Halo!

Pendekar Rambut Emas - Chapter 181

Memuat...
Pendekar Rambut Emas

Chapter 181

Ketika rombongan keluar dari kota raja, Slen Nio tertawa gembira karena telah memperoleh kebebasannya. Saat mereka tiba di luar pintu gerbang, ada bayangan yang berkelebat. "Pangeran Muda, aduh, tolong...?" Orang-orang terkejut. Saat itu, penyerahan kaisar siap dilakukan. Pekikan wanita terhadap pangeran yang tak jelas ini terdengar membuat bulu roma berdiri; suaranya menyayat dan bercampur rintihan.

Orang melihat wanita yang berteriak itu muncul dari balik bayang-bayang gelap. Belum jelas siapa dia, tapi suaranya seolah sudah dikenal. Namun, ketika bayangannya mendekat dan orang mengenal wanita ini, tiba-tiba semua orang tertegun karena wanita yang jatuh bangun memanggil-manggil itu ternyata Wan Cu!

"Pangeran, tolong. Selamatkan aku...!" Wan Cu berlari-lari. Kini orang mengetahui bahwa yang dimaksud adalah Pangeran Muda. Wan Cu riap-riapan dengan muka seputih kertas, kembali terjatuh, tapi sudah bangkit lagi menuju Pangeran Muda. Di belakangnya terdengar geraman yang tak kalah membuat bulu kuduk berdiri; sesosok bayangan tinggi besar tersaruk-saruk mengejar wanita cantik itu. Suaranya serak memanggil-manggil wanita itu. Wan Cu ketakutan.

Ketika bayangan kedua muncul dari kegelapan dan terlihat siapa dia, tiba-tiba semua orang pun tertegun berseru kaget. "Gurba...!" Ternyata benar. Bayangan tinggi besar ini memang Gurba, pemimpin Tartar yang dahsyat itu. Dia memanggil-manggil nama Wan Cu sambil berkali-kali mendekap dada sendiri yang sakit. Gurba masih terluka.

Ketika Wan Cu menubruk Pangeran Muda dan Gurba tiba di sana, raksasa tinggi besar ini menggeram, "Wan Cu, kau ikut aku. Lepaskan pangeran!"

"Tidak... tidak! Aku tak mencintaimu, Gurba. Aku mencintai kekasihku ini, dan kau pergilah...!"

"Tapi sang pangeran telah memberikan dirimu kepadaku. Kemarilah!" Gurba menggeram, maju melompat, dan menubruk Wan Cu. Wan Cu berteriak berlindung di balik punggung Pangeran Muda. Keadaan tiba-tiba menjadi gempar karena urusan ini merupakan persoalan baru bagi semua orang, terutama Pangeran Muda yang terbelalak melihat kekasihnya itu. Wan Cu tampak menyedihkan dan menangis memeluk punggungnya.

Namun, ketika Wan Cu mengguguk dan Gurba menggapai-gapai wanita cantik itu, tiba-tiba Pangeran Muda menendang Wan Cu hingga wanita ini menjerit terkapar roboh. "Wan Cu, kau pengkhianat!"

Wan Cu terpelanting. Dia terkejut dan menangis tersedu-sedu. Gurba menyeringai melangkah maju. Tapi ketika raksasa itu hendak menangkap dirinya dan Wan Cu melompat bangun, tiba-tiba wanita ini berseru marah menahan Gurba, "Tahan, biarkan aku bicara, Gurba. Ada sesuatu yang hendak kubuka di sini!"

Memutar tubuh menghadapi kekasihnya dengan air mata bercucuran, Wan Cu bertanya, "Pangeran, apa maksudmu dengan kata-katamu itu? Siapa yang kau anggap pengkhianat?"

Pangeran Muda menghentakkan kaki. "Kaulah yang kumaksud, Wan Cu. Kau pengkhianat yang menjebloskan kami semua. Tak perlu kau tanya, tentunya kau sendiri sudah mengerti!"

"Dan kau tak mau membawa aku seperti janjimu semula?"

"Bah, aku muak padamu, Wan Cu. Lebih baik membawa seekor anjing daripada membawa dirimu!"

"Pangeran...!"

"Tidak, kau dengarkan aku, Wan Cu. Aku sudah tak mau melihat dirimu lagi sebagaimana kujanjikan dulu. Kau merusak perjuangan yang hampir berhasil, kau menyia-nyiakan cintaku, dan aku benci padamu! Kau dengar? Aku benci padamu, Wan Cu. Aku benci padamu...!"

Pangeran meludah di muka Wan Cu hingga wanita itu mengeluh mendekap dadanya. "Pangeran, kau tak mencintaiku lagi? Kau benar-benar menurut ibumu? Baik, kukatakan sekarang padamu, Pangeran. Bahwa apa yang kulakukan adalah gara-gara siluman betina ini yang membuat aku merana. Dialah perusak dan pembujuk tak tahu malu. Aku telah mendengar pembicaraan kalian. Dengarlah..."

Wan Cu menceritakan semuanya dengan tangis dan sedu-sedan tentang pertikaian di kamar Slen Nio, di mana Pangeran Muda mengalah pada ibunya dan akan meninggalkan Wan Cu. Hal itu membuat sang pangeran dan yang lain-lain terbelalak. Bahwa di antara ibu dan anak terdapat perbedaan pendapat. Pangeran Muda merencanakan membunuh Gurba kalau kelak perjuangan berhasil, di mana Wan Cu harus dirampasnya kembali dan Gurba dipergunakan sebagai alat belaka. Sang ibu menolak karena pilihan putranya tak disetujui; Wan Cu biarlah ikut Gurba karena wanita cantik itu telah diberikan kepada raksasa tinggi besar ini.

Wan Cu mengakui pula bahwa dia tetap mencintai Pangeran Muda, bukan Gurba. Rahasia hatinya pun dibeberkan tanpa tedeng aling-aling lagi. Kebusukan ibu dan anak dibuka. Gurba pucat mendengar pernyataan Wan Cu bahwa dia hanya terpaksa. Cinta yang diberikan wanita itu bukanlah cinta sebenarnya; Wan Cu masih terikat kepada Pangeran Muda. Jadi semuanya semu belaka dan Wan Cu pun menipu demi kekasihnya, Pangeran Muda, yang berjanji akan membawa Wan Cu kalau perjuangan telah berhasil.

Ketika satu demi satu peristiwa itu dibuka dan percakapan ibu serta anak ditelanjangi karena Wan Cu ingin membalas sakit hatinya, semua yang bersangkutan kaget dan pucat serta merah berganti-ganti. Gurba menggeram bagai singa haus darah, berkali-kali mengeluh dan memandang pucat ke arah Wan Cu. Wanita yang dicintainya itu ternyata mempermainkannya. Wan Cu pun ganti dipermainkan Pangeran Muda. Semua blak-blakan tanpa tedeng aling-aling.

Ketika Wan Cu selesai bicara dan semua orang pucat mendengarnya, tiba-tiba Gurba menubruk Wan Cu penuh kemarahan karena merasa tertipu. "Wan Cu, kau wanita jahanam..."

Wan Cu menjerit. Dia sudah diterkam raksasa ini, berusaha mengelak tapi tertangkap juga. Mereka roboh bergulingan. Tapi Pangeran Muda yang kini sudah tahu duduk persoalan sebenarnya mengapa Wan Cu berkhianat, tiba-tiba membentak dan cintanya kambuh lagi terhadap bekas kekasih itu. Ia menubruk Gurba dari belakang untuk menyelamatkan Wan Cu. Gurba pun terguling dan ketiganya saling cengkeram.

Semua orang terkejut. Karena Gurba bukan pemuda sembarangan dan raksasa ini marah besar, tiba-tiba dia sudah membalik dan menendang Pangeran Muda itu. "Dess!" Pangeran Muda terlempar. Ibunda selir terpekik melihat anaknya mencelat. Pangeran Muda mengeluh, tapi melompat bangun menghunus pisau. Tiba-tiba pangeran ini membentak lagi menerjang Gurba, "Gurba, lepaskan kekasihku!"

Gurba meradang. Saat itu cinta kasih pangeran ini menonjol hebat. Gurba tentu saja terpukul dan mendelik; pasangan itu ternyata tak dapat dipisahkan. Dia benar-benar merasa dipermainkan. Pangeran Muda dan Wan Cu sama-sama penipu. Begitu lawan menyerang dan pisau berkelebat di depan dadanya, tiba-tiba Gurba menggeram menangkap pisau itu, tangan sang pangeran sekaligus ditelikung. Lawan mengaduh dan Gurba menekuk ke atas tangan yang sudah ditangkap itu. Rupanya raksasa ini akan mematahkan lengan sang pangeran.

Ketika pangeran menjerit dan pisau dirampas, tiba-tiba Gurba mau menghunjamkan pisau itu ke dada lawannya. "Jangan!" Ibunda selir berteriak. Wanita ini melompat dan hampir menyelamatkan putranya, tapi Tok-gan Sin-ni yang maju berkelebat menolong Pangeran Muda ternyata sudah bergerak cepat menendang pisau itu, membentak, sekaligus menarik Pangeran Muda hingga sang pangeran terguling.

Gurba sudah mendapat tamparan keras di tengkuknya, raksasa ini terjungkal dan menggetak. Ketika dia melompat bangun dan marah atas serangan Tok-gan Sin-ni kepadanya, mendadak wanita iblis itu telah menyerangnya bertubi-tubi atas perintah Sien Nio. Terkejutlah raksasa ini. Dia sebenarnya tak kuat bertempur, apalagi menghadapi lawan sehebat Tok-gan Sin-ni. Luka-lukanya masih terlalu berat hingga napasnya sering sesak. Hanya karena mengejar Wan Cu-lah dia muncul di situ. Tak menyangka akan mendengar semuanya dan penipuan terhadap dirinya yang terasa menyakitkan, Gurba seakan meledak.

Tapi melihat diri diserang gencar dan Gurba memaki-maki, raksasa ini terhuyung ke sana kemari mengelak serangan lawan. Tok-gan Sin-ni rupanya tahu keadaannya, satu dua pukulan mulai mendarat. Gurba menggeleng. Ketika rambut juga mulai menjalar menyakiti tubuhnya, akhirnya Gurba terpelanting jatuh bangun dijadikan bulan-bulanan serangan lawan. Raksasa ini memang tak dapat membalas. Dadanya sakit setiap kali dia coba mengerahkan sinkang. Ketika Tok-gan Sin-ni menghajarnya habis-habisan dan iblis wanita itu tertawa mengejek, satu pukulan telak mengenai tengkuk raksasa ini.

"Dess!" Gurba terbanting, mengeluh pendek. Raksasa ini mencoba bangkit berdiri, tapi tak dapat. Roboh kembali dan Tok-gan Sin-ni terkekeh mengejarnya dengan satu lecutan rambut. Kali ini menotok leher Gurba dengan serangan maut, rambut itu berubah kaku seperti kawat baja. Tentu tewas Gurba kali ini.

Tapi bayangan keemasan yang tiba-tiba menyambar berkelebat menangkis serangan ini, tiba-tiba sudah disusul satu bentakan nyaring yang membuat Tok-gan Sin-ni terkejut. "Sin-ni, tahan seranganmu. Jangan mengobral maut!" Rambut yang terpental bertemu lengan bayangan ini akhirnya menyadarkan Tok-gan Sin-ni akan kehadiran Kim-mou-eng.

"Ah!" Tok-gan Sin-ni melompat mundur, terkekeh gentar. "Kau mau apa?"

Kim-mou-eng bersinar-sinar, membentak geram, "Kau tak boleh membunuh siapa pun di sini. Aku akan membunuhmu kalau kau tak tahu diri."

"Heh!" Coa-ong tiba-tiba tertawa, ingin mengadu kawannya. "Jangan kau takut, Sin-ni. Maju dan bunuh saja raksasa itu!"

Tapi Pangeran Mahkota yang tampil dengan muka merah ternyata membentak si Raja Ular ini, "Coa-ong, jangan membuat onar. Aku akan menangkap kalian kalau kalian tak tahu diri!"

Menghadapi ibu tirinya, pangeran ini bertanya, "Ibunda selir, apa yang mau kau lakukan sekarang kalau tidak cepat memberikan Ayahanda Kaisar? Apakah perlu pertumpahan darah di sini?"

Sang selir terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment