Chapter 17
Dan karena Istana Dingin adalah sebuah istana yang khusus untuk menampung calon-calon selir, yang sifatnya seperti sebuah penampungan belaka, dan Cao Cun tidak tinggal lagi di gedung menteri Mao, maka sedikit banyak Wang Taijin lega juga.
Heran tetapi juga was-was bagaimana menteri itu dapat memengaruhi kaisar. Maklum, kaisar sendirilah yang memanggil dia dengan surat perintah resmi. Jadi terasa aneh dan tidak bisa dimengerti kalau kaisar yang memanggil lalu dengan enak begitu saja dinyatakan tidak jadi. Batal.
Tetapi karena putrinya telah tinggal di tempat lain dan tidak lagi di gedung menteri itu, maka Wang Taijin tak cemas lagi akan nasib putrinya. Tidak peduli apakah Cao Cun akan diambil kaisar atau tidak karena baginya keselamatan putrinya itulah yang penting. Bukan harta benda istana seperti yang diimingi-imingi Mao Taijin.
Dan begitu Wang Taijin tenang dan tinggal menunggu bagaimanakah kelak keputusan kaisar mengenai diri putrinya itu, akhirnya bupati ini bersama sang istri harap-harap cemas saja di rumah. Mengharap kalau Cao Cun "tak dipakai", biar dikembalikan saja ke Chiou. Berkumpul lagi bersama mereka. Habis perkara.
Tetapi sedemikian mudahkah keinginan ini? Ah, Wang Taijin tak tahu apa yang terjadi di istana. Dia tak tahu apa yang dilakukan Mao Taijin. Betapa menteri itu telah menyulap "bim-salabim" barang yang istimewa menjadi barang biasa. Bahwa kaisar berhasil dikibuli mentah-mentah oleh menteri yang cerdik ini. Cerdik tetapi jahat.
Dan Cao Cun yang tak lagi tinggal di gedungnya, melainkan tinggal di Istana Dingin, pada hakikatnya adalah penjara seumur hidup yang akan menyengsarakan gadis itu. Sebagai balasan dendam atas sakit hatinya pada bupati she Wang itu!
Apa yang terjadi? Sebuah kecurangan besar. Mao Taijin menghadap kaisar, menangis, dan menjatuhkan diri berlutut. Pura-pura dilanda duka dan ketakutan yang sangat hingga mengherankan kaisar, yang saat itu menunggu Cao Cun karena menteri itu berjanji bahwa hari itulah sang bidadari akan menghadap.
Dan kaisar yang bertanya dengan rasa heran dan curiga akhirnya memandang pembantunya itu. "Mao Taijin, apa yang terjadi? Mana itu bidadari jituwita ku?" Mao Taijin menangis, mengeluarkan air mata yang tentu saja air mata buaya. Dan membenturkan dahi penuh takut pura-pura.
Menteri ini berkata, "Ampun, hamba telah membawa gadis itu ke mari, Sri Baginda. Tetapi tak berani membawanya pada Paduka karena ada satu hal penting yang lupa hamba tunjukkan pada Paduka!"
"Hm, apa itu? Hal penting apa?" Mao Taijin mengeluarkan gambar Cao Cun, gemetar terbata, "Ini... ini yang harus hamba tunjukkan, Sri Baginda. Bahwa tahi lalat ini menurut para ahli nujum besar merupakan tanda tak baik bagi Paduka. Tanda sial yang akan mencelakakan Paduka beserta seluruh kerajaan!"
Kaisar terkejut. Dia melihat sebuah tahi lalat yang telah dipasang Mao Taijin di wajah Cao Cun. Tak tahu bahwa secara licik dan cerdik menterinya itu mempergunakan kelemahannya dalam tahayul untuk memengaruhi kaisar. Maklum, kaisar memang amat percaya sekali pada segala jenis hal-hal gaib yang menyimpan tanda kehidupan. Bahwa tahayul melekat erat di hati Kaisar Yuan Ti dan tentu saja terbelalak mendengar menterinya berkata bahwa sang bidadari membawa sial bagi dirinya dan seluruh kerajaan. Gara-gara tahi lalat itu?!
Dan kaisar yang tertegun memandang menterinya, akhirnya mendengar menterinya itu bicara kembali sambil menuding seorang laki-laki tua berpakaian putih-putih, yakni Kunlojin yang menjadi peramal istana. "Lihat, Paduka boleh bertanya pada peramal Paduka ini, Sri Baginda. Kun-lojin baru memberitahu hamba akan arti sial yang terdapat pada tahi lalat calon kekasih Paduka itu."
"Dia hanya membawa kesenangan sekejap, tetapi setelah itu akan menghangus dan menghancurkan Paduka berikut seluruh kerajaan!" Kaisar semakin kaget, berubah mukanya, memandang kakek tua berpakaian putih-putih itu. "Benarkah, Kun-lojin?"
Kakek ini, yang tentu saja sudah disuap Mao Taijin, mengangguk dan gemetar bicara, "Ampun, itulah yang hamba lihat, Sri Baginda. Tetapi kalau Paduka tak percaya, tentu saja Paduka boleh melanjutkan niat Paduka itu. Gadis itu ada di sini."
"Hm, kalau begitu buat apa dibawa?" Kaisar langsung terpengaruh, takut karena tahi lalat itu membawa kesialan. Tak tahu bahwa dia dikibuli mentah-mentah. Dan kaisar yang tentu saja lenyap nafsunya melihat Cao Cun, tiba-tiba tak berpikir panjang lebar menyuruh gadis itu diusir saja. Padahal tadinya demikian bersemangat dia menyuruh cari gadis itu. Gadis yang membuat dia tergila-gila. Padahal belum pernah sama sekali melihat wajahnya.
Dan kaisar yang ketakutan mendengar Cao Cun bakal membawa sial bagi kerajaan lalu menyuruh gadis itu dibuang saja! "Kalau begitu tak perlu kau bawa ke mari gadis itu, Taijin. Mungkin langkah kakinya saja sudah membawa sial bagiku. Buang saja dia jauh-jauh!"
"Ah!" Mao Taijin menggeleng, merasa girang dan ingin membalas dendam lebih lanjut. "Gadis itu memang membawa sial, Sri Baginda. Tetapi jangan dia dibuang begitu saja. Kun lojin memberi tahu bahwa pengaruh sial itu dapat dihindari kalau gadis ini ditampung di Istana Dingin. Mungkin sebulan atau setahun bawaan sialnya itu dapat dihilangkan."
"Begitukah?" Kaisar tertegun, mengerutkan alis. "Ya, begitu menurut nujum istana ini, Sri Baginda. Karena itu kalau Paduka setuju, biarkan saja gadis itu tinggal di Istana Dingin agar kelak Paduka dapat menikmati juwita Paduka itu setelah bawaan sialnya lenyap!"
"Apa tandanya?" "Tahi lalat itu akan hilang, Sri Baginda. Tahi lalat itu akan hilang sendiri kalau bawaan sial itu lenyap!"
"Baiklah," Kaisar lagi-lagi terpengaruh, percaya pada menterinya ini. "Bawa dia ke Istana Dingin, Taijin. Kalau bawaan sial itu lenyap, boleh kau bawa ke mari dia itu!"
Mao Taijin girang. Dia hampir tertawa bergelak mendengar kata-kata junjungannya itu. Maklum, kaisar rupanya berhasil terpengaruh oleh semua ceritanya itu tentang Cao Cun. Bahwa dia berhasil memberi "harapan" pada kaisar untuk kelak menikmati sang dewi impian itu. Dan karena kaisar memang tergila-gila pada bayangan gadis ini dan harapan yang diberikan menterinya itu membangkitkan keinginannya kembali, maka kaisar menyetujui saja semua kata-kata menterinya itu.
Tak tahu bahwa ini lagi-lagi akal Mao Taijin yang busuk. Tak tahu bahwa menterinya itu sebenarnya sedang main "bim Salabim". Sebab, selama Cao Cun masih di Istana Dingin dan belum dia serahkan pada kaisar, maka selama itu pula dia dapat menunjukkan pada bupati Wang bahwa nasib anaknya ada di tangannya, bukan di tangan kaisar. Dan kalau bupati itu belum tunduk juga padanya untuk menyerahkan 500 ons emas itu seperti yang dimintanya dulu, maka Cao Cun akan tinggal seumur hidup di istana yang dikelilingi tembok tinggi itu. Tak mungkin dapat keluar. Jadi sama dengan dipenjara seumur hidup sampai gadis itu menjadi nenek-nenek. Tak lagi diambil kaisar. Tak lagi keberuntungan itu akan menjadi milik Wang Taijin sekeluarga.
Dan Mao Taijin yang girang oleh hasil tipu dan muslihatnya yang cerdik ini akhirnya terbahak-bahak ketika sampai di rumah. "Ha-ha, sekarang boleh kau lihat siapa yang menang, bupati bodoh. Meskipun anakmu siap diambil kaisar, tapi kalau aku mencegahnya, tentu itupun jadi."
Dan ini tak diketahui Wang Taijin. Bupati itu memang orang jujur yang tidak banyak mengenal kecurangan orang-orang jahat. Maklum, dia lugu dalam soal-soal begitu dan tidak mengira bahwa Mao Taijin telah memperdayainya. Benar-benar menguasai nasib anak perempuannya, dan kini sepenuhnya tergantung pada diri bupati itu.
Dan ketika sebulan kemudian utusan Mao Taijin menemui dia membawa sepucuk surat dari menteri Mao, maka tahulah dan kagetlah bupati ini melihat apa yang terjadi. "Wang-taijin," begitu surat itu bicara. "Nasib anakmu kini benar-benar ada di tanganku. Kan lihat, meskipun hari itu kaisar ingin menemui anakmu, tapi kalau aku tak mengijinkannya, maka keinginan itu tak akan terpenuhi. Nasib anakmu tergantung pada dirimu. Semakin cepat kau memberikan apa yang kuminta, maka semakin cepat pula putrimu itu bertemu kaisar. Terserah kau, apakah masih tetap keras kepala atau merobah kebodohanmu itu menjadi kebijaksanaan!... Menteri Mao."
Wang Taijin mencak-mencak. Dia marah bukan main membaca surat itu. Baru tahu bahwa putrinya dipenjarakan di Istana Dingin, meskipun tampaknya bukan begitu. Dan sang utusan yang akhirnya diusir pergi dengan mendapat dampratan keras akhirnya membuat bupati ini bingung, ditambah tangis istrinya yang tersedu-sedu. "Bagaimana, apa yang harus kita lakukan, suamiku? Masihkah keputusan kita tetap seperti semula?"
"Tentu!" Wang Taijin menggeram. "Aku tak mau mematuhi permintaan menteri pemeras itu, istriku. Aku harus melapor pada Baginda atas semua kecurangannya ini. Aku harus ke kota raja!"
Keesokan harinya Wang Taijin pergi ke kota raja. Tapi Wang Taijin tertegun. Di kota raja dia dihalang-halangi banyak pengawal, tak sedikit pun juga memberi kesempatan padanya untuk menghadap kaisar. Dan Sin-kee Lo-jin yang muncul dengan sikap penuh ancaman tiba-tiba malah melemparnya pergi. "Bupati keparat, enyahlah kau. Kaisar sibuk!"
Wang Taijin mengeluh. Dia mencoba lagi, gagal lagi. Mencoba lagi dan gagal lagi, sampai berulang-ulang. Dan karena orang-orang Mao Taijin tak memberinya kesempatan dan dia naik pitam pada menteri ini akhirnya bupati itu menghadap atasannya, gubernur Liang. Langsung menceritakan semua kebusukan menteri Mao yang menawan putrinya.
Tapi gubernur Liang yang mengerutkan alis mendengar semua cerita bawahannya ini justru menegur, "Itu urusan pribadimu, bupati Wang. Tak ada sangkut-pautnya dengan urusan kita dalam soal-soal pemerintahan. Sebaiknya kau menghadap kaisar saja!"
"Hamba sudah ke sana, Taijin. Tapi orang-orang menteri itu menghalangi hamba!" Wang Taijin pucat, menjawab gemetar karena melihat gubernur ini rupanya tak mau membantu.