Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 170

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 170

Termasuk pengakuannya atas rencana membunuh pangeran lewat Yus Busu, juga rencana pembunuhan terhadap Bu Ciangkun maupun Cu Ciangkun lewat Hek Bong Siang Lo Mo. Semuanya tepat.

Ketika Wan Cu ditanya mengapa ia tidak meminta tolong pada Gurba saja untuk membunuh ibunda selir alih-alih menyerahkannya kepada kaisar, Wan Cu menjawab tersedu, "Tadinya hamba bermaksud begitu, Pangeran. Tapi rencana ini hamba ubah. Gurba sibuk mengatur pasukannya dan sekarang jarang datang. Hamba tidak sabar. Karena hamba tidak tahan ditinggal Pangeran Muda yang agaknya sudah mulai menjauhi hamba atas perintah ibunya, maka hamba hendak mempermalukan ibunda selir dengan jalan ditangkap. Ibunda selir harus mendapat pukulan, dan satu-satunya pukulan yang paling ampuh adalah pengakuan hamba ini. Tentu dia tidak menyangka, juga tidak tahu bahwa hamba telah mendengar pembicaraannya dengan Pangeran Muda. Hamba hendak membalas sakit hati ini dengan jalan memukulnya secara total. Kalau dibunuh oleh Gurba, rasanya terlalu enak. Maka hamba hendak meneror mentalnya dengan pengakuan ini. Tentu dia tidak akan enak makan dan tidak nyenyak tidur!"

"Tapi ini berarti kau pun ditangkap. Ayahanda kaisar tidak mungkin pula mengampunimu."

"Hamba tahu, Pangeran. Tapi harap Paduka ketahui bahwa keterlibatan hamba hanyalah karena mengikuti kakak tiri Paduka. Otak dan dalangnya adalah ibunda selir itu. Hamba hanya pembantu. Kalau Paduka kasihan kepada hamba, tentunya Paduka dapat memohonkan ampun pada ayahanda kaisar."

"Baik, kalau begitu kau kutangkap, Wan Cu. Tapi tunggu dulu kedatangan Kim Taijin, juga Pendekar Rambut Emas."

"Pendekar Rambut Emas?" Wan Cu terkejut.

"Ya, kenapa? Kau pernah diculiknya, bukan?"

"Ooh..." Wan Cu terbelalak, tiba-tiba sadar. "Jadi..."

"Ya!" Pangeran memotong. "Dialah yang membawamu ke kamar ibunda selir, Wan Cu. Tapi yang menangkapmu adalah sumoinya, Salima!"

Ketika Wan Cu terdiam dan Pangeran menyuruh orang memanggil Kim Taijin, Kim Mou-eng serta sumoinya itu pun muncul. Wan Cu semakin tertegun melihat tiga orang itu tersenyum mengejek ke arahnya, terutama Salima. Wan Cu terpukul dan tersentak. Sekarang ia mendusin bahwa sebenarnya gerak-geriknya diketahui. Rencana pemberontakan itu sudah tercium, dan pemberitahuannya ini malah semakin melengkapi saja.

Sang pangeran dan Kim Taijin terlibat dalam pembicaraan serius. Ketika diputuskan bahwa Wan Cu ditangkap namun harus dilindungi dari segala ancaman bahaya, Kim Taijin berkata, "Wanita ini ditempatkan di gedung hamba saja, Pangeran. Kim Taihiap dan sumoinya biar melindunginya di sana. Orang tentu tidak menduga di tempat hamba. Nama hamba jarang disebut-sebut. Dan ibu tiri Paduka tidak perlu tergesa-gesa ditangkap sampai dia meracuni ayahanda kaisar."

"Taijin menghendaki ibunda selir tertangkap basah?"

"Cocok!"

"Kalau begitu aku setuju. Bagaimana pendapatmu, Kim Taihiap?"

"Hamba juga setuju, Pangeran. Tapi gerakan di dalam istana sebaiknya ditumpas dulu. Lu-taijin dan yang lainnya itu dibekuk agar tidak dapat bergerak sebelum memberontak."

"Tapi kami ingin menangkapnya basah," sang pangeran mengerutkan kening. "Bukankah begitu, Kim Taijin?"

"Ah," Kim Mou-eng mendahului, "tidak perlu semuanya tertangkap basah, Pangeran. Otaknya saja yang dibiarkan begitu. Yang lain-lain sudah terbukti di dalam kitab catatan ini!"

"Benar," Kim Taijin sependapat. "Apa yang dikatakan Kim Taihiap memang tidak salah, Pangeran. Gerakan di dalam istana digerebek dulu sebelum mereka merepotkan kita sebagai beban tambahan. Gurba dan pasukannya sudah bergerak, ini saja cukup memusingkan kita. Sebaiknya mereka itu ditangkap dan kita tunggu pengkhianatan ibunda selir meracuni Sri Baginda."

Sang pangeran tertegun. "Ayahanda tidak diberi tahu?"

"Justru sebaliknya. Ayahanda perlu diberi tahu, Pangeran. Tapi pekerjaan ini biar hamba yang menyelesaikan. Sri Baginda tidak boleh menggebrak meja sebelum saatnya tiba!"

Dengan kata lain, Kim Taijin bermaksud bahwa kaisar tidak boleh marah-marah sebelum bukti-bukti penangkapan tertangkap basah. Menurut rencana, tiga hari lagi selir itu akan meracuni kaisar. Hari itu, gerakan Gurba sudah mendekati istana. Orang tidak tahu bahwa Wan Cu merusak suasana dengan mengadakan pengakuan. Ketika hari itu Wan Cu ditangkap dan Sien Nio tersentak, Gurba di lain tempat juga terhenyak mendengar berita itu.

Serbuan otomatis dilakukan. Sien Nio dan Gurba tidak tahu apa yang menjadi dasar penangkapan itu. Istana bungkam. Desas-desus mengatakan bahwa Wan Cu ditangkap karena mengganggu Pangeran Mahkota; katanya membujuk dan mencoba memikat pangeran itu tapi tidak berhasil. Pangeran Mahkota marah-marah karena Wan Cu adalah kekasih kakaknya.

Sien Nio menduga rencananya tercium. Wanita ini cerdik; buru-buru menyuruh putranya pergi untuk menyelamatkan diri. Orang suruhan anaknya diperintahkan ke tempat Gurba di Cia Sin. Betapa pun ia merasa tidak enak, beberapa pembantu dekatnya memberitahukan apa yang kira-kira terjadi. Wan Cu ditangkap bukan karena menggoda Pangeran Mahkota, melainkan ada hubungannya dengan rencana pemberontakan itu.

Sien Nio terkejut ketika pasukan yang disiapkan di dalam kehilangan komandannya. Beberapa menteri dan panglima muda lenyap. Keadaan serba tidak menentu. Pangeran Mahkota bersikap biasa saja kepada orang lain, bahkan terhadap ibu tirinya ini. Sien Nio terguncang karena ia tidak mengerti bagaimana Wan Cu bisa tertangkap. Seujung rambut pun ia tidak menduga bahwa hal itu terjadi karena Wan Cu sengaja menyerahkan diri lantaran tidak ditengok seminggu lamanya oleh kekasihnya, juga karena kekejaman Sien Nio sendiri yang hendak memisahkan wanita itu dari Pangeran Muda.

Ketika keadaan mulai kalut dan Sien Nio sendiri kian gelisah, Siauw Bin Kwi dan Sai-moong dipanggil. "Moong, apa yang terjadi dengan Wan Cu? Kalian sudah menyelidiki di mana wanita itu ditahan?"

Mo-ong menggeleng. "Hamba tidak tahu, Paduka Selir. Tapi di tempat Pangeran Mahkota tidak ada!"

"Lalu di mana? Kalian tidak mencarinya di lain tempat?"

"Hamba dan Bin Kwi sudah mencarinya, Paduka Selir. Tapi tidak ada yang tahu di mana Wan Cu berada."

"Goblok! Kalau begitu kalian tolol! Kerja kalian tidak becus dan tidak berotak! Kenapa tidak menangkap Pangeran Mahkota saja? Dan mana Yu Busu? Kenapa sampai sekarang tidak ada kabar beritanya lagi dan menghilang tidak tahu ke mana rimbanya?"

"Maaf," Mo-ong agak merah mukanya. "Kami selama ini banyak membantu Siauw-ong-ya, Paduka Selir. Hamba dan teman-teman jarang berhadapan dengan Paduka sendiri. Paduka selalu mewakilkan pada Pangeran Muda, mana hamba tahu apa yang terjadi? Kami berdua baru mendengar dari Pangeran Muda bahwa Wan Cu ditangkap, dan kami katanya diminta menyelidiki. Paduka tidak memberi perintah menangkap Pangeran Mahkota segala, mana kami tahu?"

"Hm..." Sien Nio marah. Baru kali ini ia mulai panik. "Kau cari lagi di mana Wan Cu ditahan, Mo-ong. Kalau perlu, tangkap dan paksa Pangeran Mahkota itu. Kompres dia untuk mengaku!"

"Baik."

"Dan yang lainnya itu juga diselidiki, Mo-ong. Cari dan ketahui di mana itu Lu-taijin dan teman-temannya. Mereka menghilang seperti siluman saja. Tidak mungkin lenyap kalau tidak tertangkap musuh!"

"Baik, Paduka Selir."

Mo-ong serta Bin Kwi berkelebat lenyap. Tak lama kemudian, sebuah bayangan lain muncul, bayangan Gurba yang tinggi besar. "Paduka Selir, benarkah Wan Cu ditangkap?"

Sien Nio girang, langsung bangkit berdiri. "Kau baru datang? Kenapa lama sekali?"

"Hm," Gurba menggereng. "Utusan Paduka baru datang, Paduka Selir. Mana bisa cepat kalau orang Paduka seperti siput? Di mana Wan Cu, benarkah tertangkap? Apa yang terjadi?"

"Duduklah," Sien Nio tegang, mata Gurba membuatnya ngeri. "Kekasihmu memang ditangkap, Hanggoda. Tapi sebab apa dia ditangkap, aku masih kurang jelas. Kemungkinan berhubungan dengan rencana kita."

"Siapa yang memberi tahu?"

"Itulah yang mengherankan. Aku juga tidak tahu bagaimana asal mulanya dia ditangkap. Aku telah menyuruh Bin Kwi dan Mo-ong menyelidiki. Dan lagi, serangan dari dalam tidak dapat diteruskan. Komandan dan para perwira menengah yang harusnya memimpin gerakan ini lenyap."

"Ke mana?"

"Aku juga tidak tahu. Tapi kemungkinan ditangkap kaisar!"

"Hm," Gurba jelalatan. "Aku ingin tahu di mana Wan Cu, Paduka Selir. Yang lain-lain menyusul saja. Aku datang untuk menyelamatkan kekasihku itu!"

"Tentu, tapi yang lain-lain juga tidak kalah penting, Hanggoda. Dalam keadaan seperti ini sebaiknya kita membagi tugas!"

"Aku tidak mau tahu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment