Chapter 180
"Kedua, kami dibebaskan dari segala hukuman dan tak boleh dikejar, baik sekarang maupun kelak. Dan ketiga..." "Wan Cu diberikan kepada kami dan dibebaskan pula!" "Pangeran..." sang ibu terkejut. "Kenapa Wan Cu kau bawa-bawa? Tidak, dia tak perlu diikutsertakan, Pangeran. Ibu tak setuju dan biar kebebasan ini hanya berlaku pada kita yang ada di sini, bukan orang luar yang ada sangkut pautnya."
"Ah, Wan Cu bukan orang luar, Ibu. Ia sahabat yang harus ditolong. Aku mencintainya, ia..." "Pangeran?" ibunya tiba-tiba membentak, marah sekali. "Apa yang kukatakan tak perlu kau bantah lagi. Wanita itu milik Gurba, kau dapat mencari yang lain dan jangan membuat malu ibumu di sini!"
Sambil membanting kaki dan berang karena harus ribut dengan anaknya sendiri di depan begitu banyak orang, selir ini sudah menghadapi Pangeran Mahkota. "Pangeran, dua syarat yang diajukan putraku tadi, jelaskan dulu apakah dapat kau terima atau tidak. Kalau dapat diterima, maka syarat ketiga adalah..." "Kebebasan Wan Cu!" "Tidak, kebebasan orang-orang kami yang kau tangkap!" "Tidak, Wan Cu, Ibu. Wan Cu lebih penting daripada yang lain-lain itu. Aku..." "Diam!" ibunya menghardik. "Wan Cu sudah bukan milikmu lagi, Pangeran. Kebebasan yang lain lebih penting karena kau dapat menjadi raja kecil di suatu tempat nanti. Mereka itu lebih penting daripada Wan Cu. Kau tak perlu membantah!"
Sang selir yang sudah menghadapi Pangeran Mahkota kembali bertanya dengan mata berapi-api, "Bagaimana, Pangeran? Kau dapat mengabulkan permintaan-permintaan kami?" Pangeran Mahkota tertegun. Dia melihat kakaknya menggigil di belakang sana, sang ibu sudah menghentikan putranya dengan sikap yang keras. Ketegangan antara ibu dan anak tiba-tiba menonjol di situ. Kim Taijin berbisik-bisik. Ketika melihat ibunda selir merah padam dan Pangeran Mahkota harus mengambil keputusan, tiba-tiba pangeran ini mengangguk dengan tinju terkepal.
"Baik, syarat pertama dan kedua kuterima, Ibunda Selir. Sedang syarat yang ketiga aku ragu karena di antara kalian terdapat perbedaan pendapat. Siapakah yang harus dibebaskan, anak buah kalian ataukah Wan Cu?" "Aku tak memikirkan Wan Cu, Pangeran. Anakku harus menjadi raja dan anak buahku itu akan menjadi pengikatnya, rakyatnya!" "Bagaimana pendapat Kanda Pangeran sendiri?" "Aku..." "Dia tak berhak bicara, Pangeran. Aku yang memimpin di sini!" ibunda selir tiba-tiba memotong putranya.
Pangeran Muda menghentikan kata-katanya yang baru sepotong itu dan sang ibu menghardiknya. Kembali ketegangan terjadi di antara ibu dan anak ini. Sien Nio rupanya menginginkan pembantu-pembantunya yang lain dibebaskan dan putranya menjadi raja di suatu tempat, sedang anaknya sendiri menghendaki Wan Cu karena mencintai kekasihnya itu, tak peduli pada pembantu lain asal Wan Cu ikut bersamanya. Betapa besarnya perasaan pangeran ini terhadap Wan Cu. Tok-gan Sin-ni dan lain-lain terbelalak karena baru sekarang mereka mengerti bahwa terdapat "perang dingin" di antara ibu dan anak ini mengenai masalah Wan Cu.
Melihat keadaan bakal tidak menguntungkan dirinya apabila ibu dan anak itu cekcok, padahal kebebasan sudah di ujung mata, tiba-tiba Tok-gan Sin-ni mendekati pangeran itu dan berbisik lirih, "Pangeran, urusan Wan Cu serahkan saja kepadaku. Aku nanti dapat menculiknya kalau kita sudah keluar. Jangan kalian bertengkar, keadaan ini tak menguntungkan kita karena lawan akan menertawakan kalian saja." "Tapi pekerjaanmu sering gagal, Sin-ni," pangeran agak tak percaya. "Dapatkah nanti kau membawa Wan Cu?"
Tok-gan Sin-ni agak merah mukanya. "Aku dapat minta bantuan Coa-ong, Pangeran. Lagi pula teman-teman kita seperti Mo-ong dan lain-lain itu ada di luar." "Baiklah, kalau begitu kuharap kau berhasil, Sin-ni. Tapi kalau sekali ini gagal, aku pun tak mau percaya kau lagi!"
Percakapan itu berhenti. Tok-gan Sin-ni mundur. Pangeran Mahkota sudah memandang Ibunda Selir. Ketika Pangeran Muda tak maju lagi dan mengalah pada ibunya, sang ibu menghadapi lawan dan bertanya kembali, "Bagaimana, Pangeran? Kau dapat menerima ketiga tambahan syarat ini?" Sang pangeran mengangguk. "Dan kalian tak akan menyerang kami?" "Aku sudah berjanji, Ibunda Selir. Kalian boleh bebas dan lepaskan Ayahanda Kaisar."
Sien Nio tiba-tiba tertawa. "Kami tak mau mengambil risiko, anak pangeran. Sebaiknya Sri Baginda kami bebaskan setelah kami di tempat aman. Tapi sebelumnya ingin kutanya sesuatu, dapatkah kau memberi penjelasan?" "Apa yang ingin kau ketahui?" "Cu-thaikam dan lain-lain itu. Kau tangkapkah mereka?" Pangeran terbelalak, lalu mengangguk. "Dari mana kau tahu?" "Apa maksudmu?" "Aku mengetahui ada seorang pengkhianat di antara kami, Pangeran. Sebaiknya jelaskan saja pada kami siapa pengkhianat itu hingga kau dapat menangkap Cu-thaikam dan lain-lain!" ibunda selir tiba-tiba bengis, matanya menyorot kemarahan yang ditahan.
Sang pangeran menjublak dan bingung. Tapi karena dia sukar menjawab, mendadak Kim Taijin maju ke depan tampil bicara, "Yang memberi tahu kami adalah sekutumu sendiri, Paduka Selir. Dan orang itu bukan lain adalah Wan Cu!" "Paman...!" sang pangeran terkejut, merasa nama Wan Cu harus dilindungi. Tapi Kim Taijin menggelengkan kepalanya. Pembesar setia ini rupanya siap memukul Sien Nio. Mukanya merah tapi berseri-seri.
Ketika Sien Nio dan lain-lain terkejut oleh pengakuan ini, Kim Taijin sudah tersenyum memberi keterangan lebih lanjut, "Benar, yang memberi tahu kami tentang semua komplotan kalian adalah Wan Cu, Paduka Selir. Dialah yang memberi tahu kami untuk bersetia kepada negara. Wan Cu teringat budi kaisar kepadanya, jabatan yang diberikan, dan melihat sepak terjang kalian yang salah. Dan karena wanita itu sadar serta ingin menebus kesalahannya, maka Wan Cu datang kepada Pangeran Mahkota dan memberikan daftar para pemberontak yang tersesat."
"Bohong...!" Pangeran Muda tiba-tiba berteriak. "Kau bohong, Kim Taijin. Kau dusta!" "Pernahkah aku orang tua dusta, Pangeran?! Sebaiknya paduka tanyakan adik paduka, tentu Pangeran Mahkota membawa catatan kitab kecil yang berisi nama-nama pembantu kalian itu." Kim Taijin menoleh pada junjungannya dan berseru sambil menggerakkan lengan ke depan, "Pangeran, tunjukkan pada kakak paduka akan kitab catatan itu. Buktikan padanya bahwa aku orang tua tak bohong!"
Pangeran Mahkota bingung. Sebenarnya dia ingin melindungi Wan Cu, betapa pun dia sudah berjanji. Tapi mendengar penasihat ayahnya ini tak menyinggung-nyinggung bahwa Wan Cu mengkhianati ibunda selir karena tahu hubungannya tak direstui selir yang jahat itu, maka dengan tenang dan sungguh-sungguh pangeran ini mengeluarkan kitab catatan itu, lalu melemparkannya ke kaki kakaknya. "Baiklah, kau lihat, Kanda Pangeran. Apakah kitab ini bukan berasal dari kalian!"
Pangeran Muda memungutnya. Dengan menggigil dan muka pucat, dia membuka kitab itu dan membolak-balik isinya. Melihat bahwa kitab ini benar-benar kitab yang diberikannya pada Wan Cu dan tanda tangan ibunya serta dirinya ada di situ, mendadak pangeran ini menggeram, membanting kitab itu, lalu menginjak-injaknya. "Wan Cu pengkhianat!"
Semua orang terbelalak. Mereka rata-rata terkejut melihat kemarahan pangeran ini, tapi Ibunda Selir yang tiba-tiba terkekeh melangkah maju, lalu menekan pundak putranya. "Pangeran, benar Wan Cu yang memberikan kitab catatan itu? Kitab itu betul milik kita?" Sang pangeran menggigil, tak menjawab. Sang ibu yang kembali tertawa dan tahu apa yang terjadi, tiba-tiba berkata lagi dengan suara mengejek, "Nah, sekarang kau tahu kualitas wanita itu, Pangeran. Apa yang Ibu bilang ternyata cocok. Wan Cu memang tak pantas untukmu, dan kini pengkhianatannya itu membuktikan kepada kita bagaimana tindak-tanduknya!"
Sang pangeran masih menggigil. Pemuda ini memang kaget dan marah bukan main melihat kenyataan itu. Dialah yang memberikan kepada kekasihnya kitab catatan tersebut untuk disimpan, sama sekali tak menduga kalau kekasihnya berkhianat, meski dia sendiri tak ingat bahwa dia pun seorang pengkhianat. Ketika suara dan tawa ibunya seolah palu yang memukul-mukul dirinya, pangeran ini terhuyung, tiba-tiba roboh mendekap ibunya. "Ibu, Wan Cu ternyata sekutu yang busuk. Biarlah sekarang kuturut dirimu dan tak perlu wanita itu diberikan lagi padaku!"
Pangeran ini menangis, ibunya tersenyum dan mengangguk-angguk. Tentu saja itu satu kemenangan bagi sang selir. Secara tiba-tiba anaknya melepaskan diri sendiri dari ikatan cintanya kepada Wan Cu, wanita yang memang tidak disetujui ibunda selir untuk mendampingi putranya. Dia tak tahu bahwa pengkhianatan Wan Cu disebabkan ulahnya sendiri, ketika selir itu marah-marah kepada putranya dan didengar oleh Wan Cu yang saat itu diculik Salima.
Ketika Pangeran Muda menggeram-geram dan berkeretat gigi sambil menghapus air matanya, keputusan sudah bulat bahwa yang dibebaskan adalah pengikut-pengikut mereka yang lain, bukan Wan Cu. Pangeran Mahkota mengangguk dan menyetujui usul ini. Ibunda selir lalu menyuruh yang lain membawa peti-peti harta itu, bekal untuk kelak putranya menjadi raja di suatu tempat—sebuah angan-angan yang tetap ambisius.
Begitu Pangeran Mahkota memberi jalan dan rombongan Sien Nio melangkah lebar keluar sambil membawa Sri Baginda, kebebasan mutlak telah diberikan pada rombongan ini untuk melaksanakan tukar menukar. Saat itu juga para pemberontak yang tertangkap dilepaskan; Cu-thaikam dan lain-lain ikut bebas. Sien Nio menyatakan Sri Baginda akan diberikan di luar gerbang kota raja. Kereta dan pasukan berkuda menyertai rombongan ini. Tentu saja rombongan menjadi besar dan Bu-ciangkun berulang-ulang menggeretakkan buku-buku jarinya saking geram dan marahnya. Marah karena tak dapat berbuat apa-apa, sebab Pangeran Mahkota telah berjanji bahwa mereka dilarang menyerang dan melukai musuh.