Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 166

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 166

"Biar kuhajar manusia busuk itu!" Putra mahkota bengong. Sekarang dia sadar duduk di atas sebuah pohon yang tinggi, begitu tinggi sehingga dia ngeri memandang ke bawah. Tempat itu paling aman. Dia melihat seorang gadis cantik meluncur ke bawah, menyerang bayangan itu. Gadis yang menolongnya dari perbuatan manusia jahat itu tidak lain adalah Salima, *sumoi* dari Kim-mou-eng.

Ketika sang pangeran tertegun dan laki-laki berkedok itu terkejut melihat kedatangan gadis tersebut, Salima sudah mengepretkan jari-jarinya memainkan *Tiat-lui-kang*. "Manusia busuk, kau sekarang harus membuka kedokmu untuk dilihat siapa dirimu!"

Salima menerjang tanpa menunda waktu lagi, bergerak dari tempat persembunyiannya setelah melihat bahaya yang mengancam putra mahkota. Dia tentu saja marah karena melihat pangeran dan para pengawalnya terdesak. Sang pembunuh telah datang. Ketika Salima melengking dan pukulan serta tamparannya meledak bertubi-tubi, bayangan berkedok itu mengeluh dan berteriak mundur. Dia tidak menduga kedatangan gadis Tar-tar itu. *Tiat-lui-kang* yang meledak membuatnya kewalahan. Ketika dia menangkis dan mencelat setombak, dia memaki-maki dengan sikap gusar.

"Tiat-ciang Sian-li, kenapa kau mencampuri urusan orang? Tidak adakah pekerjaan lain untukmu hingga mengganggu di sini?"

"Cerewet! Aku memang telah menunggumu, manusia busuk. Kalau bukan karena *suheng*-ku, tentu aku tak ada di sini. Kau mau membunuh putra mahkota, aku harus menghajarmu dan menangkapmu!"

"Keparat! Kalau begitu kau wanita usil. Kubunuh kau!" Bayangan itu membalas, tiba-tiba mencabut senjata berupa suling dan tongkat bercagak, lalu membalik dan menerjang Salima.

*Tiat-lui-kang* sejenak ditahan. Salima terkejut karena orang tersebut memiliki kepandaian yang cukup tinggi. *Sinkang*-nya hebat hingga mampu menahan serangannya. Beberapa jurus mereka bertempur dengan ramai. Suling mengaung dan tongkat menderu. Namun, ketika Salima menggerakkan lengan kirinya pula untuk melepas pukulan-pukulan berbahaya, orang ini terkejut ketika suling dan tongkatnya ditangkis dengan tangan telanjang. Salima mengerahkan *Tiat-lui-kang* (Tenaga Petir) hingga suling hancur dan tongkat pun remuk ujungnya. Lawannya tentu saja marah dan kaget karena gadis itu ternyata lebih kuat.

Ketika Salima mendesak dan kembali menekannya dengan pukulan Petir, sementara tangan kiri gadis itu masih menangkis serangan tongkatnya, mendadak laki-laki ini memencet sesuatu di batang tongkatnya hingga lima jarum hitam melesat menyambar Salima dari jarak yang cukup dekat.

"Wut, wut, wut!" Salima membelalakkan mata. Ia melihat serangan-serangan gelap itu; orang tersebut rupanya curang. Namun, sambil mengerahkan *khikang* (tenaga hawa mulut), Salima tiba-tiba membentak dan meruntuhkan jarum-jarum itu.

"Kau rupanya iblis. Pantas kalau curang!"

Laki-laki itu terbelalak. Dia kaget melihat jarum-jarumnya runtuh. Dia melepas lagi, tapi tetap runtuh ditiup Salima. Gadis ini memang hebat. Setelah empat atau lima kali melepaskan jarum tetapi selalu gagal, laki-laki ini mulai berusaha melarikan diri. Matanya meliar ke kiri dan ke kanan, melihat pertarungan para pengawal dengan binatang-binatang buas yang juga hampir berakhir. Dua muda-mudi tiba-tiba muncul membantu para pengawal dan pemuda Seng-piauw-pang. Itulah Sin Kok dan Hwi Ling.

Ketika Salima mendesak dan lawan terus mundur, untuk pertama kalinya pukulan *Tiat-lui-kang* mengenai tengkuk laki-laki itu. "Plak!" Laki-laki ini terbanting. Dia mengeluh tapi tidak roboh; ia bergulingan menjauh dan melompat bangun lagi. Salima terbelalak karena lawannya ternyata kuat. Orang lain tentu sudah kelenger menerima pukulannya itu.

Ketika dua-tiga kali pukulannya kembali menyambar tapi laki-laki ini tidak roboh, Salima menjadi gemas sementara lawannya tertawa sumbang karena gentar. "Tiat-ciang Sian-li, tanganmu terlalu empuk. Pukulanmu kurang keras!"

Orang itu masih mencoba mengejek. Salima marah dan melengking tinggi. Kali ini ia berkelebat mendorong dua tangannya sekaligus. Laki-laki itu terpental dan berteriak tertahan, terbanting dan berdebuk di sana. Kali ini dia terluka; bibirnya mengalirkan darah. Salima girang dan membentak lagi, dua tangannya kembali bergerak. Namun, ketika ia melesat melepas pukulan, mendadak laki-laki ini menyambitkan tongkatnya dan melompat bangun untuk melarikan diri.

"Krak!" Salima marah. Tongkat hancur bertemu pukulannya, tertahan sejenak, dan ia melihat laki-laki itu menyelinap di balik pohon-pohon besar sambil mendekap dadanya. Namun, Salima yang sudah memekik segera mengejar dan berjungkir balik di atas kepala orang itu.

"Kau mau lari ke mana?" Salima mencabut benderanya, langsung mengebut hingga pandangan laki-laki itu terhalang. Salima penasaran karena laki-laki itu masih belum diketahui identitasnya, kedok masih melekat, dan Salima sudah mengincar wajahnya. Ketika laki-laki itu terkejut dan mengelak dengan menjatuhkan diri, saat itu secepat kilat Salima bergerak merenggut kedoknya. Suaranya serasa sudah dikenal.

"Bret!" Salima dan beberapa pengawal melihat siapa laki-laki itu. Putra mahkota yang ada di atas pohon melihat dengan lebih jelas lagi. Seorang laki-laki berkumis dengan hidung mancung, cukup tampan, tapi bola matanya liar. Itulah laki-laki yang dikenal Salima ketika pertama kali bertemu di perkumpulan Seng-piauw-pang. Salima tertegun dan laki-laki itu berteriak kaget. Ketika dia bergulingan menjauh dan pengawal melihat siapa laki-laki ini, yang mengenalnya langsung berseru tertahan, "Yu-busu (pengawal Yu)..."

Putra mahkota dan empat Pengawal Bintang terbelalak. Mereka melihat bahwa laki-laki itu memang tidak lain adalah Yu-busu, pengawal pribadi ibunda selir yang diketahui cerdik dan berkepandaian tinggi. Kita mengenalnya sebagai *sute* Coa-ong Tok-kwi pula. Tentu saja Salima tertegun dan yang lain-lain terkejut.

Namun, ketika semua orang terdiam karena mengenalnya, laki-laki ini—Yu Hak—melepas senjata terakhirnya berupa granat tangan. Dia menyesal kenapa tidak sedari tadi mempergunakan senjata peledaknya itu. Orang sudah terlanjur mengetahui siapa dia. Laki-laki ini menggeram, marah bukan main pada Salima yang menjadi penyebabnya. Begitu tangannya bergerak, tiga granat sekaligus dilempar ke arah gadis itu dan orang-orang lain.

"Awas..!" Salima sadar, berteriak tinggi dan berjungkir balik menangkap sebuah granat yang dilontar ke arahnya. Geraknya begitu cepat hingga granat itu tak sempat menyentuh tanah, sementara dua yang lain sudah meledak menghamburkan debu dan asap. Salima melihat laki-laki itu bergerak ke arah timur. Begitu ia membentak dan menimpuk granat yang dipegangnya, Salima melemparkan kembali benda berbahaya itu ke arah pemiliknya.

"Dar!" Asap mengepul. Laki-laki itu terpental, mengaduh, dan lenyap tertelan gumpalan awan tebal. Salima buru-buru mengejar ke tempat itu untuk mencegah lawan lolos. Namun, ketika asap menipis dan ia dapat melihat ke dalam, ternyata laki-laki itu sudah tidak ada.

"Keparat! Dia licin bagaikan belut. Siluman!"

Orang-orang sudah mendatangi tempat itu pula. Seng-busu melihat bahwa tempat itu kosong; orang tersebut memang telah pergi. Ketika mereka mencari namun gagal, putra mahkota yang ada di atas pohon melorot turun sambil berteriak-teriak. "Hei, kalian jangan tertipu! Ini tentu akal siluman betina ini!"

Salima terkejut. Putra mahkota menuding dirinya dengan marah. Ketika Salima bertanya apa maksud pangeran itu, pangeran tersebut berkerot gigi dan mengepal tinju. "Gadis liar, kau tentu berkomplot dengan orang she Yu itu. Jangan kau menipu kami dengan pertolonganmu yang pura-pura ini!"

Salima kaget. "Apa maksud Paduka?"

"Tak perlu pura-pura. Aku tahu kau meloloskan temanmu, Tiat-ciang Sian-li. Kau tak perlu mungkir bahwa entah dengan maksud apa kau mendalangi semua peristiwa ini. Kau gadis liar, aku tak percaya pada maksud baikmu. Lebih baik menyerah dan sekarang kau kutangkap! Hei pengawal, tangkap dan ringkus gadis ini!" Pangeran itu mencak-mencak, marah melihat belasan pengawalnya roboh terluka dan tujuh di antaranya terbunuh. Dia menganggap itu muslihat Salima belaka yang pura-pura menolong.

Sungguh Salima marah dituduh seperti ini. Kiranya pangeran itu terhasut demikian dalam oleh Siauw-ongya hingga bersikap apriori pada gadis ini. Baik atau tidak baik, Salima tetap dianggap tidak baik. Gadis Tar-tar yang selalu mengacau! Salima yang marah diperlakukan seperti itu tiba-tiba berkelebat mencekik pangeran itu!

"Pangeran busuk, kau kiranya manusia tak berjantung. Kubunuh kau!"

Salima sudah membentak dan menerkam pangeran itu, namun tiba-tiba berhadapan dengan empat batang tombak yang dijulurkan empat Pengawal Bintang. "Mundur!" Seng-busu menghardik untuk melindungi pangeran itu. Salima ditusuk empat tombak panjang, namun ia mengibas dan menggerakkan tangannya ke sana kemari hingga tombak-tombak itu patah dan lepas dari tangan pemiliknya.

"Plak, plak, plak!" Salima sudah meneruskan gerakannya; empat *busu* itu terpekik dan roboh terlempar. Namun, ketika gadis ini hampir menangkap pangeran itu untuk mencekik lehernya, tiba-tiba Sin Kok berkelebat maju dan berteriak gugup, "Benar, Pangeran!"

Pemuda-pemuda itu menjatuhkan diri berlutut. "Yang mengajak kami kemari adalah Tiat-ciang-lihiap ini. Kami datang untuk menolong Paduka di samping hendak membalaskan kematian guru kami!"

"Dan Paduka boleh bertanya pada Cu-ciangkun atau Bu-ciangkun, Pangeran," Sin Kok menyambung. "Karena mereka juga diancam pembunuhan yang sama seperti Paduka ini. Tiat-ciang-lihiap memang tidak bersalah. Paduka selama ini terhasut orang lain!"

"Hm!" Pangeran masih ragu-ragu. "Dapatkah kupercaya omonganmu ini, Saudara Sin Kok? Bagaimana kalau kalian yang justru tertipu?"

"Tidak, kami tidak tertipu, Pangeran."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment