mou-eng tersenyum mengejek.
Dia telah melindungi kedua tangannya dengan sinkang, berani menangkap dan tidak ragu menghadapi senjata lawan yang tajam. Kekebalannya telah melindungi bagian itu, bahkan seluruh tubuhnya. Tapi karena ubun-ubun adalah tempat yang lunak dan iblis itu pun nampaknya mengerahkan segala kekuatan untuk menghancurkannya, maka Pendekar Rambut Emas merendahkan tubuh memasang punggungnya, sengaja membiarkan bagian itu dibacok tapi secepat kilat kedua lengannya mendorong, menghantam dada lawan.
Kedua tangan berubah kemerahan, penuh mengandung tenaga Tiat-lui-kang (Tenaga Inti Petir). Kim-mou-eng ingin menyelesaikan pertandingan karena khawatir terhadap iblis yang lain, Twa-lo-mo. Begitu sabit meluncur dan tepat menghantam punggungnya tapi membalik oleh kekebalan sinkang yang dipunyai, pada saat itulah Tiat-lui-kang ganti menghantam dada iblis cebol ini.
"Hei?!" Teriakan itu terlambat.
Ji-lo-mo juga ingin menyelesaikan pertempuran, tak menyangka lawan juga bermaksud sama dan kini dadanya diserang. Telapak lawan dekat sekali dan tak mungkin dikelit. Satu-satunya jalan hanyalah mengerahkan sinkangnya menerima pukulan Pendekar Rambut Emas. Ji-lo-mo terbelalak dan ngeri karena telapak lawan sudah berubah merah seperti api unggun. Hawa panas sudah mendahului menyambar. Dan ketika sabitnya mental dan iblis ini mengeluh melihat kegagalannya, maka di saat itulah pukulan lawan tiba mengenai dadanya.
"Dess!" Iblis ini terlempar empat tombak.
Ji-lo-mo meringkik seperti kuda kena panah, bergulingan, dan mulut melontarkan darah. Ternyata sinkangnya tak dapat melindungi diri sepenuhnya dan dia tetap terluka, menggelinding menjauhkan diri dan akhirnya melompat bangun dengan kaki gemetar, mukanya pucat pasi. Bu-ciangkun bersorak karena iblis cebol itu kena luka dalam.
Ji-lo-mo melotot. Ketika iblis itu bergoyang memandang Kim-mou-eng sementara Bu-ciangkun berteriak mengejek lawan, tiba-tiba iblis itu melemparkan sabitnya menyambar panglima she Bu.
"Awas..." Kim-mou-eng memperingatkan, tentu saja kaget karena sabit meluncur dengan cara berputar-putar.
Bu-ciangkun terkesiap tapi tak dapat mengelak, kalah cepat. Kim-mou-eng yang lagi-lagi menyelamatkan panglima ini dengan jentikan sebutir kerikil akhirnya membuat sabit terpental, tapi baju Bu-ciangkun robek keserempet.
"Trang... bret!" Bu-ciangkun baru membanting tubuh bergulingan. Panglima ini sadar setelah sabit berkerontang di pinggir telinganya, dibentur kerikil hitam tadi. Suaranya memekakkan dan panglima ini berseru keras karena kaget bukan main. Darah seakan hilang dari mukanya; begitu dekat nyawanya terbang, tinggal seujung rambut lagi!
Ketika panglima itu tertegun dan terbelalak tak dapat bicara, Ji-lo-mo memutar tubuh melarikan diri. "Kim-mou-eng, keparat kau. Jahanam!"
Kim-mou-eng tak mengejar. Dia datang memang untuk melindungi panglima ini, bukan membunuh, apalagi lawan terluka cukup parah oleh pukulannya tadi. Ketika Bu-ciangkun terhenyak dan sadar dua kali diselamatkan pendekar ini, tiba-tiba panglima itu terhuyung menjatuhkan diri berlutut, mukanya masih gemetar.
"Kim-taihiap, terima kasih. Dua kali nyawaku kau loloskan dari maut!"
"Ah, sudahlah." Pendekar ini buru-buru menolak. "Kau bangunlah, Ciangkun. Tak usah berterima kasih karena itu memang sudah kewajibanku!"
"Tapi aku berhutang budi, dan dulu pun aku memusuhimu!"
"Itu dulu, Ciangkun. Hal itu terjadi karena salah paham. Sekarang kau bangunlah, aku tak dapat menerima penghormatanmu!" Kim-mou-eng yang menyuruh bangun panglima itu sambil mengerahkan tenaganya tiba-tiba sudah menarik dan membuat panglima ini berdiri.
Bu-ciangkun hendak menahan tapi tak sanggup, tubuhnya terbetot juga dan dia menjadi kagum bukan main. Tapi ketika panglima ini bengong dan Kim-mou-eng tersenyum, mendadak sebuah teriakan terdengar di gedung Cu-ciangkun.
"Ah, itu Hek-eng Taihiap!"
Kim-mou-eng tiba-tiba menyambar lengan Bu-ciangkun, diangkat dan disendal ke depan, dibawa terbang secepat angin. Bu-ciangkun kaget tapi melongo semakin takjub. Pendekar Rambut Emas ini memang benar-benar hebat! Ketika mereka tiba di sana dan melihat apa yang terjadi, ternyata iblis tertua dari Hek-bong Siang-lo-mo itu melukai Hek-eng Taihiap dan nyaris membunuh Cu-ciangkun!
Kim-mou-eng terkejut. Dia melihat Twa-lo-mo, suheng Ji-lo-mo itu, dikepung tertawa-tawa. Iblis ini mempermainkan lawan, dikeroyok enam tapi mudah berkelit ke sana ke mari. Cu-ciangkun dan Hek-eng Taihiap bermandi keringat menghadapi iblis cebol ini, bahkan Hek-eng Taihiap robek pundaknya digurat kuku Twa-lo-mo, terhuyung dan pucat mukanya menahan sakit. Bukan oleh guratan itu, melainkan oleh racun di kuku Twa-lo-mo. Pendekar ini menggigil menahan rasa dingin, senjatanya sebuah cakar garuda menyambar mengelilingi lawan tapi selalu mental tertolak. Sinkang Twa-lo-mo memang hebat.
Ketika tombak di tangan Cu-ciangkun juga terpental bertemu tangkisan iblis ini, maka Twa-lo-mo terkekeh-kekeh mengejek lawannya itu.
"Kalian bukan tandinganku. Sebaiknya masing-masing dari kalian bunuh diri saja, Ciangkun. Setelah itu kukubur mayat kalian baik-baik!"
"Keparat, kami tak akan menyerah, Lo-mo. Kami tak akan bunuh diri dan justru akan membunuhmu!"
"Kalian mampu? Mana bisa? Ha ha, ini bukan permainan, Cu-ciangkun. Kalau begitu kalian akan menyesal, aku akan membunuh kalian secara perlahan-lahan. Lihat!"
Twa-lo-mo yang membentak menolak tombak tiba-tiba mengebut dan menangkis sambaran golok di tangan Sin-to Sam-enghiong, membuat tiga orang itu terpekik karena golok terlepas. Kiranya kali ini Twa-lo-mo menambah tenaganya, tak mau main-main lagi. Ketika lawan terhuyung dan dia tertawa, tahu-tahu Twa-lo-mo melejit mengguratkan sepuluh kuku jarinya.
"Awas....!" Hek-eng Taihiap berseru, memperingatkan tiga temannya karena Sin-to Sam-enghiong terbelalak. Mereka tertegun karena iblis itu berkelebat mengelilingi mereka, gerakannya cepat dan tiga kakak beradik ini tak dapat mengikutinya dengan pandangan mata. Cu-ciangkun juga berteriak menyambarkan tombaknya, menusuk punggung Twa-lo-mo yang terkekeh. Tapi karena kuku sudah terjulur dan Twa-lo-mo rupanya membiarkan punggung ditikam tombak, maka saat itu secara cepat dan tepat tiga laki-laki gagah ini terkena serangan Twa-lo-mo.
"Cret-cret-cret!" Sin-to Sam-enghiong berteriak tertahan. Mereka roboh terjungkal, leher yang terkena guratan mendadak bengkak. Tiga orang ini bergulingan sambil mendesis kesakitan. Rasa gatal dan dingin menusuk tulang, begitu menyiksa. Ketika mereka melompat bangun tapi kaki gemetar tak kuat menopang tubuh, mendadak tiga kakak beradik ini roboh kembali dan berteriak dengan muka kehijauan.
"Kalian keracunan, cepat telan pil ini...!" Hek-eng Taihiap melemparkan sebotol kecil obat, diri sendiri telah menelannya tiga butir sekaligus, mukanya tidak kehijauan tetapi pucat. Itulah sebabnya dapat bertahan meskipun tubuh juga menggigil, lebih baik daripada tiga temannya karena sinkangnya juga lebih kuat. Ketika Sin-to Sam-enghiong menyambar botol itu dan cepat menelan isinya, maka Twa-lo-mo tertawa di sana dengan senyum mengejek.
"Tiga tikus busuk, kalian tak dapat bertahan lama menerima guratan racunku. Dua jam kalian harus menelan obat kembali, setelah itu kalian kehabisan obat dan mati dengan tubuh berkelejotan, heh, heh!"
Sin-to Sam-enghiong tak peduli. Mereka telah bangkit lagi, tapi ketika merasa tenaga seakan dilolosi dan tak kuat mengangkat golok, maka di sana Cu-ciangkun ganti berteriak ketika lawan menggurat panglima ini. Hek-eng Taihiap semakin pucat, Sin-to Sam-enghiong juga pucat. Keadaan berbahaya untuk mereka. Dikeroyok enam tetap saja iblis itu lebih unggul. Ketika Twa-lo-mo mempermainkan lawan dan tertawa-tawa menangkis dan balas menyerang, maka di saat itulah Kim-mou-eng datang.
"Twa-lo-mo, kau benar-benar keji. Lepaskan mereka dan hadapilah aku!"
Kim-mou-eng tak tahan, melepas Bu-ciangkun dan meluncur ke bawah, langsung mendorong lengan kirinya menangkis pukulan iblis ini yang ditujukan pada Hek-eng Taihiap. Pendekar Garuda Hitam itu terhuyung roboh terduduk. Keadaan memang gawat. Begitu tangkisan bertemu pukulan, tiba-tiba Twa-lo-mo menjerit terlempar setombak.
"Dukk!" Iblis itu terhenyak melotot. Kim-mou-eng telah berdiri di depannya. Twa-lo-mo terkejut, tapi memekik melompat bangun dan mendadak iblis ini menerjang menghantam Kim-mou-eng.
"Plak - dukk!" Kim-mou-eng kembali menangkis, iblis cebol itu terpental dan lagi-lagi berteriak marah. Dua kali pukulannya tertolak pukulan lawan. Dia memang kalah kuat. Maka, sambil menjerit mencabut senjatanya, tiba-tiba iblis ini mengamuk menyerang Kim-mou-eng, kaki dan tangan bergerak kalang-kabut, kuku jarinya juga ikut terulur menggurat dan mencengkeram.
Kim-mou-eng menyuruh yang lain mundur. Dan karena iblis itu memang berbahaya tapi Kim-mou-eng tak takut menghadapi lawannya ini, maka Pendekar Rambut Emas itu sudah mengerahkan Tiat-lui-kang-nya dan menangkis serta balas menyerang. Twa-lo-mo memaki tak keruan, sungguh kaget dan gusar karena kehadiran pendekar itu di luar dugaannya. Dia tak tahu bahwa adiknya telah terluka bertempur dengan lawannya ini. Entah di mana sekarang Ji-lo-mo karena adiknya itu tak nampak. Ji-lo-mo sedang menyembuhkan lukanya di lain tempat. Ketika Twa-lo-mo menyerang tapi Pendekar Rambut Emas dapat menahan dan balas menyerangnya, tiba-tiba saja iblis ini mengumpat caci dengan mata melotot sebesar jengkol.
"Kim-mou-eng, kau manusia busuk. Keparat kau! Jahanam kau!"
Kim-mou-eng tak meladeni. Dia terus memperhatikan sabit di tangan lawan, menangkis dan menyerang mengandalkan Tiat-lui-kang-nya itu.