Chapter 18
Gubernur tidak tahu bahwa semalam ia telah diancam orang tak dikenal yang memiliki kepandaian tinggi agar tidak mencampuri urusan itu. Tentu saja orang-orang itu adalah anak buah Mao Taijin. Wang Taijin, yang melihat gubernur itu menggelengkan kepala tanda tak sanggup, akhirnya menyuruh bupati itu menghadap Han Taijin, penasihat kaisar.
"Maaf, aku tidak mau mencampuri urusan pribadi, Bupati Wang. Kalau kau ingin menyelesaikan urusan itu, pergilah ke kaisar atau penasihat kaisar saja, Han Taijin!"
Bupati ini teringat. Ia hampir menangis melihat Gubernur Liang tak mau membantu, tetapi begitu diberi jalan keluar untuk menghadap Han Taijin, akhirnya dengan payah ia kembali ke kota raja, langsung ke gedung Han Taijin. Namun, begitu tiba di sana dan melihat penasihat kaisar itu sedang bercakap-cakap dengan Menteri Mao yang tersenyum dari jauh, tiba-tiba bupati ini mendekap dada, terhuyung pergi. Penglihatan itu saja sudah membuatnya maklum apa yang akan terjadi. Tentu kegagalan pula!
Dan Wang Taijin, yang akhirnya benar-benar menangis oleh perbuatan menteri itu, akhirnya pulang dengan air mata bercucuran, menceritakan semua kegagalannya pada sang istri. Begitu sang istri mendengar dan kaget di tempat, tiba-tiba wanita ini mengeluh, roboh, dan tak sadarkan diri. Harapan mereka sia-sia, ke mana pun mereka pergi.
Teringat kegagalan itu berarti pula kegagalan mereka membebaskan Cao Cun di Istana Dingin, akhirnya kedua suami istri ini jatuh sakit dan kurus digerogoti dendam. Tapi Hok Gwan, sang pengawal setia, tiba-tiba muncul. Pengawal ini memberi harapan baru bahwa masih ada satu jalan keluar. Ketika pengawal itu berbisik-bisik bahwa jalan keluar yang dimaksud adalah meminta bantuan Kim Mou Eng, si pendekar sakti, tiba-tiba bupati ini bangkit dan melonjak dengan mata bersinar-sinar.
"Betul, kau betul, Hok Gwan! Kenapa aku melupakan ini? Ah, cari dia. Cari pendekar itu dan ceritakan semua yang kami alami ini padanya. Minta bantuannya agar membebaskan Cao Cun!"
Hok Gwan mengangguk. Ia terharu sekali melihat keadaan kedua suami istri itu, melihat majikannya kurus-kurus digerogoti sakit hati. Setelah mendengar apa yang diminta Mao Taijia, ia diam-diam mengutuk menteri pemeras itu. Ia berjanji tak akan kembali kalau Pendekar Rambut Emas tak berhasil ia temukan.
Begitu pengawal ini berangkat, dan Wang Taijin suami istri menaruh harapan besar pada pengawalnya itu, sedikit demi sedikit penyakit mereka sembuh. Kiranya harapan ini memang memiliki pengaruh mujizat. Dengan harapan saja, Wang Taijin dan istrinya merasa terhibur, menunggu dengan tegang dan harap-harap cemas di rumah. Berdoa tiada habisnya, membakar hio hingga rumah bupati itu selalu harum, dipenuhi asap yang meresapkan kedamaian, sedikit demi sedikit memulihkan mental bupati itu.
Tapi ketika sebulan, dua bulan Hok Gwan tak kembali juga dan kabar puteri mereka itu tak kunjung berubah, akhirnya Wang Taijin cemas dan mulai pasrah. Diam-diam ia mulai mengkhawatirkan nasib pengawalnya itu, menangis kenapa ia membiarkan pengawalnya yang setia itu pergi. Namun, karena harapan itu masih selalu ada di depan mata, dan harapan itu sendiri memang memiliki kekuatan luar biasa untuk seseorang bertahan terhadap cobaan hidup, akhirnya Wang Taijin dan istrinya lalu menjadi manusia-manusia pendiam seolah patung batu, masih terbuai oleh harapan itu.
Ketika harapan itu juga masih berkelanjutan dan Wang Taijin hidup atas "harapan" ini, maka Wang Taijin dan istrinya tak tahu bahwa Hok Gwan telah tewas dibunuh orang-orang Mao Taijin yang mengamati rumah bupati itu. Sial!
***
"Sumoi, ke mana kita ini?" Salima tertawa. Dia dan suhengnya saat itu telah jauh meninggalkan kota raja, berhenti di depan sebuah dusun yang tampak sunyi. Dan, mendengar suhengnya bertanya sambil menoleh kiri kanan, tiba-tiba ia tak dapat menahan geli hatinya.
"Suheng, kenapa masih bertanya? Bukankah kita mencari kampung halaman ibumu? Kau sendiri yang minta, sekarang malah bertanya kemana kita pergi!"
"Bukan, bukan begitu. Yang kumaksudkan adalah ke mana kita ini sekarang, sumoi. Dusun apa ini, dan kenapa berhenti di sini."
"Ah, kita berhenti untuk bertanya, suheng. Siapa tahu penduduk dusun ada yang tahu di mana kampung halaman ibumu itu. Dusun, hm... dusun apa tadi?"
"Dusun Yu-chung."
"Yach, itu. Dusun Yu-chung. Kita cari tahu di mana beradanya dusun itu pada penduduk kampung ini. Tapi kenapa sepi? Ke mana mereka semua itu?"
Salima ikut menoleh sana sini. Dia memang merasa agak heran kenapa dusun itu sunyi benar. Agaknya semua penduduk sedang keluar. Mungkin ke sawah. Tapi belum mereka memasuki dusun itu, mendadak Kim Mou Eng menyambar lengannya, berbisik, "Ke depan."
Salima mengangguk. Ia juga mendengar langkah orang yang dimaksud suhengnya itu. Seorang laki-laki kekar yang muncul di balik pintu dusun, sebuah gerbang sederhana tanpa daun pintu. Ketika orang ini muncul dan melihat Salima bersama suhengnya itu ada di situ, mendadak orang ini mengerutkan alis, maju menghampiri dengan sikap tidak ramah.
"Siapa kalian?" Pertanyaan ini kaku sekali. Salima sudah merasa tidak senang melihat orang rupanya tidak bersahabat. Ia ingin mendengus dan tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi suhengnya yang menjura, membungkuk sopan, sudah maju ke depan menjawab kalem, "Sobat, kami perantau yang mencari dusun Yu-chung. Tahukah kau di mana dusun itu yang dulu dikepalai oleh Yu Lopek?"
Laki-laki ini tertegun. "Yu Lopek? Siapa dia? Dan dari mana kalian?"
"Kami dari kota raja, datang mencari dusun Yu-chung karena dusun itu menyimpan seorang kerabat kami yang sedang kami cari-cari."
"Hmm. Kau bohong. Kau bukan penduduk asli kota raja!"
Kim Mou Eng terkejut. Dan sebelum ia menegur laki-laki itu, mendadak laki-laki ini meloncat menerkam lehernya. "Hei...." Kim Mou Eng mengelak, kaget karena laki-laki itu menyerangnya tanpa memberi tahu. Tapi baru ia menyelamatkan leher dari terkaman ini, mendadak laki-laki itu bersuit, merogoh kantong bajunya. Dan begitu ia membentak, mengayun lengan, sekonyong-konyong tujuh pisau bintang berhamburan menyambar tubuhnya.
"Cit-cit-citt!" Kim Mou Eng terbelalak. Ia melihat laki-laki kekar ini ternyata cukup lihai juga. Tujuh pisau itu menyambar secara berpencar ke tujuh jalan darah di bagian tubuhnya. Tapi karena ia marah dan ingin mendemonstrasikan kepandaiannya agar orang tahu diri, tiba-tiba Kim Mou Eng membentak dan mengerahkan sinkangnya, langsung memasang tubuh menerima sambaran tujuh pisau bintang itu dengan kekebalannya.
"Tak-tak-tak...!" Dan tujuh pisau itu runtuh dan patah-patah. Laki-laki ini terkejut, mengeluarkan seruan aneh, dan terbelalak memandang Kim Mou Eng. Tapi begitu ia sadar dan kaget oleh demonstrasi yang ditunjukkan lawannya, tiba-tiba laki-laki ini memutar tubuhnya melarikan diri ke dalam dusun, menendang roboh sebatang pohon yang langsung menimpa Kim Mou Eng.
"Hei....!" Namun laki-laki itupun lenyap di dalam. Kim Mou Eng hanya melihat orang itu menyelinap di sebuah tikungan, terpaksa melompat mundur menghindari pohon besar yang roboh dengan suaranya yang hiruk pikuk itu. Tapi Salima, yang rupanya marah dan gusar pada laki-laki itu, tahu-tahu melesat ke depan mengejar penyerang itu.
"Tikus busuk, kau berhentilah sebentar!" Orang itu terkejut. Salima telah berada di belakangnya, menampar pundaknya, angin bersiul disertai hawa panas. Dan ketika ia berbalik dan coba menangkis, tahu-tahu tamparan Salima telah mendarat di pundaknya dan ia roboh terjungkal.
"Plak!" Orang itu berteriak kaget. Baju pundaknya langsung hancur, kulitnya memar kehitaman, gosong. Dan ketika Salima menyerang lagi dengan tamparan ke kepala, tiba-tiba Kim Mou Eng berteriak memperingatkan, "Sumoi, jangan bunuh dia...!" Dan Salima, yang mendengus, mengurangi tenaganya, tiba-tiba mengganti sasarannya ke pangkal lengan, membuat orang menjerit dan terguling-guling sambil mengaduh.
Tapi ketika Salima mengejar dan laki-laki ini meledakkan granat tangan, mendadak tempat itu menjadi gelap oleh ledakan asap yang menggetarkan bumi. "Blarr!" Salima melompat tinggi. Gadis ini berjungkir balik sambil memaki, terpaksa menghindar karena ledakan itu cukup berbahaya dengan kilatan apinya yang panas. Dan ketika ia turun dan melotot terhalang asap tebal, maka suhengnya tahu-tahu mencekal lengannya, membawanya melompat keluar dari kurungan granat asap itu.
"Sumoi, asap itu mengandung bius." Salima terbelalak. Dia merasa kepalanya pening, sedikit limbung, dan hampir jatuh. Tapi ketika mereka berada di luar dan asap jauh dari mereka, akhirnya sang suheng memberi obat penawar penghilang pening. "Telanlah, kau terlalu ceroboh mengejar laki-laki itu...!"
Salima tertegun. Dia menelan pil yang diberikan suhengnya itu, lenyap sudah rasa pening yang mengganggu kepalanya. Dan ketika ia terbelalak dan asap sudah menghilang dari hadapan mereka, maka Kim Mou Eng menghela napas, tak melihat lagi laki-laki kekar itu.
"Sumoi, tempat ini rupanya bukan tempat yang baik bagi kita. Rupanya penghuni kampung ini tak suka kedatangan kita. Sebaiknya kita pergi."
"Hm," Salima naik darah. "Kita pergi setelah orang menyerang kita, suheng? Kita biarkan saja laki-laki keparat itu lolos di dalam? Tidak, aku justru ingin memasuki kampung ini. Aku akan menyelidiki dan menangkap laki-laki busuk itu!"
Kim Mou Eng mengerutkan alis. "Jangan membuat onar, sumoi, kita..."
"Aku tidak membuat onar, suheng. Tapi laki-laki itu yang memulai dulu. Dia harus dihajar. Dia tak dapat ditanya baik-baik!"
"Tidak," Kim Mou Eng tidak setuju. "Kita tinggalkan saja tempat ini, sumoi. Aku tak ingin membuat ribut dan...."
Salima mendongak. Dia melihat suhengnya berhenti bicara, melihat bayangan banyak orang muncul di sekeliling mereka. Sekejap kemudian, telah mengepung, dan tidak kurang dari lima puluh orang jumlahnya. Semua berkerudung. Rata-rata tinggi, besar, dan kekar.