Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 177

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 177

Pendekar Garuda Hitam maju kembali untuk menyerang. Sesosok bayangan lain muncul, seorang pemuda bersenjata pedang sepasang, Siang Kiam Houw Yu Bing, yang membantu dan membabat kakek bercawat itu.

Namun, ketika pedang terpental dan Yu Bing terpelanting, kakek itu terkekeh-kekeh membalas mereka.

"Heh-heh, kau tak takut mampus, Yu Bing. Dulupun lolos, sekarang masih berani cari penyakit!" Kakek itu menggerakkan tongkatnya. Yu Bing bergulingan menjauh saat tiga sinar hitam tiba-tiba mencuat; itulah jarum-jarum beracun yang dilepas kakek itu melalui ujung tongkatnya.

Yu Bing yang mampu menyelamatkan diri dan melompat bangun, ternyata menerjang lagi tanpa rasa takut. Ia berseru kepada Kaisar, "Sri Baginda, lepaskan diri Paduka dari orang-orang ini. Mereka pengkhianat. Mereka pembunuh!" Yu Bing menerjang bersama Hek-eng Taihiap.

Coa-ong Tok-kwi marah dan menangkis mereka; suling serta tongkatnya kembali bergerak. Kedua orang itu terpaksa mundur. Ketika kakek itu membalas dan lawan kembali terdesak, Sien Nio mengajak Kaisar lari.

"Sri Baginda, mari selamatkan diri. Jangan percaya ucapan mereka!" Kaisar tertegun. Ia telah dibawa oleh selirnya ini, sementara Yu Bing dan Hek-eng Taihiap kembali berteriak agar Kaisar tidak menuruti kemauan selir itu. Namun, karena Yu Bing dan Hek-eng Taihiap tidak dikenal oleh Kaisar, dan Sien Nio kembali menariknya sambil mengatakan bahwa mereka adalah pengacau, Kaisar pun menyelinap dan mengikuti selirnya.

Saat itu, Cu Ciangkun muncul. Panglima bersenjata tombak ini melompat dan berseru agar Kaisar melepaskan diri dari Sien Nio. Kaisar bingung. Namun, ketika Sien Nio hendak dihalau dan tombak menyerang, tiba-tiba Coa-ong Tok-kwi berkelebat. Suling di tangan kakek gila itu menangkis, tombak terpental, dan Cu Ciangkun pun bergulingan.

Kakek itu akhirnya dikeroyok tiga, namun ia tertawa sembari menangkis semua serangan lawan. Hek-eng Taihiap dan kawan-kawannya ternyata kurang mampu menandingi kakek ini. Coa-ong terlalu lihai. Sementara mereka bertempur sambil berteriak-teriak, sekonyong-konyong Tok-gan Sin-ni muncul.

"Hi-hi, mereka ini mengacau, Paduka Selir? Kalau begitu, kubunuh saja mereka. Coa-ong rupanya tak becus... plak, plak!" Rambut Tok-gan Sin-ni menjulur menangkis serangan lawan, membuat Hek-eng Taihiap dan kawan-kawannya terkejut. Mereka disambut kekeh dan sambaran tongkat di tangan Coa-ong Tok-kwi.

"Heh-heh, kau sombong, Sin-ni? Kalau begitu cobalah, ingin kulihat seberapa lama kau dapat merobohkan mereka!" Kakek ini mementalkan tombak di tangan Cu Ciangkun, melompat mundur, mengejek temannya, dan membiarkan Sin-ni menghadapi Hek-eng Taihiap serta kawan-kawannya. Ia bahkan keluar dari arena karena mendongkol pada wanita iblis itu.

Tok-gan Sin-ni terkejut, namun akhirnya terkekeh. Ia diam-diam memaki karena Coa-ong yang diringankan pekerjaannya malah sekarang menonton. Ia harus menghadapi empat lawannya dengan ledakan rambut dan pukulan sinkang. Ketika ia mementalkan lawan, beberapa jurus kemudian ia dikelilingi sambaran senjata, tombak, serta pedang di tangan Yu Bing yang berkelebatan di antara dorongan Hek-eng Taihiap. Tiba-tiba wanita ini terbelalak karena ia tidak dapat mendesak lawan lagi. Ternyata kerepotan Coa-ong memang beralasan.

Tok-gan Sin-ni gemas. Ketika pedang dan tombak kembali menyambar, ia marah dan tiba-tiba melengking mengeluarkan Sin-mauw-kang (Lecutan Rambut Sakti). Rambutnya keras seperti baja dan lurus seperti tombak.

"Coa-ong, jangan terkekeh-kekeh seperti orang gila. Kau lihat ini, berapa jurus mereka akan kurobohkan... tar, tarr!" Rambut itu tiba-tiba meledak, kaku, dan lurus seperti kawat baja. Pedang dan tombak terpental saat bertemu rambut yang sudah diisi tenaga sakti ini. Yu Bing dan Cu Ciangkun berseru kaget. Ketika mereka kembali menyerang, rambut itu menangkis, lalu sekonyong-konyong berubah lemas dan melilit senjata mereka.

"Lepaskan!" Tok-gan Sin-ni membentak. Rambut itu membetot dan kedua orang tersebut tertarik. Yu Bing cepat menggerakkan pedang satunya untuk membabat rambut, namun rambut itu tidak dapat putus dan malah terjerat pula. Tiba-tiba, Tok-gan Sin-ni terkekeh dan melepas pukulan sinkang dengan kedua lengan didorong ke depan.

"Awas!" Yu Bing membanting diri dan bergulingan sambil melepas pedangnya. Ia tak sanggup menerima pukulan lawan yang terlalu berbahaya. Sinkang Tok-gan Sin-ni setingkat dengan sinkang mendiang suhunya, tentu saja ia bakal celaka. Yu Bing yang sudah melepas pedangnya tiba-tiba meraup pasir dan menghamburkannya ke mata lawan, saat Cu Ciangkun juga melakukan hal yang sama. Tok-gan Sin-ni yang tidak menduga perbuatan ini tiba-tiba berteriak ketika matanya yang tinggal satu kemasukan pasir!

"Aup, keparat..." Tok-gan Sin-ni menjerit, pedang dan tombak segera terlepas dari belitan rambutnya. Yu Bing dan Cu Ciangkun menyambar senjata mereka yang jatuh di tanah, lalu menerjang lagi disusul Hek-eng Taihiap yang girang melihat Tok-gan Sin-ni mengucek-ucek mata sendiri.

Iblis wanita ini gusar. Namun, ketika pedang dan tombak mental bertemu kekebalan wanita itu yang telah melindungi diri dengan sinkang, Sien Nio yang terbelalak di pinggir berteriak pada Coa-ong, "Coa-ong, bantu temanmu. Bunuh mereka!"

Coa-ong terperanjat. Tadinya kakek ini terkekeh-kekeh melihat rekannya kemasukan pasir karena geli dan gembira. Namun, begitu sang selir membentaknya untuk menolong, kakek ini menghentikan tawanya dan berkelebat ke depan. Saat itu hujan serangan menuju wanita sakti itu; Tok-gan Sin-ni terhuyung dan mengandalkan kekebalan tubuhnya saja. Pakaiannya robek-robek tapi tubuhnya tidak terluka. Ia memaki-maki lawan dan si Raja Ular yang justru mengejeknya.

Ketika Raja Ular itu membantu dan Coa-ong berkelebat ke depan, tiba-tiba semua sambaran senjata dan pukulan Hek-eng Taihiap terpental. "Plak, plak, plak!" Tok-gan Sin-ni dapat terbebas sejenak. Wanita ini mundur dan Coa-ong menggantikan kedudukannya menghadapi lawan. Kini iblis itu tertawa-tawa kembali dan serangan Yu Bing serta kawan-kawannya berhasil dihalau.

Ketika Tok-gan Sin-ni berhasil menyembuhkan matanya dan memekik nyaring untuk membantu Coa-ong, akhirnya Yu Bing dan kawan-kawannya terpaksa mundur. Mereka memang bukan tandingan dua iblis ini; menghadapi seorang di antaranya saja sudah cukup berat. Maka, ketika mereka terdesak, Hek-eng Taihiap menyarankan untuk mundur.

"Bing-te, mundur. Kita tak dapat mengatasi keadaan!"

"Huh, mundur?" Tok-gan Sin-ni mengejek marah. "Kalian tak dapat mundur, manusia-manusia busuk. Aku akan membunuh kalian satu per satu!"

Namun saat itu pertempuran berhenti. Sien Nio melihat beberapa bayangan berkelebat; putranya tiba-tiba muncul. Pangeran Muda tampak gelisah dan memberi isyarat bahaya pada ibunya. Sien Nio menangkap isyarat tersebut karena Pangeran Muda tidak berani bicara terus terang di hadapan Kaisar.

Ketika wanita ini tertegun dan putranya tampak tergesa-gesa, Pangeran Muda berseru, "Ibu, Ayahanda harus cepat disembunyikan. Suruh mereka yang bertempur melindungi kita!"

Sien Nio tanggap. Ia segera memerintahkan Coa-ong dan Sin-ni menyelesaikan pertempuran. Hek-eng Taihiap dan teman-temannya sudah mundur-mundur terdesak hebat; mereka masih bertahan dan mulai berlari-lari seperti orang kucing-kucingan. Saat itu pasukan Tatar tidak lagi menyerang atas perintah Salima.

Maka, begitu putranya memberi isyarat dan mereka harus segera bersembunyi, selir ini berteriak pada dua iblis kepercayaannya agar mereka membunuh Hek-eng Taihiap dan teman-temannya. Tapi, karena Hek-eng Taihiap dan teman-temannya bermain kucing-kucingan dan ada maksud untuk mundur, akhirnya Sien Nio kesal dan menyuruh mereka kembali. Coa-ong dan Sin-ni disuruh berbalik melindungi mereka. Hek-eng Taihiap dan teman-temannya terguling-guling menangkis pukulan. Sin-ni hendak mengejar, tapi sang selir membentaknya; iblis wanita ini kecewa tapi tak berani membantah.

Karena suara selir itu penuh kecemasan, Sin-ni serta Coa-ong menghentikan serangan dan berbalik melindungi Sien Nio. Mereka cepat berlari menuju sebuah tempat rahasia di mana Sien Nio menekan sesuatu hingga kamar bawah tanah terbuka. Sien Nio membawa Kaisar memasuki tempat itu, sementara Coa-ong dan Sin-ni menghalau lawan di belakang. Setelah semua orang masuk ke ruangan bawah tanah itu dan Hek-eng Taihiap serta teman-temannya tertegun di luar, akhirnya Kaisar dan selirnya lenyap.

Cu Ciangkun bingung, mengusap keringat, dan cemas memikirkan junjungannya. Sekarang mereka melihat bahwa suara pertempuran tidak ada lagi. Itulah tentu berkat jasa Salima. Ketika teringat bahwa satu-satunya orang yang dapat membantu mereka hanyalah gadis itu, Cu Ciangkun dan Hek-eng Taihiap menemui gadis perkasa tersebut untuk menceritakan terbawanya Kaisar oleh Sien Nio; tentu saja bukan sekadar dibawa, tapi ditawan secara halus. Sien Nio menyandera Kaisar tanpa disadari oleh Kaisar sendiri.

Salima melakukan pengejaran dibantu yang lain, akhirnya tiba di tempat rahasia ini dan turun ke bawah tanah. Keadaan gelap sekali, Salima terpaksa menyalakan lilin, rombongannya di belakang mengikuti dengan hati berdebar. Tidak banyak orang, hanya sembilan dengan Salima. Ketika Salima maju sambil memperhatikan peta, suasana yang dingin dan menyeramkan mengusik hati orang-orang ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment