Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 169

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 169

Dua pihak sama-sama dibakar emosi. Ketika sang ibu mendelik dan gemetar meremas lengan kursi, pangeran itu berkata melampiaskan kekesalannya.

"Ibu, maafkan aku. Aku telah mendengar riwayat hidupmu di masa lalu. Betapapun, bau busuk tak dapat disembunyikan, bukan? Aku tak dapat menerima makianmu terhadap Wan Cu, Ibu. Kalau kau tak suka padanya, tak usah kau memaki. Besok aku akan keluar kota!"

Sang ibu berdiri, menggigil penuh kemarahan. "Kau melawan keputusan ibumu?"

"Bukan keputusan, Ibu, melainkan keinginan. Kau hanya ingin memisahkan aku dari Wan Cu, tapi keputusan terletak di tanganku. Wan Cu tetap tak dapat kau pisahkan dariku. Aku mencintainya!"

"Kalau begitu, pilih salah satu. Kau mencintai wanita itu atau ibumu!"

Sien Nio mendadak mengambil badik, pisau tajam yang ujungnya sedikit melengkung. Sementara Pangeran Muda tertegun, ibu yang marah ini berseru, "Pangeran, kau tentukan jalan hidupmu dengan pisau ini. Bunuhlah ibumu kalau kau tak dapat meninggalkan kekasihmu itu!"

Pisau bergoyang di atas meja; selir kaisar ini menancapkannya dengan kemarahan yang membuat putranya terkejut. Pangeran Muda tersentak. Wan Cu, yang melihat semuanya dari atas, tidak dapat menahan air matanya; ia menangis deras namun mulutnya tak dapat berkata-kata. Salima menotoknya; gadis ini mengenakan kedok, sementara suheng-nya juga begitu agar tidak dikenal. Dua orang ini pun tegang di atas genting.

Keadaan memang amat menentukan bagi pangeran itu, termasuk bagi Wan Cu, orang yang menjadi pokok pembicaraan. Ketika sang pangeran terhenyak dan ibunya merenggangkan kaki dengan air mata bercucuran, tiba-tiba Pangeran Muda mengeluh dan menubruk ibunya.

"Ibu, kenapa harus begini? Kenapa kau menyusahkan aku?"

"Tidak, bukan aku yang menyusahkan kau, Pangeran. Melainkan kaulah yang menyusahkan ibumu. Rencana kerja kita bisa hancur berantakan gara-gara kebodohanmu. Sekarang, pilihlah satu di antara dua: kau tetap dengan ibumu dan meninggalkan wanita itu, atau kau bunuh ibumu dan silakan bergaul dengan Wan Cu!"

Sang pangeran menangis. Sekarang dia terjepit oleh keadaan. Bagaimanapun, ibunya adalah wanita yang membesarkan dirinya dengan segala suka duka. Kedudukan yang ia peroleh adalah atas jasa wanita tua ini. Pangeran Muda hancur. Ketika ibunya mengulang agar ia meninggalkan Wan Cu atau membunuh ibunya, mendadak pemuda ini mengguguk memeluk ibunya.

"Ibu, ampunkanlah aku. Aku akan memenuhi permintaanmu. Aku tak dapat membunuhmu dan akan meninggalkan Wan Cu!"

"Kau berjanji?"

"Aku berjanji, Ibu. Tapi mohon dengan sangat, biarlah untuk sisa-sisa terakhir ini kau perkenankan aku menghubungi Wan Cu seperti biasa."

"Baik, dan kelak kekasihmu itu harus kau serahkan pada raksasa Tartar itu, Pangeran. Kalau kau menarik janjimu, maka sumpah demi iblis, aku akan membunuh wanita itu dengan segala cara!"

"Tidak... tidak, jangan, Ibu, aku bersumpah!"

Ibu dan anak yang berpelukan serta menangis penuh haru itu akhirnya membuat Wan Cu pingsan di atas sana. Wanita cantik ini tak dapat menahan dirinya lagi. Kebenciannya terhadap Bunda Selir bukan main besarnya. Wan Cu terpukul hebat. Ketika Salima mengembalikannya dan membiarkan Wan Cu bersikap menurut keinginannya sendiri, sejak malam itu terjadi perubahan besar-besaran di dalam diri wanita cantik ini.

Wan Cu masih menyambut kekasihnya dengan biasa, hanya mukanya sedikit murung. Pergolakan hebat terjadi di hati wanita ini. Sekarang, ia tahu bahwa betapa pun besar kekasihnya mencintai dirinya, kekasihnya telah tertekan oleh kemauan ibundanya sendiri. Wan Cu terseret dua arah. Di satu pihak, dia melihat kekasihnya sebenarnya masih amat mencintainya, tapi di lain pihak, kekasihnya dibuat tak berdaya oleh ibunya. Terpikir olehnya untuk membunuh Bunda Selir itu. Benci hatinya melihat ia benar-benar akan diserahkan pada Gurba sementara kekasihnya tak dapat menolong.

Ketika hari demi hari membuat Wan Cu digerogoti tekanan batin dan bingung menentukan jalan yang harus ditempuh, tak lama kemudian wanita ini jatuh sakit. Pangeran Muda khawatir. Wan Cu tak dapat lagi membantu mereka; keadaan membuat pangeran ini bergerak sendirian—tentu saja sang ibu masih berdiri di belakang layar. Wan Cu patah semangat. Hampir wanita ini bunuh diri di suatu malam, tapi teringat betapa enaknya Bunda Selir kalau ia mati mendadak, Wan Cu mengurungkan niatnya. Tidak, ia harus membalas. Sakit hatinya tak dapat ditebus dengan bunuh diri. Justru kalau ia hendak melenyapkan sakit hatinya, Bunda Selir-lah yang harus dibunuh.

Ketika Wan Cu sadar dan dendam mulai membara, ia mulai mencari akal bagaimana caranya membunuh ibu kekasihnya itu. Hal ini mulai meretakkan kerja sama. Kalau tokoh-tokoh yang bersangkutan bertikai sendiri, mana mungkin sebuah keutuhan terjaga? Begitulah, Wan Cu mulai mencari-cari cara. Dia sudah mempertimbangkan bahwa Gurba-lah yang cocok dimintai tolong. Raksasa tinggi besar itu akan melakukan segala-galanya untuknya. Wan Cu beringas.

Pangeran Muda masih menggaulinya di waktu-waktu senggang. Kekasihnya itu memang mencintainya dan Wan Cu merasakan benar kasih sayang pangeran ini, yang sayangnya agak terganjal oleh ancaman ibunya sendiri. Sering kekasihnya itu termenung di tempat-tempat tertentu. Ketika Wan Cu sakit dan Pangeran Muda terpaksa aktif sendiri menyusun siasat, pertemuan-pertemuan penting mulai sering diadakan pangeran ini bersama pembantu-pembantunya, termasuk yang di Telaga Poyang, juga di tempat-tempat lain, sementara Gurba mulai melakukan serangan. Mereka juga akan menusuk dari dalam, menunggu waktu yang tepat.

Tapi ketika keadaan mulai menuju pada puncaknya dan bangsa Tartar kian mendekati Kota Raja dalam usahanya melaksanakan perintah Pangeran Muda, mendadak Wan Cu ditangkap saat pangeran itu tak ada di istana. Hal itulah yang didengar Gurba. Apa yang terjadi?

Kiranya semalam Wan Cu mengambil keputusan nekat. Seminggu ini kekasihnya tak muncul. Wan Cu tak tahu bahwa Pangeran Muda saat itu berada di Telaga Poyang, mengira kekasihnya mulai menjauh atas perintah Bunda Selir. Dugaan yang sudah didasari api kebencian begini memang mudah meletup. Hampir dua bulan ini Wan Cu menahan-nahan sakit hatinya. Maka ketika dia terbaring sakit dan sang kekasih tak kunjung menengok, tiba-tiba saja hari itu dengan tertatih-tatih, Wan Cu mencari Pangeran Mahkota.

Sang pangeran terkejut. "Ada apa, Wan Cu?"

Wan Cu terisak. "Hamba... hamba hendak menyerahkan sesuatu, Pangeran. Hamba hendak melepas sakit hati..." Wan Cu terbatuk, hampir terguling dan cepat ditangkap pangeran ini. Sang pangeran terbelalak tak mengerti. Wan Cu terengah dan matanya terpejam. Pangeran Mahkota menyuruhnya duduk dan benar-benar heran oleh kedatangan wanita yang merupakan tokoh ketiga di dalam rencana pemberontakan ini, setelah Pangeran Muda dan Bunda Selir. Sang pangeran berdebar.

Ketika pangeran kembali bertanya dan curiga memandang wanita itu, Wan Cu tiba-tiba tersedu dan menangis menutupi mukanya. "Pangeran, hamba sakit. Hamba penasaran!"

"Ya, aku mendengar kau tak enak badan, Wan Cu. Kudengar kau memang sakit. Tapi kenapa ke sini? Dan kau tak diantar seorang pun. Mana Kanda Pangeran?"

"Hamba tak tahu, Pangeran. Tapi justru itulah yang membuat hamba ke mari. Hamba dikhianati. Hamba ditipu!"

Pangeran tersenyum, tentu saja tak gampang percaya. "Wan Cu, ceritakanlah dengan baik apa maksud kedatanganmu ini. Apa yang hendak kau serahkan padaku?"

"Paduka mau menyelamatkan hamba?"

"Ah, ada persoalan apa? Tampaknya serius!" Pangeran pura-pura terkejut, padahal di dalam hati ia mengejek wanita ini. Wan Cu dianggapnya sebagai wanita cerdik yang berbahaya, barangkali tak kalah dibanding Bunda Selir. Dia sudah mendengar dan mengetahui segala sesuatu tentang kekasih kakaknya ini. Kedatangan Wan Cu terang tak dipercaya begitu saja dan Pangeran Mahkota tersenyum sinis.

Tapi ketika Wan Cu menghentikan tangisnya, ia mengeluarkan sesuatu. "Pangeran, mohon ampun bila selama ini hamba bersikap tak jujur. Harap Paduka terima catatan yang mungkin dapat Paduka pergunakan untuk menangkap dan menghukum Bunda Selir!"

"Catatan apa?"

"Paduka baca saja, nanti Paduka tentu tahu."

Sang pangeran menerima, membuka, dan memulai membaca kitab kecil yang dibawa wanita ini. Ia terbelalak dan kaget karena itulah kitab catatan yang dulu dicari Kim Mou Eng. Isinya menunjukkan daftar nama pengikut kakak tirinya, sejumlah menteri dan pejabat istana yang akan membantu pemberontakan. Sang pangeran terhenyak; sebagian sudah diketahui lewat mulut Cu Thai Kam. Tapi kitab ini lebih komplet karena gerakan Bunda Selir pun diketahui di situ, antara lain akan membunuh kaisar melalui racun. Tanggal sudah ditetapkan!

Ketika pangeran tertegun—karena hal terakhir ini tidak diketahui Cu Thai Kam—pangeran melotot menggigil memandang Wan Cu. Tanda tangan Bunda Selir dan kakak tirinya tertera di sana. Wan Cu pun tercantum di situ sebagai orang ketiga otak rencana pemberontakan ini.

"Wan Cu, apa maksud pemberitahuanmu ini? Muslihat apa yang kau simpan di sini?" Pangeran tentu saja curiga, bertanya dan memandang penuh selidik kekasih kakak tirinya itu. Ingin mengetahui dorongan atau alasan apa yang membuat wanita ini mengkhianati teman-temannya.

Wan Cu mendadak menangis. Ketika wanita itu mengguguk dan mendekap mukanya penuh kesedihan serta menceritakan bahwa perbuatannya itu untuk membalas sikap Bunda Selir yang menghinanya, Pangeran Mahkota tertegun mempercayai keterangan ini. Memang dia telah mendengar hal itu dari Kim Mou Eng. Ia menguji lagi dengan beberapa pertanyaan, tapi Wan Cu ternyata jujur dan tidak berbohong sedikit pun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment