Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 165

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 165

"Awas, Pangeran!" Teriakan kedua itu menyusul. Dua pengawal segera melompat ke dekat junjungannya.

Sang Pangeran gembira, tetapi tidak ingin dilindungi. Kali ini, anak panah ketiga sudah disiapkan dan melesat kembali. Pangeran Mahkota itu rupanya ahli memanah. Namun, ketika binatang itu menangkis dengan kaki depannya hingga panah bengkok mengenai kakinya, tiba-tiba ia sudah menerkam dan sampai di depan hidung sang Pangeran Mahkota.

"Hei!" empat Pengawal Bintang berteriak kaget. Dua yang berada di dekat Pangeran tiba-tiba berkelebat. Mereka bergerak cepat menabrak badan binatang itu, bahkan salah satunya berhasil menangkap ekornya. Tepat saat Pangeran menyabetkan gendewanya, tubuh binatang itu tertabrak hingga jatuh berguling bersama Pangeran dan dua pengawal gagah itu.

"Bress!" Tiga manusia dan binatang buruan itu tumpang tindih. Pangeran dan pengawalnya terkejut, singa itu pun sama terkejutnya. Namun, sang Pangeran segera menjauh. Dua pengawalnya membentak sambil menendang singa itu hingga berguling, lalu melompat bangun dibantu dua temannya yang lain. Masing-masing bersiap kembali. Singa itu mengaum hingga suaranya menggetarkan hutan, bangkit, mengibas ekor, lalu menubruk lagi. Kali ini, ia menyambar dua pengawal yang tadi menabrak badannya, namun serangan itu dielak dan ia dipermainkan seolah-olah sedang menghadapi seekor kucing jinak.

Para pengawal bersorak melihat sang Pangeran selamat. Ketegangan tadi hampir menghentikan denyut jantung mereka. Namun, ketika singa itu menubruk sana-sini dan terus dipermainkan oleh empat Pengawal Bintang yang mengepungnya, tiba-tiba sang Pangeran berteriak, "Kosongkan sebelah kiri, Seng-busu! Aku hendak membidik dua kakinya!"

Dua pengawal di sebelah kiri mengangguk dan menyingkir, sementara dua temannya di sebelah kanan tetap bekerja. Ketika tempat itu kosong dan Pangeran membidikkan dua panahnya secara serentak, tiba-tiba singa itu roboh karena dua kakinya tertancap mata panah yang tajam.

"Cep! Cep!" Singa itu meraung tinggi. Ia roboh terguling. Dua pengawal di sebelah kanan menggerakkan jala dengan tangkas. Ketika singa itu menggeram dan meronta, kepalanya sudah tertakup jala yang menjirat lehernya.

"Ha-ha, jangan terlampau keras, Seng-busu. Tarik dan masukkan dia ke dalam kerangkeng!" perintah Pangeran. Pengawal di depan mengangguk. Salah satu dari empat Pengawal Bintang tertawa. Singa itu mencakar-cakar, tetapi kepalanya tidak dapat dikeluarkan. Terjadi adu otot antara pengawal ini dengan binatang buas tersebut. Meski keempat kaki singa masih bebas, ia tetap tertarik dan terus diseret mendekati kerangkeng.

Pengawal lainnya bersorak-sorak melihat pertunjukan itu. Salima kagum melihat tenaga luar biasa pengawal tersebut; memang hebat dan kuat. Ketika singa itu mencoba menahan tetapi terus terseret sambil menggeram ketakutan, pengawal ini menendang tubuhnya hingga masuk ke mulut kerangkeng, sekaligus membuka kembali jeratan jala di kepala binatang itu.

"Brukk!" Singa itu kesakitan. Pengawal menutup kembali pintu kerangkeng sambil tertawa, disambut tepuk sorak pengawal-pengawal yang lain. Pangeran sendiri tampak girang dan membersihkan busurnya. Ia memuji empat Pengawal Bintang, begitu pula sebaliknya; mereka memuji Pangeran atas bidikannya yang tepat dan tak pernah meleset.

Namun, ketika mereka beramai-ramai menonton singa itu dan puas memandang hasil buruan, mendadak raung dan geraman binatang buas lain terdengar di mana-mana. Disusul munculnya tiga puluh lebih harimau belang dan singa besar-kecil yang mengepung, membuat para pengawal dan Pangeran terkejut. Jumlah itu terlampau banyak dan sungguh tak diduga; mungkin anak buah singa yang tertangkap itu.

Ketika binatang-binatang itu maju melompat dengan gigi-gigi besar yang tampak di mulut terbuka, puluhan binatang buas tersebut menyerbu ke arah pengawal dan Pangeran yang berada di dekat kerangkeng!

"Heii... Awas!" Pengawal dan Pangeran menjadi panik. Mereka tidak tahu dari mana datangnya binatang-binatang buas ini, yang jumlahnya hampir sama dengan kelompok mereka. Para pengawal menggerakkan tombak dan golok mereka. Ketika raung dan pekik kesakitan terdengar di sana-sini, tiba-tiba lima ekor harimau dan tiga singa betina menabrak empat Pengawal Bintang dan sang Pangeran Mahkota.

"Des! Des! Dess!" Empat pengawal melindungi Pangeran Mahkota, menangkis dan membentak sambil menghantam delapan hewan buas yang menyerang mereka. Pangeran berada di tengah. Ketika binatang itu terpelanting namun roboh kembali, Pangeran yang sudah melepas panahnya membidik salah satu di antara mereka, kena, dan seekor harimau terjungkal tewas karena bidikan tepat di tenggorokannya. Ia tidak lagi main-main seperti menghadapi singa yang tertangkap tadi, melainkan bersungguh-sungguh untuk membunuh.

Ketika mereka diserang lagi, Pangeran kembali melepas panahnya hingga dua hewan buas terjungkal berturut-turut sampai delapan binatang roboh. Namun, ketika Pengawal Bintang mengusap keringat dan Pangeran mengusap gendewanya, mendadak sepuluh singa baru datang menerjang!

"Ah, ini tidak beres!" sang Pangeran terkejut. Empat Pengawal Bintang juga terbelalak dan pucat memandang binatang-binatang buas itu. Anak buah mereka yang lain masih berteriak-teriak menghadapi serangan binatang yang datang pertama, yang jumlahnya masih dua puluh ekor. Karena binatang-binatang baru terus berdatangan dan mengaum ke arah mereka, empat Pengawal Bintang ini mencabut senjata dan membabat hewan-hewan buas tersebut.

"Pangeran, Paduka masuk ke dalam. Biar hamba berempat yang menghadapi binatang-binatang ini!"

"Tidak," Pangeran Mahkota menolak. "Aku tak mau berpangku tangan, Seng-busu. Rupanya binatang-binatang ini dikendalikan seseorang!"

"Tapi Paduka menghadapi bahaya. Hamba tak mau Paduka celaka!"

"Ah, berburu memang mengandung bahaya, Seng-busu. Siapa tak tahu ini? Kalian jangan ribut mulut saja. Ayo hajar dan bunuh binatang-binatang ini!" Sang Pangeran sudah membidikkan panahnya; satu-dua serangan dilepaskan dan beberapa ekor singa roboh. Yang lain mengaum marah pada Pangeran dan mencoba menubruk, namun Seng-busu melindungi.

Ketika para pengawal sedang sibuk dan binatang buas itu terus bertambah, tiba-tiba belasan pemuda tegap menyeruak dari balik tanaman perdu membantu para pengawal. "Pangeran, kami dari Seng-piauw-pang datang membantu. Tak perlu khawatir!" Pisau-pisau terbang mulai berhamburan, tujuh singa roboh terpekik menerima sambaran senjata rahasia ini. Para pengawal bersorak gembira karena bantuan datang.

Namun, Seng-busu dan Pangeran Mahkota yang sedang menghalau dan membunuh singa lain tiba-tiba terkejut ketika panah dan golok mereka tertangkis sinar hitam. Anak panah yang ditarik di busur Pangeran Mahkota malah runtuh sebelum terlepas; singa-singa itu dilindungi seseorang. Ketika dua dari empat Pengawal Bintang terbelalak diterkam harimau, sekonyong-konyong golok mereka mencelat dan sesosok bayangan tertawa bergelak menyambar empat orang ini.

"Seng-busu, kalian mampuslah... des! Plak! Plak!" Empat orang itu tunggang langgang, dua terluka lengannya dicakar harimau belang. Tentu saja mereka kaget dan bergulingan menjauh untuk menyelamatkan diri. Bayangan yang baru datang itu menggerak-gerakkan lengannya pula, meruntuhkan pisau-pisau terbang dari pemuda Seng-piauw-pang. Di tangannya tersimpan puluhan kerikil hitam yang dipakai menangkis pisau-pisau terbang itu.

Ketika empat pengawal melompat bangun dan anak buah Seng-piauw-pang juga berteriak kaget, harimau serta puluhan singa yang dilindungi bayangan ini sudah bergerak lagi menerjang mereka.

"Hei! Ah!" Pangeran Mahkota tertegun. Ia melihat lima pemuda roboh diterkam singa; mereka bergulat menentang maut. Tangan dan kaki mereka berhadapan dengan taring dan kuku singa yang tajam. Namun, ketika lima kerikil hitam meluncur dari jauh dan lima pemuda ini terkejut hingga tak dapat menggerakkan tubuh, sekonyong-konyong jerit mengerikan terdengar. Lima pemuda itu terobek-robek, tubuh mereka koyak menjadi beberapa potong oleh taring dan kuku yang tajam.

Ketika darah menyemprot dan tangan serta kaki putus dirobek binatang buas, bayangan seorang laki-laki berkedok itu terbahak dan menyambar Pangeran Mahkota. Persis saat itu, di dalam kemah, jerit Fung Miao juga terdengar.

"Aih!" Pangeran Mahkota menggerakkan busurnya. Lawan disambut dengan hantaman gendewa. Empat Pengawal Bintang juga membentak menerjang bayangan itu, tak menghiraukan lima hewan buas yang menerkam punggung mereka. Ketika bayangan itu membalik dan lengan kirinya mengibas sementara lengan kanannya mencengkeram Pangeran Mahkota, empat pengawal ini memekik, sementara gendewa di tangan Pangeran Mahkota hancur terkena lengan bayangan itu.

"Des! Des! Krak!" Keadaan sungguh mengejutkan. Empat pengawal terbanting bergulingan, punggung mereka pun robek dicakar harimau. Pangeran Mahkota tertangkap dan berteriak. Bayangan itu menarik dan menghentak sang Pangeran, lalu melemparnya ke arah sekumpulan singa. Tentu saja Pangeran Mahkota kaget bukan main dan terpekik ngeri. Bayangan itu tertawa bergelak, mengira sang Pangeran akan tewas diterkam singa-singa buas itu.

Namun, persis saat Pangeran roboh terbanting di tengah kerumunan binatang-binatang itu, sekonyong-konyong sebuah bayangan lain berkelebat, membentak, dan menyambar tubuh Pangeran tersebut. Lima ekor singa yang mengaum ditendang mencelat dengan gerakan cepat dan luar biasa tangkas. Ketika sang Pangeran tertegun tak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu tubuhnya serasa dibawa melayang ke atas dan hinggap di atas sebatang dahan.

"Pangeran, kau tenanglah di sini."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment