Chapter 175
"Pangeran, cepat bersembunyi! Pasukan Tartar dan anak buah Pangeran Muda mengepung istana. Bu-ciangkun diminta keluar membantu mengatasi keadaan. Suasana kalut, kita semua harus melawan musuh yang mengepung tempat ini!"
"Baik!" Bu-ciangkun melompat sambil mengerang marah, mencabut golok besarnya dengan tangan kiri. "Paduka bersembunyi, Pangeran. Hamba akan merobohkan musuh sambil mencari Sri Baginda!"
"Dan aku akan menghadapi yang lain," sahut Yu Bing sambil bersiap melompat keluar. "Harap Kim-taijin menjaga Pangeran di tempat persembunyian!"
Tiba-tiba Salima melompat dan berseru, "Nanti dulu, sebentar, Yu-twako. Bagaimana dengan suhengku ini? Adakah tempat yang aman agar aku dapat membantu kalian?"
Yu Bing tertegun. "Kim-taihiap sudah sadar? Sebaiknya ikut saja bersama Pangeran."
"Tidak," Kim-mou-eng tiba-tiba bangkit dengan gagah. "Aku dapat membantu sebisaku, Saudara Yu. Kalian tak perlu khawatir karena aku cukup sehat!"
Kim-mou-eng tampak agak terhuyung. Semua mata terbelalak karena jelas kata-kata itu diucapkan dengan paksa. Tak mungkin pendekar ini bertempur karena kondisinya belum mengizinkan. Kim-taijin dan Pangeran Mahkota merasa kagum, namun ketika pendekar itu terbatuk-batuk hingga kesulitan menahan tubuhnya, Salima terisak sambil mencengkeram lengan suhengnya.
"Tidak, kau tak perlu berbohong, Suheng. Kau ikut saja bersama Pangeran seperti kata Yu-twako tadi. Kau tak boleh bertempur!"
"Tapi aku bisa bertahan, Sumoi. Aku... ugh! Ugh!" Kim-mou-eng kembali terbatuk hingga terpaksa menghentikan kata-katanya. Ia terguling roboh, namun dengan cepat ditangkap oleh Salima yang kemudian menotok tengkuk suhengnya hingga pingsan. Salima tahu betul kekerasan hati suhengnya. Di tengah kekaguman orang-orang, Salima menyerahkan tubuh suhengnya kepada Pangeran Mahkota.
"Pangeran, benar seperti kata Yu-twako, suhengku tak mungkin kuat bertempur. Sedikit tenaga saja tentu lukanya akan kambuh. Tolong Paduka bawa dan sembunyikan ia di tempat aman."
"Baik, dan ini peta lorong-lorong rahasia di bawah tanah, Lihiap. Kau dapat mencariku kalau terdesak."
"Tidak, aku akan mengatasi pasukan Gurba, Suheng. Aku tak akan terdesak dan akan menghantam pasukan liar yang dipimpin Siauw-ongya!" Salima segera mendorong Pangeran Mahkota untuk segera pergi membawa suhengnya.
Ketika Yu Bing pergi dan sorak-sorai di luar semakin jelas, Salima segera mencari anak buah suhengnya dan merobohkan musuh yang berani menyerangnya. Ia diam-diam terkejut dan heran bagaimana Pangeran Muda itu dapat membawa pasukannya masuk. Dalam sekejap, tubuh-tubuh musuh bergelimpangan. Salima tak tahu bahwa ini adalah taktik Pangeran Muda yang ingin menyelamatkan ibunya.
Berita tentang tumbangnya Kim-mou-eng dan Gurba telah tersebar. Sang ibunda selir cemas dan menyuruh orang kepercayaannya agar putranya segera menyerang bersama pasukan Tartar yang saat itu menunggu kembalinya Gurba. Siga dan Bora marah mendengar kekalahan Gurba. Utusan Pangeran Muda sengaja tidak menyebut-nyebut nama Kim-mou-eng, melainkan mengabarkan bahwa Gurba dikepung dan ditangkap oleh orang-orang Kaisar melalui kecurangan. Nama Kim-mou-eng disembunyikan untuk memicu kemarahan pasukan Tartar.
Pangeran Muda sengaja membiarkan pasukan Tartar itu terbakar amarah agar mereka dapat dibujuk untuk menyerbu bersama pasukan pemberontak yang kehilangan komando. Sementara itu, para perwira dan menteri disekap di suatu tempat.
"Mana Siga! Mana Bora!" Salima maju membuka jalan. Musuh yang ada di depan dikibas dan dipentalkan hingga menjerit tak berdaya. Para pemberontak minggir dan menyibak dengan gentar. Ketika Salima bertemu pasukan Tartar, mereka mengenal gadis ini dan berseru girang karena mengira Salima datang membantu mereka.
"Sian-li, twa-hengmu ditangkap musuh! Bunuh orang-orangnya Kaisar dan tangkap Kaisar itu!"
Salima berkelebat dan mencengkeram salah satu di antara mereka. "Mana Siga? Mana Bora?"
Orang itu terkejut. "Aku tak tahu, Sian-li. Tapi mungkin di timur!"
"Brukk!" Orang itu dibanting. Salima melompat pergi, namun ia tak segera menemukan kedua pemuda itu karena terhalang oleh pasukan Tartar yang menyerbu ke depan. Mereka berteriak-teriak gembira mengira Salima sedang mencari Gurba. Namun, ketika Salima berteriak memerintahkan pasukan Tartar itu untuk menghentikan pertempuran, mereka pun bingung.
"Hei, kalian semua berhenti menyerang! Berhenti!" Salima menjungkirbalikkan orang-orang itu, merasa gemas karena dua orang yang dicarinya belum ketemu. Di sisi lain, orang-orang Pangeran Muda merasa mendapat semangat dengan bantuan pasukan Tartar. Keadaan bertambah kacau; api dan pekik pembunuhan membuat bulu kuduk berdiri.
Salima melengking tinggi memerintahkan pasukan Tartar untuk berhenti. Setelah mereka mulai tunduk, Salima berteriak kembali, "Mana Siga! Mana Bora! Kalian hentikan serangan dan tangkap orang-orangnya Pangeran Muda itu!"
Pasukan Tartar kebingungan. "Apa? Kami harus menangkap teman sendiri, Sian-li?"
"Bukan teman, tapi musuh! Orang-orangnya Pangeran itu adalah musuh yang harus kalian bunuh! Tangkap mereka dan jangan menyerang pengawal istana lagi!"
Salima terus berkelebat menghentikan pertempuran. Pasukan Tartar tiba-tiba berbalik arah, menyerang pasukan Pangeran Muda, membuat para pemberontak menganggap mereka gila. Saat keadaan kacau-balau, Salima akhirnya menemukan Bora di sebelah timur.
Bora sedang mengamuk dengan tombak dan tameng, menyerang pasukan istana dengan beringas. Seorang perwira istana roboh tewas di tangannya. Ketika Salima berkelebat dan membentak, Bora yang awalnya hendak menusuk langsung tersentak kaget.
"Sian-li!"
Salima mendengus. Ia tak menjawab dan langsung mencengkeram pundak pemuda itu. "Hentikan pasukanmu. Tarik mundur dan tangkap orang-orangnya Pangeran Muda itu!"
"Ah... apa katamu, Sian-li? Menangkap orang-orangnya Pangeran Muda?"
"Ya, kau tak tuli, bukan? Cepat!"
"Brukk!" Bora dibanting ke tanah karena Salima marah. "Kau tak perlu banyak cakap. Saat ini aku menggantikan suhengku. Kalian tertipu! Kalian dijadikan kerbau tolol yang tidak berotak!"
Salima kemudian bertanya, "Mana Siga?"
Bora yang masih kebingungan segera menunjuk ke arah sekelompok orang yang tengah dihajar oleh seorang pemuda gagah bersenjata golok besar. Kebetulan sekali, Bu-ciangkun tengah menghadapi pemuda itu, yakni Siga. Siga memiliki keberanian besar dan tenaga sekuat banteng. Saat Salima tiba di tempat itu dan golok di tangan Bu-ciangkun terpental, Salima segera membentak, "Siga, tahan! Jangan berkelahi!"