Chapter 173
Namun, ketika mereka melompat bangun untuk melihat siapa bayangan kedua yang menubruk Kim-mou-eng, keduanya terbelalak dan berseru bersamaan, "Cheng-bin Yu-lo!" Memang benar, orang kedua ini adalah Cheng-bin Yu-lo, kakek bermuka hijau yang merupakan paman Kim-mou-eng.
Mo-ong dan Bin-kwi terbelalak karena iblis itu menolong Kim-mou-eng. Ketika melihat Salima tersedu-sedu dan menolong suhengnya dengan membelakangi mereka, Mo-ong mendadak mengedip memberi tanda pada temannya, "Bin-kwi, serang gadis itu!" Mo-ong sudah berkelebat, meluncur maju dengan tangan terjulur menotok Salima. Bin-kwi juga menyusul menyambar. Keduanya bergerak untuk mendapatkan hasil meyakinkan; jika Salima menangkis, tentu yang lain dapat membokong, dan gadis itu pasti roboh.
Namun, ketika dua serangan menuju Salima dan Salima terkejut oleh bokongan ini, mendadak Cheng-bin Yu-lo menggereng dan menangkis mereka. "Plak! Dukk!" Cheng-bin Yu-lo mencelat. Mo-ong dan Bin-kwi tergetar terdorong mundur; tentu saja mereka mengumpat dan marah. Salima yang membalik dan mengutuk dua iblis itu tiba-tiba mencabut benderanya sambil berseru gusar, "Mo-ong, kau iblis licik. Di mana-mana kau selalu berbuat curang!" Bendera dikebut, Salima melompat maju dengan muka merah padam.
Saat itu, Hek-eng Taihiap dan yang lainnya maju membantu. Selesainya pertandingan Kim-mou-eng dengan Gurba membuat mereka sadar, takjub, sekaligus ngeri. Namun, ketika mereka mengepung iblis itu dan Cheng-bin Yu-lo melompat bangun, sesosok bayangan kembali muncul.
"Suhu, kau tidak apa-apa?" Salima dan Hek-eng Taihiap tertegun. Mereka melihat Yu Bing muncul, berlutut di samping suhunya dengan penuh kekhawatiran. Namun, Cheng-bin Yu-lo yang menyeringai tertawa serak justru mendupak muridnya ini. "Kau bangunlah, suhumu tak apa-apa!" Yu Bing girang dan lega melihat gurunya benar-benar tidak apa-apa; rupanya ia hanya terpental oleh pukulan yang seharusnya menyerang Salima.
Cheng-bin Yu-lo yang sudah terhuyung menghampiri orang-orang itu dan berkata parau pada Mo-ong dan Bin-kwi, "Mo-ong, kalian tak dapat keluar lagi," sahutnya menyeringai.
Mo-ong tertawa, "Kau gila? Biarkan yang kita hadapi hanya gadis ini bersama teman-temannya yang tak berdaya? Kau dan Bin-kwi dapat mengusir yang lain, Yu-lo, sementara aku akan merobohkan sumoi Kim-mou-eng ini!" Lalu, teringat peristiwa tadi, Mo-ong menegur, "Kenapa kau menangkis pukulan kami?"
"Heh-heh," Yu-lo bergoyang ke kiri dan ke kanan. "Aku menangkis pukulan kalian karena kali ini muridku merengek-rengek, Mo-ong. Ia akan kutangkap tapi tak ingin kubunuh!"
"Apa? Kau membantu musuh?"
"Muridku merengek-rengek, terpaksa sekali. Dan kalian membuat keponakanku terluka."
"Keparat, tapi kau termasuk salah satu dari Jit-mo Kang-ouw, Yu-lo. Kau rekan, bukannya lawan!" Mo-ong kaget, melotot, dan marah pada Cheng-bin Yu-lo karena kedatangan kakek itu sungguh tak disangka bakal memusuhi mereka.
Cheng-bin Yu-lo memang kurang ajar! Namun, kakek bermuka hijau yang berwatak aneh ini hanya tertawa, maju dengan lengan terbentang di kanan-kiri tubuhnya, sementara Mo-ong dan Bin-kwi semakin terbelalak. Rekan mereka ini bersungguh-sungguh. Ketika mereka sudah berhadapan dan Bin-kwi marah, tiba-tiba Yu Bing berseru dari belakang, "Suhu, tubruk saja, bunuh mereka itu!"
Cheng-bin Yu-lo terkekeh. Dia menubruk Mo-ong, lawan yang lebih dekat. Namun, Mo-ong mengelak dan membalas dari samping, tiba-tiba mencengkeram kepala lawan, disusul oleh Bin-kwi yang gusar melihat rekan sendiri membelot, lalu melepas pukulan sinkang menghantam punggung kakek bermuka hijau itu. Ketika Yu-lo membalik dan menangkis dua tangan itu, kakek ini terpental.
"Des! Dess!" Tiga orang itu segera mengadu kepandaian. Mo-ong dan Bin-kwi berteriak mengeroyok bekas teman ini; yang lain terpaksa mundur karena tiga kakek itu sudah berkelebatan saling serang. Namun, melihat Yu-lo terdesak dan kakek itu tak dapat menahan keroyokan, tiba-tiba Salima melengking menerjang Mo-ong. Inilah yang memang diharapkan Yu Bing.
"Yu-lo, serahkan Mo-ong padaku!" Salima yang sudah menyerang kakek muka singa itu dengan kebutan benderanya disusul pukulan Tiat-lui-kang, tiba-tiba menyerbu dan menguak pertempuran itu menjadi dua. Ia segera berkelebatan dan menghujani kakek iblis ini dengan tamparan dan tendangan bertubi-tubi hingga Mo-ong menggereng. Serangan bendera menyambar, membuat Mo-ong sibuk mengelak ke sana ke mari. Itulah keistimewaan Salima di samping pukulan petirnya.
Ketika lawan terdesak dan kewalahan menghadapi serangannya, pelipis Mo-ong terkena ujung bendera dan kecapretan jari Salima. "Prat! Dess!" Mo-ong meraung dan bergulingan menjauh, maklum lawan yang satu ini tak kalah berbahaya dibanding Cheng-bin Yu-lo. Ketika Mo-ong melompat bangun dan dikejar serangan lagi, dia mengeluarkan kipasnya untuk menangkis bendera dan pukulan petir. "Plak! Plak!"
Keadaan sekarang berimbang. Mo-ong dapat mempertahankan diri dan balas menyerang; Salima memekik dan mencoba menekan. Namun, karena Mo-ong bukan lawan sembarangan dan kakek iblis ini termasuk salah satu dari Jit-mo Kang-ouw, tekanan dan pukulan Salima tertahan di udara, sementara kakek iblis itu mencari kesempatan untuk merobohkan lawannya juga. Pertempuran berjalan seru, masing-masing sama sengit. Mo-ong sudah mengeluarkan Hek-hoat-nya untuk menandingi Tiat-lui-kang. Ledakan-ledakan petir itu ditahannya dengan ilmu silatnya ini. Ketika bendera juga menyambar-nyambar dan dihadapi kebutan kipas yang tak kalah hebat, pertandingan menjadi seru bukan main.
"Yang lain harap mundur, jauhi arena pertempuran!" Hek-eng Taihiap berseru, melihat pertempuran kian hebat. Ada keinginan di hatinya untuk membantu Salima atau Cheng-bin Yu-lo, tangannya sudah terasa gatal. Namun, melihat jalan ke situ tertutup oleh angin pukulan sinkang, Pendekar Garuda Hitam ini akhirnya menonton dengan menahan napas, sama seperti yang lain karena pertempuran itu tak kalah menariknya dengan Kim-mou-eng dan suhengnya tadi.
Hek-eng Taihiap mendadak teringat, menoleh dan sudah melihat Yu Bing serta Bu-ciangkun menolong Pendekar Rambut Emas; ia pun melompat dan membantu pendekar itu. Gurba dibiarkan. Raksasa tinggi besar itu telentang dengan muka pucat, tiba-tiba dihampiri Cu-ciangkun. Panglima ini berbisik kepada seorang pengawal, dan diam-diam tanpa diketahui orang lain, mereka menangkap dan membawa raksasa itu entah ke mana.
Namun, melihat Kim-mou-eng tak dapat disadarkan juga dan pertolongan mereka sia-sia, Yu Bing mengeluh melepaskan tangan. "Tak ada yang sanggup mengobati di antara kita. Lukanya cukup berat, hanya Salima yang mungkin dapat menolong suhengnya ini."
"Tapi gadis itu sedang bertempur. Apa yang harus kita lakukan?"
"Bawa dulu Kim-taihiap ke dalam, Bu-ciangkun. Nanti Salima menolong suhengnya. Ini membutuhkan bantuan sinkang untuk disalurkan ke tubuh Kim-taihiap. Di antara kita tak ada yang kuat memberinya, salah-salah terhisap dan mati sendiri!"
Kim-mou-eng lalu dibawa ke dalam. Sin-to Sam-enghiong menjaga pendekar ini di tempat aman di kamar rahasia pangeran mahkota. Yang lain kembali menonton pertempuran empat orang itu. Ketika pengawal dan orang-orang berkepandaian rendah pusing mengikuti jalannya pertandingan karena yang bertempur sudah bergerak cepat membentuk gulungan naik-turun, di pihak Cheng-bin Yu-lo dan Siauw-bin-kwi ada penyelesaian.
Pertandingan di pihak ini tak kalah dahsyat. Yu-lo dan Bin-kwi memasuki tahap serius. Berkali-kali iblis muka ketawa itu memaki, membentak, serta menangkis dan membalas pukulan lawan dengan pukulan sinkang. Keduanya tak mau kalah, sementara Bin-kwi cemas melihat kepungan begitu ketat; susah rasanya melarikan diri kalau dia terluka. Yu-lo ini benar-benar konyol.
Ketika pukulan beradu pukulan dan sinkang bertemu sinkang, Yu-lo mengeluarkan Cheng-tok-jiu-nya (Tangan Racun Hijau) yang menggelisahkan Bin-kwi saat pertandingan mulai memuncak.
"Piak! Lak!" Siauw-bin-kwi terkejut. Saat itu dia menangkis pukulan lawan; dua lengan bertemu dan lengan Yu-lo mengeluarkan uap kehijauan, menempel dan menimbulkan rasa gatal di lengannya sendiri. Sungguh dia terkesiap. Ketika dia menangkis lagi dan kini rasa pegal ikut mengganggu, Bin-kwi berteriak memaki lawannya itu, "Yu-lo, kau rupanya benar-benar mengajak bertanding sampai mampus?"
"Heh-heh, tak ada yang mampus kalau kau menyerah, Bin-kwi. Atau pergi saja kalau kau mampu!"
"Keparat, kau tua bangka tak kenal solider!" Siauw-bin-kwi menangkis lagi, kali ini mengusap lengan dengan minyak yang anyir; pukulan lawan meleset dan hawa beracun tidak menempel seperti tadi. Cheng-bin Yu-lo bertegun. Ketika lawan berkelebat membuka mulut, tiba-tiba puluhan paku menyambar muka kakek bermuka hijau ini.
"Aih, paku Toat-beng-kut (Tulang Penyambar Nyawa)!" Cheng-bin Yu-lo berteriak, mengibas dan mengusir paku-paku berbahaya itu yang entah bagaimana dapat disemburkan lawan mirip ular menyemburkan bisa. Persis dia merontokkan paku-paku ini ke tanah, Siauw-bin-kwi sudah menyelinap melepas satu tendangan tinggi ke rahang lawan.
"Plak!" Cheng-bin Yu-lo mencengkeram, kaki ditangkap, tapi Bin-kwi melejit. Tangan lawan dipakai sebagai batu loncatan untuk melenting tinggi, kaki yang lain bergerak memutar menendang telinga lawan. Serangan itu memutar dengan gerak luar biasa di tengah udara begitu cepat. Dan ketika Yu-lo terperangah dan menggerakkan tangan satunya, mendadak lawannya ini meluncur turun dan menumbukkan kepalanya ke ubun-ubun Yu-lo.
"Aih, Tiat-thouw-kang (Serudukan Kepala Besi)!" Kakek muka hijau itu menghentikan tawanya; lawan sudah di atas dan tak mungkin dia mengelak.