Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 172

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 172

Tempat di tengah menjadi semakin lebar hingga dua orang itu bisa bergerak leluasa. Ketika Kim Mou-eng mengerahkan ilmunya dan kedua lengan pendekar itu memerah seperti sang suheng, pukulan serta tangkisan mulai terdengar menggetarkan tempat itu. Pertandingan menegangkan pun terjadi.

Dua orang itu mulai bergerak, mula-mula perlahan namun kian lama kian cepat. Sinar merah dan putih meluncur saling sambar, disertai ledakan-ledakan petir yang mengerikan. Ketika hawa panas mulai menyerang dan Mo-ong serta yang lainnya terpaksa mundur, Salima berseru mengusir para pengawal dan teman-temannya yang ada di dekat situ.

"Mundur!" Semua orang otomatis mundur. Pertempuran Gurba dan Kim Mou-eng ini memang mendebarkan. Mereka saling melotot; Gurba kelihatan ganas sementara Kim Mou-eng tenang namun berhati-hati. Pendekar ini mengerutkan alis, merasa malu karena kakak beradik seperguruan harus bertempur ditonton banyak orang. Hal itu amat disesali, namun karena suhengnya tersesat dan pukulannya kian ampuh, Kim Mou-eng mulai mengerahkan ginkang untuk berkelebatan menghindari dan menangkis pukulan.

Gurba pun mempercepat gerakannya hingga akhirnya mereka lenyap dalam gulungan sinar putih dan merah. Para pengawal dan orang-orang dengan kepandaian rendah tak dapat lagi mengikuti pertempuran itu; mata mereka tak mampu menangkap gerakan tersebut. Dua orang suheng dan sute itu berkelebatan cepat diiringi ledakan dan benturan yang mengguncang. Lima puluh pengawal yang berada di depan tiba-tiba mengeluh kepanasan, lalu tubuh mereka terguling. Beberapa pengawal bahkan pingsan karena tak kuat mendengar ledakan atau benturan yang kian dahsyat.

"Sumpal telinga kalian, mundur!" seru Salima terkejut. Bu Ciangkun dan Cu Ciangkun yang muncul di situ ikut terhuyung dengan muka pucat, tak kuat menahan benturan-benturan tersebut. Beberapa genting dan tembok ruangan rontok. Ketika Pukulan Petir semakin menggelegar dan sinarnya mencuat karena meleset, Mo-ong dan Binkwi yang menonton dari dekat mengalami baju terbakar disambar cahaya panas tersebut.

"Keparat, jahanam!" Mo-ong dan Binkwi memadamkan baju mereka sambil mengumpat, merasa terkejut dan kapok karena sinar pukulan itu menjangkau mereka dalam jarak beberapa tombak. Sungguh hebat! Ketika Gurba menggereng dan Kim Mou-eng melayani suhengnya dengan kedudukan berimbang, satu pukulan dahsyat bertemu di udara.

"Blang!" Gurba terpental bersama sutenya. Sudah kesekian kalinya raksasa itu tertolak atau terhuyung bersama. Kim Mou-eng memang berimbang dengan suhengnya; mereka berdua tak ada yang kalah atau menang sejak dulu. Gurba yang marah dan penasaran tiba-tiba memekik, lalu mencabut sebuah anak panah kuning berukuran besar dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih melancarkan Pukulan Petir.

Kim Mou-eng terkejut karena jarang suhengnya itu mencabut senjata, menandakan suhengnya benar-benar marah. Begitu anak panah berkelebat dan Pukulan Petir meledak bertubi-tubi, cahaya kuning dari anak panah itu mulai mematuk dan menyelinap di balik cahaya Tiat-lui-kang dengan amat cepat. Kali ini, Kim Mou-eng terdesak.

"Suheng, kau semakin kelewatan, watakmu semakin kejam!"

"Persetan. Aku tak peduli omonganmu, sute. Kau roboh dan mampuslah!"

*Bret!* Anak panah mendapatkan sasarannya, baju Kim Mou-eng robek disambar ujungnya yang tajam. Kim Mou-eng membanting tubuh dan bergulingan karena cahaya kuning itu terus mengejarnya. Gurba berseri-seri karena sutenya tak berani menangkis anak panahnya yang terlalu dahsyat. Salima yang menonton di pinggir merasa cemas. "Suheng, kubantu kau!" Salima bersiap melompat, tapi Kim Mou-eng mencegahnya. Meskipun terdesak, ia masih sanggup menahan serangan lawan.

Ketika Gurba mempercepat gerakannya, baju pundak Kim Mou-eng kembali tergurat. *Bret!* Salima semakin cemas melihat jisuhengnya terhuyung. Gurba tertawa tergelak lalu menerjang lagi tanpa ampun. Ketika lawan kembali berkelebat, Kim Mou-eng membentak marah, "Suheng, kau terlalu! Kalau begitu terpaksa kutandingi senjatamu itu!"

Sinar hitam berkelebat. Kim Mou-eng mencabut sebatang pit (pensil gambar) dan langsung menangkis anak panah di tangan kiri suhengnya. Benda sepele itu tampak ringan namun mengejutkan Gurba. Anak panah terpental dengan bunyi nyaring saat sinar kuning bertemu sinar hitam. Gurba meraung! Ketika anak panah ditangkis oleh pit hitam di tangan sutenya, Gurba melotot memaki, "Sute, kau keparat. Kubunuh kau!"

Kim Mou-eng tersenyum pahit, "Kau tak dapat membunuhku, Suheng. Berapa pun kau mengerahkan tenaga, tak akan ada yang menang di antara kita!" Gurba memekik, kemarahannya kian meledak. Ia lupa bahwa sutenya juga memiliki senjata aneh yang jarang dikeluarkan—sebatang pit yang digunakan untuk melukis sekaligus bertanding. Kini kedudukan kembali berimbang.

Ketika kembali pit dan anak panah tertolak, Gurba mengeluarkan bentakan mengguntur. Kim Mou-eng terkejut karena suhengnya mulai membuka mulut, tanda pengerahan tenaga sepenuhnya. Anak panah menyambar lehernya, diikuti tangan kanan Gurba yang melepaskan pukulan Tiat-lui-kang. "Klap!" Cahaya menyilaukan keluar dari tangan Gurba, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Hawa panas berkobar, dinding hangus, dan api keluar dari telapak raksasa itu.

Kim Mou-eng terkesiap, suhengnya benar-benar kalap. Puncak Tiat-lui-kang dikerahkan untuk membunuh. Karena jalan mengelak tertutup, Kim Mou-eng mengeluarkan bentakan yang mengguncangkan tempat itu, membuat tiga lapis pengawal roboh tergelimpang. Ia menerima pukulan suhengnya sementara pit di tangannya menangkis sambaran anak panah.

"Des-krakk!"

Dua tubuh itu bergetar. Bumi serasa diguncang langkah gajah; Mo-ong, Binkwi, dan Salima terpelanting, sementara yang lain roboh dan menjerit tunggang-langgang. Dinding retak dan atap pun roboh di tengah hiruk-pikuk jeritan pengawal. Kim Mou-eng dan suhengnya sama-sama terluka, pit dan anak panah di tangan mereka hancur. Keduanya lekat saling cengkeram, sudut bibir mereka mengalirkan darah, dan tubuh mereka terselimut debu runtuhan atap.

Salima menjerit. Ketika keduanya bergoyang dan masih saling cengkeram, mendadak keduanya ambruk di tanah.

"Suheng!"

"Kimsan!"

Dua suara itu hampir berbareng keluar. Mo-ong dan Binkwi pucat melihat dua bayangan menubruk jatuhnya dua pemuda sakti itu. Mereka ngeri melihat kesudahan pertandingan tersebut. Kim Mou-eng dan suhengnya sama-sama terluka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment