Chapter 179
Saat sebatang jarum nyaris mengenai leher Hek-eng Taihiap dan pendekar itu bergulingan membanting tubuh, sama seperti di luar tadi, Coa-ong mulai merajalela dengan permainan suling dan tongkatnya.
"Heh heh, kalian akan mampus, anak-anak muda. Aku akan mengantar kalian menghadap Giam-lo-ong (Raja Maut)!"
Yu Bing dan Hek-eng Taihiap pucat. Pendekar Garuda Hitam itu telah melompat bangun kembali menyerang lawan, semakin hati-hati dan gelisah menghadapi jarum-jarum yang menyambar. Yu Bing yang marah serta bingung menghadapi lawan tiba-tiba berseru, "Siok-twako, jaga diriku. Aku akan membabat tongkatnya!"
Yu Bing menubruk, tubuhnya berkelabat ke depan menerjang kakek itu. Pedang di tangan kanan menyambar tenggorokan, tetapi pedang di tangan kiri membacok pergelangan tangan lawan yang memegang tongkat. Rupanya, Yu Bing hendak menghancurkan tongkat di tangan Coa-ong yang dapat melepas jarum-jarum rahasia itu.
Hek-eng Taihiap kaget. Namun, ketika Yu Bing menusuk dan Hek-eng Taihiap terbelalak, Coa-ong terkekeh menggerakkan suling dan tongkatnya.
"Trak-trakk!" Pedang di tangan Yu Bing terpental.
Pemuda itu tergetar, tapi Yu Bing yang mengeraskan hati menendang selangkangan lawan, tiba-tiba membentak menyapu si kakek yang baru menangkis pedangnya. Coa-ong berkelit dan Yu Bing membacokkan pedangnya lagi, dua kali berturut-turut membentuk sinar pelangi yang melengkung dari atas ke bawah. Itulah jurus Sepasang Harimau Menukik dari Langit. Coa-ong tampak terkejut, tapi terkekeh sambil menggerakkan pedang dengan suling di tangan kanan.
Ketika gerakan kedua menurun cepat menuju tongkatnya, tiba-tiba kakek ini memapak sekaligus melepas dua jarum hitam ke muka Yu Bing.
"Awas!" Hek-eng Taihiap kaget, berseru keras menerjang maju. Pedang di tangannya ikut bergerak membacok punggung.
Saat itu, Yu Bing memiringkan kepala mengelak sambaran jarum, pedang di tangannya sudah terus meluncur menebas tongkat di tangan lawan. Gerakannya dekat dan amat berani. Coa-ong terkejut karena anak muda itu tidak menarik serangannya dan membiarkan diri menghadapi jarum yang kini meluncur dan amblas di bahu pemuda itu.
Yu Bing mendesis menahan sakit. Ketika tongkat itu tepat sasaran dan Yu Bing membentak mengerahkan tenaga terakhirnya, tiba-tiba ujung tongkat di tangan kakek itu putus, tapi bersamaan itu pula puluhan jarum pecah menyambar Yu Bing.
"Heii....!" Namun, Yu Bing tak dapat mengelak lagi. Dia telah menerima puluhan jarum itu, semuanya menancap di tubuhnya seperti duri-duri di atas buah semangka. Yu Bing mengeluh dan kontan terjungkal.
Hek-eng Taihiap terkejut. Ketika Coa-ong juga terkejut dan terbelalak melihat tongkatnya dipapas ujungnya, saat itu pedang di tangan Hek-eng Taihiap mengenai punggungnya.
"Cret!" Coa-ong meraung tinggi. Kakek ini terluka karena sedetik dia lengah hingga tidak melindungi bagian itu dengan sinkang. Raja Ular ini terhuyung. Tapi begitu dia membalik dan menggeram marah, tiba-tiba suling di tangannya ditimpuk menghantam dada pendekar ini.
Hek-eng Taihiap mencelos dan kaget bukan main. Dia baru menyerang, tubuh sedang maju ke depan, tak mungkin ditarik mundur. Suling menyambar dan sudah mengancam dadanya dengan kecepatan luar biasa; tak ada harapan lagi bagi pendekar ini untuk menangkis. Jangankan menangkis, mengelak saja tidak sempat.
Tapi ketika Hek-eng Taihiap terbelalak dan siap menerima kematian, sekonyong-konyong sebuah bayangan berkelebat menangkis suling yang menyambar pendekar ini. Di tempat Leng Hwat dan adik-adiknya, terdengar jerit dan pekik kaget. Leng Hwat dan saudara-saudaranya terpelanting bergulingan. Bayangan itu rupanya merobohkan dan mengibas pertempuran di sana sebelum menyelamatkan Hek-eng Taihiap.
Begitu suling bergerak dan hancur bertemu sebutir batu hitam, dan Leng Hwat serta kawan-kawannya melompat bangun, Hek-eng Taihiap melihat siapa yang datang.
"Kim-mou-eng....!" Coa-ong dan Hek-eng Taihiap sama-sama terkejut. Mereka melihat Pendekar Rambut Emas itu telah berdiri di situ, rambutnya yang panjang keemasan berkibar di belakang pundak. Gagah dan perkasa!
Hek-eng Taihiap terkejut tapi girang bukan main, sementara Coa-ong terkejut gentar bukan kepalang. Tentu saja dia kaget karena kedatangan pendekar itu tak disangkanya sama sekali. Dua bayangan tiba-tiba muncul di belakang pendekar ini, Putera Mahkota dan Kim Taijin.
Ketika Coa-ong terbelalak dan pertempuran otomatis terhenti mendadak, Raja Ular yang melihat kedudukan terancam tiba-tiba memutar tubuhnya dan melarikan diri.
"Paduka Selir, tolong.....!" Tok-gan Sin-ni terperanjat. Saat itu dia juga melihat kehadiran Pendekar Rambut Emas ini. Pemuda sakti itu berdiri tegak merobohkan murid-muridnya; Bu-kongcu juga bergulingan di sudut. Kini pertempuran di antara murid-muridnya dengan Bu-ciangkun dan lain-lain terhenti. Semua gentar memandang Kim-mou-eng.
Melihat Coa-ong melarikan diri memasuki ruangan dalam dan membiarkannya sendirian di situ, tiba-tiba iblis wanita ini memekik, berjumpalitan ke belakang, seketika membuka pintu, dan melarikan diri meninggalkan Salima. Tentu saja Leng Hwat dan teman-temannya ikut memutar tubuh. Serentak tanpa dikomando lagi mereka mengikuti jejak sang guru, menjerit dan lari berserabutan dahulu-mendahului.
Pintu terbuka dan tampak Kaisar serta selirnya duduk di depan meja bundar. Pangeran Muda juga ada di situ. Pangeran ini pucat. Ketika pintu hendak ditutup tapi Salima menerjang hingga pintu itu jebol, Kim-mou-eng dan sumoinya telah berada di sana. Salima terkejut dan terheran-heran kepada suhengnya, tapi menunda keheranannya itu dengan membentak ke dalam.
"Tok-gan Sin-ni, kalian telah terkepung oleh kami. Harap menyerah dan menerima hukuman dengan baik-baik!"
Tok-gan Sin-ni dan lain-lain pucat. Mereka sebenarnya tak menduga kehadiran Kim-mou-eng. Bukankah Pendekar Rambut Emas itu terluka dan masih beristirahat? Tapi melihat kehadiran pendekar itu dan sepak terjangnya merobohkan Leng Hwat serta menghancurkan suling Coa-ong, Tok-gan Sin-ni gentar dan tak menjawab.
Kaisar tampak kebingungan melihat semua yang terjadi. Salima yang membentak lagi menyuruh orang-orang di dalam untuk menyerah akhirnya disambut oleh Sien Nio yang bangkit berdiri. Coa-ong siap melakukan serangan maut di belakang Kaisar.
"Tiat-ciang Sian-li, kami tak berurusan denganmu. Sebaiknya minggir dan biar yang lebih berkepentingan bicara ke depan," selir ini memandang Kim Taijin dan Pangeran Mahkota. Sikapnya tenang, namun Pangeran Mahkota dan Kim Taijin melihat gerakan mencurigakan di balik jari-jari selir ini.
Kaisar tiba-tiba roboh pingsan. Coa-ong memperhatikan terus gerak-gerik selir itu. Ketika Salima melotot namun Pangeran Mahkota maju ke depan, akhirnya Pangeran ini bicara tak tedeng aling-aling lagi.
"Ibunda Selir, kau mau bicara apalagi setelah rencana pemberontakanmu ini gagal? Kau minta bebas dengan menukar Ayahanda Kaisar?"
"Kau cerdik," selir ini tertawa mengejek. "Itu yang kumau sekarang, Pangeran. Aku memang merasa gagal dengan segala kebodohan anak buahku. Tak kusangkal, kau telah mengetahui semua ini. Dan Kim Taijin rupanya merupakan pembantu paling cerdik di belakangmu. Bagaimana kalau kita tukar-menukar?"
Pangeran Mahkota tak segera menjawab dan marah memandang selir ayahnya yang berkhianat itu. Matanya berapi-api memandang sang kakak, Pangeran Muda yang berdiri di belakang ibunya. Teringat Yu-busu hendak membunuhnya di hutan di luar kota raja, tiba-tiba pangeran ini menggeram.
"Kanda Pangeran, kau pun ternyata keji. Sungguh tak kusangka di balik semua keramahanmu ini terdapat keculasan tak tahu malu yang menjijikkan!"
"Ha ha, tak perlu lagi kusangkal semuanya itu, Adik Pangeran. Ibu menghendaki aku merampas kedudukan."
"Dan kau yang memerintahkan Yu-busu untuk membunuhku di luar kota raja?"
"Benar."
"Dan kau pula yang menyuruh Hek-bong Siang-lomo membunuh Bu-ciangkun dan Cu-ciangkun?"
"Ha ha, tak kusangkal pula, Adik Pangeran. Tapi mereka tolol, tak dapat melaksanakan tugas dengan baik."
"Kau keji!" Bu-ciangkun tiba-tiba membentak. "Kau tak tahu budi, Siauw-ong-ya. Ibumu yang sudah mendapat kedudukan terhormat itu ternyata masih juga tak kenal puas. Kalian serakah. Kiranya patut dibunuh saja kalian ini daripada dibiarkan hidup!"
"Ha ha, kalian berani membunuh kami? Kalau begitu aku terpaksa membunuh ayahku sendiri!"
Pangeran Muda menyambar Kaisar yang pingsan, dengan kasar tangannya mencekik leher ayahnya itu. Semua orang terkejut karena pemuda ini ternyata tak sungkan-sungkan mencengkeram leher ayahnya, begitu saja seolah ayahnya itu seekor ayam atau kerbau.
Pangeran Mahkota membentak menyuruh kakaknya melepas Kaisar. Ketika Pangeran Muda tertawa dan mundur di sebelah ibunya, Kim Taijin maju dengan mata bersinar-sinar.
"Paduka Selir, hari ini urusan di antara kita harus diselesaikan. Kedudukan pihakmu tak menggembirakan, sebaiknya katakan saja apa yang kalian mau dan biar Pangeran memberi putusan."
"Aku mau bebas!" Sien Nio berkata tinggi. "Kami semua ingin pergi dari tempat ini dengan baik-baik, Kim Taijin. Dan sebagai gantinya, Kaisar akan kami serahkan pada kalian!"
"Baik, bagaimana, Pangeran?"
"Aku setuju, tapi....."
"Tidak, nanti dulu, Ibu!" Pangeran Muda tiba-tiba memotong. "Kebebasan kita masih harus ditambahi lagi syarat-syarat lain seperti yang telah kita rencanakan tadi!"
Ketika adiknya terbelalak dan ibunya mengangguk, pangeran ini berkata pada Pangeran Mahkota, "Adik Pangeran, keselamatan Ayahanda Kaisar terlalu murah bila ditukar dengan kebebasan kami belaka. Ada tambahan-tambahan lain yang ingin kami ajukan!"
"Apa itu?"
"Pertama, seluruh harta yang ada di sini harus ikut kami!" Pangeran itu memandang sepuluh peti emas di balik dinding kaca. Ibunya mengangguk-angguk dan matanya rakus melahap semua peti-peti harta itu.