Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 164

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 164

Sama seperti Ji Lo-mo, dia pun berani menerima bacokan senjata tajam karena sinkangnya memberikan kekebalan. Sabit selalu mental menghantam tubuhnya, seolah mengenai bola karet. Twa Lo-mo berteriak-teriak dan marah bukan main. Namun, ketika pendekar itu merangsek maju dan lawan terbelalak, tiba-tiba saja Twa Lo-mo terdesak karena senjatanya tak mampu melukai lawan.

Saat itu, Tiat-lui-kang mulai menyambar tubuhnya dua kali, membuatnya mengeluh. Iblis ini berkaok-kaok merasakan sengatan dan menjerit tinggi. Panasnya Tiat-lui-kang seperti api neraka, begitu pedih dan menyakitkan. Karena Kim Mou-eng telah mengenal gaya permainan lawan dan tidak takut pada sabit yang mengerikan itu, akhirnya Twa Lo-mo balik terdesak dan kembali menerima tamparan Tiat-lui-kang. "Plak!" Iblis ini terpelanting bergulingan. Twa Lo-mo mendelik, menerjang lagi, tapi menerima pukulan lagi. Tergetar dan terhempas di tanah, ia memekik-mekik. Dia pun telah mengerahkan sinkangnya untuk menerima Tiat-lui-kang, namun tetap kalah kuat hingga dadanya terasa sesak.

Ketika iblis itu kebingungan memaki-maki, Ji Lo-mo tiba-tiba muncul berkelebat di samping saudaranya. "Suheng, pergi saja. Kim Mou-eng telah menggagalkan rencana kita!" Twa Lo-mo girang, tapi terkejut melihat adiknya batuk-batuk. "Kau kenapa? Kau bilang apa?" "Aku terluka, Suheng. Kita pergi saja dan tinggalkan rencana kita!" "Kau dilukai jahanam ini?" "Benar, dia melindungi Bu Ciangkun, Suheng. Kita pergi saja, bisa lain kali dilanjutkan." "Tidak. Kau bantu aku dan bunuh si Rambut Emas ini. Dia pun harus kita bunuh!" Twa Lo-mo yang menjerit penuh penasaran malah menerjang dan menyuruh adiknya membantu.

Ji Lo-mo terkejut karena sesungguhnya dia tidak dapat bertempur lagi; luka dalamnya menyesakkan dada. Baru saja dia bersamadhi menguatkan daya tahan, tapi karena kakaknya memaki-maki dan membentak untuk mengeroyok, akhirnya Ji Lo-mo maju lagi dengan perasaan gelisah. Apa yang dikatakan iblis ini memang benar, Kim Mou-eng tetap tangguh dikeroyok berdua. Jangankan berdua, dikeroyok bertiga bersama Mo-ong atau Bin-kwi pun, pendekar ini masih dapat menghadapi mereka. Kedudukan agak berimbang karena Kim Mou-eng memang hebat dan kesaktiannya luar biasa; dia adalah murid Bu-beng Siansu.

Kini, dikeroyok berdua saja padahal dia sudah terluka, kakaknya marah-marah karena tetap tak dapat mendesak. Bahkan, Ji Lo-mo terpelanting oleh sebuah pukulan Tiat-lui-kang hingga melontarkan darah segar dan jatuh terduduk. Kakaknya terkejut. Ketika Twa Lo-mo menjerit dan sadar akan bahaya, namun terlambat menyingkir, tiba-tiba sebuah pukulan petir mengenai lehernya. "Des...!" Iblis ini pun bergulingan dan melontarkan darah segar. Kim Mou-eng yang mengejar menyusul lagi tiba-tiba mendaratkan pukulan berikutnya ke pundak kakek itu. Twa Lo-mo berteriak dan kembali terguling-guling.

Tapi, ketika Pendekar Rambut Emas hendak merobohkannya dalam satu pukulan terakhir, mendadak iblis ini mencelat melompat bangun dan melarikan diri, menyambar adiknya yang juga terluka parah. "Kim Mou-eng, kami menyerah kalah. Tapi lain kali kami akan menebus utang ini!" Dua kakek iblis itu melarikan diri dan lenyap di balik kegelapan malam. Kim Mou-eng tak mengejar karena teman-temannya yang lain terluka.

Ketika suasana sepi kembali dan pertempuran usai, Cu Ciangkun yang terbelalak sudah terhuyung menghampiri pendekar ini. "Kim Taihiap, terima kasih. Kami benar-benar berhutang jiwa padamu!" "Ah, sudahlah. Terima kasih itu tak perlu diucapkan, Ciangkun. Ini memang kewajiban seorang pendekar. Kau sebaiknya menelan obat ini pula." Kim Mou-eng mengeluarkan pil hijau muda, memberikannya pada panglima itu dan yang lain secara berturut-turut. Bahkan, Kim Mou-eng menyalurkan sinkangnya pula untuk membantu yang terluka, mendorong dan mengusir keluar sisa racun dari tubuh semua orang. Tak ada yang tak terluka.

Ketika semuanya selesai dan Kim Mou-eng menghapus keringat, Sin-to Sam-enghiong yang menggigil ditolong pendekar ini tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut. "Kim Mou-eng, kami telah mendengar semuanya dari Hek-eng Taihiap. Terima kasih atas bantuanmu, dan maafkan kesalahan kami yang selama ini salah menuduh dirimu!" "Ah, sudahlah," Kim Mou-eng lagi-lagi tersenyum. "Aku tahu jalan pikiran kalian, Sam-wi Enghiong. Syukur kalau kalian mengerti. Aku tak mendendam atau sakit hati atas sikap kalian. Sekarang baiknya kita tanya pada Cu Ciangkun apa yang harus kita lakukan." Dua panglima Cu itu kagum. "Kami menyerahkannya saja padamu, Taihiap. Apa yang sebaiknya kita lakukan?" "Bagaimana kalau kita tengok keselamatan pangeran?" "Setuju, kami juga berpikiran begitu." Malam itu juga mereka lalu meninggalkan tempat itu menuju ke hutan di mana Pangeran Mahkota sedang berburu.

Mari kita ikuti sejenak perjalanan Salima yang ditugaskan untuk mengawasi Pangeran Mahkota. Sama seperti Kim Mou-eng, Salima tak sabar menunggu calon pembunuh yang akan membunuh Pangeran Mahkota. Hari itu dia langsung ke hutan, Sin Kok dan Hwi Ling mengikuti di belakangnya. Tapi karena dua kakak beradik ini memiliki kepandaian jauh di bawah Salima, maka Salima sudah mendahului memasuki hutan di mana Pangeran Mahkota siap melakukan perburuannya. Pangeran ini ditemani Fung Miao, gadis cantik yang pandai menyanyi dan pemain musik. Salima melihat pangeran ini dikelilingi banyak pengawal yang tegap dan gesit. Sebuah kerangkeng terletak di tengah hutan itu dan kemah pun didirikan untuk sang pangeran.

Empat pengawal berbaju bintang kelihatan menjaga, wajah mereka gagah. Itulah empat Busu (jagoan istana) yang memimpin pengawal-pengawal lain. Mereka terkenal dengan sebutan Seng-busu (Pengawal Bintang), pandai berkuda dan memiliki ilmu silat tinggi. Mereka termasuk jagoan kelas satu di kelompok perwira karena setara dengan panglima muda yang menjaga keselamatan kaisar dan puteranya. Tentu saja mereka adalah orang pilihan dan cukup diandalkan.

Pangeran Mahkota sendiri di dalam kemah masih beristirahat saat perburuan belum tiba. Suara musik dan nyanyian terdengar lirih di dalam kemah itu; sang pangeran sedang dihibur Fung Miao. Ketika pengawal yang lain sibuk mencari buruan untuk digiring ke tempat itu, empat Pengawal Bintang berjaga dengan mata tidak berkedip. Salima mendongkol. Orang besar memang begitu; sementara yang lain menjaga keselamatannya, yang bersangkutan sendiri bersenang-senang mencari hiburan. Salima sebal. Kalau saja bukan karena Suheng-nya, tentu tak sudi ia di sini. Lebih baik membiarkan pangeran itu mampus dan dia menemani Suheng-nya.

Tapi ketika ia melepas kedongkolan dengan berbaring di atas pohon, mendadak seorang pengawal berteriak nyaring, "Seng-busu, buruan telah digiring datang!" Empat pengawal melompat sigap. Yang lain serentak ribut, masing-masing mendapat perintah agar bersiap di tempat. Kerangkeng dibuka pintunya dan Salima mendengar raungan menggetarkan yang mengguncang tanah. Rupanya seekor singa. Persis Seng-busu memberi tahu junjungannya, muncul seekor singa menyeramkan yang berlari-lari perlahan, berputar-putar, dan mencari tempat keluar. Binatang buas itu digebah untuk lebih ke tengah lagi; inilah perburuan yang menyeramkan.

Salima terbelalak. Ketika suara manusia itu mengganggu singa ini dan singa jantan itu berhenti di tengah, mendadak pangeran muncul dengan panah di tangan. "Biarkan di situ. Jangan ganggu dengan sorakan lagi!" Singa itu mengaum. Sekarang dia terkurung, matanya yang kuning kemerahan tampak buas, mulut dibuka, dan taringnya tampak besar dengan gigi mengerikan. Sekali caplok mungkin sebuah kepala bisa masuk. Hewan ini panjang sekali, tak kurang dari dua meter. Sang pangeran yang tersenyum menentang gendewanya tiba-tiba berkata pada empat pengawalnya, "Seng-busu, jaga arah utara dan selatan. Dua di antara kalian melindungiku."

Dua pengawal bergerak seperti yang dimaksud. Mereka memecah diri, dua menghadang arah utara dan selatan sementara dua yang lain lagi menjaga sang pangeran. Singa didekati dan Pangeran Mahkota tampak gembira. Salima mau tak mau menjadi kagum juga akan keberanian pangeran ini; meskipun dilindungi, langkahnya yang pasti dan tetap menunjukkan kepercayaan dirinya. Sikap yang gagah. Ketika pangeran menarik busurnya membidik ke depan, tiba-tiba singa yang tertegun dan buas itu dipanah kakinya. "Wut!" Gendewa bergetar. Anak panah dijepret lepas dari busurnya, demikian cepat dan kuat hingga merupakan setitik cahaya putih meluncur ke depan.

Ketika anak panah itu berhenti dan menancap di kaki belakang singa itu, sekonyong-konyong hewan buas ini mengaum terkejut, marah, dan kaget, lalu tiba-tiba melonjak melompat tinggi menerjang Pangeran Mahkota. Nalurinya yang tajam memberitahukan bahwa itulah musuhnya. Begitu singa ini bergerak melompat tinggi, mulutnya yang terbuka mengaum menubruk Pangeran Mahkota. "Awas, Pangeran....!" dua Busu di sebelahnya memperingatkan, melindungi pangeran itu melompat ke depan, menyambut terkaman, tapi sang pangeran membentak mereka, menyuruh mereka minggir. Dalam keadaan yang cepat itu, ia menarik panah kedua dan menjepretkan busurnya. Ketika singa melompat dan raung menyeramkan itu menggetarkan suasana, sang pangeran membanting tubuh bergulingan setelah panah kedua meluncur. "Cep!" Singa itu pun memekik. Kaki depannya kena, singa itu terperosok dengan suara berdebuk. Tubuhnya yang berat membuat binatang ini kesakitan, seketika pincang dan mengaum-aum. Namun, ketika dia berdiri lagi dan para pengawal bersorak, mendadak singa ini menerjang dan kembali menubruk Pangeran Mahkota.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment