Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 176

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 176

"Plak!" Golok di tangan Siga langsung mencelat. Siga menjerit dan jatuh bergulingan. Tamparan Salima terasa seperti sambaran petir yang membuat lengannya membiru. Salima memang gemas pada pembantu suhengnya ini, yang lama dicarinya namun baru sekarang ditemukan.

Ketika Siga melompat bangun dan melihat siapa yang datang, pemuda ini berubah gembira dan berteriak tertahan, "Sian-li, syukur kau datang!" Namun, Salima mendengus. Bu-ciangkun sendiri sudah mundur melihat kedatangan gadis ini; ia mengusap keringat dan terbelalak memandang pemuda Tartar yang gagah itu dengan rasa kagum.

Salima yang berkacak pinggang menghadapi bawahannya membentak, "Siga, tarik pasukanmu dari pengawal istana! Kalian tertipu. Tangkap dan bekuk orang-orang Pangeran Muda itu."

"Apa!" Siga membelalakkan matanya, sama seperti Bora, kaget. "Apa, Sian-li? Menarik pasukan dan menangkap orang-orang Pangeran Muda itu?"

"Ya, kau tidak tuli, bukan? Hentikan pertempuran dan tangkap bekas teman yang tidak dapat dipercaya itu. Mereka pemberontak! Kau tertipu dan serangan harus ditujukan pada para pemberontak ini!"

"Tapi Hanggoda ditangkap kaisar, kami datang untuk membebaskannya!"

"Urusan suhengku ada di tanganku, Siga. Jalankan perintahku dan jangan banyak cakap lagi!"

"Tapi...!"

"Tak ada tapi, ini perintah. Aku pemimpin kalian menggantikan Gurba-suheng!" Salima membentak. Siga bingung, tapi akhirnya mengangguk dengan perasaan ragu dan gugup karena harus menarik pasukannya secara tiba-tiba. Bahkan, pasukannya kini diperintahkan menangkap orang-orang Pangeran Muda yang sebelumnya adalah kawan. Siga tak mengerti, namun karena Salima adalah sumoi dari pimpinan mereka dan gadis itu merupakan atasan setelah Gurba, ia tidak dapat membantah.

Siga segera berteriak menyuruh pertempuran berhenti. Anak buahnya ditarik mundur dan para pemberontak ditangkap. Keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Di tempat Bora pun suasananya sama; pasukan Tartar menghentikan pertempuran. Karena di tempat lain Salima juga telah menghentikan gerakan anak buahnya, akhirnya pertempuran mereda. Pasukan Tartar sendiri tak mengerti, namun perintah Salima dijalankan. Tak lama kemudian, peperangan berakhir. Rumah-rumah yang terbakar sudah dipadamkan, menyisakan puing-puing kehancuran.

Ribuan orang berkumpul dengan keheranan, semua mata tertuju pada Salima. Gadis itu menjelaskan dengan suara nyaring mengenai kelicikan Pangeran Muda yang menghasut dan mengadu domba mereka dengan pasukan istana. Penjelasan itu menimbulkan kemarahan di sana-sini. Salima berapi-api menegaskan bahwa yang harus dihancurkan sesungguhnya adalah Pangeran Muda tersebut.

Ketika semuanya selesai, Cu-ciangkun muncul dengan napas terengah-engah. "Lihiap, Hanggoda tertawan. Ibunda selir menangkapnya dibantu Sin Coa-ong!"

Salima terkejut. "Di mana mereka sekarang?"

"Memasuki lorong bawah tanah, Lihiap. Aku tak tahu jalan-jalannya," jawab Cu-ciangkun.

"Baik, aku akan mengejarnya, Ciangkun!" Salima memotong dengan cepat. "Kau ikut cari Hek-eng Taihiap serta yang lainnya!"

"Aku di sini, Nona," Hek-eng Taihiap tiba-tiba muncul bersama Yu Bing. "Kami tak dapat menahan dua iblis itu karena mereka terlalu tangguh!"

Salima girang. "Tak apa, mereka memang lihai. Tapi sekarang kita akan membekuknya. Mari!" Salima berkelebat pergi, menyuruh Siga dan yang lain mengepung tempat itu agar musuh tak bisa melarikan diri. Ia kemudian disusul oleh Hek-eng Taihiap dan Yu Bing. Cu-ciangkun dan Bu-ciangkun diajak Salima mencari kaisar. Salima teringat akan peta yang diterimanya dari pangeran mahkota dan merasa cemas akan nasib suhengnya, Kimmou-eng. Untungnya peta itu dibawanya.

Pengejaran terhadap ibunda selir yang menangkap sri baginda pun dilakukan dengan cepat. Keselamatan kaisar jauh lebih berharga daripada apa pun saat itu.

Apa yang terjadi? Benarkah kaisar tertangkap? Sien Nio memang cerdik. Hal ini sebenarnya sudah ia atur ketika Gurba roboh bersama Kimmou-eng. Saat itu, semua perhatian tertuju ke sana. Sien Nio mendengar perkelahian yang dahsyat itu; keduanya roboh dan sama-sama terluka. Gurba yang diandalkan tak dapat dipakai lagi tenaganya. Karena keadaan semakin mengkhawatirkan dan sekutu mereka hilang tanpa kabar, Sien Nio mengutus orang memanggil puteranya untuk menyerang secara membabi buta.

Ketika suasana keributan menarik perhatian orang ke tempat itu, Sien Nio dengan tenang menemui kaisar. Saat itu kaisar sedang terbelalak menerima laporan tentang serbuan pasukan Tartar dan pasukan tak dikenal. Sien Nio menjatuhkan diri berlutut. "Sri Baginda, mohon agar Paduka menyembunyikan diri. Keadaan di luar kalut, Paduka harus bersembunyi demi keselamatan."

"Aku tahu, Sien Nio. Tapi kenapa kau kemari? Mana permaisuri?"

"Permaisuri terperangkap di kaputren, Sri Baginda. Api mengurung tempat itu hingga Paduka Permaisuri pingsan."

"Kau tahu siapa penyerang-penyerang itu?"

"Bangsa Tartar, Sri Baginda. Orang-orang liar yang biadab!"

"Tapi mereka dibantu orang-orang istana, katanya para pemberontak yang berkhianat!"

"Untuk ini hamba tak tahu, Sri Baginda. Tapi sebaiknya Paduka menyelamatkan diri dahulu. Hamba siap mengantar Paduka!"

Kaisar tertegun, melihat sesuatu yang ganjil namun tidak segera menjawab. Sien Nio yang tergesa-gesa melirik kiri kanan, lalu bangkit berdiri. "Mari, Sri Baginda. Hamba mengantar Paduka."

"Tidak, aku ingin melihat keluar dulu. Aku penasaran kenapa orang-orang Tartar itu menyerang istana!" Kaisar menolak.

"Ah, keadaan cukup gawat, Sri Baginda. Waktu tak ada bagi Paduka untuk melihat-lihat keluar!" Sien Nio menghampiri. Seorang pengawal maju hendak menghalangi, namun tiba-tiba ia roboh tewas disambar sebatang jarum yang amblas di batok kepalanya. Sesosok bayangan tiba-tiba berkelebat disertai kekeh parau; seorang kakek bercawat.

Dialah Coa-ong Tok-kwi, si Raja Ular yang memegang suling dan tongkat. Tongkatnya itulah yang tadi melepas jarum berbisa. Sien Nio mendesak, "Sri Baginda, pengawal ini mata-mata pengkhianat. Dia hendak membunuh Paduka, terpaksa dibunuh. Mari cepat menyingkir!"

"Kakek ini...?"

"Coa-ong Tok-kwi, Sri Baginda. Dia yang akan melindungi kita. Mari!"

Tiba-tiba, tujuh laki-laki menerobos masuk hendak menerjang kaisar. Kaisar terkejut melihat para pembunuh itu. Namun, sebelum senjata mereka mencapai kaisar, kakek setengah gila itu berseru. Suling dan tongkatnya bergerak cepat. Tujuh orang itu bergelimpangan dan roboh bermandi darah.

"Heh-heh, mari, Baginda. Tikus-tikus busuk ini masih banyak lagi di luar!"

Kaisar tertegun melihat kehebatan kakek itu. Sien Nio menarik lengannya dengan tidak sabar. "Sri Baginda, tempat ini sekarang tak aman. Paduka tak perlu sangsi terhadap hamba!"

Kaisar menurut. Ia mengikuti selirnya menyusuri lorong-lorong istana, sementara si kakek aneh melindungi di depan. Memang benar, di luar pun mereka disambut pembunuh-pembunuh baru yang bengis. Satu per satu dirobohkan oleh kakek itu. Saat mereka tiba di samping istana dan siap memasuki tempat rahasia, sesosok bayangan berkelebat menyerang Coa-ong Tok-kwi.

"Sri Baginda, lepaskan diri Paduka dari orang-orang ini! Mereka pengkhianat!" Bayangan itu adalah Hek-eng Taihiap yang tidak dikenal kaisar. Ia mendorong dan menghantam si Raja Ular. Namun, si Raja Ular hanya terkekeh, menangkis serangan itu, dan membuat Hek-eng Taihiap terpental ke belakang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment