Chapter 178
Salima tidak takut. Keberanian dan kegagahan gadis ini membesarkan hati teman-temannya; bahkan mereka merasa malu karena delapan laki-laki harus dipimpin oleh seorang wanita. Namun, karena maklum bahwa kemampuan mereka semua berada di bawah gadis ini, tidak seorang pun merasa kecil hati atau kecewa oleh keadaan tersebut.
Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang lebih luas. Ruangan itu remang-remang dengan empat pintu yang tertutup rapat. Salima yang bingung memilih pintu mana yang akan dimasuki, tiba-tiba memadamkan lilinnya.
"Ke mana kita sekarang?"
"Lihat petanya, Lihiap. Cari yang jelas agar kita tidak tersesat."
"Semuanya memberi petunjuk berbeda. Pintu di sebelah kanan itu akan menuju ke ruang sembahyang, yang lain menuju tempat abu leluhur, kamar harta, serta ruang samadhi. Mana yang akan kita masuki?" tanya mereka dengan bingung.
"Kita coba yang ke ruang sembahyang, Lihiap. Barangkali di sana bisa kita temukan," ujar Bu Ciangkun.
"Tidak, kukira ke kamar harta saja. Orang-orang tamak itu tentu ke sana!" sanggah Cu Ciangkun.
"Baiklah, bagaimana kalau kita ke pintu sebelah kiri itu? Atau rombongan harus dipisah?"
Orang-orang terkejut. Mereka pucat jika harus berpisah karena pusat keberanian ada pada diri Salima. Meskipun mereka tidak takut, keberanian mereka bisa terpengaruh karena lawan di dalam terlalu lihai; ada Coa-ong dan Sin-ni di sana. Salima yang mengerti situasi itu berkata, "Baiklah, kita coba ke kamar harta. Hati-hati, semua siap dengan senjata masing-masing!"
Salima segera membuka pintu sebelah kiri dan masuk dengan cepat, disusul oleh teman-temannya. Tak ada bahaya di sana. Pintu tertutup kembali dan mereka meneruskan langkah dengan berjinjit serta kewaspadaan penuh.
Ketika tiba di ruangan lain, mereka tertegun melihat tempat itu terang-benderang. Mendadak tawa genit menyambut mereka, disusul berkelebatnya beberapa bayangan yang menutup jalan keluar di belakang.
"Hi-hik, kau mengantar nyawa, Tiat-ciang Sianli! Dan teman-temanmu ini berkorban cuma-cuma untuk kebodohan ini!"
Tok-gan Sin-ni muncul, langsung mengibaskan rambut yang menjalar dengan bunyi nyaring. Salima dan rombongannya terkejut karena di samping wanita sakti itu juga muncul murid-murid wanita iblis tersebut, yakni Leng Hwat dan adik-adik seperguruannya. Saat mereka tertegun, Coa-ong terkekeh-kekeh muncul bersama Bu Kongcu, pemuda yang memandang gadis Tartar itu dengan tatapan berbinar.
"Bocah, kau tak dapat melepaskan diri dari kepungan kami. Bersiaplah menerima kematian!"
Salima mendengus. Matanya berkeliling ke segala penjuru; ia tidak melihat kaisar, selirnya, maupun Pangeran Muda. Hanya orang-orang sesat ini yang ada. Salima sadar ia bakal kalah menghadapi lawan-lawan yang lihai, namun ia tetap melangkah maju dengan kepala tegak.
"Tok-gan Sin-ni dan kau, Coa-ong. Tak perlu sombong menentukan mati-hidupnya orang lain. Kami datang karena kami tidak takut. Tapi mana kaisar dan selirnya yang berkhianat itu? Mana mereka?"
"Ha ha, mereka di dalam, Tiat-ciang Sianli. Paduka selir sedang asyik menjamu Sri Baginda. Kalian tak dapat masuk kecuali merobohkan kami semua!"
Salima tertegun melihat sebuah pintu tertutup di depan mereka. Salima mengerutkan kening, namun Bu Ciangkun yang geram tiba-tiba meloncat maju dan menubruk pintu itu.
"Sri Baginda, Paduka dikelilingi pengkhianat! Harap Paduka keluar...!"
Panglima tinggi besar itu menghantamkan kedua tangannya. Ia sudah mengerahkan *Kang-jiu-kang* (Tenaga Tangan Baja); sekali sentuh, tentu pintu itu akan roboh. Tapi Tok-gan Sin-ni yang terkekeh mengelebatkan rambutnya dan membentak sang panglima.
"Mundur!"
*Dess!* Bu Ciangkun roboh, terbanting bergulingan sambil memaki-maki wanita iblis itu. Saat ia hendak nekat menyerang kembali, Hek-eng Taihiap berseru, "Bu Ciangkun, serahkan urusan ini pada Tiat-ciang Lihiap. Tahan!"
Hek-eng Taihiap yang cerdik melihat keadaan tidak menguntungkan. Ia segera mendekati Salima dan bertanya, "Nona, apa yang harus kita lakukan? Melawan atau menunggu kita diserang?"
Salima menggeretakkan gigi. "Musuh sudah ada di depan, Hek-eng Taihiap. Mau apalagi kalau tidak menyerang mereka? Kalian hadapi Coa-ong dan lain-lain itu, biar Tok-gan Sin-ni menjadi bagianku!"
Salima mencabut benderanya dan segera menyerang Tok-gan Sin-ni. Situasi memaksa Salima bergerak karena musuh sudah menghadang. Begitu bendera dikebut dan Tok-gan Sin-ni mengelak, Salima melepaskan pukulan petirnya dengan tangan kiri. Ia kemudian menggerakkan teman-temannya untuk turut menyerang.
Hek-eng Taihiap dan tujuh temannya terpaksa melolos senjata. Hek-eng Taihiap, yang khawatir dengan situasi, segera menyerang Coa-ong Tok-kwi dibantu Yu Bing.
"Twako, cabut pedangmu. Kita mainkan pasangan Tiga Sudut!"
Hek-eng Taihiap mencabut pedang hitamnya dan memainkan *Hek-eng Kiamsut*, sementara Yu Bing memainkan *Pek-bouw Kiamsut* dengan sepasang pedang yang tak kalah ganas. Coa-ong menangkis sambil tertawa-tawa menghadapi dua lawan yang cukup tangguh itu.
Sementara itu, Bu Ciangkun, Cu Ciangkun, serta Sin-to Sam-enghiong segera menghadapi rombongan Leng Hwat dan adik-adiknya, dibantu Bu Kongcu yang terus berteriak agar Tok-gan Sin-ni menangkap Salima hidup-hidup. Rupanya murid Mo-ong itu masih tergila-gila pada Salima.
Pertempuran pun pecah. Dentang senjata dan suara pukulan mulai menggetarkan dinding ruangan. Salima dan Tok-gan Sin-ni bertarung seimbang. Tok-gan Sin-ni dengan *Sin-mauw-kang* (Tenaga Rambut Sakti) sedang Salima dengan *Tiat-lui-kang* (Pukulan Petir). Keduanya saling mendesak, namun karena Salima menggunakan bendera yang ilmunya masih asing bagi Tok-gan Sin-ni, wanita iblis itu mulai terdesak.
"Keparat, kau hebat, Tiat-ciang Sianli. Benderamu menghalangi pandangan!"
Salima tersenyum mengejek. Untuk pertama kalinya, pukulan petir di tangan kiri Salima menyelinap mengenai lawan. *Dess!* Tok-gan Sin-ni terpental dan memekik. Salima terus mendesak, meskipun untuk merobohkan iblis itu tidaklah mudah.
Di sisi lain, pertempuran antara Hek-eng Taihiap dan temannya tidak begitu menggembirakan. Mereka kewalahan menghadapi Raja Ular yang memainkan suling dan tongkat. Ketika Coa-ong mulai menyemburkan jarum-jarum beracun, kedudukan yang tadinya seimbang mulai berubah. Hek-eng Taihiap dan temannya sering terhuyung karena *sinkang* lawan jauh lebih hebat.