Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 174

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 174

Satu-satunya jalan bagi mereka adalah mengadu kepala. Sementara Cheng-bin-yu-lo mengerahkan Cheng-tok-jiu untuk mencengkeram leher, Siauw-bin-kwi yang menukik dengan kepala di bawah juga menggerakkan kedua tangan menyambut pukulan tersebut.

"Duk! Plak!" Benturan itu membuat dua kakek tersebut terbanting.

Kepala mereka saling tumbuk. Cheng-bin-yu-lo mengeluh karena tangan mereka saling mencengkeram dan masing-masing tidak dapat melepaskan diri, sementara Tiat-houw-king membuat kakek muka hijau itu kesakitan. Kulit kepalanya terkelupas, sedangkan Cheng-tok-jiunya mencengkeram tangan Siauw-bin-kwi dengan licin namun tepat di perut, sehingga lawannya tidak dapat melepaskan diri. Keduanya pun terbanting.

Ketika dua kepala masih saling menempel dan mereka berkutat di atas tanah, dengan bentakan nyaring Cheng-bin-yu-lo memasukkan hawa beracun dari Cheng-tok-jiunya lewat kepala.

"Augh!" Siauw-bin-kwi merasa seperti dibakar.

Sebenarnya, Tiat-thouw-kang yang dimilikinya merupakan ilmu terakhir. Dengan kepalanya itu, ia dapat menumbuk hingga pecah sebuah batu kali yang besar. Namun, karena lawan yang dihadapi setingkat, sinkang Cheng-bin-yu-lo dapat menahan tumbukan tersebut, kecuali kulit kepalanya saja yang tidak tahan digesek si Iblis Muka Ketawa. Yu-lo membalas dengan memasukkan hawa beracun Cheng-tok lewat ubun-ubun Bin-kwi, sehingga terjadi teriakan kaget dari pihak si Iblis Muka Ketawa ini.

"Keparat!" Bin-kwi menjadi marah.

Kepulan uap hijau yang keluar dari kepala lawan memasuki kepalanya sendiri, namun segera ditahan. Masing-masing mengadu kepala sambil mengerahkan sinkang. Pemandangan itu tampak lucu; keduanya seperti jangkrik yang sedang beradu. Pantat menungging, kepala saling dorong, dan kedua tangan saling cengkeram dengan tubuh sejajar di atas tanah. Pertandingan itu tidak lagi berlangsung cepat, melainkan dapat ditonton dengan jelas. Uap putih dan hijau tampak di atas kepala masing-masing.

Namun, ketika terdengar suara berkeretak dari kepala keduanya, orang melihat lubang telinga mereka mencucurkan darah.

"Jahanam kau, Yu-lo! Keparat kau..." Yu-lo menyeringai. Bin-kwi masih sempat mengucapkan beberapa makian sebelum akhirnya diam.

Seorang pengawal yang bersorak melihat pertandingan aneh ini merasa gatal tangannya, lalu meloncat dan menusuk pantat Bin-kwi. Dikiranya sekali tusuk iblis itu bakal tewas. Namun, ketika tombak menyambar dan Hek-eng-taihiap berseru mencegah, mendadak tombak itu patah. Pengawal ini menjerit roboh, terpelanting, dan menimpa tengah-tengah pertempuran adu sinkang tersebut.

"Krak!" Tengkorak pengawal ini pecah.

Orang-orang menjadi ngeri melihat pengawal itu roboh bermandi darah. Rupanya, Bin-kwi tidak dapat dibokong karena getaran sinkang kakek itu melindungi dirinya dari arah mana pun. Ketika dua orang itu kembali berkutat dan sama-sama mengerahkan tenaga terakhir, tiba-tiba Yu-lo menggereng dan Bin-kwi membentak.

"Kretak!" Suara itu lebih mengerikan lagi.

Orang melihat Yu-lo mencelat; kedua orang itu sekarang terlepas. Bin-kwi terhuyung dan roboh dengan mata mendelik. Yu-lo kebetulan menimpa Mo-ong yang sedang bertanding dengan Salima, lalu mengeluarkan kekeh aneh dan langsung menangkap lawannya itu. Saat itu Mo-ong sedang menangkis bendera dengan kipas, tentu saja ia terkejut. Ketika Yu-lo mencengkeram kepalanya, jari kelingking kakek ini mencoblos mata kanan Mo-ong.

"Augh!" Mo-ong mengeluarkan teriakan tinggi.

Kipas di tangannya yang sedianya menangkis bendera sekonyong-konyong menyambar Yu-lo, tertutup dan membentuk benda kaku yang menusuk leher kakek muka hijau itu. Kesakitan yang sangat membuat iblis ini lupa diri. Yu-lo terkekeh-kekeh; sebelah tengkoraknya sudah retak beradu sinkang dengan Bin-kwi tadi. Begitu kipas menutup dan menyambar, Yu-lo tergorok dan terbanting roboh, tewas seketika.

Namun, bendera Salima yang lolos dan menderu ke depan tiba-tiba mengenai dada Mo-ong, disusul pukulan petir yang menghantam kening iblis ini. Mo-ong terjungkal dan mengeluh melontarkan darah. Gangguan Yu-lo benar-benar membuat dia celaka. Ketika Mo-ong bergulingan dan berteriak tertahan, iblis yang buta sebelah matanya ini melompat bangun dan melarikan diri. Saat itu, Bin-kwi yang tertatih-tatih juga meledakkan granatnya. Keadaan menjadi kacau dan Mo-ong sudah menyambar temannya itu.

Bin-kwi juga retak tulang kepalanya; adu sinkang tadi membuat keadaannya tak lebih baik dibanding Yu-lo. Begitu dua orang itu melompat kabur, Salima berteriak marah menghindari ledakan granat dan asap tebal.

"Kejar, tutup kepungan dengan rapat!" Namun, tak ada pengawal yang sanggup melaksanakan perintah ini.

Mo-ong sudah menggerakkan lengannya berkali-kali; para pengawal terlempar dan berpelantingan tak keruan. Iblis itu mencari jalan berlindung di balik asap. Ketika suasana kalut dan asap menipis kembali, ternyata dua orang itu telah lenyap meninggalkan pertempuran. Salima membanting kaki.

"Keparat, Mo-ong sudah terluka. Tak mungkin dapat pergi jauh!"

Namun, Hek-eng-taihiap tiba-tiba menghampiri. "Lihiap, suhengmu terluka. Sebaiknya dilihat dulu daripada mengejar iblis-iblis itu."

Salima teringat. Dengan penuh kecewa, dia mengikuti Pendekar Garuda Hitam ini. Namun, melihat Yu-lo tewas dan Yu-bing mengguguk, tiba-tiba gadis ini tertegun, berhenti sejenak, dan menghibur pemuda itu. Kematian Yu-lo cukup mengerikan; lehernya tembus sementara tengkoraknya retak.

Ketika ia melanjutkan langkah, Hek-eng-taihiap termangu mendadak teringat pula pada twa-suhengnya, Gurba. "Mana twa-suheng?"

"Dibawa Cu-ciangkun. Nanti dapat kita tanyakan kalau ji-suhengmu sudah kau tolong."

Salima mengerutkan kening. Memang Kim-mou-eng baginya lebih penting daripada suheng tertuanya itu. Betapapun rasa tidak puas dan benci membuat Salima tidak suka pada Gurba, langkahnya dilanjutkan kembali dan akhirnya dia tiba di dalam. Keributan para pengawal tidak dihiraukannya lagi. Salima melihat Sin-to-sam-enghiong menjaga suhengnya itu; pangeran mahkota juga ada di sana, bahkan didampingi Kim-taijin. Salima yang masuk dengan sikap tergesa segera disambut pangeran mahkota yang cemas.

"Lihiap, suhengmu tak dapat kami tolong. Tabib istana telah memberinya obat, namun belum sadar juga. Mungkin kau dapat menyelamatkannya."

Salima memeriksa suhengnya. Tubuh yang pingsan itu hampir tidak bernapas, denyut nadinya lemah. Salima terisak. Karena maklum keadaan cukup mendesak dan dia harus menolong suhengnya, Salima minta semua orang keluar. Ia duduk dan menempelkan lengan di dada suhengnya, mengalirkan sinkang karena keadaan suhengnya memang gawat.

Uap mengepul memasuki tubuh Kim-mou-eng, uap sinkang yang penuh tenaga mukjizat. Dua jam Salima memeras keringat menolong suhengnya itu. Ketika tubuh suhengnya mulai bergerak dan Salima membuka mata, pelupuk mata suhengnya bergerak-gerak. Kim-mou-eng sadar.

"Suheng, kau dapat menangkap suaraku?"

Kim-mou-eng layap-layap. Pendekar ini mengeluh merasa dadanya sesak. Salima menggerakkan tangan satunya menekan bagian ini; hawa hangat segera mengalir dan Kim-mou-eng membuka mata. Perasaan sakit hilang, meskipun sejenak. Begitu mata bertemu pandang dengan sumoinya, mendadak pendekar ini bangkit duduk dengan tubuh gemetar.

"Sumoi, mana suheng?"

Salima mengerutkan kening. Pertanyaan suhengnya tentang Gurba membuat ia tidak senang, sehingga ia tidak menjawab. Ketika suhengnya mencengkeram lengannya dan bertanya dengan suara menggigil, tiba-tiba di luar terdengar suara ribut-ribut. Api tiba-tiba berkobar di luar gedung, cahaya kemerahan menjulang tinggi disusul teriakan-teriakan kacau. Para pengawal dan orang-orang istana gaduh. Salima mendengar adanya kebakaran dan serbuan dari orang-orang tak dikenal.

Ketika Salima tertegun dan Kim-mou-eng terbelalak, pangeran mahkota muncul diiringi Kim-taijin dengan tergesa-gesa.

"Lihiap, pemberontak mulai beraksi. Pasukan Tartar di luar kota raja mulai menyerbu!"

Salima melompat bangun. "Apa yang hendak Paduka lakukan?"

"Menyelamatkan Sri Baginda, Lihiap," Kim-taijin mendahului. "Kami hendak menyingkir dan minta Lihiap menguasai pasukan Tartar itu!"

"Siapa yang memimpin mereka?"

"Katanya Siga dan Bora. Mereka telah mendengar robohnya twa-suhengmu itu di sini!"

"Keparat!" Salima mengepal tinju, bingung memandang suhengnya. "Tapi bagaimana dengan suhengku ini? Dia belum sembuh, perlu banyak beristirahat!"

Belum sempat Kim-taijin menjawab atau pangeran mahkota mengeluarkan suara, mendadak Bu-ciangkun muncul dengan wajah pucat. "Pangeran, Ibunda Selir lenyap. Beberapa pengawal melihat bayangan Siauw-ongya dan Tok-gan-sini!"

"Ah, ke mana mereka?"

"Memasuki istana, Pangeran. Cu-ciangkun mengejar dan mencoba menghadang. Kita kekurangan tenaga pandai!"

Pangeran itu pucat. Saat itu di tempat mereka yang bisa diandalkan hanyalah Salima. Kim-mou-eng terluka, dan hanya gadis itulah satu-satunya yang dapat dipercaya. Ketika mereka tertegun dan bingung mencari akal, mendadak seorang pengawal datang berlari-lari menjatuhkan diri berlutut.

"Pangeran, Sri Baginda lenyap. Ibunda Selir memasuki lorong bawah tanah bersama puteranya!"

Pangeran kaget. "Tak ada yang menahan?"

"Seorang kakek melindungi mereka, Pangeran. Kakek bercawat yang sikapnya setengah gila."

"Ah, Coa-ong Tok-kwi!"

Ketika Pangeran Mahkota dan yang lainnya terkesiap mendengar berita ini, tiba-tiba terdengar dentang senjata dan teriakan kesakitan di luar gedung. Rupanya pertempuran sudah memasuki istana. Kim-taijin dan yang lain berubah wajah melihat ini semua. Pekik dan jerit di luar membuat bulu roma meremang. Ketika mereka terkesima dan kehilangan akal, tiba-tiba Yu-bing muncul dengan pedang berlumuran darah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment