Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 171

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 171

"Aku datang untuk menyelamatkan Wan Cu!" Sien Nio kaget.

Suara keras yang diucapkan raksasa ini membuat ia sadar bahwa Gurba bukan seperti Bin Kwi atau Mo Ong. Raksasa ini berbeda. Dia mau membantu karena Wan Cu, jadi kalau Wan Cu celaka, tentu saja raksasa itu bisa menarik bantuannya, bahkan mungkin berbalik haluan. Sien Nio terkejut. Ketika ia terbelalak tak menjawab, Gurba sudah berkata lagi, "Paduka Selir, apa yang telah kaulakukan untuk menyelamatkan kekasihku itu? Berapa orang yang kausuruh mencari?"

"Banyak, Hanggoda. Tapi yang terakhir adalah Mo Ong dan Bin Kwi."

"Mereka tak berhasil?"

"Mungkin hari ini berhasil. Aku menyuruhnya menekan Pangeran Mahkota."

Gurba mendengus. "Kalau begitu, ia di sana?"

"Tak ada yang tahu, Hanggoda. Tapi kemungkinan besar memang begitu. Aku.....!"

"Aku akan ke sana!" Gurba berkelebat lenyap, memutus omongan selir itu dan membuat Sien Nio tertegun sembari mengertakkan gigi. Kalau orang-orangnya mulai mendahului perintah seperti ini, ia bisa celaka. Raksasa itu liar sekali. Namun, karena Sien Nio tak tahu harus berbuat apa, ia hanya menunggu apa yang akan terjadi.

Saat itu, Gurba sudah melompat ke gedung Pangeran Mahkota. Ia tahu di mana gedung tersebut. Sesaat kemudian, ia melihat bayangan Bin Kwi dan Mo Ong sedang mencari-cari. Raksasa ini mendengus tak sabar, lalu berkelebat turun memasuki istana sang pangeran. Perbuatannya sangat berani.

Para pengawal tentu saja berteriak melihat kedatangan raksasa ini dan segera mengepung. Sebagian menyerang, tapi sebagian lain mundur sambil berteriak memanggil temannya karena kelihaian raksasa ini cukup dikenal. Gurba mencemooh dan melemparkan pengawal-pengawal yang berani mendekat. Sepak terjangnya tak dapat dilawan.

Ketika raksasa itu terus maju sambil membentak menyuruh pengawal memanggil Pangeran Mahkota, sang pangeran tiba-tiba muncul didampingi oleh Kim Taijin.

"Gurba, hentikan keliaranmu. Aku datang memenuhi panggilanmu!"

Gurba tertegun. "Bagus," katanya melompat maju. "Aku mau bertanya tentang Wan Cu, Pangeran. Di mana wanita itu dan cepat serahkan dia padaku!"

"Kau berani memintanya? Apa hubungannya denganmu?"

Gurba terkejut. "Dia... dia sahabatku!"

Gurba teringat kedudukannya. Ia telah mendapatkan Bi Nio dan rupanya malu mengakui Wan Cu sebagai kekasih, apalagi orang sudah mengetahui bahwa Wan Cu adalah kekasih Pangeran Muda. Harga dirinya tersentuh. Ketika ia terbelalak hendak menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba Bin Kwi dan Mo Ong muncul.

"Ho ho, kenapa banyak tanya lagi, Gurba? Tangkap dan bekuk pangeran itu. Jangan-jangan Wan Cu telah digaulinya semalam!"

"Diam!" Gurba membentak, marah pada dua rekannya. "Kau tak becus mencari pangeran, Mo Ong. Lebih baik pergi dan enyahlah kalian!"

"Weh, kau mengusir sahabat? Mana janjimu kepada kami? Kita bukan musuh, Gurba. Kita adalah teman dan tak perlu bertengkar. Atau kutangkap saja pangeran ini!" Mo Ong terkekeh, berkelebat maju dan tiba-tiba tangannya menyambar ke depan. Gerakannya cepat, tapi Gurba yang tersinggung oleh kelancangan temannya tiba-tiba maju membentak dan menangkis serangan itu.

"Mundur!"

Duk! Mo Ong terpental, berseru kaget, dan melotot memandang Gurba. Pandangannya gusar; kemarahan mulai mengusik iblis ini. Gurba tak peduli. Ketika Bin Kwi menyeringai dan menggosok-gosok tangannya, iblis ini menahan temannya. "Mo Ong, kendalikan dirimu. Berbahaya mengadu kepandaian di tempat tak semestinya."

Mo Ong sadar. Ia melihat Gurba menghadapi Pangeran Mahkota kembali; ia memang tak mau diganggu karena dialah yang mendapatkan pangeran ini, bukan Mo Ong atau Bin Kwi. Gurba yang sudah berkilat menghadapi lawan berkata dengan suara mengancam, "Pangeran, aku tak mau main-main. Serahkan Wan Cu atau kau kuhajar!"

Aneh, pangeran malah tertawa. Gurba melihat keberanian yang sama besar antara pangeran ini dengan kaisar. Ayah dan anak sama sumbernya. Gurba tertegun. Ketika ia memandang dengan marah, Kim Taijin, laki-laki di sebelah pangeran itu, mendapat isyarat untuk maju sambil menarik napas panjang.

"Hanggoda," penasihat kaisar ini mengerutkan keningnya. "Sungguh mengherankan kalau kini kau memusuhi kami lagi. Sri Baginda telah mengulurkan lengan persahabatannya kepadamu dan kau pun menerimanya. Kenapa membuat huru-hara dan datang menimbulkan keributan? Kalau kau mencari Wan Cu, wanita itu ada di tempat Sri Baginda. Kuantar bila ingin ke sana. Mari!"

Gurba terkesiap. "Di tempat Kaisar?"

"Ya, Sri Baginda menunggu siapa saja yang ingin membebaskan wanita ini, Hanggoda. Kalau kau ingin ke sana, mari kami iringkan."

"Bohong!" Bin Kwi tiba-tiba terkekeh. "Kau ditipunya, Gurba. Kekasihmu itu ada di sini dan disembunyikan mereka!"

"Oh, kekasih?" Pangeran Mahkota pura-pura terkejut, menarik senyum sinis. "Dia kekasihmu, Gurba? Kau mendapatkannya dari Kanda Pangeran? Aih, bagus sekali. Seorang gagah memperoleh barang sisa!"

Wajah Gurba memerah. Ia marah karena Bin Kwi membuka rahasia itu, melotot pada si iblis yang menyukai pemuda-pemuda tampan tersebut. Si homo yang menyebalkan! Ketika pangeran tertawa dan Bin Kwi menyeringai, Mo Ong juga menambahi dengan kata-kata menyakitkan, "Gurba, aku tak percaya kekasihmu itu dibawa ke Kaisar. Tentu ada di sini dan mungkin semalam digauli pangeran ini. Dia sengaja berbohong untuk menjebakmu di sana!"

Gurba semakin marah. Ia membentak temannya itu dengan mata berapi-api. Mo Ong diam dan terkekeh. Gurba sakit hati mendengar kata-kata itu. Jangan-jangan Wan Cu memang digauli pangeran ini? Bayangan itu membuat dia menggeram. Ketika sang pangeran tertawa mengejek dan mempersilakan dia mencari di seluruh gedung itu, akhirnya Gurba berkelebat menyuruh temannya membantu.

Tempat sang pangeran dilongok semua isinya. Pintu-pintu kamar dibuka dan Mo Ong serta Bin Kwi mempergunakan kesempatan ini untuk mengobrak-abrik. Dua iblis itu memang kurang ajar; pelayan-pelayan cantik dicolek dan diremas, Bin Kwi mengusap dan mempermainkan pelayan pria yang tampan dengan cara memuakkan. Tapi karena Wan Cu memang tak ada di situ dan Bin Kwi serta temannya kembali dengan Gurba yang melotot gusar, mendadak di tempat itu Kim Mou Eng muncul bersama Salima, menggantikan kedudukan Pangeran Mahkota dan Kim Taijin yang entah menghilang ke mana. Disusul munculnya Hek Eng Taihiap dan lain-lain serta ratusan pengawal yang bersiap dengan senjata di tangan.

"Suheng, kau laki-laki tak tahu malu. Ke mana harga dirimu menjadi permainan orang lain?"

Gurba terkejut. Salima yang membentaknya dipandang dengan kaget, sejenak terkesima oleh sikap dan keagungan sumoinya ini. Salima tampak cantik dan gagah, kedua kaki direntang menunjukkan daya pesonanya yang besar. Raksasa ini tertegun. Ketika Bin Kwi serta Mo Ong juga terkejut melihat kehadiran Kim Mou Eng dan sumoinya, Kim Mou Eng sudah melangkah maju menatap suhengnya ini penuh sesal.

"Suheng, tak pantas kiranya kau mengobrak-abrik rumah orang lain. Kaisar mengulurkan tangan persahabatannya kepadamu, kenapa kau membalasnya dengan cara begini? Kau tersesat, Suheng. Tingkah laku dan sepak terjangmu benar-benar tidak terpuji."

"Keparat, kau siapa memberi tahu orang lebih tua? Kau lancang, Sute. Aku tak akan mendengar kata-katamu dan persetan dengan semuanya itu. Kau bahkan menjadi biang keladi tertangkapnya Wan Cu. Tahulah aku, kau rupanya orang yang mengacau di sini!" Gurba menggereng, melompat maju, tiba-tiba mengibas dan marah besar kepada sutenya ini. Sekarang ia melihat sutenya ada di situ, tentu sutenya inilah yang membantu lawan, Wan Cu ditangkap dan kini disembunyikan.

Gurba sama sekali tak takut atau menghiraukan orang-orang lain dan ratusan pengawal. Maklum, raksasa ini pernah dikeroyok ratusan pengawal dan tak ada seorang pun yang mampu menghadapinya. Hanya orang-orang berkepandaian macam sutenya ini yang patut diperhitungkan, lain-lain tak digubris.

Ketika dua orang itu berhadapan dan Kim Mou Eng bersikap tenang memandang suhengnya, di lain pihak Bin Kwi dan Mo Ong saling lirik tersenyum aneh.

"Bagaimana, Mo Ong? Kita biarkan Suheng dan Sute itu saling gempur?"

"Tentu, dan kita menghadapi Salima, Bin Kwi. Tangkap dan bekuk gadis ini untuk muridku."

"Huh, kau selalu memperhatikan muridmu. Bukankah yang lain ada dan lebih baik bunuh saja gadis berbahaya ini?"

"Tidak, jangan, Bin Kwi. Aku perlu menangkapnya hidup-hidup untuk muridku. Sudahlah, kau bantu aku menghadapi gadis ini!"

Mo Ong bersiap-siap. Salima sudah memandang mereka dengan mata berapi-api. Dua iblis ini menyeringai, masing-masing setuju dan melihat Gurba menggereng menghadapi sutenya. Kim Mou Eng tenang. Pertempuran tak dapat dihindari. Ketika satu bentakan keras meluncur dari mulut raksasa itu dan Gurba berkelebat menghantam ke depan, tiba-tiba satu pukulan dahsyat bersiut ke arah Kim Mou Eng.

"Dess!"

Orang yang ada di dekat pertempuran merasakan guncangan yang menggetarkan ini. Kim Mou Eng merendahkan tubuh, menangkis suhengnya, dan dua sinkang beradu. Gurba berteriak dan keduanya sama-sama terdorong mundur. Bin Kwi, Mo Ong, serta Salima tak jadi menyerang; mereka tertarik perhatiannya ke sini dan masing-masing otomatis surut ke belakang. Betapapun, getaran adu pukulan tadi menggetarkan dada mereka, serasa rontok jantung diguncang. Pengawal yang ada di dekatnya seketika terpelanting, masing-masing berteriak kaget.

Salima sendiri khawatir dan terbelalak memandang ji-suhengnya, Kim Mou Eng. Ketika ia lega ji-suhengnya itu tak apa-apa kecuali terdorong mundur saja, maka twa-suhengnya sudah membentak menerjang lagi. Gurba sudah melancarkan pukulan bertubi-tubi yang dahsyat, kedua lengan raksasa ini berubah kemerahan akibat pengerahan Tiat Lui Kang. Angin pukulannya menderu dan membuat Mo Ong serta yang lain-lain terpaksa mundur lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment